
WARNING!!! PEMBACA DIHARAP BIJAK
jika kamu sedang hamil atau baru melahirkan dan merasa terpengaruh dengan "negative vibes" yang ada pada cerita ini. Silahkan hentikan membaca dahulu. Lanjutkan lagi membaca, jika sudah merasa lebih baik.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Saat Tyara memasuki usia empat bulan, aku mulai terbiasa dengan peran baruku sebagai ibu. Ternyata, membaca kisah isnpiratif para ibu yang berjuang membesarkan bayinya dengan beragam kesulitan sangat efektif buatku. Mungkin karena baby blues yang aku alami tergolong ringan, jadi hanya dengan membaca pengelaman orang lain saja sudah sangat membantu.
Jam tidur sudah mulai beraturan karena anakku sudah mengerti tidur malam. Bayiku sama sekali tidak rewel dan merepotkan. Masa bany blues telah berhasil kulewati dengan baik. Asiku juga lancar dan melimpah. Bahkan terkadang aku bingung, kenapa kemarin aku harus mengalami hal itu ya? Padahal dari awal lahir, anakku memang tidak rewel. Begitu juga dengan asi, dari hari pertama juga sudah banyak.
Seharusnya sih tidak ada lagi yang perlu aku khawatirkan. Karena kini semuanya berjalan begitu mudah. Hari demi hari aku juga semakin sayang sama dia. Aku semakin menerima kerepotan yang akan selalu aku hadapi karena keberadaannya. Kalian tau tweety?? Ya seperti itulah anakku. Lucu, mungil dan imut.
Namun seperti yang sudah kusampaikan sebelumnya. Aku menjadi pribadi yang berbeda. Aku yang dulu cuek dan easy going kini berubah menjadi pripadi yang mudah cemas. Aku sangat cemas dengan anakku. Aku takut dia tidak tumbuh dengan baik, aku takut dia sakit, aku takut gizinya tidak cukup. Bahkan yang lebih gilanya lagi, aku takut karena dia hidup diakhir zaman seperti ini. Akhir zaman yang akan banyak sekali hal buruk dan mengerikan seperti bencana alam, perang dunia ke tiga dan hal yang mengerikan lainnya.
Sepertinya aku mengidap pospartum anxiety (PPA), yaitu sebuah gangguan mental lanjutan pasca baby blues seperti postpartum depression (PPD). Perbedaannya adalah, jika PPD lebih cenderung ingin menyakiti anak atau dirinya sendiri. Sedangkan PPA adalah perasaan khawatir yang berlebihan terhadap anaknya, sehingga mengganggu aktifitas. Namun aku tidak tahu pasti, karena penderita PPA lebih sulit terlihat gejalanya dibanding PPD. Dan penderita PPA cenderung menyayangi anaknya namun 'over insecure'. Jadi ini sangat sulit bagiku untuk memberitahu orang-orang sekitar, karena yang tersiksa hanya aku sendiri dan akan membahayakan kesehatanku sendiri.
"Eh, tadi berapa, ya hasilnya? Hitung lagi aja, deh" kataku sambil meriset ulang stopwatch di ponselku.
"Satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepul ..."
"Kamu ngapain mi?" tiba-tiba saja suamiku terbangun dan memotong hitunganku. Waktu menunjukan pukul 01.20.
Kulihat stopwacth dari ponselku "Yaaahhhh, Papiiii, jadi harus ngitung ulang lagi, kan?!" gerutuku, kesal karena artinya aku harus mulai lagi dari nol hitunganku yang ke empat kalinya.
"Emang ngitung apa sih malem-malem gini?? Tanya Mas Zaky sambil mengucek matanya.
"Mmmmmm ...." Aku terdiam, bingung mau menjawab apa. Aku takut jika suamiku sampai tahu apa yang sedang aku lakukan.
"Ngitung apa, Mih?? Tanya suamiku sambil memegang ponselku, agar mataku bisa bertemu dengan matanya. Alisnya naik sekali.
"Ini... Aku.... Lagi ngitung tarikan nafasnya Dede" jawabku pelan dan terpotong-potong
"HAH?! ngitung tarikan nafas?? Buat apa??" pekik suamiku terkejut.
