
Pikiranku berlarian mengitari otak. Mencari ide apa yang bisa aku gunakan untuk menjadi alasan, agar aku bisa pindah dari kamar ini.
Pokoknya Gw harus pindah malam ini juga!
Lalu beberapa ide muncul dalam pikiranku.
"Mba, ACnya gak dingin, nih. Saya pindah aja, ya?"
"Kalau begitu Saya bantu menurunkan suhunya ya, Bu, agar lebih dingin."
Aaahh ... Iya, Benar juga. Kalau aku gunkan alasan itu, sepertinya tidak mungkin berhasil.
Akupun berusaha mencari alasan lain lagi.
"Mba, Saya mau pindah kamar saja, Mba! Disini saya di 'ganggu'. Setiap malam ada yang ngetok-ngetok jendela di sebelah saya. Saya gak mau yang disebelah jendela pokoknya!"
"Oh, baik, Bu. Akan saya coba tanyakan dahulu ya, Bu."
Ahaaa! Sepertinya cara itu patut di coba. Loh, tapi aku kan belum bermalam disini. Hhhhh .... Aku harus bagaimana ya?
"Draaap... Draap... Draapp...." Suara langkah sepatu dari arah pintu, mengembalikan aku ke dunia nyata. Akupun menerka-nerka siapa yang akan datang.
"Ini, Mah, jusnya." Rupanya suami pasien di sebelah yang datang.
Suamiku sedang asyik main handphone-nya dibawah menggunakan tikar. Sepertinya dia tidak menyadari kedatangan suami pasien sebelah.
"Misi, Mas, Mba." Suami pasien sebelah datang menghampiri kami.
"Ini, tadi saya buat jus jambu di bawah," katanya sambil menyodorkan gelas plastik, berisi jus jambu yang terisi penuh.
"Oh, ya ampun, Pak. Gak usah repot-repot" Mas Zaky bangun dari duduknya. Sspertinya dia juga sudah kembali ke dunia nyata.
"Enggak kok, gak repot sama sekali."
Suamiku menerima gelas itu dan meletakannya diatas lemari kecil yang berada di sebelahku.
"Makasih banyak ya, Pak. Saya jadi ngerepotin."
"Oh, enggak kok, Mba. Tenang aja."
"Emang di bawah ada yang jual jus ya, Pak?" Aku bertanya sambil meraih jusku.
"Saya minum ya, Pak"
Mmmm, Enak banget! Gw gak pernah ngerasin jus se-enak ini. Beda sih, ya jus buatan koki.
Aku seperti mendapat hadiah, karena se kamar dengan koki rumah sakit. Ditambah lagi aku bisa meminumnya sendirian segelas penuh ini. Aku melirik ke arah Mas Zaky.
Dia gak tahu jus ini enak banget. Hehe.
"Silahkan, Mba, silahkan. Saya gak beli, kok, Mba. Kebetulan saya kerja disini sebagai juru masak. Jadi saya bisa bebas ke dapur untuk bikin jus buat istri saya."
"Ooooo... Bapak kerja disini," kataku dan suami bersamaan.
"Enak dong, Pak?" kataku sambil menyeruput jus jambu yang super enak itu.
"Ya, gak enaklah, Mba. Namanya nemenin istri sakit."
Iya juga, ya. Duh, jadi gak enak.
"Oh, Iya, Mba. Kalau mau lagi, itu udah saya bikinin satu pitcher buat disini. Tinggal isi lagi aja ya, Mba," kata dia sambil menunjuk ke arah lemari kecil disebelah Istrinya.
Istrinya langsung tersenyum. "Ambil aja ya, Mba kalau mau lagi."
Baru kali ini aku bisa melihat wajah istrinya dengan jelas. Tentu dia berusia lebih tua dariku. Tapi dari raut wajahnya, aku bisa melihat bahwa dia begitu tenang. Suaranyapun juga lembut.
"Iya, Bu. Makasih banyak ya, Bu" kataku sambil menunduk hormat.
"Anaknya udah berapa, Pak?" tanya suamiku.
"Anak Saya udah tiga, Mas. Yang pertama udah SMP, yang kedua kelas lima SD dan yang terakhir yang baru lahir sebulan ini."
