16KM

16KM
Terkabul



Tengah malam aku terbangun karena haus. Ku lihat Mas Zaky sudah sangat pulas tidurnya.


Ketika minum, aku melirik ke arah jam di dinding. Waktu menunjukan jam setengah satu pagi. Sepertinya parlak ini sudah waktunya di ganti, karena sudah basah oleh darah haidku. Pantas aku terbangun, pasti karena sudah merasa tidak nyaman.


"Mas, Mas Zaky, Maaas," aku berusaha membangunkan suamiku, tapi dia tak kunjung bergerak. Pasti karena dia sangat lelah.


"Braakk!!" ku lemparkan botol air minum mineral yang isinya masih penuh. Btotol itu tepat mengenai pinggang sampingnya Mas Zaky yang tidur miring.


"Kenapa, Mih?" Dia langsung terbangun dengan terburu-buru.


"Maaf, perlaknya udah gak enak," kataku sambil menahan tawa.


"Oh, iya, mau ganti ya? Sebentar, ya."


Selesai mangganti perlak, suamiku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan darahnya. Sementara aku langsung tertidur lagi. Namun, aku kembali terbangun ketika suamiku datang.


"Makasih, ya, Pih," kataku dengan suara sangat pelan.


Sayangnya suamiku tidak mendengarnya. Dia langsung meringkuk dan kembali tidur, berlaskan tikar.


Kupandangi wajahnya dari atas kasur. Lalu aku jadi teringat, bahwa kami belum pernah berhubungan badan lagi, sejak Tyara lahir empat bulan yang lalu hingga hari ini. Aku selalu beralasan malu karena takut terdengar orang tuaku. Padahal,alasan sebenarnya karena aku takut untuk punya anak lagi, takut punya bayi lagi.


Dia juga sudah berkali-kali minta untuk kembali mengontrak dan tidak tinggal di rumah orangtuaku lagi. Akan tetapi, aku begitu takut jika hanya berdua dengan Tyara. Aku takut terjadi bencana alam atau apapun yang membuat aku harus keluar rumah untuk menyelamatkan diri dan Tyara. Aku tidak yakin bisa bertahan jika hanya berdua dengannya di rumah. Apalagi jika aku sudah punya dua anak. Aku pasti tidak akan bisa menyelamatkan mereka jika hanya sendiri.


Maafkan Aku, Mas. Maafkan Aku.


Ingin sekali aku meraih rambutnya dan mengusapnya.


〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰


"Selamat pagi!" seseorang datang mengunjungi pasien sebelah.


Aku terkejut dan langsung membuka mata dengan sempurna. Ingin mengintip sedikit dari balik tiraiku yang tertutup, namun tidak berani.


Ya ampun masa udah ambil darah lagi sih? Baru tadi jam tiga ambil darah, masa sekarang jam enam udah ambil darah lagi?


Kemudian, suara kakinya melangkah ke arahku.


"Selamat pagi Ibu. Ini sarapannya, ya." Seorang perempuan berhijab dengan seragam putih datang membawa nampan berisi penuh makanan untuku sarapan.


Oooh, kirain mau ambil darah lagi.


"Bagaimana tidurnya Ibu, nyenyak?" kata dia sambil menurunkan satu persatu makanannya ke atas laci kecil.


Dheg!! Pertanyaan itu membuatku sedikit tidak enak.


"Iya, Mbak. Pules kok," jawabku singkat.


"Oh, bagaus kalau begitu. Selamat makan ya, Bu. Semoga lekas sembuh." Diapun segera pergi meninggalkan aku dan perasaanku yang bubar jalan karena pertanyannya.


Karena pertanyaan itu aku baru menyadari, bahwa untuk pertama kalinya aku bisa tidur pulas lagi sepanjang malam sejak Tyara lahir. Itu adalah suatu hal yang sangat aku rindukan dan harapkan bisa segera kembali seperti dahulu. Tapi..., apa aku harus bahagia dan mengucap syukur karena bisa tidur pulas? Bahkan untuk memikirkannya saja, aku tidak sanggup.


Aku memang sudah melewati fase penolakan akan peran baruku sebagai seorang Ibu. Saat itu Aku bahkan sempat bertanya-tanya. Kapan semua ini akan berakhir? Kapan aku bisa tidur pulas lagi sepanjang malam? Kapan aku bisa tidur berdua lagi dengan suami? Kapan aku bisa jalan-jalan tanpa beban lagi? Kapan aku bisa bebas berselancar di dunia maya lagi, kapan saja aku mau?


Aku yang sempat mengalami baby blues, pernah berharap untuk bisa kembali menjalani kehidupanku yang dahulu, meski hanya untuk sementara. Kini, aku sudah berada pada fase penerimaan. Namun mengapa semua ini terjadi?


