16KM

16KM
PALU 28 September 2018



Hari ini, tepat satu bulan aku berada di rumah setelah dibolehkan pulang dari rumah sakit. Dan dua minggu yang lalu, adalah pertama dan terakhir kalinya aku kontrol dengan dr Indria. Dia sempat berpesan agar segera konsultasi dengannya, jika mengalami keluhan seperti pusing, lemas, atau demam lagi. Namun aku bersyukur karena kondisiku semakin hari semakin baik.


Hubunganku dengan Tyara juga kian membaik. Atau lebih tepatnya aku yang semakin bersdaptasi. Kini kami bagaikan simphony lagu yang indah. Tak pernah lagi ada perasaan menyesal atau ingin hidup seperti dulu.


Di usianya yang sudah lima bulan ini, Tyara semakin tertarik dengan mainan yang ku letakkan di dekatnya, sehingga aku bisa sedikit lebih leluasa mengerjakan perkerjaan rumah. Tentu dengan jarak yang masih bisa ditangkap oleh mataku.


Selain itu, gejala Postpartum Anxiety ku juga membaik. Terpisah jauh dari Tyara karena sakit, membuat pikiranku sedikit terbuka. Bahwa semua akan baik-baik saja, sekalipun berada sedekat itu dengan kematian. Tyara tetap sehat meskipun agak kurus saat aku pulang ke rumah. Namun, sekarang dia sudah kembali gemuk, tangannya kembali seperti roti sobek.


Malam haripun tiba. Tyara sudah tidur saat papinya pulang jam delapan tadi. Begitu juga dengan kedua orangtuaku. Dan seperti biasa aku menemani Mas Zaky makan malam. Ingin menyalakan tivi, namun aku takut, tidak dapat mendengar suara Tyara jika dia terbangun. Jadi kami hanya berbincang-bincang kecil selama Mas Zaky makan malam.


Selesai makan, aku dan Mas Zaky memilih masuk kamar. Kemudian kami sama-sama sibuk dengan dunia maya.


"Astaghfirullahhaladzim!! Pih, Palu gempa, tadi jam enam sore!" Aku memberitahu suamiku sambil menunjukan berita yang kubaca. Dia langsung membacanya sekilas.


"Innalillahi wa innailaihi rojiun. Gede juga yaa gempanya 7.4 sr," ucap suamiku. Kemudian diapun mengambil ponselnya dan berniat untuk mencari tahu sendiri, berita tentang gempa yang baru saja terjadi di Palu.


Kami berdua sama-sama tenggelam dengan berita gempa di palu, melalui ponsel pintar kami masing-masing. Hingga tiba-tiba suamiku terkejut dan sedikit berteriak. " Ya allah, mih! ternyata ada tsunami-nya juga!"


"Hah!?! Serius, pih??" Aku yang masih belum selesai membaca berita pertama, langsung mencari tahu berita terbaru. Dan benar saja, ternyata setelah gempa, ada tsunami yang menyusul. Disitu tertulis dengan jelas, bahwa telah terjadi tsunami yang menerjang Palu setinggi enam meter, dua puluh menit setelah terjadi gempa.


"Astaghfirullah hal adzim..., Ya allah..., Innalillahi wa innilaihi rojiun," hanya itu yang bisa kami berdua ucapkan selama membaca berita.


Bahkan, di jejaring sisial facebook, sudah ada beberapa video amatir yang merekam detik-detik tsunami itu datang. Semua orang ketakutan berlarian tampa arah untuk menyelamatkan diri masing-masing. Kemudian, aku melihat sesuatu yang paling aku tidak suka. Aku melihat ibu dan dua orang anaknya sedang berlari ketakukan. Anaknya yang satu masih kecil dan digendong sang ibu. Mereka tetap berlari semampunya, meskipun mereka tertinggal jauh. Seketika itu pikiranku seperti langsung jatuh ke lubang yang gelap.


"Ya Allah, bencana sekarang deket-deket banget ya, Mih?" Mas Zaky mencoba berbincang denganku. "Kok, kaya saling berhubungan gitu ya, sekarang? baru banget kemarin di Lombok. Sebelum Lombok ada bencana juga, dimana gitu lupa."