"Terus nyusunya gimana itu, Pak?" tanyaku dengan nada khawatir. Sebagai Ibu yang masih memilik bayi, tentu aku bisa merasakan penderitaannya.
"Kan gak ASI, Mba. Orang baru juga sebulan. Belum begitu lancar menyusuinya, eh, udah dibawa kesini."
Ya allah. Ternyata benar, masih ada yang lebih menderita dariku dan Tyara.
"Tapi anaknya mau, Pak minum sufor?"
"Ya mau Mba akhirnya. Karena kan gak mungkin dibiarin aja. Udah gitu, dia kan baru sebulan. Jadi masih belum terlalu ngeh sama ASInya"
"Ya, mungkin emang ini yang terbaik" lanjutnya
"Yaudah kalo gitu, saya balik dulu ya, Mas. Mba"
"Iya, Pak. Sekali lagi makasih banyak ya, Pak" kami saling mengangguk.
Rupanya aku dan Tyara yang lebih menderita, karena Tyara tidak mau sufor sama sekali.
Ya Allah, mereka orang baik. Sembuhkanlah istrinya ya Allah. Kasihan bayinya masih sangat kecil, bahkan lebih kecil dari Tyara. Tapi adik itu masih beruntung, karena dia mau minum susu formula. Sedangkan Tyara, jika tidak ada aku seperti saat ini, maka dia tidak akan minum apapun kecuali air. Jadi, tolong sembuhkan hamba juga ya, ya Allah. Sembuhkan kami berdua. Amiin.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Bosan berselancar di dunia maya dengan leluasa, akhirnya aku mencoba santai dengan menonton tv yang menempel di tembok. Tapi suaranya tidak terdengar sama sekali. Aku hanya melihat mulut mereka bergerak-gerak. Dan bukannya bisa santai, aku malah semakin kesal karena tv itu posisinya tepat dibawah jam dinding. Mau tidak mau aku jadi lebih memperhatikan jam dinding daripada menonton.
Waktu rasanya berjalan lama sekali, karena tidak ada lagi yang bisa ku lakukan. Ditambah lagi suasana disini sangat hening, karena semuanya sedang tidur siang. Hanya suara alat rekam jantung yang menemaniku, yang justru membuatku jadi merinding. Ku coba membunuh waktu dengan membuka sosial media lagi.
Kapan lagi bisa maenan hape seleluasa ini coba? Akupun tersenyum tipis sambil melihat layar.
Semenjak ada Tyara, sekadar melakukan hal kecil seperti ini saja aku harus mencuri-curi waktu. Apalagi melakukan hal besar seperti bepergian sendiri atau melakukan semua pekerjaan rumah. Aku merasa takut jika jauh dari dia, meskipun masih di rumah. Tapi aku juga jadi merasa terkekang karena tidak bisa melakukan apapun. Itulah mengapa aku sempat mengalami baby blues. Sungguh perasaan yang sangat aneh.
Lambat laun aku mulai mengantuk juga. Lalu aku mulai terbawa mimpi.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
"Permisi, Bu." Seseorang datang.
Aku membuka mataku dan mencari siapa yang datang. Ternyata ada seorang wanita berhijab dengan baju bebas yang datang mengunjungi pasien sebelah.
"Ambil darah dulu ya, Bu!" sambung wanita itu kepada pasien di sebelahku. Dia membuka box pelastik yang dibawanya kemudian mengeluarkan jarum suntik dan yang lainnya.
Aku memalingkan wajahku. Lebih baik aku melihat keluar jendela, daripada harus memperhatikan orang lain di suntik. Akupun larut dalam lamunan.
"Sudah ya, Bu. Saya permisi dulu." Suara Mba itu menyadarkanku dari lamunan. Rupanya dia sudah selesai mengambil darah dari pasien sebelah.
Lalu, aku mendengar suara kaki melangkah. Semakin lama suara langkah kaki itu semakin mendekat. Entah kenapa aku jadi merinding mendengarnya.
Perasaan gw gak enak nih.
"Permisi, Bu."
There you are.
"Ambil darah dulu ya, Bu!" Dia langsung membuka boxnya tanpa peduli aku mau atau tidak.
