16KM

16KM
LIKUIFAKSI



Bencana alam yang terjadi di Palu, benar-benar menyayat hati dan menggemparkan dunia. Bagaimana tidak, tiga bencana terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Aku sampai merinding ketika membayangkan jika berada disana.


Meski sudah seminggu berlalu. Berita soal bencana di Palu masih menjadi pusat perhatian. Di era digital ini, semua informasi menjadi sangat mudah di dapat. Termasuk masifnya pemberitaan soal bencana Palu. Tentu hal ini cukup menyulitkanku, untuk menghindari terpapar dari berita itu.


Sejak hari pertama membaca beritanya saja, hidupku kembali diwarnai dengan perang batin. Gejala Pospartum Anxiety yang sempat hilang, ternyata hanya bersembunyi disudut hati dan kini dia kembali menggerogoti nalar dan jiwaku.


Acara tivi, media sosial, bahkan hingga group di whatsapp, semua membagikan berita tentang palu. Sekuat tenaga aku menghindarinya, agar gejala postpartum anxiety-ku tidak semakin merajalela. Namun itu sangat sulit, untuk tidak membaca atau menonton berita tentang Palu. Karena menurutku walaupun sedikit, aku harus tahu apa yang terjadi. Sehingga bisa memikirkan cara untuk antisipasi, jika bencana seperti itu datang. Terutama bencana likuifaksi yang masih sangat baru sekali di telingaku.


"Kamu enggak apa-apa, Mih?" tanya Mas Zaky yang sedang sarapan sebelum berangkat.


"Mmmm..., enggak. Emang kelihatannya Aku kenapa?"


"Ada yang beda dari sorot mata Kamu...," Mas Zaky tiba-tiba berhenti bicara. Dia sedikit mengangkat tubuhnya dari kursi makan dan mendekatkan wajahnya kepadaku. "Bawah mata Kamu juga semakin menghitam, Mih."


Mas Zaky kembali duduk. Namun dia menjauhkan makanannya yang belum habis dan melipat tangannya diatas meja. "Kamu insomnia lagi? Udah berapa hari Kamu enggak tidur?"


"Aku tidur kok, Pih," jawabku sambil menunduk, demi menghindari kontak mata dengannya.


"Iya, Aku tau. Maksudku, udah berapa hari kamu sulit tidur? Sebentar..., pasti sejak berita bencana di Palu, ya? Berarti udah sekitar seminggu? Iya?"


Aku semakin menunduk. Entahlah, sulit sekali bisa menutupi sesuatu dari dari Mas Zaky. Dia memahamiku lebih dari kedua orangtuaku.


"Dede diajak jalan pagi kemana ya, sama Mama sama Ayah?" Sambil berdiri, aku mencoba mengalihkan pembicaraan.


Dengan sigap mas Zaky meraih tanganku "Jawab Aku dulu, Ras."


Akupun kembali duduk. "Iya, Mas. Sejak saat itu. Tapi Aku berusaha menyaring informasi, kok. Gak semua berita aku baca atau aku lihat."


"Terus Kamu tidurnya jam berapa sekarang?"


"Ya, kaya waktu sebelum sakit. Sekitar jam satu ke atas."


"Kenapa enggak bangunin Aku?"


"Kalo bangunin Kamu ,yang ada malah beneran enggak tidur sama sekali karena kamu minta jatah," jawabku menggerutu.


"Ya sudah. Kalau begitu, jangan ada lagi berita soal Palu yang kamu baca! Oke?"


Akupun meng-iyakan perintah Mas Zaky. Meski aku ragu, akan sanggup menjalankannya.


Setelah Mas Zaky berangkat kerja, aku berusaha untuk tidak membaca, menonton atau bahkan hanya mendengar berita soal Palu. Meskipun sulit, karena rasanya aku seperti di kepung oleh berita-berita itu.


