
Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Meskipun butuh waktu seminggu, setidaknya sekarang aku sudah mulai berani sesekali pergi ke pasar atau minimarket. Kadang kubawa Tyara ikut bersamaku. Rasanya menyenangkan bisa jalan-jalan sekitar rumah berdua Tyara.
Sejak kejadian di mall itu, aku bertekad untuk sering keluar rumah hanya berdua dengan Tyara. Tujuannya adalah untuk membuktikan padaku, bahwa aku dan Tyara akan baik-baik saja dari mulai berangkat, hingga tiba lagi di rumah. Ketika berada diluar, aku tidak mau melamun. Sebaliknya, justru aku akan memperhatikan semua ibu yang membawa serta anaknya.
Seperti yang kulakukan saat ini di pasar. Aku memperhatikan setiap ibu yang lewat didepan mataku. Ada ibu yang menggendong bayinya, sambil menenteng belanjaan. Ada juga yang bayinya masih sangat kecil, tapi ibunya berani membawa anaknya ke pasar. Ada juga yang bawa dua anak, tapi tetap terlihat semangat. Aku perhatikan gerak-geriknya bahkan hingga ekperesinya. Semua itu aku lakukan supaya sadar bahwa bukan hanya aku saja yang seorang ibu, dan bukan hanya Tyara saja yang masih kecil. Tapi mereka terlihat baik-baik saja dan tetap menjalani hidupnya dengan normal.
"Yang mau dibawa ke Condet hari Sabtu besok udah disiapin belom?" tanya ibuku saat aku sedang rebahan setelah menyusui Tyara, setelah pulang dari pasar.
"Belom, Ma."
"Disiapin dari sekarang atuh, mumpung Tyara udah tidur. Udah hari Kamis, nih. Nanti giliran mau berangkat baru repot."
Akupun beranjak dari kasur. Kemudian menyiapkan semua yang akan ku bawa. Tidak lupa ku masukkan boneka Zebra kesayang Tyara yang dibeli saat jalan-jalan Minggu lalu. Tyara tidak bisa jauh dari boneka itu. Mungkin karena Tyara merasa boneka itu memiliki nilai sejarah dalam hidupnya, yaitu pertama kali pergi bersama keluarga.
Condet, adalah rumah mertuaku. Aku selalu menginap disana selama seminggu setiap dua minggu sekali. Dan meskipun ini bukan pertama kalinya aku ke rumah mertua sejak menikah, tapi masih saja ada terselip rasa gelisah setiap aku akan pergi kesana.
Apalagi kali ini, aku akan menginap lebih lama dari biasanya. Mungkin sekitar dua minggu atau lebih. Karena kedua orangtuaku akan pergi keluar kota juga, mengunjungi saudara di Lampung. Tentu hal ini membuat aku semakin gelisah, karena tidak pernah menginap disana lebih dari seminggu.
Padahal kedua mertuaku itu baik sekali. Bahkan pernah suatu hari saat aku sedang menginap disana, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu rumah. Ternyata itu orang suruhan ibu mertuaku, untuk mengantarkan makan siang berupa sate ayam dan sop.
Sejak hari itu, aku harus mengalami perang batin antara aku dan kekhawatiranku. Sebelum berangkat kesana, aku harus meyakinkan diriku berkali-kali bahwa kedua mertuaku itu baik.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Hari Sabtupun tiba. Ada sedikit perasaan sedih karena tidak bisa menghabiskan akhir pekan bersama Umar dan Ali. Bahkan minggu depanpun tidak, karena aku masih menginap di Condet. Aku pasti akan merindukan mereka.
Aku dan Mas Zaky pamit kepada kedua orangtuaku dan keluarga abangku. Tidak lupa mereka bergantian menciumi Tyara.
"Tyara, yang sehat ya, disana," kata ibuku sambil menggendong Tyara.
"Ateu, jangan lama-lama ya disana. Nanti Abang kangen."
"Iya Abang," kataku sambil mengusap rambutnya.
Tidak lupa aku menciumi Ali yang wajahnya-entah bagaimana-seperti orang Pakistan. Kamipun berangkat menggunakan taxi online.
