16KM

16KM
WKND




Hari ini hari Jumat. Hari yang paling kutunggu-tunggu, karena besok adalah akhir pekan. Aku bisa sedikit punya waktu untuk diriku sendiri jika hari libur tiba. Ditambah lagi, dua ponakanku biasanya datang untuk berlibur akhir pekan disini. Mereka kaka beradik, anak dari abangku satu-satunya. Yang pertama bernama Umar, umurnya lima tahun dan yang ke dua bernama Ali umurnya baru satu tahun, keduanya laki-laki.


Selain itu, hari Jumat ini terasa lebih istimewa dari biasaanya. Karena besok Sabtu, untuk pertama kalinya sejak Tyara lahir, aku akan pergi keluar rumah untuk jalan-jalan bersama keluarga. Aku memang sama sekali belum pernah pergi jalan-jalan semenjak Tyara lahir empat bulan yang lalu. Kalian semua tahu apa penyebabnya. Padahal dari informasi yang kubaca, salah satu cara menangani baby blues adalah dengan pergi keluar rumah untuk menghilangkan penat. Tapi aku tidak berani. Aku takut Tyara kenapa-kenapa dijalan, aku takut dia rewel, aku takut dia capek atau sakit setelahnya. Aku baru berani sekarang, karena aku merasa Tyara sudah cukup besar dan kuat fisiknya.


"Aaaaateeeuu, dede Tyaraaa, Assalamualaikum" Suara abang Umar memecahkan keheningan rumah.


Aku bergegas keluar sambil menggendong Tyara.


"Waalaikumsalam, Eehhh... Abang Umar udah nyampe"


"Dedee Tyaraaa, Abang kangen." Umar langsung menghujani anakku dengan ciuman.


"Yaya... Yaya..." Ali memanggil anakku.


"Ehh ada ade Ali juga ya" Ali langsung menghampiri anakku dengan jalannya yang masih seperti robot. Dia tidak mau kalah dengan abangnya dan menghujani anakku dengan ciuman juga. Tyara tertawa geli, lucu sekali.


"Ateu, Nena mana?" tanya Umar.


"Nena lagi mandi, Bang"


"Neeeennaaaa"


"Heeiiii, abang udah sampe?" sahut Ibuku dari kamar mandi.


"Udaaaahh"


Aku langsung meletakan Tyara di kasur yang ada diruang TV. Kemudian abang Umar dan Ali datang menghampiri.


Aku senang sekali dengan kedatangan mereka. Meskipun repot, tapi aku senang karena kehadiran mereka bisa membuat pikiranku sibuk dan tidak terlalu sering memikirkan hal buruk.


Meskipun sesekali, ada saja pikiran buruk yang menyelinap masuk. Seperti saat ini, tiba-tiba saja aku sedih melihat kedua ponakanku. Karena selain mengkhawatirkan anakku, Aku juga mengkhawatirkan kedua ponakanku. Aku sayang sekali pada mereka, seperti anakku sendiri. Terlebih pada ponakanku yang pertama, Umar. Mungkin karena dialah yang membawa keceriaan pertama kali dikeluargaku.


Ku pandangi 3 anak yang sedang bersenda gurau itu. Sambil memikirkan cara apa yang bisa aku lakukan untuk melindungi mereka jika bahaya datang.


"Woyyy! Bengong" sahut kaka iparku mengagetkanku. Dia duduk disebelahku, ikut menonton tv.


"Wuiiihh, asiik ultraman ribut" kata Umar yang kegirangan melihat film Upin Ipin episode Ultraman Ribut, meskipun sudah ditontonnya berkali-kali.


"Ciaatt... Ultraman Ribut" Umar menirukan gerakan ultraman ribut yang sedang mengeluarkan kekuatannya.


"Ciiuu... Ciiuu.. Ciiiiuuu"


"Anjaayy, keren banget"


"Heeehhhhh... Abang?" kataku dan kaka iparku berbarengan.


"Umar! Kan Bunda udah bilang, Bunda gak mau denger Umar ngomong kaya gitu lagi!"


"Maaf, Bunda. Umar lupa" kata Umar mengiba dipangkuan ibunya.