Aku tidak bisa merespon obrolan Mas Zaky. Rasanya seeperti kehabisan kata-kata setelah melihat ibu dan dua orang anaknya itu. Aku tak sanggup melanjutkannya. Ku letakkan ponselku dan berusaha untuk tidur. Apa aku bisa tidur? Tentu saja tidak!. Ada satu pertanyaan yang sangat nyaring sekali dikepalaku sepanjang malam. BAGAIMANA JIKA ITU AKU DAN ANAKKU?


Aku tahu, setan pasti sedang terkekeh dipojok kamar menertawakanku yang kembali cemas, tanpa dia harus repot-repot membisikan khayalan yang buruk ditelingaku.


Keesokan paginya, aku bangun dengan perasaan dan fisik yang tidak enak. Entah jam berapa aku mulai tertidur. Yang pasti saat tukang ronda lewat, aku masih mendengarnya memukul tiang listrik.


Aku menjalani pagi seperti biasanya. Tak terbesit sedikitpun rasa cemas karena melihat video semalam. Hanya saja sesekali terlintas dalam pikiranku apakah ibu dan dua anaknya itu selamat?? Namun aku tidak begitu menghiraukannya, karena aku sibuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk suamiku kerja. Lalu ketika anakku sudah bangun, dia langsung ku mandikan.


Akhirnya semua tugas dipagi hari selesai. Aku langsung pergi mandi dan menitipkan Tyara pada ibuku.


"Ma, titip dede sebentar ya! mau mandi," pintaku kepada ibuku. "Dedenya lagi anteng, kok."


Kemudian ibuku langsung menemani Tyara bermain di kasur yang ada didepan tv. Sesekali aku mendengar anak dan ibuku tertawa sambil bercanda.


Sekitar jam sepuluh anakku mulai mengantuk dan minta menyusu. Dia memang masih tidur dua kali disiang hari. Dan ketika dia tidur itulah, aku baru bisa membuka ponselku untuk berkomunikasi dengan Mas Zaky.


[Pih, nyampe jam berapa tadi? Telat gak]


Pesanku langsung terkirim, meski tak langsung dibaca. Mungkin sedang sibuk pikirku. Sambil menunggu balasan dari suamiku, akupun membuka media sosial. Aku memang berniat untuk mencari berita terbaru tentang gempa dan tsunami yang terjadi di palu semalam.


"Hah?! Tsunami tanah??? Bentar, bentar." Aku seperti tidak percaya dengan berita yang kubaca. Akupun sampai membacanya berulang kali agar mampu mencerna setiap kalimat.


"Tanah bergerak?? Tsunami tanah?? Serius??" Aku membaca ulang lagi setiap berita yang kulihat dari jejaring sosial facebook. Disana banyak orang yang membagikan berita tentang Palu yang gambarnya diambil langsung saat kejadian.


Dari semua berita yang ku baca, akhirnya ada berita resmi dari BMKG. Disitu dijelaskan bahwa selain gempa dan tsunami, Palu juga mengalami yang namanya likuifaksi.


Aku langsung mencari tahu apa itu likuifaksi secara lebih detail. Dari penjelasan yang kubaca, aku bisa menyimpulkan secara singkat bahwa likuifaksi adalah kepadatan tanah yang larut dengan cairan yang ada ditanah karena adanya getaran. Sungguh suatu hal yang tidak disangka-sangka.


Astgahfirullah ternyata ada yang kaya gini ya, Ya Allah. Ucapku dalam hati.


Seumur hidupku, baru kali ini mengetahui ada bencana seperti tsunami tapi dari tanah. Dan itu berkali lipat lebih buruk dari tsunami air menurutku. Karena jika tsunami air kita hanya perlu mencari tempat yang lebih tinggi seperti bukit atau gedung. Ya setidaknya kita masih memiliki tempat yang terlihat lebih aman. Tapi jika itu tanah? Lari ke tempat yg lebih tinggipun tetap digulung oleh 'tsunami tanah' itu.