Jarak antara rumahku dan rumah mertua adalah enam belas kilo meter. Butuh sekitar satu sampai satu setengah jam untuk tiba disana. Namun karena ini hari Sabtu, hampir semua manusia keluar rumah untuk berakhir pekan.
"Hadeuuuhhh.. Macet bangettt sepanjang jalan," gerutu supir taxi online yang kutumpangi.
"Iya nih pak, parah bangett. Weekend sih ya soalnya," sahut suamiku yang juga ikut merasa lelah.
Akupun terbangun dari tidurku. "Hah?! Belum sampe juga, Mas?".
"Belum, tuh orang macet bangett sepanjang jalan. Padahal sedikit lagi loh sampe," jawab suamiku.
"Hhhffff"
Ku lihat Tyara yang masih pulas tidur di dadaku. Lalu tak lama aku tertidur kembali.
Setibanya disana, kami disambut dengan suka cita. Aku tahu, mereka pasti rindu Tyara.
"Eehhh, cucu Uti udah sampe nih."
Ibu mertuaku langsung menggendong Tyara, setelah aku dan Mas Zaky mencium tangannya. Tak lama, adik iparku Rasyid keluar dari kamarnya.
"Wettt! Cimol udah dateng cimol," kata Rasyid sambil mencubit pipi Tyara. Hanya dia yang memanggil Tyara cimol. Mungkin karena Tyara putih dan bulat pipinya.
Aku masuk ke kamarku untuk meletakan barang bawaan. Dan seperti biasa, aku selalu takjub karena setiap datang kesini, pasti kamarku sudah dirapihkan.
"Fabiayyi 'alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban" gumamku.
Aku memang sering mengucapkan potongan ayat Ar-rahman itu disini, tujuannya agar aku selalu ingat dan bersyukur dengan kebaikan mertuaku.
Aku berganti baju, sementara Tyara ada di kamar ibu mertuaku. Alhamdulillah, Ibu mertuaku tidak pernah memintaku melakukan pekerjaan rumah. Tapi meskipun begitu, aku malah merasa tidak enak. Apalagi sejak Tyara lahir. Aku sama sekali tidak berani jauh dari Tyara. Sekadar mandi saja, aku tidak berani lama-lama. Padahal aku ingin sekali bisa menikmati waktu sendirian. Mungkin ini yang membuat aku tidak nyaman berada disini, karena aku merasa tidak bisa kemana-mana. Aku takut Ibu mertuaku tidak suka.
"Minggu depan kita ke kebun raya bogor ya,dek. Atung ulang tahun," kata Ibu mertuaku kepada Tyara.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Tidak terasa, aku sudah seminggu disini. Tapi aku merasa tidak enak badan. Mataku perih, nafasku panas, badanku nyeri.
"Mas, sepertinya aku akan demam" kataku sambil rebahan setelah menyusui Tyara.
"Loh, kenapa? Kok bisa?"
"Gak tahu. Mungkin karena semalam aku nangis, kepikiran Mama sama Ayah."
"Emang Mama sama Ayah kenapa?"
"Gak kenapa-kenapa sih. Aku ngerasa sedih aja. Biasanya kalo aku gak di rumah, Mama sama Ayah kan gak kemana-mana. Ini Mama sama Ayah ke Lampung. Jadi aku ngerasa jauh banget. Takut ada apa-apa, sementara kita lagi kepisah jauh."
"Ya ampun, kamu pasti abis ngebayangin yang aneh-aneh lagi ya?"
"Iya, aku takut aja gitu. Kalo mama sama ayah kenapa-kenapa disana, sementara aku aja disini"
"Makanya jangan ngebayangin yang aneh-aneh kenapa. Jangan diterusin, jangan diturutin."
"Mau aku beliin obat?"
"Enggak, Pih. Aku bawa paracetamol, kok."
"Udah diminum?"
"Belum, kan belum demam. Baru mau demam."
Malam harinya aku benar-benar demam, langsung 39.5. Tapi aku merasa kedinginan. Tyara nampak tidak nyaman. Mungkin karena merasa panas saat didekatku, atau mungkin karena asinya terasa lebih hangat dari biasanya.