Memang sih, semua hal yang aku rindukan itu, seolah terkabul saat ini. Aku bisa tidur berdua lagi dengan suamiku, aku bisa leluasa berselancar di dunia maya kapan saja aku mau, dan yang paling utama aku bisa tidur pulas lagi sepanjang malam. Tetapi bukan begini juga caranya. Yah, meskipun aku tidak tahu cara yang bagaimana yang tepat untuk mewujudkannya.


"Udah bangun, Mih?"


"Udah, Pih. Tadi pas ada yang nganter sarapan."


"Yaudah, Kamu makan, gih!"


Akupun menurutinya dan makan dengan perasaan yang tidak enak.


〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰


Jam tujuh pagi, Tyara dan orangtuaku datang lagi. Tujuannya supaya Tyara bia menyusu lagi di pagi hari. Dan sama seperti kemarin Tyara langsung merengek ketika melihatku.


"Tagu gak, sih? Semalem itu Dede nangis semaleman pengen emik. Kebangun tiap lima belas menit terus nangis. Untungnya agak mau, sih dikasih sufor disendokin. Tapi cuma mau lima sendok paling, terus minta gendong sampe tudur lagi." Ibuku menceritakan semuanya dengan wajah pias.


"Mama sama Ayah gantian gendong semaleman. Ayah malah ikutan nangis."


"Ya, habis gak tega ngeliatnya nangis kaya gitu, kayanya merana banget," balas Ayahku yang tampak rapih dengan stelan kemeja.


Rupanya orangtuaku berencana untuk berkunjung di pagi hari, agar sekalian dengan Ayahku berangkat kerja. Kemudian Ibuku akan pulang setelah Tyara menyusu selama dua jam disini menggunakan taxi online. Dan akan datang lagi di sore hari bersama Ayahku jika dia sudah pulang.


Saat Tyara sedang menyusu, dua orang dokter dan dua orang perawat masuk ke ruangan. Rupanya itu adalah dr Indria. Dia datang bersama dengan dokter lain yang tidak aku kenali. Seperti biasa mereka mengunjungi pasien di sebelah duhulu. Namun kali ini aku tidak begitu 'kepo' dengan pembicaraan mereka seperti yang biasa kulakukan. Aku sibuk memperhatikan Tyara.


"Selamat pagi, Bapak, Ibu." Sapa dr Indira kepadaku dan keluargaku.


"Loh, ada dede bayi lagi nyusu toh? Aduh kasian, Bundanya sakit ya?" lanjut dr Indria.


"Sudah berapa bulan, Bu anaknya?"


"Sudah empat bulan, Dok," jawabku singkat. Tyara nampaknya tidak peduli dengam kehadiran dua dokter itu. Dia hanya sempat menoleh sekali kemudian kembali menyusu.


"Oh, sudah empat bulan," balas dr Indria sambil mengeluarkan stetoskop dari kantungnya.


"Saya periksa dahulu ya, Bu."


"Mana kertasnya, Mba?" kata dr Indria kepada salah satu perawat.


"Laporan air seni yang mana?"


"Yang ini, Dok."


Sepertinya saat aku tidur ada perawat yang datang untuk meminta laporan jumlah air seniku kepada Mas Zaky.


"Hmm..., Ibu, minumnya masih kurang ya...," dr Indria menatapku kemudian kembali menatap kertas yang diselipkan di papan. "Mungkin karena ibu sedang menyusui juga, jadi cairan yang dibutuhkan lebih banyak dari biasanya. Kalau untuk trombosit, jelas masih turun."


"Nah...," dr Indira mengembalikan kertas tersebut kepada perawat disebelahnya.


"Sesuai janji Saya kemarin, Saya sudah mengkonsultasikan kepada dokter spesialis anak, mengenai kondisi Ibu yang masih menyusui disaat seperti ini. Jadi, hari ini Saya bawa dr Fatma yang akan membantu Ibu."


Dr Fatma tersenyum sambil menganggukan kepala.


"Silahkan, Dok." Dr Indria memberi jalan agar dr Fatma bisa lebih dekat denganku.


"Hallo, Adek." dr Fatma menyapa Tyara yang masih menyusu.


"Adeknya ada disini sepanjang hari atau bagaimana, Bu?"


"Enggak, Dok. Nanti kalo udah dua jam menyusu, Dia pulang. Terus kesini lagi nanti sore jam empat sampai maghrib," jawabku menjelaskan.


"Oh, Saya pikir memang disini sepanjang hari agar bisa menyusu."


"Memang boleh, Dok?"


"Ya, jelas tidak boleh, Bu."


"Justru saya ingin menyarankan agar Ibu tidak menyusui dulu sementara waktu hingga sembuh."


