16KM

16KM
Baby Blues



WARNING!!! PEMBACA DIHARAP BIJAK


jika kamu sedang hamil atau baru melahirkan dan merasa terpengaruh dengan "negative vibes" yang ada pada cerita ini. Silahkan hentikan membaca dahulu. Baru lanjutkan lagi jika sudah merasa lebih baik.


〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰


Namaku Laras Sabrina, biasa dipanggil Laras. umurku tiga puluh tahun. Aku menikah sengan seorang laki-laki yang usianya dua tahun lebih muda dariku, namanya Zaky Muhammad. Saat ini kami sudah dititipkan seorang anak perempuan cantik yang kami beri nama Mutyara Arumi Jasmine, umurnya sudah empat bulan sekarang.


Sejak anak pertamaku lahir, aku menjadi pribadi yang berbeda. Aku sempat mengalami hal yang sama sekali tidak aku duga, yaitu baby blues. Rasanya sungguh tidak mungkin orang secuek aku, sehumoris aku, se-easy going aku bisa mengalaminya. Padahal meskipun ini kehamilan pertamaku, aku tidak begitu mengalami kesulitan-kesulitan yang biasa dialami oleh ibu hamil. Kondisi ekonomipun terbilang cukup baik.


Seharusnya tidak ada faktor utama yang memicu baby blues. Namun berdasarkan informasi yanng ku dapat dari internet, ternyata ada banyak faktor yang menyebabkan seorang ibu mengalami baby blues. Dan bisa menyerang siapa saja tanpa alasan yang benar-benar pasti, karena baby blues erat kaitannya dengan hormon. Tapi sejauh yang aku ingat, faktor pertama yang membuat aku mengalami ini adalah bagaimana cara dokter kandungan dan bidan memperlakukanku saat proses persalinan.


Aku ingat betul, bagaimana dokter itu membentak-bentak semua orang yang ada diruangan termasuk aku, saat dia sedang menjahit perineumku yang robek tanpa dibius. Memang sih malam itu hanya dia dokter jaga yang ada di rumah sakit bersalin tempatku biasa kontrol.



"BERAPA BERAT BAYINYA?!" dokter tersebut bertanya kepada salah seorang bidan yang ada di ruangan dengan nada membentak. Bidan itu sampai terkejut, kemudian menundukkan kepalanya.


"Dua koma enam, Dok" jawab Mba bidan singkat dan pelan.


"TUH, KECIL ITU BAYINYA!! KOK BISA SOBEK SIH?? INI PASTI IBUK GAK SABAR PENGEN NGEDEN KAN?? CUMAN SEGITU HARUSNYA GAK SAMPE SOBEK BUK!!" sahut bu dokter marah-marah sambil terus menjahit.


"KALO IBUK CAPEK, YA SAMA SAYA JUGA CAPEK!! MALAM INI CUMA SAYA SENDIRI MENG-HANDLE SEMUA!" lanjut bu dokter merasa belum puas.


Dalam hatiku ingin sekali menjelaskan. "Buk, ini kehamilan pertama saya. Saya gak tau cara melahirkan yang benar secara langsung. Saya cuma tau dari internet, belum pernah mengalami langsung"


Bu dokter itu tidak tahu bahwa ketika kontraksi mulai sering, tidak ada satu bidanpun yang menemani dan membimbingku untuk mengatur nafas supaya tidak mengejan. Sesekali ada bidan yang datang. Tapi bukan untuk menanyakan keadaanku, melainkan untuk menyiapkan alat vacum dan yang lainnya untuk membantu perasilananku. Jadi mereka tidak tahu bahwa aku benar-benar kesulitan untuk tidak mengejan. Bu dokter juga tidak tahu bahwa sudah hampir dua puluh empat jam aku mengalami kontraksi.


Hingga akhirnya aku tidak tahan sama sekali, dan aku melahirkan anakku sekitar pukul enam sore, tanpa ada tenaga medis yang mendampingi satupun. Karena semua masih sibuk menyiapkan alat-alat yang masih belum juga siap. Tentu hal ini juga tidak diketahui bu dokter.


"SEGINI LOH BUK! SEGEDE GINI ROBEKNYA!!" kata bu dokter memperagakan bentuk jari yang menyerupai "Pistol"


"UDAH GAK USAH DIBIUS YA BAGIAN LUARNYA?! BAGIAN DALAMNYA AJA TADI!" tanya dia kepadaku.


