
"Niit... Niit... Niit...."
"Niiit... Niit... Niiit...."
Suara apaan sih, nih? Ganggu banget, lagi enak-enak istirahat. Belum pernah aku istirahat selama ini. Aku mulai sadar, tapi masih memejamkan mata.
Jam berapa ya sekarang? Tyara lagi ngapain ya?kubuka mataku sedikit.
Ooh, udah jam sembilan. Lama juga aku tidur kutatap jam dinding yang berada tepat dihadapanku
Tapi kok jamnya kayanya beda ya?
Aku berusaha mengucek mataku dengan tangan kanan.
HAH?!!! APAAN NIHH?!! KENAPA TANGANKU DI INFUS??
Seketika mataku langsung menyisir ruangan, tempatku berbaring.
Aku?? Di rumah sakit??? Sejak kapan?? Kenapa aku tidak ingat kapan aku kesini? Seingatku, tadi aku cuma mau rebahan sambil merem sebentar
Dahiku mengerenyit dan mataku bergerak-gerak karena berusaha mencerna apa yang terjadi. Lalu aku berusaha untuk duduk, supaya semuanya nampak jelas.
"Ibu?? Sudah sadar??" tanya seorang perempuan dengan seragam hijau dan pink.
Dia membalik badannya dan mengambil alat untuk memeriksa tensi, kemudian menghampiriku.
"Saya periksa dulu ya, Bu?" dia meraih tanganku dan membalutnya dengan semacam kain yang ada pada alat tensi.
"Ibu yang di rasain apa sekarang?"
"Dimana keluarga saya?" aku malah bertanya balik, bukan menjawab.
"Suami Ibu sekarang sedang mengurus administrasi untuk masuk kamar rawat inap, Bu"
"Apa Ibu pusing, mual atau ada merasakan kesakitan yang lain, bu?" lanjut perawat sambil melipat dan merapikan alat tensi.
"Agak pusing sih, Mba" aku manjawab dengan wajah yang masih bingung.
"Oh, baik. Mungkin karena tensi ibu agak rendah"
"Saya cek suhu tubuhnya ya, Bu?" kemudian dia mendekatkan termometer ke dahiku, tanpa aku sempat menjawab apapun.
"Suhunya normal ya, Bu"
"Ibu, ini saya pasangkan gelang pasien. Jangan dilepas sebelum waktunya ya, Bu. Dan disini juga ada tanda "fall risk". Tujuannya agar semua orang yang berada di dekat ibu, terutama perawat bisa tahu bahwa Ibu ada resiko jatuh."
"Ibu ada lagi mau disampaikan atau mau ditanyakan?"
"Enggak, Mba"
"Baik, kalau begitu saya permisi dulu ya, Bu. Nanti saya kesini lagi membawakan obat. Ibu harus banyak minum, ya."
Aku mengangguk. "Makasih ya, Mba"
Perawat itupun pergi. Lalu aku melihat lagi sekelilingku. Ada dua kasur dikanan kiriku. Dan yang disebelah kanan diisi oleh anak kecil perempuan, mungkin umur sebelas tahun. Aku tidak tega melihatnya lebih lama. Karena umur sekecil itu sudah harus mengalami sakit yang seperah itu, hingga dia dipasangkan alat perekam jantung. Satu kasur lagi ada depan kiri dan disebelahnya ada meja besar tempat beberapa perawat sedang duduk. Jika dilihat dari susunan tempat tidur dan perlengkapan rumah sakit lainnya sih, sepertinya aku berada di UGD.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya mampu melihat dengan pikiran kosong semua yang ada dihadapanku. Kupandangi jarum infus yang menancap di tangan kananku dan gelang pasien di tangan kiriku secara bergantian.
Aku gak percaya ini. Aku?? Di opname?? Pingsan aja seumur hidup baru sekali kemarin. Bahkan dijahit tanpa dibius waktu lahiran saja aku kuat fisiknya.