Hingga akhirnya aku menemukan sebuah video amatir, yang menarik perhatianku di jejaring sosial facebook. Di video itu, berdiri seorang ibu menggunakan hijab brego hijau tosca se dada. Usianya sekitar empat puluh tahun dan perawakannya gemuk seperti ibu-ibu pada umumnya. Ibu itu sedang memberikan kesaksian bagaimana dia bisa selamat, di depan warga yang sudah mengerumuninya.


Diatas video tertulis, bahwa ibu itu adalah salah satu korban selamat dari bencana likufaksi yang terjadi di kampungnya. Tidak disebutkan nama kampungnya.


Duh, baca enggak ya? Kalo baca takut kumat. Tapi ini lumayan penting. Supaya Gue bisa tahu caranya menyelamatkan diri dan Tyara, jika terjadi likuifaksi.


Aku gelisah sendiri diatas kasur. Ada sedikit rasa penyesalan sudah membuka facebook. Karena itu artinya tidak akan jadi tidur siang lagi bersama Tyara, sedagkan aku sedang kurang tidur.


Bismillah aja, lah. Secara, kemungkinan selamatnya kecil banget dari likuifaksi. Selain karena belum waktunya mati, Gue tetep harus tahu, gimana cara ibu itu menyelamatkan dirinya.


Akupun memberanikan diri menkan tombol play pada video itu. Suara yang sedikit riuh langsung menyeruak, membuat ku harus mendekatkan wajahku ke layar. Namun aku tetap tidak begitu jelas mendengar cerita ibu itu, karena beliau juga menceritakannya dengan terburu-buru dan dengan logat yang tidak begitu jelas di dengar.


"Suami Ibu dimana?" tanya seorang warga pada ibu itu.


"Itu, saya ketemunya jam satu malam, kan dia beda jalur," seru Ibu itu setelah dia menceritakan, bahwa anaknya selamat, karena dibawa olehnya dalam pelukan.


"Kan, Kita mau sholat. gempa pertama kita sudah keluar. Tapi karena Dia cuma pakai handuk jadi Dia masuk. Begitu Dia masuk, itu tanah sudah mendddiiddihh!" lanjut Ibu itu memberikan penekanan pada saat menyebut 'sudah mendidih'.


Lalu ibu itu memperagakan tanah yang bergulung-gulung dengan tangannya. Dia juga sesekali melompat, seolah dia sedang memanjat. Karena logatnya asing bagiku, jadi aku tidak begitu jelas mendengar ucapannya. Hanya saja gerakan tangannya itu dapat ku mengerti, bahwa dia menyelamatkan dirinya dengan cara memanjat setiap gulungan tanah itu.


Ada beberapa kalimat yang dapat terdengar cukup jelas, diantaranya adalah. "Saya kira kiamat" dan "Seperti naga, tapi dari jalanan." Ibu itu juga kerap kali brigidik selama bercerita. Dan kalimat terakhir yang di ucapkan ibu itu adalah "Cuma Saya, berenam yang selamat disini. Mati semua itu."


Seketika jantungku seperti tremor. Berdebar cepat tak karuan dan nafasku mulai sesak. Sadar ada yang tidak beres, aku langsung melempar ponselku di kasur.


Ku pejamkan mataku sambil menarik nafas, mencoba menenangkan diri.


Tenang Laras, tenang. Kamu pasti bisa menyelamatkan diri dan Tyara, jika hal seperti itu terjadi. Buktinya ibu itu yang usianya lebih tua saja, bisa menyelamatkan diri sambil menggendong anaknya. Itu artinya, mungkin tak seburuk yang Kamu bayangkan.


〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰


Malam harinya ketika Mas Zaky sudah pulang. Dia kembali menangkap kecemasanku.


"Kamu sakt? Kok pucet? Udah makan belum?" tanya Mas Zaky ketika aku selesai menyusui Tyara hingga dia tidur.


"Udh kok tadi abis maghrib."


