
"Assalamualaikum." Mas Zaky telah kembali dan membawa plastik berisi sterofoam.
"Waalaikumsalam. Beli bubur, Pih?" Aku segra bangun dan duduk begitu dia datang.
"Iya, Kamu mau?"
Aku menggeleng. Lalu aku pandangi Mas Zaky memakan buburnya hingga habis.
"Kenapa? Ada yang mau Kamu omongin? Ngeliatin Aku makan sampe gak ngedip. Ditawarin gak mau."
Aku tidak terlalu terkejut. Dia memang bisa membaca pikiranku.
"Pih, tapi jangan potong omonganku, ya?"
"Iya." Wajah Mas Zaky berubah serius.
"Gini, Pih. Kita kan gak tahu ya umur Kita sampe kapan. Kita juga gak tahu siapa yang akan duluan mati meninggalkan Tyara."
Mas Zaky terlihat memicingkan matanya, tanda Dia curiga sekaligus kebingungan.
Aku diam sejenak. Menunggu apakah Mas Zaky akan memberikan reaksi. Ternyata Dia menepati janji untuk tidak memotong pembicaraanku.
"Apalagi sekarang. Disaat kondisi Aku lagi sakit begini, aku memilih untuk tetap menyusui Tyara."
"Terus?" Tanya Mas Zaky. Wajahnya semakin tak enak dipandang.
"Kalau, ini mah, kalau. Misalkan Aku gak bisa bertahan sekarang. Dan kamu ingin menikah lagi. Kamu mau gak janji satu hal sama Aku?"
"Janji apa?"
"Jawab dulu, mau apa enggak?"
"Ya tergantung, aneh apa enggak," jawab Mas Zaky. Kali ini ekspresinya sulit di tebak.
Kok, tumben Dia gak meledak? Biasanya kalo Gw ngomong yang buruk-buruk soal kematian, Dia gak pernah mau. Apa Dia seneng karena bisa nikah lagi?? Ooo, segini doang? Awas ya, Kamu Mas!
"Tyara akan tumbuh besar. Dia akan mengalami perubahan emosi dan sikap. Tapi Aku percaya Dia akan tetap jadi anak baik, meski tanpa ada Aku."
Yang mau aku minta dari Kamu adalah...," aku membetulkan posisiku, entah untuk apa. "..., apapun yang terjadi nanti antara Tyara dengan Ibu sambungnya, Aku mohon agar Kamu tetap lebih memihak pada Tyara. Berjanjilah untuk tetap lebih percaya padanya. Karena hanya kamu yang Dia punya."
"Kamu apa-apaan sih, Ras? A...,"
"Sebentar lagi, please dikit lagi. Ini penting banget. Kalau nanti Kamu bingung dengan situasi itu. Jangan sungkan untuk menitipkan Tyara ke Mama dan Ayah." Aku mempersingkat inti pembicaraan, selagi masih sempat.
"Kamu kelewatan, Ras!" Mas Zaky bangkit dari duduknya.
"Pikiranmu terlalu berlebihan! Kamu pikir, Aku Ayah yang gak becus ngerawat anak? Segitu jeleknya Kamu menilai Aku sebagai Ayah dari Tyara, Ras?"
Aku tak ingin berkata apa-apa, karena bisa memahami reaksinya Mas Zaky.
"Kepikiran aja enggak!"
Ya, jelaslah Kamu gak kepikiran sekarang, Mas. Kan Akunya belum mati. Nanti kalau Aku udah mati, gimana caranya coba Aku ngomong kaya gini, disaat Kamu mau nikah lagi? Masa Aku jadi arwah gentanyangan??
"Gak nyangka Aku. Kamu bener-bener udah berubah. Kamu terlalu suudzon sama apapun!"
Mas Zaky membanting bokongnya dikursi, sambil mengucapkan istighfar dengan lirih. Dia tertunduk dan menggaruk-garuk kepalanya bukan karena gatal.
Suara jam dinding seakan mengejek kami berdua yang tak bersuara. Sesekali ku lihat Mas zaky yang masih tertunduk.
"Kalau Kamu, ada di posisi Aku sekarang bagaimana, Mas?" Aku memberanikan diri untuk berbicara.
Mas Zaky mulai mengangkat kepalanya. Ada cahaya penyesalan dari binar matanya ketika menatapku. Kemudian Dia menghampiriku.
"Maaf, ya. Aku marah-marah. Aku ngerti, kok posisi Kamu. Tapi..., coba deh Kamu bayangin kalau Kamu ada di posisi Aku."
Mas Zaky diam sejenak. Mungkin memberikan aku kesempatan untuk mencerna kalimatnya, sehingga aku lebih mudah menerima kalimat berikutnya.