"Aku takut Dede sesak nafas, Pih. Aku penasaran, jadi aku hitung jumlah tarikan nafasnya dalam enam puluh detik," aku menjawab sambil meremas-remas hapeku.
"Tadi aku baca artikel, katanya kalo nafasnya sama atau lebih dari enam puluh kali permenit berarti nafasnya cepat dan ada gejala sesak nafas."
"Terus hasilnya gak cepet kan??"
Aku mengangguk pelan.
"Miih, Dede itu lagi sehat, lagi lincah. Gak batuk atau ada gejala sakit yang lain. Aku yakin kalau ada sesak nafas, gejalanya pasti gak cuma itu aja." Kata suamiku berusaha menenangkan.
"Lagian kamu kok bisa-bisanya sih kamu kepikiran Dede sesak nafas atau enggak. Dapet darimana coba pikiran kaya gitu?" Dia terdengar sedikit kesal.
"Ya gak tau mas, tiba-tiba kepikiran aja," jawabku pelan sambil menunduk.
Kemudian suamiku mendengus dan kembali tidur.
Keesokan harinya, aku berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Namun sepertinya suamiku tidak. Dia memperhatikan semua gerak gerikku. Pasti berusaha mencari celah waktu yang tepat untuk membicarakan hal yang semalam.
"Kamu lagi kenapa sih mih?? Ada yang dipikirin?? Apasih yang mengganggu kamu, sampe punya pikiran kaya semalam??" suamiku menghujaniku dengan pertanyaan.
"Gak apa-apa pih" jawabku singkat sambil terus berusaha menyibukan diri.
"Yaudah kalo gak mau cerita sekarang. Tapi inget, aku ini suami kamu. Orang yang akan selalu ada buat kamu dan memperjuangkan kamu."
Aku tetap memilih diam tak memberi jawaban, sampai dia akhirnya berangkat kerja.
Suamiku tidak tahu dan tidak ada seorangpun yang tahu, bahwa hampir tiap malam aku menghitung tarikan nafas anakku. Karena perasaan cemas itu paling sering satang ketika malam hari, disaat semua sudah tertidur.
Tapi itu belum seberapa, sebenarnya ada satu persaan cemas yang paling besar diantara rasa cemas yang lain. Rasa cemas yang lahir bersamaan dengan lahirnya anakku. Yaitu rasa cemas akan akhir zaman.
Malam haripun tiba. Dan malam ini aku lebih gelisah dari biasanya, karena aku tahu ketika Tyara sudah tidur nanti, suamiku pasti akan minta penjelasan lagi.
"Belum tidur kan, mih?" suara suamiku berbisik, agar tidak membangunkan Tyara yang sudah tidur. Dia tau aku pasti belum tidur. Aku bangun dengan malas.
"Udah berapa lama kamu ngitungin tarikan nafas Tyara kalo lagi tidur??"
"Baru semalam, Pih."
"Bohong, aku tau kamu mih. Ditambah lagi Tyara juga lagi gak sakit belakangan ini."
"Yaaaa ... udah beberapa malam ini aja, sih."
"Kenapa? Apa yang bikin kamu ngitungin nafasnya Dede??"
"Aku .... Selalu cemas sama Dede," jawabku ragu.
"Hah?? Maksudnya??"
"Aku juga gak tau, Pih. Aku gak bisa jelasinnya. Yang pasti aku selalu cemas sama Dede. Ada aja yang aku khawatirin dari Tyara"
"Khawatirin apa maksudnya?" Suamiku mengusap wajahnya. Dahinya tampak mengerenyit kebingungan.
"Ya khawatirin apa aja, semuanya tentang dede Tyara. Gizinya, tumbuh kembangnya, kesehatannya."
Suamiku menghela nafas panjang. "Udah berapa lama kamu dihantui rasa cemas itu?"
"Ya... Mungkin sejak Tyara lahir. Kan kamu tau sendiri, waktu awal-awal Tyara lahir aku merasa kaya dikekang. Itu karena aku takut jauh dari dede, meskipun cuma ke kamar mandi".