"Terus kenapa kamu diem aja? Gak enak badan? Aku pijitin sini!" Mas Zaky mendekatiku yang masih duduk diatas kasur.


"Tapi, Mas belum makan," sahutku.


"Enggak apa-apa nanti aja."


Akupun membalikan badan. Selama dipijit, Mas Zaky berusaha menggodaku agar aku tertawa. Dia menggelitik pinggangku, namun aku benar-benar sedang tidak ingin bercanda.


"Eemmmmm..., enggak mau!" aku menepis tangannya dan menjauhkan posisi.


"Kamu kenapa, sih? Aku ada salah?"


"Enggak, kok "


"Aku tahu. Pasti kamu kepikiran bencana alam ya?"


Aku mengangguk.


"Kapan kamu resign, Mas?"


"Bukannya Aku enggak mau, Ras. Tapi..., memang belum ada panggilan kerja dari tampat yang lain. Aku udah coba naro-naro lamaran, tapi memang belum ada yang respon.


"Udahlah, enggak usah nungguin kerjaan baru."


"Terus kalo belum dapat yang baru, Kamu sama Dede gimana? Buat beli-beli kebutuhan gimana?"


"Justru disitu ujiannya, Pih. Kita berani enggak ninggalin pekerjaan yang enggak halal."


Sekarang giliran Mas Zaky yang tertunduk. Dia pasti bimbang saat ini.


"Udah hampir setahun kan, kita merencanakan ini? Dan udah hampir setahun juga, Kamu coba nyari pekerjaan lain. Tapi nyatanya, hanya panggilan interview aja belum ada."


"Aku ngerti kalau kamu ragu. Apalagi Kamu kepala keluarga. Tapi, mau sampai kapan? Aku juga sempet ragu, tapi setelah aku sakit kemarin, Aku jadi semakin yakin, Kita harus segera cari rejeki yang halal."


"Kamu tahu enggak, Pih. Aku sakit kemarin tuh pasti teguran dari Allah. Salah satunya karena mencari rejeki yang enggak halal, enggak di ridhoi. Jangan tunggu, sampai Allah harus negur lagi lewat Tyara. Aku enggak mau Tyara sakit karena dosa orangtuanya."


Mas Zaky mengangkat wajahnya. Sepertinya perkataanku yang barusan memberi sedikit efek kejut. Namun Dia kembali menunduk.


"Pih, Allah pasti sedang ingin tahu kesungguhan kita, untuk mencari rejeki yang lebih halal. Allah juga pasti ingin tahu sebesar apa, sih Kita percaya sama Dia."


"Kamu tenang aja, Pih. Resign dari situ, Kamu bisa jadi ojek online dulu sementara waktu, sampai dapat perkerjaan baru."


"Oke, Aku akan resign secepatnya. Tapi, Aku mau kamu janji satu hal."


"Apa itu?" Aku melirik ke arah Tyara. Mencari tahu apakah dia ada tanda-tanda akan bangun.


"Aku tahu banget, Kamu begini karena ketakutan, kan?"


"Ehemmm...," aku mengangguk.


"Sedangkan kamu tadi bilang, Allah ingin tahu sebesar apa Kita percaya sama Dia. Nah... Aku mau kamu juga janji, untuk tidak lagi mencemaskan apapun secara berlebihan. Kamu harus percaya sama Allah, bahwa apapun yang terjadi itu yang terbaik."


"Gimana? Bisa Kamu janji sama Aku?" tanya Mas Zaky.


"Insya Allah..., yang pasti dengan kamu resign, itu jelas mengurangi beban pikiran Aku."


"Jujur ya. Setiap kamu berangkat kerja, Aku selalu dihantui rasa takut. Aku takut kamu belum sempet resign dan taubat. Aku takut, Allah kasih teguran lewat Tyara. Dan akan lebih gelisah, setiap kamu masih dalam perjalanan berangkat atau pulang."


"Oke, kalau begitu Aku akan segera ngajuin resign."