Aku tersenyum sumbang. Untung dia tidak melihatnya karena sibuk memasang alat suntik. Sedetik kemudian dia sudah siap dengan jarum suntiknya dan mulai mencari pembuluh darah dari tangan kiriku. Tak butuh waktu lama baginya, untuk menemukan pembuluh darah vena dan "Sleeppp..." jarum itu masuk tanpa perlawanan. Aku meringis kesakitan.
"Sudah ya, Bu. Nanti ambil darah lagi setiap enam jam sekali ya, Bu. Saya permisi dulu." Diapun pergi tanpa sempat melihat aku mengangguk.
Enam jam?? Enam jam sekali harus ambil darah?? Gw gak boleh labih dari tiga hari disini.
"Yank, perlaknya mau diganti gak?" tanya suamiku.
"Belum Yank, belum terlalu kotor, kok. Tapi nanti gimana bersihin darahnya ya??
"Yaudah nanti aku yang cuciin."
"Oke. Makasih ya, Pih." Aku mdraih tangan suamiku.
"Eh, bentar, Mama nelpon nih, Mih."
"Yaudah, angkat, Pih!"
"Assalamualikum, Ma."
Samar-samar ku dengar suara Ibuku dari telpon.
"Baru bangun nih, Ma ..., oh, gitu.... oke, Ma, iya nanti dibilangin... Iya Ma, Waalaikumsalam."
"Nanti habis ashar Mama kesini sama dede." Suamiku mematikan telponnya.
"Naik apa??"
"Nunggu Ayah pulang. Katanya Ayah pulang lebih cepat."
"Ooh gitu."
Mendengar kabar itu, perasaanku jadi campur aduk. Aku sangat rindu dengan Tyara, namun Aku juga tak sanggup menatap wajahnya dengan kondisi seperti ini. Belum lagi ASIku mulai terasa penuh dan Tyara pasti sudah sangat lapar. Namun aku juga takut Dia berada di ruang rawat inap seperti ini.
Ku lihat jam di dinding, ternyata sudah jam tiga sore. Berarti sebentar lagi Tyara dan Ibuku akan berangkat menuju kesini.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
"Waalaikumsalam." Jawabku dan suami serentak.
"Ayah dimana. Ma?" tanya suamiku.
"Tadi sih lagi nyari parkir. Karena dapetnya jauh, jadi Mama rurun duluan"
"Tyaraaaaa" kataku sambil msngangkat tanganku agar bisa segera meraihnya. Dia sangat lucu menggunakan topi kupluk rajut merah muda, dengan hiasan rambut kepang palsu di kanan dan kirinya.
Tyara langsung merengek begitu melihatku. Dan tentu saja aku langsung menyusuinya. Dia terlihat sangat lapar.
Ya allah ya Rabb. Yang maha melihat dan menyembuhkan. Engkau pasti saat ini melihat bagaimana Tyara menyusu dengan begitu cepat karena dia sangat lapar. Maka sembuhkanlah hamba segera ya Allah. Dibandingkan dengan anak dari pasien di sebelah, Tyara lebih butuh Ibunya karena tak mau minum selain ASI dan harus secara langsung. Hamba mohon ya Allah sembuhkanlah hamba. Dan ridhoilah hamba untuk bisa menyusui Tyra, hingga hak ASInya terpenuhi. Amiin.
Ada genangan air yang tertahan di ujung mataku. Tapi aku harus menahannya, agar Ibuku tidak semakin sedih dan panik.
Ini sungguh tidak adil. Disaat Tyara ada disini, waktu terasa sangat cepat sekali berlalu. Hingga aku tak sadar bahwa sekarang sudah jam enam sore. Tyara menyusui full selama dua jam. Selama itu pula aku memberi jeda setiap lima belas menit sekali dan menyususinya selama lima belas menit juga. Tujuannya agar dia tidak gumoh.
Setelah suami dan kedua orang tuaku selesai sholat maghrib, Ibu dan Ayahku ijin pamit. Aku kembali gelisah, jantungku seperti bergerak tak karuan. Sungguh ini amat sangat berat buatku.
"Dadaaaah, Tyaraaaa." Aku melambaikan tangan. Merekapun menghilang dibalik pintu.
"Mas, perlaknya mau ganti."