"Terus apalagi yang kamu khawatirkan dari Tyara? Aku tahu, pasti masih ada lagi yang kamu tutupin."
"........"
"Yuk, keluarin semuanya ke aku, suamimu ini."
"Kamu gak akan marah kan, Pih? Janji ya gak akan ngetawain juga?"
"Apa aku keliatan bakal kaya gitu dari tadi?" tanya suamiku mendekatkan wajahnya.
"Aku... Khawatir dan takut banget Tyara hidup di akhir zaman ini, Pih."
"TERUS, KAMU BERHARAP TYARA MATI?" tanya suamiku yang terlihat syok.
Sedikit. Jawabku didalam hati.
"Bu... Bukan gitu, Pih. Aku khawatir banget dia tumbuh dan besar diatas bumi yang udah tua renta ini."
"Teruusss, maksud kamu ngomong begitu apa?? Bukannya bersyukur anak dikasih sehat, cantik, lucu, gak kurang satu apapun. Malah gak pengen dia hidup."
"Dengerin penjelasan aku dulu, Mas." Aku memasang wajah serius.
"Gini, Mas. Bukannya aku gak seneng dede Tyara sehat wal afiat, dan sempurna. Justru karena dede terlalu sempurna makanya aku khawatir banget."
Suamiku membuka mulutnya, ingin memotong pembicaraanku.
"Sebentar, aku belum selesai. Nih, kamu tahu kan dunia ini udah tua banget? Isinya juga udah gak seimbang. Bencana alam dimana-dimana dan semakin sering terjadi."
"Belum lagi perilaku manusianya. Kehidupan bebas, zina dianggap biasa, alkohol dianggap biasa, semua dosa dianggap biasa. Bahkan berlindung dibalik kalimat Hak Asasi Manusia."
"Korupsi dimana-dimana, merusak alam dianggap biasa juga. Pokoknya menghalalkan segala cara demi dunia."
Air muka suamiku berubah. Yang tadinya sedikit marah, kini seperti melunak.
"Dan satu lagi yang paling aku takutin."
"Apa itu?" tanya suamiku.
"Dajjal. Aku takut banget dede berhadapan dengan dia. Aku gak rela. Bahkan aku gak rela dede punya dosa saat dia dewasa nanti."
"Terkadang, aku sedikit menyesal karena Tyara baru lahir sekarang. Coba kalau lebih awal, mungkin sekarang dia sudah agak besar dan lebih kuat. Kalau begini kan malah lebih baik Tyara gak ada"
"Kamu takut mati, Mih? Takut kiamat? Istighfar, Mih."
"Enggak. Bukannya aku takut mati atau kiamat." Mataku menerawang ke langit-langit kamar, berusaha mencari kalimat yang lebih tepat.
"Ya, takut mah pasti ada. Tapi bukan itu yang aku maksud."
"Terus apa yang kamu maksud? Sini sambil rebahan disini! biar santai ngobrolnya." Tanya suamiku yang memintaku untuk rebahan dipangkuannya. Akupun menurutinya
"Kiamat dan mati itu pasti, Piih. Cuma menuju kesananya yang aku takutin."
"Bancana alam, kekeringan, kelaparan, perang, chaos dimana-mana. Kamu tega enggak kalo ngebayangin Tyara bakal ngalamin itu semua?"
"Setiap hari, adaaa aja berita buruk. Mulai dari bencana alam, pembunuhan sadis, pergaulan bebas. Macem-macem, Pih."
"Rasanya gak adil banget. Aku, kamu, dan generasi kita bisa lahir dan tumbuh diatas bumi yang belum setua sekarang. Perilaku manusianya juga belum sebebas sekarang."
"Bener gak?" tanyaku sambil menatap wajah suamiku dari bawah.
Dia diam. Aku mencoba menebak ekspresinya itu. Sepertinya dia sedikit setuju dengan ucapanku. Tapi berapa detik kemudian dia seperti tersadar.
"Kamu tau, gak?? Semua ketakutan kamu ini, datangnya tuh dari mana??"
"Dari setan kan?" jawabku singkat.