"Siapa yang ngajarin ngomong gitu, Bang?" tanyaku.


"Ituu Ras, ngikutin anak-anak di sekolahnya. Kan banyak yang omongannya kaya gitu"


"Oalah. Emang yaa jaman sekarang, anak TK aja bahasanya udah ngeri"


"Iiih jangan kan omongan. Pacaran aja udah pada ngerti"


"Makanya aku kalau udah waktunya pulang ya pulang. Gak pernah ikut ibu-ibu lain buat nongkrong"


"Ya Allah, beneran ya udah seserem itu?"


"Iyaa, ngeri bangett, Ras jaman sekarang mah. Udah mau kiamat"


*Syuuuu~


Mendengar ucapan itu pikiranku seperti langsung ditarik ke ruang gelap yang tak bertepi. Kiamat benar-benar sudah diepan mata, pikirku.


Lalu tanpa ku sadari, aku meluncurkan sebuah pertanyaan yang tak bisa ku bendung.


"Bun, takut gak sih sama kiamat? Sementara anak-anak masih pada kecil-kecil"


"Hee?? Kok tiba-tiba nanya gitu?


"Iya kepikiran aja. Gimana ya, dunia udah tua banget. Sementara anak-anak aja masih pada kecil. Besar kemungkinan mereka akan mengalami itu semua sebelum dewasa dan kuat"


"Yaa.. Mau gimana lagi. Kalo ditanya takut, ya sekarang aku juga baru kepikiran untuk takut dengan nasib anak-anak."


"Selama ini aku juga takut, tapi aku gak sampe sejauh itu mikirnya"


"Aku sih cuma ngejalanin dan nikmatin aja. Toh mau kita berusaha kaya gimana juga, itu pasti terjadi kan?"


Aku hanya mengangguk.


"Lagian, ada-ada aja mikirnya"


Ingin sekali aku menjelaskan, bahwa yang aku takutkan bukan kiamatnya, bukan kematiannya. Tapi penderitaan yang akan muncul sebelum itu terjadi. Dan kemungkinan anak-anak akan mengalami itu sebelum mereka dewasa. Tapi aku tidak sanggup menyampaikannya, karena pasti akan menjadi diskusi panjang dan tidak akan ketemu jawaban yang mampu aku terima.


"Kalo aku sih ya, sekarang mending jalanin aja apa yang ada didepan mata. Nikmatin aja. Tuh, lihat mereka lagi ketawa-ketawa"


Aku terdiam, dan sedikit terbuka pikiranku. Bahwa kaka iparku dengan dua anak yang masih kecil saja terlihat santai. Sedangkan aku, kadang suka lelah sendiri karena kepikiran dia dan dua anaknya, jika terjadi sesuatu di rumahnya saat abangku tidak ada.


〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰


Anakku pasti puas bermain hari ini dengan 2 abangnya, sampai dia kelelahan. Diapun tidur lebih awal dari biasanya.


"Waah baru jam 7 nih. Pas banget, mau nyiapin yang harus dibawa besok" kataku dalam hati kegirangan.


"Popok enam cukup gak ya. Mmmm.. Tambah satu lagi"


"Baju tidur panjang dua stel udah, kaos dalam empat, kaos kaki dua, minyak telon, tisu basah tiga, kain bedong dua, bedak, selimut, jaket udah semua"


"Apa lagi ya yang belum?


"Oh iya! Celana dalamku dan celana dalamnya Mas belum"


Dari dulu aku memang selalu membawa cadangan pakaian dalam di tas saat pergi-pergi. Gunanya, tidak lain tidak bukan, untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang membuat aku tidak bisa segera pulang. Hufff... Lelah memang menjadi aku.


Ku masukan semua yang sudah kusiapkan diatas kasur, kedalam tas popok ransel yang cukup besar.


"Yep, beres!"


Kupandangi tas itu dengan takjub. Karena akhirnya dia keluar dari pelastik pembungkusnya dan bisa terpakai juga. Tas itu tampak seperti orang yang kekenyangan. Padat dan tak ada lagi celah kosong.


