16KM

16KM
Pasrah



Esok harinya saat dr Indria datang berkunjung, Beliau kembali memberi peringatan agar aku tidak menyusui. Karena ternyata laporan jumlah air seniku masih belum mencukupi.


"Kenapa Ibu masih menyusui?" tanya dr Indria dengan nada kecewa. Dia nampak enggan memeriksa data yang selalu dibawa perawat.


"Ibu tidak ingin cepat sembuh dan cepat menyusui lagi?"


"Maaf, Dok. Saya dan anak saya sempat kesulitan dalam proses menyusu. Dari situ saya banyak mencari tahu tentang ASI dan menyusui. Berdasarkan informasi itu, saya jadi takut anak saya tidak mau menyusui lagi jika terlalu lama diberi sufor."


"Tapi, Bu. Jika Ibu tidak mampu bertahan, tentu anak Ibulah yang paling menderita."


"Lebih baik Dia kehilangan ASI daripada kehilangan Ibu."


"Ibu, tahu? jika digambarkan, pembuluh darah Ibu saat ini seperti kain yang direnggangkan. Bolong-bolong dan tipis sehingga mudah robek atau rusak."


"Jujur, Saya lebih khawatir dengan kondisi Ibu dibanding kondisi pasien yang disebelah." Dr Indria sedikit menoleh ke arah pasien tersebut.


"Meskipun dari hasil test darah yang keluar, jumlah trombosit Ibu masih cukup jauh diatas jumlah trombosit Ibu sebelah. Namun, semua makanan dan minuman yang dikonsumsi Ibu pasien sebelah, nutrisinya terserap penuh hanya untuk si Ibu."


"Jadi saya lebih yakin bahwa Ibu pasien sebelah bisa lekas sembuh."


"Saya sangat berharap Ibu mau merubah keputusan. Silahkan Ibu pikirkan lagi. Saya permisi dulu."


Dr Indira pun pamit. Usahanya tak mampu merubah keputusanku. Aku sudah siap apapun resikonya.


Hari-hari berikutnya aku lalui dengan rutinitas yang sama. Aku sudah sangat bosan. Semua berita di semua akun gossip sudah aku baca. Namun ada satu yang berbeda dari hari kemarin. Yaitu setiap ada perawat yang datang, aku dan pasien sebelah selalu menanyakan hasil test trombosit Kami yang diambil setiap enam jam sekali. Dan hasilnya, trombosit kami selalu kejar-kejaran. Namun punyaku naiknya hanya sedikit, bahkan lebih sering tidak naik. Sedangkan pasien sebelah naiknya selalu banyak. Hingga akhirnya trombositku terbalap.


〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰


Pagi hari ini terasa berbeda. Ada dua aura yang sangat kontras disni. Satu sisi memancarkan aura kebahagian yang begitu kuat. Karena semalam, pasien sebelah sudah diperbolehkan pulang hari ini. Senyum, ada begitu banyak senyum yang mereka lemaparkan satu sama lain. Perawat yang melepaskan infus dan merapikan alat rekam jantungpun ikut tersenyum.


Sedangkan sisi satunya, yaitu sisiku. Rasanya aku ingin menghilang saja. Bahkan sarapan yang telah datang dari tadi, tak berniat ku sentuh.


Terus, gak ada lagi yang bikinin gw jus jambu paling enak itu donk?? Padahal bukan hanya soal rasanya yang enak, tapi gw seperti mendapat dukungan karena gw jadi gak merasa sendirian mengahadapi ini.


"Waah..., sudah mau pulang ya, Bapak, Ibu?"


Aku menoleh. Rupanya dr Indria datang.


Abis deh, Gw.


"Sehat selalu ya, Bapak, Ibu." Dr Indria menyalami mereka kemudian menghampiriku, diikuti seorang perawat yang membawa kotak kecil. Suara langkah kaki dr Indria dan perawat, membuat aku seperti menciut.


"Hhhhh...," dr Indria membuka pembicaraan dengan menghela nafas dan senyumnya terasa sumbang.


"Ibu, apa Ibu sudah siap dengan semua resiko yang mungkin terjadi jika masih terus menyusui?"


"Iya, insya allah Saya siap, Dok"


"Kalau begitu, sebaiknya Ibu pakai alat ini, ya?"


"Alat apa itu, dok?"


"Mudah-mudahan alat ini cukup membantu Ibu dalam menaikkan trombosit. Saya juga berharap, hanya alat ini saja yang di pindahkan dari pasien sebelah."