Segera aku minum paracetamol dan tak lama demamku agak turun. Kemudian akupun tidur lebih awal bersama Tyara. Namun, tengah malam aku terbangun. Demamku naik lagi.
Aku bingung, tidak mungkin minum obat lagi karena takut berpengaruh ke ASI. Akhirnya aku hanya biss menahan sakit dan demam.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Hari ini sudah hari ke tiga aku demam. Belum ada perbaikan sama sekali. Demamku agak turun hanya setelah minum paracetamol. Kedua mertuaku menyarankan untuk pergi ke dokter. Namun aku tidak mau, karena bingung siapa yang akan menyusui Tyara.
Meskipun awal hidupnya Tyara pernah diberi susu formula dari dot. Namun, sejak aku dan dia mahir proses menyusui, Tyara tidak pernah mau lagi minum susu formula. Bahkan minum Asi perah melalui dot pun dia tidak mau. Jadi, saat ini aku memilih mencoba bertahan agar tetap bisa menyusui Tyara.
Hari ke empat aku masih demam. Aku semakin bingung. Tidak mungkin minum obat lebih dari 1 kali sehari, karena takut berpengaruh ke ASI. Lalu aku memutuskan untuk menghubungi dr Elya. Dokter anak yang dulu aku datangi saat mengkonsultasikan masalah payudaraku. Beliau memang memberikan nomer pribadinya. Sepertinya beliau tahu, bahwa saat itu aku butuh pertolongan. 'Hubungi saya segera jika butuh bantuan ya, Bu'. Itulah kalimat yang beliau ucapkan saat itu.
[Assalamualaikum dr Elya. Saya Laras, ibunya Mutyara yang pernah konsultasi sama ibu 4 bulan yang lalu.]
Pesanku lewat whatsapp langsung terkirim. Kemudian akupun lanjut mengetik pesan.
[Maaf, Dok menganggu. Saya mau tanya. Saat ini Saya sedang demam, sudah 4 hari. Saya hanya minum obat paracetamol dan itupun tidak berani lebih dari 1 kali sehari. Yang mau saya tanyakan, saya harus bagaimana ya, Dok? Apa boleh saya minum obat lebih dari 1 kali agar cepat sembuh, sementara anak saya masih full ASI.]
Sejam kemudian dr Elya membalas pesanku.
[Waalaikumsalam. Iya, bu saya ingat. Jika kondisinya seperti itu, sebaiknya ibu segera periksakan diri ke dokter dan hentikan dulu sementara waktu menyusuinya. Agar ibu bisa fokus pengobatan, dan agar ASInya tidak terkontaminasi oleh zat kimia yang ada pada obat. Semoga lekas sembuh ya, bu.]
Ya Rabb, bagaimana ini? gumamku dalam hati.
[Baik, dok. Aamiin, terimkasih banyak, dok]
Ku pandangi Tyara yang sedang tertidur setelah menyusu. Maafkan mamii ya, Nak.
Ingin sekali rasanya bisa fokus megobati diri ini, agar bisa segera sembuh. Tapi bagaimana mungkin? untuk bisa cukup istirahat saja aku sulit. Karena badanku rasanya nyeri semua, butuh waktu satu sampai dua jam untuk bisa 'relax' dan mulai terbawa mimpi. Namun ketika aku mulai bisa tidur, Tyara pasti minta mimik karena memang sudah waktunya. Begitu seterusnya yang aku alami sepanjang hari selama aku sakit ini.
"Mih, gimana kata dr Elya?" tanya Mas Zaky ketika masuk ke kamar.
"Katanya jangan nyusuin dulu, Pih," Jawabku lesu.
"Ya ampun. Ya udah, kalo gitu aku ke minimarket dulu ya, beli dot sama sufor. Buat jaga-jaga."
"Iya, Pih"
"Ok. Mudah-mudahan Tyara mau. Supaya hari Sabtu, kamu udah mendingan. Soalnya kasihan ibu, udah nunggu-nunggu mau jalan-jalan juga sama Tyara."