*LAH?! Kok gw?* mungkin itu yang dikatakan setan, jika dia ada disini.
"Nah, itu kamu tahu. Terus kamu tahu gak cara setan ngebisikin kamu lewat apa?"
"Enggak tahu."
"Lewat hape! Kamu tuh gak memfiilter informasi-informasi yang kamu terima. Semuanya kamu lihat dan kamu baca, yang akhirnya bikin kamu ketakutan sendiri."
*Dih, hape aja saya gak punya, Bos. Saya cuma ikutan liat-liat hape aja disebelahnya. Terus kalo ada berita buruk, saya cuma bilang. Hiiiiy ngeri yaa jaman sekarang, gimana jamannya Tyara nanti ya, gitu. Hihihiii.* Pikirku, mungkin itu reaksi setan berusaha menjelaskan, tapi kami tak dengar.
"Contohnya nih. Kamu kan sering tuh bilang kamu khawatir dengn pergaulan Tyara nanti di sekolah kaya gimana, sedangkan anak SD aja gaya pacarannya udah serem-serem banget, ya kan??"
Aku mengangguk.
"Itu kamu pasti abis liat berita dari sosmed kan makanya khawatir?"
Aku mengangguk lagi.
"Nah, berita-berita yang kaya gitu yang sebaiknya gak kamu lihat secara detail. Cukup kamu lihat sekilas aja."
"Mending kamu banyakin cari informasi, gimana caranya mendidik anak di akhir zaman ini."
*Yaaahhh, gak seru donk. Kan seruan ngeliat akun gossip tauuk. Ya kan, Jeng?* Itu juga yang mingkin dikatakan setan, karena akupun didalam hati lebih memilih akun gossip dibanding mencari ilmu.
"Udah sekarang kamu istirahat, jangan mikirin macem-macem. Jangan lihat hape lagi. Sini! Hapenya aku pegang dulu!"
*No no no! Jangan kasih, jangan kasih! Kita kan belum liat updatenya lambe turah dan kawan-kawan dari abis maghrib tadi*
Oh, iya ya, belum update berita gossip di instagram. Duh, bener kan? pasti setan nih yang bisikin Gue dari tadi. Makanya sekarang baru ingat belum lihat IG.
"Iya" jawabku singkat dan memberikan ponselku dengan berat hati.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
"Inget ya mi, jangan semua berita kamu baca, apalagi dari akun-akun gossip" kata suamiku pagi ini sebelum dia berangkat kerja.
"Iya. Bekalnya udah kan?"
"Iya udah, makasih ya udah dimasakin"
Aku hanya tersenyum. Kemudian aku mengikuti suamiku yang hendak pamit kepada kedua orangtuaku. Aku memang masih tinggal di rumah orangtuaku, di daerah Pamulang Tangerang Selatan.
"Ma, yah, berangkat dulu ya, Assalamualikum." kata suamiku menyodorkan tangannya untuk salim.
"Ya, Waalaikumsalam, hati-hati," jawab kedua orangtuaku serentak.
Sambil mengantar suamiku kedepan pintu, aku mengecek anakku. Kulihat dia masih pulas, tidak ada tanda-tanda akan bangun.
"Hati-hati ya, pih" kataku sambil mencium tangannya.
"Iya, Assalamualikum"
"Waalaikumsalam" kulambaikam tanganku dari depan pagar. Diapun menghilang setelah tikungan.
"Ya allah, lindungilah suamiku dalam perjalanannya menuju kantor, lancarkanlah perjalanannya. Ridhoilah dia bisa tiba di kantor dengan sehat, selamat tanpa kurang satu apapun" aku berdoa didalam hati.
Aku masuk ke dalam rumah. Lalu kulihat ternyata anakku sudah bangun dan sedang ditemani kedua orangtuaku.
"Eh, udah bangun dede Tyara. Kok gak kedengeran nangisnya?"
"Baru mau nangis, udah disamperin sama Ayah tadi" kata Ibuku.
"Ooo, pantesan"
"Uuuu, cantiknyaaa cucu Kakek" kata Ayahku.