Lalu aku melihat tas ranselku yang terbuka disebelah kanan kasur. Dari dalam tas dapat aku lihat, ada popok Tyara yang memang selalu ada di tas.
Ya Allah, Tyara. Bagaimana dia? Gimana keadaan dia sekarang? Gimana nyusunya? ASI yang diperah saja dia tidak mau. Lalu dia makan apa?
Aku menyesal. Menyesal sejadi-jadinya, karena pernah memerah ASI dengan tujuan untuk meninggalkan dia.
"Laras!" Mas Zaky setengah berlari menghampiriku.
"Kamu udah bangun, Sayang? Alhamdulillah," dia meraih wajahku, lembut.
"Tyara, gimana dia, Mas?"
"Udah, kamu jangan mikirin itu dulu." Mas Zaky mengeluarkan kertas dari tas kecilnya.
"Ini udah dapat kamar. Alhamdulillah dapat kelas satu."
"Nanti kalo kamarnya udah siap, dijemput."
Aku hanya menaikkan alisku kemudian memalingkan wajah.
"Kok, aku bisa ada disini, Mas?"
"Kamu tadi tuh pingsan, Ras. Jalan ke kasur tahu-tahu jatuh di kasur."
"Permisi, Bapak, Ibu." Seorang perawat datang membawa nampan berisi obat.
"Ibu, tadi berdasarkan informasi dari Bapak. Ibu ada diare ya?"
"Iya, Mba tiba-tiba aja. Udah gitu gak ketahan lagi. Begitu buang air kecil langsung ikut keluar juga."
"Iya, Bu. Ini saya bawakan obat diare dan paracetamol. Ibu sudah makan?"
"Sudah, Mba. Tadi sebelum pingsan."
"Kalau begitu, obatnya bisa langsung diminum ya, Bu!"
"Oh iya, Mba. Kenapa ya, kok, Saya jadi diare?"
"Itu karena ibu sudah masuk fase kritis"
"Hah? Kritis, Mba?"
"Iya, Ibu. Tapi gak perlu khawatir, karena memang begitu sikilusnya demam berdarah. Jadi tergantung fisik Ibu, kuat atau tidak melewati fase paling rawan ini."
"Tapi Saya udah gak demam, Mba."
"Iya, memang begitu Bu. Demamnya turun, bukan berarti sembuh. Melainkan masuk fase paling berbahaya. Biasanya di tandai juga dengan diare, keringat dingin berlebih dan pendarahan"
"Oh, Iya bener Mba. Saya emang kemarin juga mengalami keringat berlebih dan dingin rasanya"
"Iya, Bu. Asalkan ibu kuat pasti bisa melewati fase ini dengan baik. Makanya Ibu harus banyak minum, banyak makan, banyak istitahat dan jangan banyak bergerak"
"Oh, iya. Sama satu lagi Mba. Saya juga tiba-tiba aja mens. Tapi darahnya gak kental. Agak pudar gitu warnanya."
"Oh! Kalau begitu saya permisi sebentar ya, Bu. Saya panggil dokter." Perawat itu napak terkejut dan panik. Diapun langsung pergi.
Aku dan suamiku hanya saling memandang. Pasti dia juga merasakan hal yang sama denganku. Bingung, takut dan khawatir melihat reaksi Mba perawat yang seperti itu.
Tidak ada yang kami bicarakan selama menunggu kedatangan dokter. Kami hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Permisi, Bu" Suara seorang perempuan yang terdengar lebih berat dari suara Mba perawat, membuat aku dan suami tersadar dari lamunan. Rupanya dia dokter yang kami tunggu.
"Iya, Dok." jawabku singkat. Sedangkan suamiku, dia langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Sudah dari kapan keluar darahnya, Bu?"
"Eemmm, baru semalam sih, Dok. Tapi warnanya gak kaya mens, Dok. Warnanya agak pudar. Memang saya kalau mau datang bulan sering sakit, Dok"
"Kami tim medis, tidak berani menganggap bahwa itu adalah darah haid, Bu. Kami lebih memilih untuk menyebutnya pendarahan. Karena kami harus selalu siap dengan kemungkinan terburuk." Jawab dokter itu dengan wajah serius.