"Iya, Pih."
Hatiku mencelos. Aku tak yakin. Tapi kalaupun keadaanku belum membaik, aku juga tak punya keberanian untuk menolak.
Malam harinya, Tyara semakin rewel. Dia selalu nangis saat menyusui dan selalu dicopot. Mungkin dia tidak nyaman karena rasa ASInya berbeda.
"Maaf, Ya sayang. Gak enak ya emiknya? Maaf ya, emang mamih lagi sakit, Nak."
Suami dan kedua mertuaku terbangun karena mendengar tangisan Tyara yang cukup kencang.
"Cobain deh susu formulanya," kata ibu mertuaku.
Lalu Mas Zaky berinisiatif mencoba memberikan sufor yang telah di seduhnya. Tapi yang ada Tyara semakin kencang nangisnya.
"HUUUAAAA.... HHUUUAAAAAA." Tangisan Tyara semakin menjadi.
"Yaudah kalo gak mau gak apa-apa. Bobo sama Papih aja ya di gendong" Mas Zaky mengambil Tyara dari gendonganku.
"Udah, kamu bobo aja, Mih."
Namun saat aku hendak masuk ke kamar dan meninggalkan mereka di ruang tamu, Tyara malah ngamuk. Dia menjerit sejadinya dan menghentak-hentakan tubuhnya, hingga suamiku kewalahan.
Bagaimana mungkin aku bisa cepat sembuh jika seperti ini. Setitik kristal bening tertahan diujung mataku.
Lalu pikiran buruk yang selalu muncul ketika aku lelah, datang menghampiriku lagi. Seandainya Tyara tidak ada, pasti tidak sesulit ini menyembuhkan diri. Pasti semua terasa mudah, seperti saat Tyara belum hadir dihidupku. Akupun kembali berharap, seanadinya bisa punya waktu sendirian lagi, setidaknya untuk beberapa hari.
Hari demi hari pun berlalu. Tapi tidak juga ada perubahan. Aku masih demam naik turun, masih menggigil, badanku masih nyeri semua dan mataku terasa ngilu. Aku tidak pernah merasakan demam yang seperti ini sebelumnya.
Tibalah hari Sabtu yang tidak aku tunggu-tunggu. Bukan karena tidak senang jalan-jalan dengan mertua, tapi karena kesehatanku yang belum membaik. Seandainya sedang tidak sakit, pasti aku ikut senang seperti yang lain hari ini. Tapi aku juga tidak berani menolak, karena tidak tega dengan Ibu mertuaku.
Tapi anehnya hari ini aku seperti mendapat sedikit kekuatan dan sanggup bangun dari tidur. Mungkin karena sebanarnya aku senang bisa jalan-jalan dengan mertuaku.
"Kamu kuat, Mih?"
"Iya, Insya allah"
Kami akhirnya berangkat pukul tujuh pagi. Tujuannya adalah kebun raya Bogor. Diperjalanan aku hanya tidur dan bangun sebentar ketika Tyara minta mimik. Namun sudah hampir jam dua belas siang, kami bahkan masih jauh dari kebun raya Bogor. Jalnan Bogor macet sekali.
"Bapak lupa, kalo Sabtu-Minggu jalanan ke Puncak pasti macet," kata Bapak mertuaku yang sedang menyetir mobil.
"Yaudah, kita puter balik aja ya. Cari restautant sekitar sini aja," lanjut Bapak, setengah menggerutu.
Tidak jauh dari tempat kita memutar balik, ternyata ada restauran yang cukup bagus. Bapak memutuskan untuk makan siang disitu. Aku sedikit lega, karena akhirnya aku makan siang.
Meskipun tidak jadi ke kebun raya, kami semua tetap gembira terutama Ibu mertuaku. Apalagi restaurant Sunda piluhan kami, menyajikan pemandangan yang cukup indah khas kota Bogor. Ditambah dengan nuansa pedesaan yang identik dengan saungnya, membuat tempat ini memberi kesan sejuk. Sejenak aku bisa melupakan rasa sakitku.