"Oh, Iya, sebentar." Suamiku segera mengambil perlak yang baru. Kemudian memintaku untuk miring kanan dan kiri agar bisa mengganti perlak yang lama dengan yang baru.
"Aku cuciin dulu, ya!"
"Makasih banyak ya, Mas."
Belum lama suamiku masuk ke kamar mandi untuk mencuci perlak, tiba-tiba dua orang perawat masuk dengan terburu-buru.
"Sreeeekkk!" Salah seorang perawat menutup tirai pasien disebelahku. Wajahnya terlihat tegang.
"Kok bisa kaya gini lagi, Pak?" tanya seorang perawat kepada suami pasien sebelah.
"Gak tahu, Mba. Lagi ngobrol padahal. Tiba-tiba aja kaya gitu."
Aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi, karena tertutup oleh tirai.
"Buk!! Buk!! Ayo sadar, Buk!!"
"Ibuk!! Jangan tidur!! Maghrib-manghrib gak boleh tidur!!
Astaghfirullah hal adzim, ya Allah, ya Allah! Aku langsung memejamkan mataku rapat-rapat dan menutup kedua telingaku sekuat tenaga, agar suara mereka tidak terdengar. Namun tetap saja aku bisa mendengar dengan cukup jelas apa yang terjadi disana.
Lalu tiba-tiba sesorang memelukku dari samping. Ternyata itu Mas Zaky. Dia sudah keluar dari kamar mandi, dan langsung memelukku.
"Ibuk!!! Ayo sadar, Buk!!! Inget anak di rumah, Buk!!!" kata perawat itu bergantian.
"Ma, ayo, Mah, yang kuat. Inget dede masih kecil maaaah." Suara bapak itu terdengar sangat bergetar.
"Ya Allah, kenapa begini?? Aku gak minta supaya dia aja yang engkau ambil lebih dulu karena anaknya tidak ASI. Aku hanya minta kesembuhan untukku agar bisa menyusui Tyara hingga haknya terpenuhi"
Aku sangat mnyesal karena berdoa seperti itu tadi,saat Tyara sedang menyusu.
"Tolong ya Allah, jangan dulu. Kasihan bayinya lebih kecil dari Tyara. Tolong sembuhkan kami berdua ya Allah."
"Tadi kata suaminya lagi ngobrol, Dok. Terus tiba-tiba kaya gini."
Aku terus berdoa dan berdzikir tanpa membuka mata dan telingaku. Hingga aku tidak menyadari ada dokter yang datang. Suamiku masih memelukku.
Sayup-sayup dapat aku dengar suara Dokter itu memberikan instruksi dengan bahasa medis.
Aku tidak tahu apa yang dokter itu lakukan. Namun caranya berhasil mengembalikan kesadaran pasien sebelah. Akupun bisa sedikit bernafas lega.
"Jangan bengong ya, Bu. Jangan tidur. Ibu harus inget anak-anak di rumah." kata seorang perawat. Mereka langsung pergi ketika memastikan bahwa kondisi si Ibu sudah benar-benar stabil.
Aku takut sekali, hingga aku menangis dipelukan suamiku. Aku tak pernah merasa sedekat ini dengan malaikat maut. Padahal aku sudah pernah melahirkan. Tapi bagiku ini lebih menakutkan karena fisikku kali ini benar-benar lemah, lebih lemah dibanding saat aku melahirkan.
Kondisi mulai tenang. Mas Zaky mulai melepas pelukannya. Kemudian aku menatapnya. Tanpa bicara dia langsung tahu apa yang aku rasakan.
"Jangan takut, ada aku disini."
Kuberanikan diri untuk menoleh ke kanan. Ibu itu sudah sadar, tapi dia terlihat lebih lemah dari biasanya.
Aku langsung merasa lapar. Padahal tadi jam lima aku sudah makan makanan yang disediakan rumah sakit. Beruntung ada roti yang dibawakan Ibuku.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Selepas suamiku sholat Isya, dia izin membeli makan diluar. Tak lupa dia juga pamit kepada suami pasien sebelah, agar mengetahui bahwa aku sendirian sementara waktu.
Tak lama suamiku datang membawa ayam goreng tepung. Diapun makan dengan lahap diujung kasur.
"Ganti perlak lagi kapan, Mih?" tanya suamiku.