Hah? Itu..., dari pasien sebelah? Selama ini gw gak ngeh ada alat itu juga, selain alat rekam jantung.


Aku menoleh kesamping. Ada alat rekam jantung yang menghadap ke arahku. Dia seperti sedang mengawasiku.


"Silahkan, Mba." dr Indria memberi instruksi kepada perawat untuk segera memasang infused pump itu.


Yaudahlah, gw pasrah. Gw pernah menolak peran baru gw sebagai ibu. Gw pernah benci sama Tyara, karena merasa hidup gw direnggut sama Dia. Bahkan gw pernah hampir ngebunuh Dia. Mungkin ini balasan dari Allah, karena selalu berharap hidup gw bisa balik lagi kaya dulu. Mudah-mudahan dengan tetap menyusui, bisa ngurangin dosa gw sebelum mati.


Dr Indria dan perawat pamit setelah memasang alat itu. Mataku mengikuti mereka keluar dari ruangan, meninggalkan alat rekam jantung yang masih mengahadap ke arahku. Akupun menutup tirai dengan cepat, agar tidak merasa diawasi dengan alat itu.


"Mih, makan dulu!" kata suamiku.


"Gak nafsu makan, Pih."


"Makan! Aku suapin!" Mas Zaky langsung menghampiriku dan mebyuapkan sendok padaku. Aku tidak bisa menolaknya.


Selesai makan, aku menelpon ibuku. Aku ingin bertanya mengapa mereka belum datang jam segini.


"Assalamualaikum, Ma. Kok belum sampe?"


"Waalaikumsalam. Nanti agak siangan, Ras. Soalnya kan mumpung Ayah libur, jadi bisa agak santai beberes rumah."


"Ooo gitu. Yaudah gak apa-apa. Kirain kenapa."


"Iya, paling jam sembilanan kesananya."


"Oke, Ma. Assalamualaikum." Aku langsung menutup telpon.


"Kenapa katanya, Mih?" tanya suamiku.


"Nanti siangan kesininya, Pih. Mama mau beberes dulu, mumpung Ayah libur."


"Ooo gitu. Mih, Aku beli sarapan dulu, ya. Kamu sendirian gak apa-apa?"


"Iya, Pih. Gak apa-apa. Kan cuma sebentar."


Lalu mas Zaky pergi meninggalkan aku sendirian. Disaat seperti inilah aku merenung dan memikirkan bagaimana caranya agar Tyara bisa hidup layak jika aku sudah tidak ada.


Kalau Gw mati duluan, Mas Zaky pasti bakal nikah lagi. Meskipun nanti calon istrinya baik, tetep gak akan ada perempuan lain yang bisa bener-bener tulus, sayangnya sama Tyara kaya Gw. Apalagi kalau mereka udah punya anak, pasti akan ada tembok pemisah antara Tyara dengan Ibu sambungnya.


Sebagai Ibu yang memiliki gejala pospartum anxiety (miring), tentu hal ini membuat aku khawatir berlebih. Sudah sangat jelas dibenakku bagaimana ibu sambung Tyara akan memperlakukannya. Sekalipun dia baik, tetap saja akan lebih memihak pada anak kandungnya kelak. Aku bisa mengerti, karena tidak akan ada Ibu sambung yang bisa tulus mencintai anak sambungnya, seperti Ibu kandung. Kecuali Mas Zaky se-tajir Anang Hermansyah.


Kalau nanti Mas Zaky mwnikah lagi. Maka, Dia akan sibuk dengen kaluarga barunya. Kondisi ini akan sulit untuk Mas Zaky dalam menentukan sikap, jika terjadi konflik antara Tyara dengan Ibu sambungnya. Dan akan semakin sulit saat mereka telah memiliki anak.


Rasanya ingin sekali menitipkan Tyara segera setelah aku mati. Karena jika mas Zaky sudah menikah, maka Satu-satunya yang bisa mencintai Tyara seperti aku, adalah orangtuaku. Namun itu tidak mugkin, karena hak asuh sepenuhnya milik Mas Zaky. Ditambah lagi, orangtuaku sudah sangat tua. Sulit bagi mereka untuk sanggup merawat anak kecil lagi.


Aku harus segera membicarakan ini dengan Mas Zaky. Dia harus siap dan tahu apa yang harus dia lakukan jika aku tidak mampu bertahan.