"Glek!" Aku menelan ludah.
"Saya cek tidak apa-apa ya, Bu?"
"Sreeeekkk .... Sreeeeekkk!" dengan sigap Mba perawat menutup semua tirai.
Setelah dokter itu membuka celanaku, dia menekan-nekan perut bawahku. Kemudian dia mengangguk-angguk.
"Nanti jika kamarnya sudah siap, pakai kateter ya, Bu. Agar Ibu tidak perlu naik turun kasur untuk ke kamar mandi."
"Hahh??" ucapku di dalam hati. Aku kebingungan.
Dokter itupun pamit, meninggalkan aku yang belum mengerti apa itu kateter. Dan tidak lama setelah itu, aku dijemput oleh perawat yang lain dengan kursi roda.
"Kamarnya sudah siap, Bu. Mari, Saya antar."
Sulit dipercaya, aku akan naik kursi roda lagi setelah aku melahirkan. Semua mata seakan tertuju padaku dengan tatapan iba.
"Apa lihat-lihat?" kataku pada mereka. Tentu saja di dalam hati.
Akhirnya aku sampai di kamar 202. Dan ketika aku di dorong masuk, aku langsung disambut dengan suara alat rekam jantung lagi. Aku menoleh ke kiri, dimana suara itu berasal. Rupanya ada satu pasien perempuan lain yang sedang tidak sadarkan diri ditemani suaminya. Hatiku mencelos. Ingin rasanya aku pindah kamar.
"Sama, Bu DBD juga. Tapi yang disebelah sampai koma berkali-kali"
"JEDHEERRRR!!!" Aku seperti tersambar petir di siang bolong.
Kalo bukan Dia, Gw yang mati, nih! gumamku di dalam hati.
Kan bisa aja malaikat mautnya ketuker atau berubah pikiran karena sama-sama DBD. Gw gak mau disini! Gw harus pindah! Kemudian Aku mengumpulkan keberanian untuk berbicara.
"Mba, Boleh gak saya pindah kamar? Saya takut, Mba. Apalagi sakitnya sama"
Mbak perawat malah tertawa. "Tidak apa-apa kok, Bu. Kalau pindah kamar nanti lama lagi"
"Gak apa-apa, Mih. Kan ada Aku disini." Kata suamiku.
Aku hanya bisa menghela nafas.
Setelah membantuku menaiki kasur, perawat tadi juga membetulkan selang dan kantong infus.
"Bapak, ini di gelang pasien Ibu ada tanda fall risk, karena Ibu ada resiko jatuh. Jadi, harap diberitahukan juga ke anggota keluarga lain yang berjaga dan berkunjung ya, Pak. Agar lebih berhati-hati"
"Baik, Mba. Terimakasih atas infonya ya, Mba"
"Kalau begitu, saya permisi dulu ya"
Perawat itupun pergi. Ku lihat Mas Zaky langsung sibuk merapikan bawaan kami. Sementara aku tidak tahu harus berbuat apa.
Bunyi alat rekam jantung sangat membuatku risau. Akupun memilih untuk membalikan badan.
Tak lama, aku mendengar suara langkah kaki beberapa orang, yang bersamaan masuk ke ruanganku. Rupanya ada dua perawat dan dokter yang menemuiku tadi, datang berkunjung. Salah seorang perawat membawa sesuatu yang bentuknya tidak pernah ku lihat sebelumnya. Seperti selang tapi bercabang disalah satu ujungnya dan ada benda seperti balon di ujung yang lain. Kemudian ada kantong, seperti kantong infus tapi lebih besar dua kali lipat.
"Saya dr Indria. Dokter Internis yang akan menangani Ibu disini. Tadi saat di UGD saya belum sempat memperkenalkan diri."
"Seperti yang sudah Ibu ketahui, bahwa saat ini Ibu sedang berada di fase kritis dari sakit demam berdarah yang Ibu alami. Dan berdasarkan informasi yang saya terima, maka saya simpulkan Ibu mengalamai komplikasi pendarahan."