"Paling tengah malam, Pih. Kenapa?"
"Gak apa-apa. Bangunin aja ya. Kalo Aku tidur"
"Iya, Makasih ya, Pih"
Sekitar jam sembilan malam, dokter yang menanganiku dan pasien sebelah datang berkunjung bersama dua perawat. Dia lebih dahulu mengunjungi pasien disebelah.
"Ibu, tadi Ibu sempat tidak sadarkan diri lagi, ya?"
"Ibu harus kuat! Gak boleh kalah! Karena mulai malam ini, Ibu sudah masuk ke fase penyembuhan. Jadi Ibu harus bertahan sedikit lagi."
"Trimbosit Ibu memang masih sangat rendah, tapi mudah-mudahan besok sedikit demi sedikit sudah mulai naik. Ibu harus kuat ya!"
"Baik, Dok."
"Saya ke sebelah dulu ya, Bu!" Dokter itupun menghampiriku.
"Malam, Bu. Saya periksa dulu, ya!"
Aku hanya membalas dengan senyuman. Kemudian dr Indria memeriksaku dengan stetoskopnya.
"Ada keluhan yang dirasakan saat ini, Bu?"
"Enggak, Dok. Diarenya juga sudah berhenti, Dok."
Dr Indria hanya mengagguk kemudian memeriksa kertas yang disodorkan oleh salah satu perawat.
"Ibu ..., saat ini Ibu masih berada di fase kritis. Berdasarkan hasil test darah tadi siang, trombosit Ibu mengalami penurunan dari hari kemarin dan kemungkinan besar masih akan terus turun hingga 6 sampai 7 hari ke depan."
"Sebaiknya Ibu tingkatkan lagi minumnya agar tidak mengalami penurunan kesadaran lagi. Sehingga bisa melewati fase kritis ini dengan baik."
"Baik, Dok," balasku.
"Maaf Ibu, apa ibu sedang menyusui? Soalnya kata perawat yang berjaga, tadi ada anak Ibu dan neneknya datang kesini."
"Iya, Dok. Saya masih menyusui," jawabku.
"Baiklah. Kalau begitu, nanti Saya akan konsultasikan dengan dokter anak ya, Bu."
"Oh, iya, satu lagi. Bapak, saya mohon setiap dua jam sekali, tolong dicatat jumlah air seni Ibu yang ada di kantong kateter ya, Pak. Karena akan saya pantau apakah Ibu sudah cukup minum airnya atau belum."
"Oh, Iya. Baik, Dok"
"Nanti ada perawat yang meminta datanya, kemudian diberikan ke Saya."
"Siap, Dok."
"Saya permisi dulu, ya. Selamat malam."
"Malam, Dok."
Aku termenung. Apa yang disamaikan dr Indria kepadaku dan kepada pasien sebelah membuatku gelisah. Besok, pasien sebelah sudah memasuki fase penyembuhan. Sedangkan aku justru trombositnya masih akan turun.
*Masa jadinya Gw yang mati, sih? Enggak!! Gw gak boleh mati sekarang!!
Ya Allah, ku mohon jangan Aku dulu. Setidaknya sampai hak ASI Tyara terpenuhi*. Jeritku di dalam hati.
Tak lama setelah dr Indria pergi, ada seseorang lagi yang datang. Rupanya dia adalah orang yang bertugas mengambil darah. Namun kali ini yang datang adalah orang yang berbeda.
Aku sendiri sudah lebih siap kali ini untuk disuntik. Jadi aku tidak terlalu kaget dan tegang.
"Aku tidur duluan ya, Pih." Setelah diambil darah, aku mulai mengantuk.
"Iya, Mih," balas suamiku sambil mengusap rambutku.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Alhamdulillah, terimaksih banyak sudah membaca 16km sampai bab ini. Jika teman fillah merasa suka dengan novel ini, atau ingin memberikan kritik dan saran. Caranya mudah sekali. Cukup buat akun noveltoon (jika belum punya), kemudian teman fillah bisa dengan bebas like, comment, dan vote disetiap episode. Respon dari kalian disini sangat aku nantikan.
.
.
.
Semoga 15 menitmu yang berharga ini, Allah ganti dengan rezeki yang berlipat dan berkah. Aamin ya robbal alamin.