"Loh kenapa gak dibius, Dok?" tanyaku lirih.


"IBUK, MAU CEPET SEMBUH GAK?! KALO MAU CEPET SEMBUH, YA GAK USAH DIBIUS! LAGIPULA KALO DIBIUS, YA IBUK HARUS DIBAWA KE RUANG OPERASI JADINYA!" jawabnya "Nge-gas".


Masih sangat jelas diingatanku bagaimana rasanya dijahit tanpa dibius itu. Aku tak sanggup menjelaskannya disini, karena rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dibanding rasa mulas. Meski begitu, aku percaya bu dokter tetap memberikan yang terbaik untuk keselamatanku, walaupun dengan emosi yang meletup-letup.


Dan ternyata, aku cukup kuat dan berhasil melewati satu jam yang lebih menyiksa dibanding dua pulu empat jam kontraksi. Namun sayangnya, setelah aku berhasil menahan rasa sakit karena dijahit, ku pikir bu dokter akan memberikan apresiasi atau sekedar ucapan selamat. Rupanya dia masih memendam emosi kepadaku karena tidak tahan mengejan sebelum waktunya.


Aku dibawa ke kamar sekitar pukul delapan malam. Aku tertidur, begitu juga dengan bayiku. Lalu sekitar pukul sepuluh malam, Bu dokter datang berkunjung.


"Haduhhh, Buukk, Buukk. Segini lohh, Buk sobeknya." Tiba-tiba dokter itu masuk ke kamar tanpa salam, dan sambil kembali memperagakan bantuk jari "Pistol"nya. Aku hanya senyum tak tahu harus menjawab apa.


"Saya cek ya jahitannya?" lanjut bu dokter sambil membuka celanaku."Udah, bagus kok ini"


"Hadehhhh, segini loh, Bukk" sambungnya dan kembali memperagakan jari "Pistol" lagi.


"Hahaha" dia tertawa sinis, entah apa yang lucu.


Iya, apa kata elu aja dah.


"Makasih ya dok" ucapku lirih.


"Yaaaa... Yaaaa," jawabnya sambil ngeloyor pergi, tanpa salam.


"Idih kok gitu banget sih, dokternya?" celetuk Kaka iparku dengan suara pelan karena takut terdengar oleh bu dokter yang sedang berkunjung ke pasien disebelahku.


"Kalo Aku digituin gak bakalan Aku bilang makasih" lanjut Kaka iparku mengerutu.


Aku hanya tersenyum, sambil mencuri dengar apakah bu dokter juga bersikap yang sama terhadap pasien disebelahku. Ternyata dia bersikap cukup ramah, tidak ada nada bicara yang menyepelekan seperti yang dia lakukan kepadaku. Apa mungkin karena pasein disebelah lahirannya dengan cara sesar? Aku tidak tahu pasti.


Yang jelas malam itu, aku merasa tetap harus mengucapkan terimakasih. Karena kata bidan yang mendampingi semalam, jahitannya memang tergolong rapih, bagus dan kuat. Padahal saat itu, dia baru saja selesai menangani operasi sesar ke tiga dan dia bahkan belum sempat membuka baju operasinya, ketika menanganiku. Aku sedikit bisa nengerti kenapa dia marah-marah, sedangkan kondisi dia juga sedang hamil besar.


Sepertinya itulah faktor pertama yang menyebabkan aku mengalami baby blues. Karena setelah Bu dokter itu berkunjung, aku jadi mudah melamun. Ada perasaan gagal, bodoh, payah, kacau, dan gagal lagi yang datang silih berganti. Aku tahu betul bahwa ketidakmampuanku menahan agar tidak mengejan sebelum waktunya sangatlah salah, karena beresiko tinggi.


"Ya allah kok bodoh banget sih gw. Sembrono, gegabah, payah! masa gitu aja gak bisa!" lagi-lagi aku jatuh dalam lamunan setiap lima sampai sepuluh menit sekali.


"Astahhfirullah hal adzim," ucapku kesekian puluh kalinya, berusaha untuk tetap sadar.


"Mas, tolong Mas!" aku memanggil suamiku, karena aku mulai merasa terganggu dengan lamunanku.


"Iya, iyaa kenapa?" jawab suamiku tergesa.