"Untuk itu saya sarankan Ibu untuk menggunakan kateter agar Ibu tidak perlu ke kamar mandi. Karena untuk saat ini sebaiknya Ibu tidak banyak bergerak, agar tidak ada pembuluh darah yang pecah."
Oooh, rupanya alat itu yang namanya kateter.Sepertinya aku tidak akan suka. Aku tidak mendengarkan lagi penjelasan dari dokter, karena larut dalam lamunanku.
"Bagaimana, Bu? Karena kami butuh persetujuan dari Ibu."
"Hah? Oh, iya. Eemmm ... Boleh gak, Dok kalau saya gak usah pakai? Saya masih sanggup kok, ke toilet."
"Bukan masalah masih sanggup atau tidak, Bu. Tapi menjaga agar tidak ada pembuluh darah yang pecah, akibat banyaknya pergerakan."
"Dan jika ibu tetap tidak ingin pakai kateter, kami akan tetap minta pernyataan dari Ibu, bahwa Ibu yang menolak untuk menggunakan kateter. Sehingga jika terjadi sesuatu dengan Ibu akibat terlalu banyak bergerak, itu bukan faktor kesalahan dari kami."
"Hhhhhhh-" mataku menatap langit-langit. "- ya sudah kalau begitu, Saya mau"
Dua perawat itupun mendekat dan memulai pemasangan kateter.
Sedangkan aku rasanya ingin teriak. Rasanya sih tidak sesakit waat perineumKu di jahit, akan tetapi ingatan tentang persalinanku yang menyakitkan hati dan fisik kembali berputar dimataku. Membuat aku semakin tidak ingin punya anak lagi.
Dengan menggunakan kateter, aku tidak bisa berbuat apa-apa dengan darah haidku-aku tidak mau menyebutnya pendarahan-jadi aku harus tidur beralaskan perlak, agar tidak menodai kasur.
Setelah semuanya rapih, dokter dan perawat meninggalkan kami. Lalu aku merasa lelah dan aku memilih untuk tidur. Sebelum tidur, entah kenapa aku malah menengok pasien disebelah kananku. Dia masih belum sadarkan diri.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
"Permisi, Bu. Cek suhu dulu ya!"
Perlahan aku membuka mataku. Rupanya ada seorang perawat lagi yang datang untuk mengecek suhu.
"Suhunya normal ya, Bu"
"Alhamdulillah" ucapku dengan suara yang masih serak.
"Mba, kalo dbd itu ada obatnya gak, sih?"
"Tidak ada, Ibu. Dbd obatnya hanya minum air putih dan banyak istirahat, agar bisa melewati semua fasenya hingga sembuh"
"Obat hanya di berikan sesuai dengan keluhan yang dirasakan. Jika Ibu merasa pusing, maka akan diberikan obat pusing. Begitu juga jika Ibu demam atau mual muntah. Tidak ada ibat khusus untuk demam berdarahnya."
"Oo begitu."
"Ada lagi yang mau ditanyakan, Ibu?"
"Belum ada, Mba."
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu ya, Bu. Jika ibu merasa pusing atau mual,segera minta obat, ya! Usahakan agar jangan sampai demam lagi ya, bu!"
Kemudian mataku mengikutinya melangkah keluar. Ku lihat dia tersenyum kepada suami dan pasien di sebelahku.
Aku terkejut, ternyata pasien di sebelahku sudah bangun. Ada semburat kebahagiaan diwajah sang suami yang rambutnya sudah hampir botak. Senang rasanya melihat dia bisa duduk dan minum dibantu suaminya.
Kini sudah jam dua belas siang dan aku rindu sekali dengan Tyara. Rindu yang amat menyakitkan. Jika kalian pernah merasakan sakitnya rindu dengan kasih tak sampai kalian, maka rindu Ibu terhadap anaknya yang tak bisa di temui itu jauh lebih menyakitkan.