"Oh iyaa! Hampir aja lupa. Kurma sama biskuit belum di masukin"


Segera aku keluar kamar, menuju dapur. Ku ambil plastik berukuran setengah kilo, lalu aku mulai memasukan kurma satu persatu.


"Cukup nih kayanya buat rame-rame"


Kupandangi kurma yang hampir penuh di dalam plastik setengah kilo. Aku bersyukur selalu ada kurma, meski bukan bulan puasa seperti saat ini.


"Sekarang tinggal biskuitnya"


Aku bergegas kembali ke kamar sambil membawa kurma dan biskuit. Aku senang sekali dengan tas popok ini. Karena selain kapasitasnya besar, dia juga memiliki kompartemen yang banyak. Jadi satu bungkus biskuit dan seplastik kurma masih bisa masuk ke salah satu kantong, meskipun tas ini sudah hampir meledak.


Suamiku tiba di rumah sekitar jam 9 malam. Kemudian aku menemaninya makan sambil nonton tv.


Selsai makan, aku dna Mas Zaky memilih masuk kamar. Saat masuk ke kamar, dia pun melihat tas itu.


"Itu yang mau dibawa besok jalan-jalan mih?" tanya Mas Zaky dengan wajah terkejut.


"Iya"


"Ya ampun, udah kaya mau nginep aja. Cuma ke B Xchange doank mih, deket banget gak sampe sejam"


"Ya gak apa apa sih, cuma buat jaga-jaga aja"


"Yaudah, terserah. Tidur yuu, apa mau bikin dede lagi?"


"Dihhh, apaan sih. Besok kan mau pergi, jadi sekarang harus istirahat"


"Ya kali gitu. Abisannya udah empat bulan nih, Udah dari Tyara lahir. Keburu kering deh"


"Ya jangan sekarang lah, Pih. Kan besok mau pergi. Nanti yang ada aku malah begadang, karena udah hilang ngantuknya"


"Yaudah gak apa-apa. Gih tidur. Lupyuu" kata suamiku sambil mengecup keningku.


"Lupyutuu"


〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰


Pagi ini setelah sholat subuh, aku berusaha keras agar tidak tertidur lagi saat menyusui Tyara yang masih tidur. Karena aku harus mencuci pakaian lebih pagi dari biasanya, karena kami akan berangkat pagi. Sambil mencuci aku biasanya juga mengerjakan tugas rumah yang lain seperti menyapu dan merapikan rumah.


"Ataeuu, ayo cepetan!" Teriak Umar dari dalam mobil.


"Iya sebentar, tinggal isi minum, Bang" jawabku sambil teriak dari dalam rumah.


Didalam mobil Tyara nampak kegirangan. Tak henti-hentinya dia meracau dengan bahasanya sambil tertawa. Semua ikut gembira, karena ini adalah pertama kali dalam hidupnya Tyara pergi jalan-jalan.


"Ateu, nanti kalo udah sampe, Abang Umar yang bawa dorongannya ya?"


"Okey"


〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰


Rumah orang tuaku berada disebuah komplek perumahaan paling tua yamg ada di Pamulang. Dan berhubung jarak dari rumah hingga ke jalan raya itu cukup jauh, jadi untuk keluar dari komplek saja, kami membutuhkan waktu sekitar lma belas menit.


Tak disangka, akhirnya aku keluar rumah. Kupandangi jalan-jalan yang sudah berbulan-bulan tak ku lewati. Ada beberapa bangunan yang berubah dan ada juga beberapa tempat makan baru, tapi itu tidak merubah susunan kota secara signifikan. Aaaahh... Sungguh aku tidak mengerti ada apa dengan diriku ini. Padahal hanya melihat jalanan saja sudah bisa membuatku senang, tapi kenapa kemarin aku sangat takut sekali.


Sesampainya di lokasi, semua keluargaku terlihat senang dan antusias sekali. Semuanya bergantian menghampiri Tyara untuk mengatakan hal yang serupa tapi tak sama, yaitu.


"Akhirnyaaaaa... Tyara maen ke mall juga. Seneng kaan?"