"Ibu pasti tahukan, bahwa Ibu menyusui itu membutuhkan cairan lebih banyak dibanding Ibu yang tidak menyusui?"


Aku mengangguk. Ku eratkan posisi Tyara di pelukanku, tanda gelisah dengan apa yang akan disampaikan dr Fatma selanjutnya.


"Apalagi sekarang ditambah dengan Ibu kena demam berdarah. Kami khawatir cairan yang dibutuhkan Ibu tidak akan pernah tercukupi, meskipun Ibu pasti sudah minum sebanyak-banyaknya."


Hhmmm..., iya juga, sih.


"Saya dan dr Indria sudah membicarakannya semalam. Jika hari ini jumlah air seni Ibu tidak menunjukan hasil bahwa cairan ibu tidak terpenuhi, maka dengan berat hati, kami menyarankan Ibu untuk berhenti menyusui sementara waktu. Agar cairan yang Ibu miliki bisa terfokus untuk penyembuhan Ibu saja."


"Nanti Adeknya boleh, kok, dikasih susu formula. Karena ini alasannya medis."


"Tapi, Dok. Anak Saya gak mau susu formula sama sekali. Asi yang di dot aja, Dia gak mau, Dok."


"Awalnya memang pasti ada penolakan, Bu. Namun tidak akan lama. Paling hanya satu sampai dua hari."


"Nanti jika Ibu sudah sembuh, baru Ibu bisa coba tawarkan ASI lagi."


"Tapi kalau jadi gak mau ASI lagi gimana, Dok?"


"Fokus Kami tim medis saat ini hanya untuk kesembuhan Ibu. Semakin cepat Ibu sembuh, berarti semakin cepat pula Ibu bisa menyusui anak Ibu lagi, sebelum Dia benar-benar lupa dengan ASInya."


"Namun, itu semua kembali lagi pada keputusan Ibu. Kami hanya menyarankan demi keselamatan Ibu."


Aku diam seribu bahasa. Semua orang yang ada di ruangan juga diam.


"Memang ini keputusan yang sulit. Kami bisa mengerti. Oleh karena itu, silahkan Ibu pikirkan dan diskusikan dengan keluarga."


"Baik, Dok. Akan saya pikirkan dulu."


"Dr Indria, ada lagi yang mau disampaikan?" tanya dr Fatma.


"Kalau untuk Ibu Laras tidak ada, Dok. Tapi saya minta Bapak untuk tetap mencatat jumlah air seni setiap dua jam sekali ya, Pak!" jawab dr Indria yang menoleh ke arah suamiku.


"Jangan sampai lupa. Karena jika lupa, maka harus mulai lagi mencatat dari nol" lanjut dr Indria dengan wajah tegas.


"Dan jika sampai besok ibu masih kekurangan cairan, maka Ibu benar-benar harus berhenti menyusui."


"Siap, Dok. Saya skan membantu sebisa Saya," jawab suamiku.


"Kalau begitu Kami permisi dulu ya, Bapak. Ibu semua."


Dan merekapun meninggalkan Kami dalam keheningan. Tak ada satupun yang berani memulai pembicaraan. Orangtua dan suamiku pasti sedang mencerna apa yang baru saja disampaikan kedua dokter itu. Sedangkan aku hanya diam dan memandangi mata Tyara lekat-lekat.


Mami, hanya akan menuruti yang Tyara mau, sekalipun nyawa taruhannya. Kamu tidak perlu khawatir.


Tyarapun seolah mengerti dan setuju dengan keputusanku. Dia tersenyum sangat lebar dan manis sekali.


Tak lupa, Aku juga meminta masukan kepada orangtua dan suamiku. Mereka sebenarnya setuju dengan saran dari dokter, namun mereka memberikan kewenangan sepenuhnya padaku untuk mengambil keputusan.


Ya Allah terimakasih telah menyadarkanku bahwa aku sudah menjadi Ibu. Terimakasih telah menyadarkanku dengan cara mengabulkan semua yang aku rindukan semenjak Tyara lahir. Tinggal satu lagi yang belum terkabul ya Allah. Yaitu kesempatanku untuk bisa menyusui Tyara hingga haknya ASInya terpenuhi. Maka, sembuhkanlah Aku.


Akupun melewati rutinitas yang sama dengan kemarin. Ambil darah, cek suhu dan tekanan darah, makan, minum, tidur, menyusui Tyara, ambil darah lagi, cek suhu lagi, makan lagi, minum, minum, dan minum.


〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰


Terimakasih banyak atas support like, coment dan votenya. Semoga Allah ganti waktunya yang berharga itu untuk like, coment dan vote dengan keberkahan yang melimpah. Amiin. Jangan lupa juga untuk bagikan ke teman-temanmu, agar semakin banyak yang terbantu oleh pelajaran berharga yang bisa diambil dari novel ini.