Ku raih ponselku dan hendak menelpon Ibuku. Namun tak jadi kulakukan karena aku tak sanggup. Aku tak kan bisa menahan tangis, yang akhirnya akan membuat Ibuku dan Tyara juga menangis.
Benar kata orang-orang, bahwa rindu itu berat. Aku sampai lapar karena menahan rindu. Untungnya tak lama kemudian seseorang datang membawa troli makanan untukku dan pasien disebelah makan siang. Aku memakannya sampai habis, karena memang porsinya yang tidak terlalu banyak namun komplit empat sehat.
Selesai makan siang, suami pasien di sebelahku menghampiri suamiku. Ku lihat istrinya sudah tidur lagi.
"Istrinya, Mas?" kata laki-laki yang mungkin usianya sekitar empat puluh tahun.
"Iya, Pak" suamiku beranjak dari duduknya. Mereka saling melemparkan senyum.
"Sakit apa, Mas?"
"DBD juga, Pak"
"Oh, sama, ya? Istri saya sampe pingsan berkali-kali."
"Iya, ini juga tadi pagi pingsan. Tapi baru sekali sih "
"Istri saya sampe BAB di lantai. Penuh sekamar" kata pria itu dengan nada berbisik karena tak ingin terdengar oleh istrinya.
"Ooo .... Berarti memang seperti itu ya, DBD pada fase kritis ini." Kataku di dalam hati.
"Terus langsung saya bawa kesini Mas, naik motor. Pas sampe disini, istri saya pingsan lagi. Terus diperiksa sebentar, habis itu langsung di pasang alat-alat itu." Dia menunjuk ke arah alat rekam jantung.
"Saya bersyukur banget, Istri saya saya masih bisa sadar lagi. Soalnya anak saya masih bayi banget, baru sebulan."
"HAH?!" Aku dan suami sama-sama terkejut.
"Jadi istri Bapka baru melahirkan?" kataku sampai menaikan kepalaku.
"Iya, Mba. Baru banget sebulan. Makanya Saya kasihan banget ini. Orang abis lahiran kan masih capek, ya. Ini malah kena DDB. Makanya sampai kaya gitu, mungkin karena fisiknya masih lemah."
"Saya ...." Suaraku terhenti. Tiba-tiba sesuatu melintas dipikiranku.
Wah, bener nih. Kalo gak dia yang mati, ya Gw yang mati. Sama-sama punya bayi. Pasti menjadi pilihan yang sulit buat malaikat maut.
"Anak saya juga baru empat bulan, Pak" Aku melanjutkan bicara dengan suara sedikit bergetar.
"Oh ya? Wah bisa sama gini, ya? Kebetulan banget."
"Hahaha, iya, Pak" kata suamiku. Lalu mereka berdua tertawa garing. Karena ini adalah kebetulan yang tidak lucu dan tidak menyenangkan seperti kebetulan jika bertemu teman dan keluarga disuatu tempat. Tapi apalagi yang bisa dilakukan selain tertawa ketika menyadari kebetulan ini?
"Eh, iya Mas. Maaf, boleh titip istri saya sebentar? Saya ada perlu ke bawah."
"Oh, iya. Gak apa-apa, Pak. Silahkan." Jawab suamiku.
Diapun pergi, meninggalkan aku yang pikirannya semakin kalut.
Seseorang tolong! pindahkan aku dari sini! Kemana saja, asal jangan disini! Aku takut malaikat salah cabut!
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Alhamdulillah, terimaksih banyak sudah membaca 16km sampai bab ini. Jika teman fillah merasa suka dengan novel ini, atau ingin memberikan kritik dan saran. Caranya mudah sekali. Cukup buat akun noveltoon (jika belum punya), kemudian teman fillah bisa dengan bebas like, comment, dan vote disetiap episode. Respon dari kalian disini sangat aku nantikan.
.
.
.
Semoga 15 menitmu yang berharga ini, Allah ganti dengan rezeki yang berlipat dan berkah. Aamin ya robbal alamin.