"Aku gak tau kenapa melamun terus, kaya ketarik. Susah banget," jawabku mengiba.


"Sebentar, ya" sahut suamiku, sambil terburu-buru mengambil air mineral. Aku tidak tahu untuk apa, karena aku kembali melamun.


"Nih yank, diminum, baca bismillah 3x, Al-fatihah sama Annas 1x" suara suamiku menyadarkanku dari lamunan.


Setelah minun air doa dari suamiku, tidak lupa aku mencoba menyusui anakku lagi. Meskipun dengan posisi yang tidak nyaman bagi dia dan aku, setidaknya anakku bisa menghisap walau sangat sedikit. Kemudian aku menyusul anakku untuk tidur.


Begitulah aku melewati malam pertamaku menjadi ibu di rumah sakit. Ada sedikit perasaan menyesal, karena sepertinya aku salah memilih rumah sakit. Pokoknya setelah itu, aku jadi merasa sangat rendah sekali karena aku mendapatkan jahitan yang pastinya sangat banyak. Karena ucapan dokter itulah, aku jadi menganggap bahwa mendapat jahitan yang cukup banyak adalah sebuah aib.


Namun sepertinya, bukan hanya bu dokter tersebut saja yang suka 'nge-gas'. Dokter anak yang mengontrol bayiku pun ternyata tidak jauh berbeda. Karena berat lahir anakku sangat kecil, yaitu hanya dua koma enam kilo gram, pihak rumah sakit menyarankan agar anakku mejalani tes gula darah. Dan hasilnya rendah. Aku diminta untuk segera menyusui anakku dengan benar agar kadar gula darah anakku bisa naik dan menyentuh angka minimal.


"Ini, Ibuk putingnya gak beres ini, gak bares kacau!" begitu kira2 kalimat yang diucapkan dokter anak kepadaku, ketika dia berkunjung.


Degh!! Seperti ada pukulan Thanos yang menghantam dadaku sehingga aku semakin jatuh kedalam jurang.


Setelah dia bicara seperti itu dihadapnku yang masih terbaring lemah, aku hanya bisa menjawabnya didalam hati. Meskipun gak beres juga, ini Allah yanh disain, Buk! mana saya tau kalau bentuk kaya gini tuh berarti gak normal, Saya juga gak mau. Aku benar-benar salah pilih rumah sakit.


Aku pulang ke rumah setelah 3 hari menginap di rumah sakit. Memang pihak rumah sakit menahanku untuk pulang, guna mengetahui perkembangan kadar gula darah bayiku. Namun karena hasilnya masih dibawah batas minimal, akhirnya pihak rumah sakit memintaku memberikan susu formula untuk mendampingi asiku sementara waktu.


Akupun menuruti anjuran dari pihak rumah sakit untuk sesekali memberikan susu formula kepada bayiku, dan tetap selalu berusha menyusuinya secara langsung. Namun ternyata itu sangat tidak mudah. Payudaraku sampai bengkak karena bayiku belum bisa menghisap dengan sempurna. Terkadang dia berhasil menghisap dengan baik, tapi itu hanya sebentar karena posisinya tidak nyaman bagi dia dan aku. Jadi asi yang dia minum hanya sedikit.


Selain berjuang untuk menyusui dengan benar dan nyaman, aku juga harus bertarung melawan diri sendiri. Aku ingat betul, tiga hari setelah aku pulang ke rumah- enamhari pasca melahirkan-aku baru berani mandi dan keramas. Biasanya aku hanya berani mandi saja tanpa keramas. Aku takut berlama-lama di kamar mandi, aku takut anakku menangis karena minta susu.


Aku berdiri didepan cermin. Kusisir rambutku yang basah pelan-pelan. Aku tatap wajahku yang tak terurus. Ya Allah, perasaan apa ini? seperti ada gumpalan emosi, sedih, marah, kecewa dan terpenjara**. Lalu tiba-tiba saja air mataku berjatuhan, sementara tanganku masih terus menyisir pelan.


Sudah seminggu aku dirumah, tapi aku dan anakku belum juga bisa beradaptasi. Dia masih belum mahir menghisap, dan aku juga belum menemukan posisi yang pas agar dia mudah menghisap. Hingga akhirnya anakku agak sedikit kuning.


Aku dan semua keluargaku bingung. Kami tidak tahu mana yang lebih baik. Tetap berjuang memberikan asi, atau memberikan susu formula sepenuhnya, sedangkan payudaraku saja bengkak karena asi.