"Sini Ateu, abang aja yang dorong!" Dia langsung menagih janjiku untuk mendorong kreta bayi, begitu aku menaruh Tyara didalamnya.


"Iyaa.. Hati-hati ya"


Abang Umar, dia yang paling antusias karena akhirnya bisa jalan-jalan bersama Tyara. Karena hari ini sudah dinantikan olehnya sejak Tyara berumur empat pulub hari. Tapi aku selalu bisa mencari alasan untuk menolak, karena aku takut.


Aku menghirup udara dalam-dalam. Sesekali ingatan tentang tempat ini sewaktu Tyara belum lahir datang menghampiri.


Kamipun berkeliling mall. Aku menghampiri semua toko perlengkapan anak dan bayi, juga tak luput toko pernak-pernik. Aku suka sekali toko pernak-pernik sejak SMU, karena semua barangnya lucu-lucu dan menggemaskan, harganya juga tidak terlalu mahal.


"Dhaaaa dhaaa dhaaa..." suara Tyara mengalihkan pandanganku. Rupanya dia tertarik dengan satu boneka tangan berbentuk zebra.


"Ehhh... kenapa sayang? Oh! Dede mau boneka ini?"


"Hheee... Heeee" Tyara tertawa tanda dia suka.


Segera kuambil boneka itu dan aku membawanya ke kasir.


"Nih, Sayang"


Tyara senang sekali dengan boneka barunya. Dia langsung memeluk dan memainkannya.


Diluar toko, rupanya keluargaku telah menunggu.


"Kita makan dulu yuk, diatas" kata suamiku.


"Sini, Tyaranya aku gendong aja biar di liftnya gampang"


"Waahhh.. Tyara beli boneka baru yaa. Iiih lucu bangettt"


Suamiku langsung memasukan tangannya ke dalam boneka sambil menggendong Tyara.


"Halo, Tyara. Kamu lagi dimana niih" kata Mas Zaky sambil memainkan bonekanya.


Aku berjalan pelan dibelakang sambil melihat-lihat sekeliling. Banyakk sekali pengunjung yang datang hari ini. Pasti karena hari ini adalah hari Sabtu.


Hhmmmm... gimana, ya? kalau lagi banyak orang gini, terus tiba-tiba sebuah bencana terjadi.


Entah kenapa aku bisa berpikir seperti itu. Aku terus berjalan pelan dibelakang keluargaku sambil melihat-lihat.


"MAMIIII MAMIII!! LARAASS!! AYO CEPETT NANTI LIFTNYA GAK MUAT, KEBURU ADA TSUNAMI!!!!!"


"AYO LARASS!!! CEPETT LARI!!"


"AAATEUUU CEPEEETTTTAAANN MAU ADA TSUNAMI!!"


Orangtua, suami, abangku, abang Umar, semua bergantian memanggilku.


"HAH!? Tsunami??" aku terkejut dan bingung.


Aku melihat sekelilingku. Semua orang panik dan berlarian tanpa arah.


"AAAAAA TSUNAMIII TSUNAMIII.. AYO SEMUANYA LAARIIIII!!"


"AYO SEMUANYA NAIK KE ATAS!!"


"TUUIIIIITT... TUUIIIITTT... TUIIITTT!!" Suara sirine tanda bahaya terdengar dari dalam mall. Sangat nyaring sekali.


"MAAAAMAAAAA!!" seorang anak kecil menangis mencari ibunya.


"AYOO LARIII, KITA NAIK LIFT!" kata dua orang dibelakangku.


Kemudian aku melihat ke arah lift. Liftnya hampir penuh. Akupun segera berlari.


"MAS ZAKYYY!!" teriakku.


"STROLLERNYA!! STROLLERNYA TINGGALIN AJA MIH! GAK MUAT!!" sahut suamiku. Akupun berlari meninggalkan kreta bayinya Tyara.


"DRRRRKKKK!!!" sekitar 20 orang termasuk aku, berdesakan ingin masuk lift yang memang dari tadi sudah hampir penuh.


"Niiit... Niiit... Niit" bunyi alarm lift, pertanda lift terlalu penuh dan tidak akan bisa berjalan.


