
WARNING!!! PEMBACA DIHARAP BIJAK
jika kamu sedang hamil atau baru melahirkan dan merasa terpengaruh dengan "negative vibes" yang ada pada cerita ini. Silahkan hentikan membaca dahulu. Baru lanjutkan lagi jika sudah merasa lebih baik.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Enam belas kilometer adalah sebuah kisah perjuangan seorang ibu muda dengan satu orang anak yang masih bayi, dalam mencari "Dirinya" yang seakan menghilang semenjak anaknya itu lahir. Dan disaat dia baru mulai bisa menemukan "dirinya" sedikit demi sedikit, tiba-tiba sebuah gempa dahsyat terjadi. Gempa itu sangat dahsyat sehingga mampu meluluhlantahkan hampir seluruh kota.
Berada di pengungsian seorang diri dengan bayi, adalah mimpi yang sangat buruk. Dia tidak bisa kemana-mana. Bayinya tidak mau diajak mengantri untuk sekedar ke kamar mandi, ambil barang-barang bantuan, atau bahkan ambil makan. Mungkin karena dia sering diselak dan didorong ke belakang ketika antri, sehingga membuat bayinya tidak nyaman. Namun dia juga tidak mungkin meninggalkan bayinya sendirian atau dititipkan ke orang asing. Karena memang perlakuan warga disana tidak begitu baik terhadapnya. Entah karena dia bukan warga yang tinggal disana, atau mungkin karena pengungsinya yang terlalu banyak.
Kondisi yang serba sulit di pengungsian seorang diri, membuat dia kembali hampir kehilangan "Dirinya". Oleh karena itu dia tidak mau berada di pengungsian lebih lama lagi. Dia harus segera pulang, sebelum dia benar-benar kehilangan "Dirinya". Akan tetapi rumahnya cukup jauh dari pengungsian, dan kondisi jalananpun tidak mungkin bisa dilewati dengan kendaraan, karena sebagian kota memang hancur. Tidak ada cara lain untuk pulang selain jalan kaki. Lalu apakah sang ibu tetap memilih pulang? Akankah sang ibu menemukan kembali "Dirinya" disituasi yang jauh lebih sulit dibanding saat anaknya baru lahir? Atau justru sang ibu lebih memilih kehilangan "Dirinya" dan juga bayinya? Dan Apa mungkin mereka akan selamat jika tetap memilih pulang?