Aku segera mencari ibuku untuk memberitahu tentang apa yang terjadi di palu, dan meninggalkan Tyara yang sudah tertidur pulas. "Mah, ternyata di Palu selain tsunami air, ada tsunami tanah juga!"


"Astaghfirullah hal adzim. Naon deui atuh eta teh?" ucap ibuku dengan nada dan eksprsei terkejut bercampur bingung.


Lalu aku menjelaskan pada ibuku apa itu likuifaksi dan menunjukan video amatir yang terekam, saat tanah-tanah itu bergerak seperti air dan menghanyutkan semua yang ada diatasnya.


"Nih maah videonya. Ini tanah mah bukan air," kataku sambil menyodorkan hp.


"Tuh.., Tuh rumah, pohon, semuanya kaya kesapu air padahal ini tanah," pekikku


"Udah sana sholat dhuha! makanya banyak-banyak berdoa sama sholat sekarang mah," kata ibuku melengos dan pergi meninggalkanku. Sepertinya dia tidak sanggup melihat video lebih lama lagi. Mungkin karena sebelumnya tidak pernah ada bencana separah ini.


Lalu akupun menuruti saran ibuku. Kuambil air wudhu kemudian sholat dhuha. Setelah selesai sholat, aku duduk diatas sajadah. Pikiranku melayang tidak karuan. Sulit sekali menerima kenyataan bahwa ada potensi bencana seperti itu diatas tanah yang kita pijak dan itu bisa dimana saja. Termasuk diatas tanah tempat aku dan Tyara berada saat ini.


"Ya allah..., Apalagi ini?? Sudah sebegini rentannya kah bumi ini, ya Allah?? Anakku masih keciiiil, berilah dia kesempatan tumbuh dengan baik diatas bumi yang aman ya tuhanku." Aku berdoa dengan suara yang sangat lirih. Tak terasa air mataku mengalir.


"Ughh... Ughh.. Huaaaa.. Huaaa...," anakku menangis. Pasti karena dia ingin menyusu. Aku buru-buru melipat mukenaku.


"Ssshhh... Sshhhhh sayaang, nih mimik nih" aku usap punggungnya, dan kupandangi wajahnya dalam-dalam.


Entah setan apa yang merasukiku. Saat sedang menyusui, tiba-tiba saja terlintas dibenakku sedikit harapan. Seandainya saja Tyara tidak ada, pasti hatiku terasa lebih ringan. Bahkan aku sedikit yakin, bahwa aku akan ikhlas dengan mudahnya, jika Allah mau mengambil Tyara sekarang. Disaat dia belum dewasa dan belum punya dosa.


Akupun tidak peduli dengan previlege yang katanya didapatkan para orang tua jika anaknya meninggal sebelum aqil baligh. Yang penting Tyara tidak merasakan semua kesulitan akibat dunia yang sudah tua dan belum punya dosa sehingga dia pasti masuk surga. Tyara lebih baik ada di surga dibanding ada disini dengan ibu sepertiku.


Perasaan ini memang sesekali membunyikan loncengnya tatkala anxietyku sedang kambuh. Dan kali ini lebih kuat dari biasanya, karena ketakutanku dengan berta bencana di Palu.


"Naudzubillah himin zalik.. Astaghfirullah.. Maafkan mami nak. Maafkan mami yang melahirkanmu disaat yang kurang tepat ini" ucapku sambil kupeluk lembut anakku agar dia tidak terganggu.


"Dedeeee..., Tyaraaa..., Dengerin baik-baik ya, Sayang. Tyara anak sholeha, anak kuat anak pemberani. Tyara pasti bisa menghadapi dunia ini dijalan allah ya, Nak," bisikku ditelinganya. Dia mentapku dengan matanya yang bulat dan mungil, seolah dia mendengarkan dan mengerti ucapanku.


Aaahhh... Mana mungkin aku sanggup kehilangan mata indah ini. Orang-orang bilang anakku memang memiliki mata yang indah. Sipit tapi bulat dan bagian hitam matanya besar, hampir menutupi mata bagian putih.