Berberapa orang yang terakhir masuk lift, terpakasa keluar dan langsung melarikan diri. Tinggal aku yang belum keluar, sementara liftnya masih bunyi.


Akupun terpaksa melangkahkan kakiku keluar.


"Mihh.. Aku aja mih. Mah, titip!" kata suamiku sambil menitipkan Tyara pada ibuku.


"Jangam Pih. Kan aku yang terakhir masuk"


"Enggak, Mih. Aku larinya lebih cepet dari kamu. Kamu juga pasti kesasar nyari tangga atau eskalator"


"Lagipula Tyara lebih butuh kamu karena dia masih ASI"


"Enggak, Pih. Kamu kan juga gak tau tangga ada dimana. Lagian, emang Tyara gak butuh bapaknya?"


"Silahkan Mas, Mba. Kita aja yang ngalah." Dua orang laki-laki muda keluar dari lift, dan segera berlari tanpa sempat kami mengucapkan terimakasih.


Didalam lif aku terengah-engah. Kupandangi keluargaku dan orang-orang di dalam lift. Semuanya terlihat panik dan ketakutan. Lalu aku melihat Tyara, dia tampak tenang. Mungkin dia belum mengerti.


"Ya allah, untung aja aku bawa popok banyak, bawa baju ganti buat Tyara dua stel, bawa selimut, bawa kain bedong dua. Mudah-mudahan cukup sampai pertolongan datang" Kataku didalam hati, sambil memeluk erat tas popok yang kubawa.


Aku juga merasa bersyukur karena cukup banyak membawa kurma dan biskuit. Pasti cukup untukku dan keluargaku, sementara waktu.


Lalu mataku berhenti melihat Umar. Kulihat dia panik dan kedinginan. Apalagi dia hanya mengenakan kaos dan celana jeans pendek. Aku jadi merasa bersalah karena tidak mempersiapkan bekal yang cukup untuk dia. Sementara Ali, dia menangis digendongan bapaknya.


Tak terasa air mataku jatuh bercucuran tanpa suara.


"Loohhh kamu kenapa nagis, Mih? Mamiih, heiii!!" kata suamiku sambil mengguncangkan badanku.


Akupun tersadar, rupanya kami sudah keluar dari lift. Aku mengusap airmataku dengan kasar.


"Tyara mana, Pih?"


"Tuh, sama Ayah"


Aku melihat Tyara sudah berada didepan dan digendong ayahku.


Aku melihat sekelilingku lagi. Semua tampak normal dan baik-baik saja


"Ras, kamu kenapa sih?? Tadi disuruh cepetan masuk lift, kamu malah kaya orang panik gitu"


"Terus, pas aku minta supaya strollernya dilipet aja biar muat, ehh malah kamu tinggalin. Terus muka kamu makin panik, sambil teriak manggil namaku. Malu tahu"


"Kamu benar-benar berbeda belakangan ini, Ras. Ada apa?"


Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku sendiri baru mengerti, bahwa ternyata, tadi aku benar-benar masuk kedalam khayalanku. Aku sedikit lega karena keluargaku yang lain tidak melihatku menangis.


Aku dan Mas Zaky nenghampiri keluargaku yang sudah menentukan tempat duduk. Semuanya sedang asyik menggoda Tyara. Aku memperhatikan sekitarku. Kulihat, banyak ibu-ibu dengan anak kecil seusia Tyara atau bahkan lebih kecil lagi, tapi dia tampak berani membawa bayinya ke tempat umum.


Akupun tertegun. Bagaimana bisa aku sampai seperti tadi. Sementara di dunia ini bukan hanya aku yang memiliki bayi, dan bukan hanya Tyara yang usianya masih kecil. Akupun bertekad untuk melawan kekhawatiranku yang berlebihan ini.


"Tumben, Ras belanjanya cuma dikit," cletuk kaka iparku.


"Iya nih, lagi gak ada yang pengen dibeli aja."


"Ooo udah berubah rupanya Laras ini, Mah" kata abangku.


"Sekarang udah ngerti berhemat dia. Padahal gajinya Zaky kan gede."


"Hehehee." aku hanya tersenyum.