"Kamu coba bayangin posisi Aku sekarang. Istriku lagi sakit, sementara Anak Aku harus terpisah dari Ibunya, saat Dia masih butuh banget ASI."
"Dan yang lebih parah, Aku gak bisa berada disamping kalian secara bersamaan. Aku ingin sekali bisa mengasuh Tyara disaat Kamu lagi gak ada atau sakit kaya gini. Tapi, Kamu jelas lebih butuh Aku sekarang."
"Aku benar-benar gak menyangka. Disaat posisi Aku seperti ini, Kamu malah memojokkan Aku dengan menganggap. Aku gak akan bisa memperlakukan Dia dengan adil, jika Kamu sudah tidak ada."
Aku hanya diam karena aku tahu Mas Zaky pasti belum selesai bicara.
"Aku ngerti banget posisi kamu sekarang, Mih. Wajar kalau kamu khawatir dengan masa depan Tyara, jika Kamu tidak ada. Tapi, Kamu harusnya mikirin perasaanku dulu. Kalau Aku yang sakit dan Aku bilang khawatir dengan cara Kamu memperlakukan Dia nanti, perasaan Kamu gimana?"
"Terus, Aku kapan ngomongnya kalau begitu? Pas Aku udah mati?"
"Ya, itu artinya Kamu gak perlu ngomong gitu. Karena kamu bakal sembuh dan kita akan kumpul lagi. Justru kalau kamu mikirin itu terus, bahkan sampe menganggu pikiranmu. Kapan kamu sembuh?"
"Permisi. Mau cek suhu dulu, ya." Tiba-tiba seorang perawat datang, mengejutkan kami yang sedang berbincang dengan posisi cukup dekat. Mas Zaky loncat dari duduknya.
"Mba, mau tanya, dong," tanya Suamiku.
"Silahkan, Pak...,," jawabnya sambil mencatat suhu tubuhku. "Suhunya normal ya, Bu."
"Gini, Mba. Kalau Kita stress bisa mempengaruhi naiknya trombosit gak, sih?"
"Oh, iya banget, Pak! Justru kalau kita stress, trombosit Kita bisa gak naik atau malah turun lagi," balas perawat sambil mengecek nadi di pergelangan tanganku.
"Ibu kepikiran, ya? Nadi Ibu masih lemah banget. Harusnya sih, hari ini trombosit Ibu sudah mulai naik terus. Karena kemarin, Ibu sudah masuk fase penyembuhan. Tapi, trombosit Ibu naiknya sedikit banget dan malah sering tidak naik," lanjut Mba perawat menjelaskan kondisiku, berdasarkan kertas yang dia bawa.
"Jangan dibawa beban, Bu. Karena demam berdarah itu obatnya gampang banget. Jika dari awal sudah diantisipasi agar tidak semakn parah. Tuh, obatnya...," Mba perawat menunjuk ke arah laci. "Air putih. Cuma itu obatnya."
"Itulah sebabnya, dr Indria dan dr Fatma menyarankan Ibu untuk berhenti menyusui sementara waktu. Saya yakin, Ibu sudah minum sangat banyak. Tapi hasilnya, jumlah air seni yang keluar belum menunjukan tanda bahwa cairan ibu sudah terpenuhi."
"Saran Saya, Ibu minumnya harus semakin banyak. Kalau perlu Ibu ganti air minum Ibu dengan air alkali yang ph-nya tinggi. Karena Saya sedang menyusui dan tahu betul bahwa setiap anak kondisinya berbeda-beda. Hanya saja dr Fatma lebih memberi wewenang kepada dr Indria dalam menangani Ibu."
"Saya permisi dulu, ya. Ibu harus semangat."
Kamipun tersenyum dan mengucapkan termikasih.
Ya gimana Gue gak kepikiran. Gue gak mau Tyara minum sufor lagi. Dia cukup kehilangan ASInya diawal saja. Gw gak mau Dia kehilangan haknya lagi sampe akhir. Tapi Gw juga pengen sembuh, sih. Duh, gimana ya?
"Pih, di tas ransel kayanya ada popok dede, deh. Tolong ambilin."
"Buat apa?" tanya Mas Zaky sambil tetap merogoh tas itu.
"Buat nyemangatin Aku."
Mas Zaky tersenyum sambil menyerahkan popok itu. "Gitu, dong."
Akupun segera memeluk popok itu. Menaruhnya tepat diatas dadaku agar aku merasa Tyara tidur diatasnya.
*Gue harus semangat. Gue gak boleh pasrah. Maaf Allah, tapi Aku tidak mau mati sekarang. Tyara bukan hanya berhak mendapatkan ASInya, tapi juga berhak tumbuh bersama kedua orangtuanya.
Aku berjanji padaMU, takkan menyia-nyiakan lagi waktu yang telah Engkau berikan untukku bersama Tyara*.