"Waaaahh..., ada taman bermainnya, Dek," kata Mas Zaky yang langsung membawanya ke taman bermain.
Lalu tak lama makanan datang. Semua makan dengan lahap, kecuali aku.
"Kok, gak abis, Mih?"
"Gak, nafsu Pih."
Aku semakin bingung. Karena tak biasanya aku sakit sampai tidak mau makan. Padahal tadi di mobil aku sudah lapar sekali. Akupun segera mencuci tanganku di wastafel.
Ya allah, aku sakit apa? Rasanya tidak pernah sakit demam disertai mata yang ngilu di dalamnya kaya gini. Aku melihat sekeliling mataku di depan cermin, sambil cuci tangan. Aku takut ada sesuatu yang salah di mataku hingga rasanya ngilu seperti ini.
Ya allah, beri aku jawaban. Aku sedang sakit apa?
Aku berjalan kembali ke tempat makan. Ibu mertua terlihat gembira sekali bisa jalan-jalan dengan cucu pertamanya. Akupun juga senang, tapi aku hanya bisa tersenyum melihat mereka tertawa dan bercanda.
Setelah selesai makan siang, kami segera pulang.
"Yuk, langsung pulang aja ya. Nanti keburu macet dua arah," kata bapak mertua. Dan kami menyetujuinya.
Kami tiba di rumah menjelang maghrib. Aku langsung membersihkan Tyara baru kemudian membersihkan badanku. Saat ini aku berharap Tyara mau tidur lebih cepat, karena aku sangat lelah sekali. Tapi yang ada malah sebaliknya. Dia begitu gembira hari ini.
Akupun pasrah dan mencoba berbaur. Namun saat aku baru duduk di kursi ruang TV, aku dikejutkan oleh sesuatu yang tidak pernah kusangka sebelumnya.
"ASTAGHFIRULLAH HAL ADZIM!! PIIIH, PAPIIH LIHAT SINIII!!" kataku sedikit berteriak, dengan suara bergetar.
"Kenapa?" suamiku keluar dari kamar.
"INIIII PIIHHH!!" jawabku sambil menunjuk ke arah kakiku.
Aku sangat terkejut bercampur takut. Hingga aku tak bisa menjelaskan dengan baik pada suamiku apa yang aku lihat.
"Kenapa kakinya?" dia menghampiriku.
"YA AMPUN!!! kaki kamu keluar bintik-bintik merah, Mih?"
Aku mengangguk, sambil bercucuran air mata. Tangisku langsung pecah, saat mengetahui dengan pasti kedua kakiku penuh oleh bintik merah yang baru muncul hari ini.
"Ayo, langsung ke dokter sekarang!" kata Bapak mertuaku.
Aku dan suami langsung ke dokter saat itu juga. Ibu mertuaku menahan tangis namun tak berhasil, sambil menggendong Tyara menggunakan kain jarik.
"Biar Tyara Ibu yang ngelonin disini. Toh dia baru saja habis menyusu kan?"
Aku mengangguk, kemudian kami berangkat menggunakan motor agar lebih cepat. Sepanjang jalan aku menangis.
Ya allah, ini yang aku takutkan. Aku memang ingin sekali bisa punya waktu sendirian lagi. Tapi engkau juga tahu, hamba lebih takut jika jauh dari Tyara.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
"Bu, langsung periksa darah aja ya di atas," Kata dokter, setelah memeriksa tubuhku termasuk bintik merah di kaki.
"Nanti jika sudah, Ibu kesini lagi bawa hasilnya"
"Baik, Dok."
Aku dan suami bergegas ke lantai atas. Disana aku langsung diantar oleh seorang petugas ke sebuah kamar yang biasa digunakan pasien untuk cek darah.
"Mba, berapa lama hasil testnya keluar? Tanyaku pada petugas yang mengambil darah.
"Satu sampai dua jam, Bu," jawab petugas itu.
"Oh, lama juga ya. Boleh enggak kalau saya nunggu disini? Saya gak kuat, pengen rebahan."
"Oh, boleh kok Bu. Silahkan." Petugas itu tersenyum sambil menggulung lengan bajuku, untuk mengambil darah.
