16KM

16KM
Collapse



Sekitar jam setengah sepuluh, Tyara datang bersama orangtuaku. Dan tak lama setelahnya, ada petugas yang datang untuk mangambil darah. Ini sungguh menyiksa. Entah sudah keberapa ratus kalinya aku disuntik selama disini.


"ALLAHUAKBAAAARRR!!!!" Aku berteriak sekeras-kerasnya ketika jarum itu masuk kedalam kulitku.


Rasa sakitnya hampir menyerupai sakit ketika dijahit setelah melahirkan Tyara empat bulan yang lalu. Terasa sangat panas dan seolah tersedot oleh sesuatu. Untungnya petugas itu segera mencabut jarumnya sambil meminta maaf.


"Kok, tumben sakit banget, Mba?"


"Iya, Bu. Udah collapse soalnya."


"HAH?! COLLAPSE??"


"Bukan colapse yang itu, Bu. Tapi pembuluh darah venanya. Karena trombosit ibu masih rendah banget, jadi pembuluh darahnya mengecil. Maaf ya, Bu. Saya coba cari lagi"


"Hah?! Jadi itu tadi belum berhasil, Mba?"


"Belum, Bu. Karena gak ada darah yang berhasil diambil," jawabnya sambil merapa-raba tangan dan lipatan sikutku.


Sedetik kemudian, dia sepertinya menemukan pembuluh darah yang lain.


"ALLAHUAKBAAARRR!!! MBAK, MBAK, UDAH MBAK!!" aku kembali berteriak. Rupanya pembuluh darah yang barusanpun sudah collapse.


"Aduh, ya ampun, maaf, Bu." Petugas itu terlihat lebih panik sekarang. Namun, Dia kembali berusaha mencari pembuluh darah yang lain.


Semua ikut panik, termasuk Tyara. Dia bahkan langsung menjerit ketika aku berteriak yang ke dua kalinya. Kemudian dengan sigap Ayahku membawa Tyara keluar kamar, agar tidak melihatku disuntik lagi.


Mas Zaky menghampiriku, berusaha untuk menenankan. Meskipun Dia juga tak bisa menutupi kepanikan diwajahnya. Sementara Ibuku, dialah yang paling panik karena sudah menangis sesegukan. Bahunya terlihat bergoyang-goyang karena membaca ayat kursi cukup keras sambil menangis.


"Saya panggilkan perawat sebentar ya, Bu," kata petugas itu. Sepertinya dia tidak berhasil menemukan pembuluh darah yang belum collapse. Dia segera keluar kamar dengan setengah berlari.


Tak lama, petugas itu datang membawa dua perawat dan satu dokter jaga yang belum pernah kuluhat sebelumnya. Kedatangan segerombolan tim medis sebanyak itu, membuatku takut. Sementara Ibuku, dia semakin menangis histeris sambil tetap membaca ayat kursi.


Udah kaya ngeliat setan aja si mama, dokter dateng dibacain ayat kursi.


Dengan sigap dua perawat itu langsung meraba-raba kadua kakiku. Seperti yang dilakukan petugas tadi ketika ingin mulai menyuntik. Sedangkan dokter jaga, dia langsung memeriksaku dengan stetoskop.


"Ada keluhan gak, Bu?" tanya dokter laki-laki yang terlihat masih muda itu.


"Enggak, Dok. Cuma lemes aja."


"Lin, coba cek tekanan darahnya," perintah dokter itu kepada salah satu perawat.


"Udah ketemu belum yang di kaki?" tanya dokter itu kepada perawat yang satunya. Dan perawat itu hanya menggeleng.


"Tekanan darahnya normal kok, Dok."


"Bagus. Kalau begitu cari terus sampai dapat!"


Aku memperhatikan mereka satu persatu. Mereka beremapat seperti sedang berlomba, mencari pembuluh darah vena di kedua kaki dan tangan kiriku.


"Ketemu, Dok!" seorang perawat menemukan pembuluh darah vena yang baru di dekat betis.


Hoorreeee....


"Ya udah, langsung coba suntik!" perintah dokter itu.


Selesai disuntik, dokter jaga yang belakangan aku ketahui bernama Ari, memberikan pesan agar aku semakin banyak minum air. "Sepuluh menit sekali gak apa-apa, Bu." Begitu pesan terakhir yang disampaikan dr Ari, sebelum mereka pamit.


Ayahku segera masuk membawa Tyara dalam gendongannya. Dan Tyara langsung merengek, ingin meraihku.


Maaf Allah, harus aku sampaikan sekali lagi. Aku tidak mau mati sekarang. Aku mau tetap menyusui Tyara dan membesarkannya, Aku mau sehat, panjang umur dan sejahtera. Ucapku dalam hati sambil menyusui Tyara.


〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰


"Selamat siang, Bapak, Ibu."


Suara itu sontak membangunkanku. Aku sedikit kesal, karena merasa baru tidur sebentar. Ternyata dr Indria datang berkunjung. Wajahnya seolah-olah berkata Kan, apa Gue bilang?


Dr Indria langsung memeriksaku tanpa melontarkan pertanyaan apapun. Suhu tubuh, tekanan darah, sorot mata, dan nadiku semua diperika olehnya.


Dia pasti sudah mendengar cerita tadi. Abis deh Gue disemprot. (miring)


"Coba mabil nafas, Bu!" kata dr Indria ketika memeriksa dadaku menggunakan stetoskop.


"Sekali lagi, Bu!"


"Yak, sudah." dr Indria melepaskan stetoskopnya.


"Bu Laras, Saya sudah mendengar apa yang terjadi tadi pagi. Untuk itu Saya mau meningkatkan dosis cairan infus ya, Bu. Dengan cara meningkatkan kecepatan infusnya. Bagaimana? Apakah Bapak. Ibu setuju?" tanya dr Indria kepadaku dan Mas Zaky.


"Selama enggak membahayakan Saya dan Anak Saya, boleh, Dok," jawabku. Dan Mas Zakypun juga setuju.


"Tenang, Bu. Ini hanya NaCL, kok."


"Tadinya Saya kira, dengan hanya dibantu infused pump saja sudah cukup membantu Ibu dalam memenuhi kebutuhan ciaran. Sehingga Ibu tidak akan kekurangan cairan karena telat pemberian infus baru atau karena tersumbat. Namun, karena tadi pagi ada kejadian seperti itu, maka dosisnya pun harus dinaikan. Agar trombosit Ibu bisa segera naik sebelum terjadi collapse yang lebih buruk."


"Kalau begitu, langsung dilaksanakan saja ya, Bu? Silahkan, Mba!" tutur dr Indria.


Perawat yang dari tadi diam saja, akhirnya melakuksn tugasnya. Dia sepertinya mengatur tombol-tombol angka yang ada pada infused pump.


〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰


Rupanya keputusan dr Indria untuk meningkatkan dosis infus sangatlah tepat. Karena setelah dosisnya dinaikkan, trombositku perlahan naik. Dan kemungkinan, besok aku sudsh bisa pulang


Kenapa enggak dari awal aja yak dosisnya segitu. Kan gue gak perlu lama-lama disini. Eh, tapi emang gak bisa sembarangan, sih.


Badanku kini terasa lebih segar, darah haidku sudah berhenti meskipun masih menggunakan kateter. Dan bahkan, bintik-bintik di kakiku juga sudah hilang. Senangnya!


"Selamat pagi Ibu Laras." Dr Indria datang dengan wajah senang.


"Saya periksa dulu ya, Bu," lanjutmya sambil memeriksa nadiku. Seketika raut wajahnya berubah.


"Ibu, yakin tidak ada keluhan?" tanya dr Indria dengan ekspresi serius.


"Enggak, Dok." Aku mengerutkan dahiku.


"Tapi, kok, nadi Ibu masih lemah, ya?"


"Nanti tes darah sekali lagi gak apa-apa ya, Bu?"


"Iya, Dok."


Aku kembali gelisah setelah dr Indria pamit. Rasanya tidak rela jika harus lebih lama lagi disini. Namun tak lama ada perawat yang datang dan menjelaskan bahwa aku tetap boleh pulang, besok tanpa harus tes darah lagi.


Akhirnya hari yang ku tunggu-tunggu tiba. Kaka iparku datang untuk membantu merapikan bawaan. Sementara Mas Zaky sedang mengurus proses pembayaran dibawah.


Saat kami sedang menunggu Mas Zaky, dua orang perawat datang untuk melepas kateter dan infus. Kemudian salah seorang perawat memberi beberapa pesan, yaitu untuk tetap banyak minum dan dibantu dengan sari kurma untuk pemulihan. Dia juga berpesan agar aku tetap tidak menyikat gigi sampai tiga hari kedepan. "Soalnya trombosit Ibu tuh, sebenarnya masih rawan banget. Baru lewat sedikit dari batas minimal. Jadi dikhawatirkan ketika menyikat gigi, terjadi pendarahan di gusi yang sulit dihentikan." Itulah pesan yang paling harus ku ingat. Karena sudah seminggu lebih aku tidak sikat gigi selama dirumah sakit, aku sudah sangat tidak tahan untuk segera menyikat gigi.


〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰


Terimkasih atas waktu tambahannya untuk buat akun (bagi yang belum buat) like, komen, love dan vote. Semoga Allah ganti kebaikan kalian itu dengan kebaikan yang berlipat ganda. Aamiin.