Mendengar suaraku, Tyara langsung nangis ingin menyusu. Akupun segera menyusuinya.
Kemudian saat sedang menyusui Tyara, tiba-tiba saja aku teringat gempa kecil yang pernah terjadi saat aku masih hamil Tyara lima bulan. Selalu saja aku teringat hal ini, setiap suamiku sudah berangkat kerja dan membuatku khawatir.
Aku ingat betul waktu itu tanggal dua puluh tiga Januari 2017. Namun, aku tidak ingat pukul berapa, sepertinya masih pagi menjelang siang.
Pamulang, 23 Januari 2018.
"Kreteekk... Kreteeekkk... Kreteekkk...."
Tiba-tiba saja aku mendengar suara aneh dari ruangan samping di rumahku. Akupun mencari dari mana asal suara itu. Aku mendekati lemari buku besar, berwarna putih milik ayahku. Sepertinya suaranya berasal dari lemari itu.
"Bunyi apaan, ya?" kepalaku naik turun memandangi lemari besar itu.
"PRAAANKKKK!!!" Tiba-tiba sebuah lampu minyak yang diletakan diatas lemari buku, jatuh tepat disampingku
"Astaghfirullah hal adzim!! Kok bisa jatoh sendiri?? Ya ampun, untung gak kena"
"Ehh, kok goyang rasanya?" Mataku mengelilingi ruangan, mencari tahu apakah ini hanya perasaanku saja. Lalu aku melihat tasbih yang menggantung, ternyata tasbih itu juga bergoyang pelan.
"Ya ampun, gempa!!" Aku langsung mengenakan mukena bagian atasnya saja, kemudian berjalan cepat keluar rumah. Memang tidak ingin lari, karena aku sedang hamil.
Ternyata diluar rumah, tetanggaku sudah ramai. Lalu seorang tetangga bertanya padaku.
"Mba, gapapa?"
"Oh iyaa, gapapa tante"
"Ibu sama bapak kok gak keluar?"
"Mama lagi ke pasar tante, Ayah udah berangkat"
"Mba, bener enggak apa-apa? Kok, pucet?"
"Gapapa tante, cuma panik aja," kataku sambil menahan perut yang sedikit sakit. Mungkin karena kaget dan panik.
"Ooh, ya sudah, Tante tinggal gapapa, ya?"
"Gapapa tante, makasih banyak ya tante."
Diapun masuk ke dalam rumahya. Lalu kulihat ibuku diujung jalan tergopoh-gopoh membawa belanjaan yang dia beli dari pasar.
"Kamu gapapa?" tanya ibuku panik.
"Gapapa kok. Udah yuk, Mah masuk."
Kemudian aku masuk ke rumah bersama ibuku setelah keadaan aman.
Dengan segera kuraih ponselku dan ternyata sudah ada tujuh panggilan tak terjawab dari Mas Zaky. Segera ku kabari suamiku bahwa aku baik-baik saja. Kemudian aku teringat bahwa di kantornya dia bekerja dilantai sebelas. Pasti cukup mengerikan diatas sana.
Malam harinya ketika suamiku sudah pulang, aku langsung menyampaikan kekhawatiranku dengan pekerjaannya.
"Mas, kalo gitu kapan mau resign? Aku takut banget kaya kejadian hari ini. Takut kamu gak ada umur, sementara kamu masih kerja ditempat itu"
"Iya sayang secepatnya, yaa. Soalnya aku kan juga itungannya masih baru banget. Baru mau dua tahun"
Dan sejak hari itu aku selalu gelisah jika suamiku berada di kantor. Aku takut jika dia masih belum resign dari pekerjaannya yang sekarang, waktunya keburu terlambat.
"Baaaa baaaa baaaa" suara Tyara menyadarkanku dari lamunan akan hari itu.
"Ehh sayang, udah mimiknya? Mandi, yuk!"
Sambil membuka baju Tyara, aku berdoa lagi didalam hati.
Ya allah, ampunilah juga dosa suamiku karena masih belum bisa menafkahiku dengan uang halal. Ridhoilah suamiku mendapatkan pekerjaan lain yang lebih halal dan berkah. Aamin