Aku memang sengaja belanja sedikit. Karena sisanya akan aku tabung untuk berjaga-jaga jikaMas Zaky sudah resign nanti.


Setelah makan, kami memutuskan untuk menunggu waktu sholat Ashar tiba. Baru setelah itu kami berencana pulang. Sambil menunggu waktu sholat Ashar, kami turun ke bawah dan menikmati indahnya taman yang ada di halaman depan BXchange.


〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰


Setibanya di rumah, aku merasa sangat lelah. Bahkan aku tidak pernah merasa selelah ini saat pulang bepergian. Ternyata begini ya rasanya bepergian saat sudah punya anak.


Mungkin karena Tyara masih full asi, jadi banyak energiku yang dibutuhkan. Hal ini benar-benar membuatku semakin berpikir dua kali untuk memiliki anak kedua. Kalaupun ingin punya anak lagi, mungkin nanti saat Tyara sudah berumu 7 tahun.


"Laras, udah sholatnya? Ada lagi yang mau dikerjain gak?" tanya suamiku setelah aku selesai sholat Isya.


Aku tahu suamiku hendak membicarakan banyak hal. Jam di dinding menunjukan pukul sembilan malam. Aku melirik ke arah Tyara, berharap dia segera terbangun untuk menyusu, karena dia langsung tidur setelah kubersihkan badannya dan ganti baju saat tiba dirumah jam 18.30 tadi.


"Kenapa, Mas?"


"Laras, apa kamu perlu bantuanku?"


"Aku lihat, kamu semakin berbeda. Apa yang menganggu kamu? hingga kamu bisa tiba-tiba menangis seperti tadi"


"Gak tahu, Mas. Aku juga gak nyangka. Tiba-tiba saja aku membayangkan, bagaimana jika tadi di mall terjadi bencana saat pengunjungnya sebanyak itu."


"Aku gak nyangka banget, tadi aku benar-benar masuk kedalam khayalanku. Sampai aku mengira itu benar terjadi."


"Itulah yang selama ini bikin aku takut buat jalan-jalan sejak ada Tyara. Aku takut terjadi apa-apa"


"Sayang, maaf Aku gak tahu apa yang sedang terjadi sama kamu. Tapi Aku yakin pasti ada yang salah" kata suamiku sambil meraih tanganku.


"Kamu juga pasti merasa begitu kan?"


"Iya, Mas. Aku merasa sejak ada Tyara aku jadi mudah takut dan mudah khawatir dengan semua yang mungkin bisa membahayakan Tyara."


"Sayangku, manisku, cintaku. Kamu itu gak sendirian sayang. Kamu harusnya cerita ini ke Aku dari awal" Mas Zaky mengusap rambutku.


"Kenapa kamu harus takut dan kahwatir? Semua ketetapan Allah itu baik. Mau kesannya sulit dan penuh penderitaan sekalipun, ketetapan Allah itu pasti berakhir baik."


"Mendapat teguran keras dari Allah saja, tujuannya baik kan? Supaya kita sadar dan mau kembali ke jalan yang benar."


"Coba kamu liat kaka iparmu. Dia santai-santai aja tuh. Padahal kalau dia mau khawatir, harusnya dia yang lebih khawatir, karena anaknya dua. Pasti lebih repot kalau terjadi apa-apa. Ya enggak?"


"Iya sih. Aku juga tadi mikir begitu, Mas. Masih banyak ibu-ibu lain yang anaknya seumuran Tyara atau bahkan lebih kecil, tapi keliatannya santai aja."


"Nahh, itu kamu ngerti. Kalo kamu bisa punya pikiran kaya gitu. Berarti kamu bisa menyembuhkan diri kamu sendiri dan kembali seperti semula. Kembali menjadi Laras Sabrina yang periang."


"Iya, Mas. Aku akan coba mulai dari sekarang"


"Yaudah sini aku pijitin. Kamu pasti capek. Habis itu langsung tidur ya. Kamu ini, pasti kurang tidur makanya pikirannya ngelantur"


Suamiku, dia memang lebih dewasa meski umurnya dua tahun lebih muda. Aku sangat bersyukur, meski dulu pernah meragukannya.