"Mas, Mas, Papiiiiii banguun." Aku membangunkan suamiku yang sedang tidur siang. Dia terbangun dan langsung duduk tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Besok kita ke dokter lagi ya, mau tanya sebaiknya gimana," kataku sambil menggendong anakku dipangkuan.


"Yaudah iya, udah kamu juga istirhat tidur siang dulu," jawab suamiku.


Keesokan harinya, aku dan suami langsung berangkat ke rumah sakit tempatku bersalin, tanpa memastikan dahulu dokternya ada atau tidak. Dan ternyata dokternya tidak praktek hari itu.


Tak ingin menyia-nyiakan waktu, aku berinisiatif untuk mencari dokter anak lain hari itu juga.


"Mas, kita ke rumah sakit yang itu aja, yu. Kan rumah sakitnya lebih gede, pasti dokter anaknya gak cuma satu kaya disini."


"Yaudah, yuk!" jawab suamiku sambil mengambil tas yang kami bawa.


Sesampainya disana, alhamdulillah aku bertemu dengan dokter yang ramah dan lembut, namanya dokter Elya. Aku ceritakan semua tentang kelahiran anakku termasuk penyebab aku kesulitan menyusui.


"Coba saya lihat dulu, bu!" pinta dokter Elya.


Akupun membuka bajuku.


"Oooohh, ini gak apa-apa kok, Bu. Pada dasarnya mau seperti apapun bentuknya, tetap saja bisa untuk menyusui. Yang gak bisa itu hanya jika tidak ada asinya" lanjut dr Elya sambil terus memeriksa seberapa banyak asiku.


"Wah, ini banyak kok asinya, cuma agak ngegumpel aja karena keluarnya gak lancar."


"Saya ajarin cara mijitnya ya, Bu. Biar gak ngegumpel lagi," lanjut dr Elya mengajarkan aku cara memijat PD agar asinya tidak menggumpal. Dan benar saja, setelah dipijat dr Elya, asiku kelar lebih banyak dari biasanya.


Kemudian dr Elya juga mengajarkan aku posisi yang benar dan nyaman agar anakku bisa mudah menghisap. Dan "Plek" seperti pulpen ketemu tutupnya. Anakku langsung menyusui dengan pas dan hisapannya kuat.


Hari demi hari aku dan anakku semakin mahir dalam proses menyusui. Perlahan anakku juga sudah tidak kuning lagi. Aku sedikit lega. Ya hanya sedikit, karena rasanya masih ada gumpalan besar yang mengganjal di hatiku. Namun aku tidak tahu itu apa.


Aku kebingungan, aku tidak mengertii perasaanku. Terkadang aku merasa seperti terpenjara. Rasanya ingin sekali pergi sejauh mungkin. Tapi sekedar pergi ke kamar mandi saja aku sudah kepikiran anakku. Padahal ada ibukku yang menjaganya. Sungguh perasaan yang aneh, karena aku sama sekali tidak bisa memberi tahu kepada siapapun. Lidahku seperti kelu. Aku selalu menangis setiap aku hanya berdua dengan anakku. Terkadang aku sampai memukul-mukul kasur.


Bahkan sempat terbesit dalam benakku seperti apa ya jika ku tinggalkan anakku di tempat umum sendirian sebentar saja. Aku juga bersusah payah memerah asiku untuk ku simpan di kulkas. Tujuannya tidak lain adalah supaya aku bisa pergi meninggalkan anakku, entah untuk sementara waktu atau untuk selama-lamanya. Yang pasti seingatku, saat itu aku merasa harus terus menabung asi hingga jumlahnya cukup untukku tinggalkan. Sungguh bukan tujuan yang mulia.



Akupun jadi sangat sensitif. Hal apa saja bisa membuat aku menangis. Melihat video lucu dari hape ketika anakku sedang tidur saja, aku menangis bukannya tertawa. Tidak bisa tidur bersebelahan dengan suamiku saja aku menangis. Aku merasa seluruh duniaku direnggut paksa oleh anakku.



Sebenarnya suamiku bisa membaca kegelisahanku, meski tak satupun berhasil ku utarakan. Dia yang biasanya cuek, tiba-tiba saja sering memberikanku hadiah. Namun setiap dia membawakan aku hadiah, bukannya senang yang ada aku malah menangis sesenggukan.