"Saya tinggal dulu ya, Pak, Bu." Dia pamit setelah sukses menemukan pembuluh darah diantara tumpukan lemak yang ada di lenganku, kemudian mengambil darahku.
"Iya, Mbak terimakasih," jawab kami serentak.
"Ya Allah, gimana dede ya pih?"
"Udah, kamu jangan mikir macem-macem dulu. Kan hasilnya juga belum keluar."
Dua jam berlalu, akhirnya hasil test darahku keluar.
"Ini, bu hasil testnya. Langsung dibawa ke dokternya ya, Bu," kata petugas yang tadi.
"Makasih ya, Mba." Diapun segera pamit. Kemudian ku lihat jam di dinding sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
Sudah waktunya Tyara menyusu. Kalau dia sudah tidur, dia pasti mulai uring-uringan. Gumamku.
Saat aku tiba dibawah, ternyata pasien yang menunggu jauh lebih banyak dibanding saat datang tadi. Mungkin sekitar dua puluh orang, pikirku.
Aku meghela nafas, ketika mengetahui bahwa aku harus mengantri dari awal lagi.
"Ini, Mih nomor urutnya. Dapat nomor 18," kata suamiku menyodorkan kertas putih kecil.
Aku tidak menjawab apa-apa. Aku hanya menyandarkan kepalaku dibahunya.
Waktu terasa lambat sekali berjalan. Kuperhatikan, kira-kira butuh 15-20 menit untuk memeriksa satu pasien. Sementara sekarang baru nomor sepuluh. Berarti aku baru bisa masuk sekitar jam dua belas malam.
Tyaraaaaa.... Aku menjerit di dalam hati.
Akhirnya namaku dipanggil. Ternyata aku pasien terkahir. Dunia sunguh tidak adil bukan? Aku yang pertama datang saat pasien masih sepi, namun aku juga yang harus menunggu hingga menjadi paling akhir. Sementata di rumah ada bayi yang membutuhkan ASIku.
"Permisi, Dok" kataku.
"Oh iya, ibu silahkan duduk. Mana hasilnya, bu?" kata bu dokter tampak sedikit buru-buru. Mungkin karena sudah tengah malam.
Segera suamiku mengeluarkan kertas hasil lab, dari tasnya.
"Bu, ini trombosit ibu keliahatannya memang sudah turun. Karena sudah dibawah batas minimal."
"Harusnya minimal itu segini, tapi ibu hasilnya cuma segini," kata bu dokter sambil melingkarkan angka 140.000 dan 135.000.
"Tapi karena turunnya mungkin baru sedikit, jadi saya belum bisa memberikan diagnosa yang pasti. Sebaiknya ibu periksa darah lagi besok, ya."
"Oo gitu ya, Dok. Jadi malam ini saya harus bagaimana, ya?"
"Ya, Ibu pulang saja dahulu dan lihat hasilnya besok. Tapi sekarang Ibu saya kasih obat sementara dulu ya, untuk menghilangkan demam dan nyerinya."
"Oh, iya dok. Eh, tapi dok, Saya lagi menyusui."
"Oh, Ibu lagi menyusui? Hhmmm..., Kalo gitu saya kasih paracetamol aja ya, Bu. Diminum 2x sehari setiap habis makan."
"Baik, Dok."
"Ini ya, Bu resepnya"
"Terimkasih ya, Dok."
Akhirnya kami pulang setelah menebus obat dan tiba dirumah hampir pukul satudini hari. Lalu aku langsung mengambil Tyara dari kamar Ibu mertuaku dan menyusuinya di kamarku.
"Tiap lima belas menit sekali kebangun, nangis," kata ibu mertuaku menceritakan keadaan Tyara kepada suamiku.
"Tapi, lumayan tadi ada masuk sedikit susu yang Ibu buatin. Mungkin karena udah haus banget."
Aku mendengarnya dari kamar sambil kupandangi Tyara yang menyusu dengan terburu-buru. Ku usap pipinya yang halus.
"Mami disini, Nak. Mimik yang banyak ya" ucapku berbisik.