"Sayang, makasih yaa udah sabar ngerawat dede. Ini cokelat kesukaan kamu, biar mood-nya enak terus" lagi-lagi suamiku berusaha membuatku senang.


"Mas, rasanya aku pengen pergi yang jauuhh sendiriaaan boleh, yaa. Mas, aku juga gak mau punya anak lagi" itulah kalimat yang ingin sekali aku sampaikan kepada suamiku. Namun entah mengapa, justru yang keluar dari mulutku hanya tangisan.


Semakin hari, perasaan ini semakin menyiksaku. Aku semakin terpuruk, semakin merasa gagal dan payah. Terlebih jika ingat perkataan dokter kandungan karena aku tidak tahan mengejan sebelum waktunya. Ingatan itulah yang paling sering datang dan selalu membuat aku menangis dan sulit beristirahat.


Hingga akhirnya aku berada dititik terendah. Malam itu, saat anak dan suamiku sudah tertidur, tiba-tiba saja ada dorongan begitu kuat untuk meniban leher anakku dengan sikut. Aku terdiam di depan pintu kamar. Ku pandangi lekat-lekat leher anakku. Kakiku hampir melangkah, namun tertahan oleh sesuatu yang tidak bisa ku jelaskan. Aku berusaha mencerna apa yang sedang ku rasakan dan masih berdiri didepan pintu. Dorongannya begitu kuat, tetapi ada sesuatu yang menghalanginya yang juga sama kuatnya.


"Astaghfirullah hal adzim.. Astaghfirullah hal adzim.. Astaghfirullah haladzim," ucapku sampil mengusap mukaku. Aku terduduk lemas didepan kamar sambil menutup muka. Nafasku terengah-engah. Ingin menangis tapi tidak bisa. Entah harus bersyukur atau bagaimana aku masih bingung. Yang pasti itu adalah dua puluh detik terlama dalam hidupku, dua puluh detik yang menentukan masa depan hidupku, dan penentu kehidupan seluruh keluargaku.


Aku memutuskan tetap di depan pintu kamar untuk menenangkan diri, dan kusandarkan tubuhku di tembok. Pikiranku melayang. Bagainana bisa tiba-tba perasaan seperti itu muncul. Padahal biasanya hanya perasaan ingin pergi yang jauh saja yang muncul.


Setelah hampir satu jam berada didepan pintu kamar, akhirnya aku lelah dan mengantuk. Aku putuskan untuk masuk kamar. Dan ketika melihat wajah anakku yang sedang tertidur, tiba-tiba aku bersyukur karena aku berhasil melawan bisikan jahat itu. Aku bersyukur karena Allah masih melindungiku. Kemudian kupeluk anakku kuciumi dia sampai dia terbangun dan minta susu. Aku tidak pernah sebahagia ini menyusui dia.


Keesokan harinya, aku memutuskan untuk mencari bantuan. Karena sepertinya aku tidak bisa mengnangani ini sendiri. Kupikir selama ini aku berhasil dengan cara selalu berdzikir.


Ku ambil gawaiku, dan mencari semua informasi tentang baby blues. Ku baca semua artikel tanpa terlewat satupun, mulai dari pengertian, penyebab, hinga cara menanganinya. Aku juga menemukan banyak sekali kisah, tentang perjuangan para ibu melawan baby blues. Nahh disinilah yang akhirnya membuka mataku.


Ada begitu banyak ibu-ibu muda diluar sana yang kondisinya tak seberuntung aku, tapi mereka tetap mau merawat bayinya dengan baik. Ada yang ditinggal suaminya, ada yang anaknya bermasalah kesehatan fisik atau mentalnya, ada yang mengalami baby blues lebih parah dariku. Tapi mereka semua nyatanya bisa merawat anaknya dengan hati yang tulus.


Aku baca semua kisah-kisah itu setiap hari dan setiap ada kesempatan. Dan ternyata cara ini cukup efektif buatku, karena aku jadi merasa tidak sendiri mengahadapi ini. Aku merasa sedikit lebih baik dan lebih ringan menjalani hari.


"Pokoknya sebulan penuh aku akan baca kisah para ibu ini. Jika belum ada perbaikan atau malah kembali lebih buruk, aku benar-benar harus menghubungi dokter" begitulah kira-kira janjiku untuk diriku sendiri.