
WARNING!!! PEMBACA DIHARAP BIJAK
Di episode kali ini, ada part yang cukup menjijikan. Dan tentunya tidak lupa, jika kamu sedang hamil atau baru melahirkan dan merasa terpengaruh dengan "negative vibes" yang ada pada cerita ini. Silahkan hentikan membaca dahulu. Baru lanjutkan lagi jika sudah merasa lebih baik.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Dengan badan bergetar, aku turun dari mobil. Aku merambat pada tembok dan pagar, agar aku bisa masuk ke dalam klinik tanpa terjatuh. Mas Zaky turun belakangan, dia harus memindahkan Tyara yang sedang tidur perlahan-lahan untuk dititipkan pada Ibu mertua.
Mataku langsung mencari jadwal praktek dokter yang tergantung di dinding.
"dr Wiwiek ADA" begitulah tulisan yang tertulis di papan jadwal.
"Alhamdulillah" gumamku.
Aku dan suami memutuskan untuk mampri ke klinik dr Wiwiek sebelum pulang ke rumah. Bersyukur sekali antriannya kali ini tidak terlalu banyak, mungkin karena baru jam 11 siang. Padahal tadinya aku sudah takut membayangkan antrian yang biasanya selalu banyak di klinik ini. Aku bahkan sudah berencana untuk menunggu antrian di rumah saja setelah ambil nomor, karena rumahku dekat dengan klinik ini.
Dua puluh menit kemudian, giliranku tiba. Tak lupa ku bawa kertas hasil test semalam ketika nomor urutku dipanggil. Di dalam ruangan, aku menceritakan semua kejadian dari awal hingga semalam. Lalu dr Wiwiek langsung memeriksaku kemudian hasil testnya.
"Kemungkinan memang dbd ya, Bu"
"Tapi kita harus memastikan lagi bahwa trombosit ibu memang terus turun"
"Berarti, saya harus vek darah lagi hari ini ya, Dok?"
"Oh, enggak sekarang bu, tapi lusa. Soalnya ini kan baru semalam di testnya. Belum terlalu signifikan perbedaanya kalo sekarang test lagi"
"Oh, baik kalau begitu dok. Saya gak test berarti hari ini ya"
"Iya, Bu. Saya tidak memberikan obat ya, Bu karena obat yang semalam masih ada dan sudah tepat. Sebaiknya Ibu banyak minum mulai sekarang"
"Baik, Dok. Terimakasih"
Aku dan suamiku keluar dari klinik dan langsung menuju rumahku.
"Assalamualikum" suaraku sangat pelan, hingga kedua orangtuaku tidak mendengarnya. Mereka tidak tahu bahwa aku sudah pulang.
"BRUUKKKK!!!" aku terjatuh di sofa yang ada di ruang tamu. Lalu aku tidak mendengar suara apa-apa lagi.
"Laraas.. Laraaass.. Bangun, Nak. Laras pingsan ini teh?? sayup-sayup aku mendengar suara ibuku. Dia terus menciumiku agar sadar.
Aku berhasil membuka mata, tapi aku tak bisa berkata apa-apa.
"Mas Zaky, tolong ambilin air sama sedotan" pinta ibuku.
Ku lihat Ibuku langsung berdoa begitu Mas Zaky memberikan segelas air. Sambil terbata-bata karena menangis, ibuku terus berdoa kemudian ditiupkan ke air.
"Nih, minum dulu" ibuku menyodorkan air ke mulutku.
Tak lama setelah aku minum air doa dari ibuku, aku sedikit merasa kuat untuk duduk.
"Ya ampun, kok bisa sampe kaya gini sih?" tanya ibuku sambil mengusapkan air doa yang tadi ke muka dan rambutku
"Tadi pagi ditelpon katanya harus periksa lagi hari ini. Udah?"
"Udah, Ma. Tadi mampir ke dokter Wiwiek dulu pas kesini" jawab suamiku.
"Terus katanya apa?"
"Ya kemungkinan DBD, Mah. Tapi masih di pantau dulu"
Sekitar jam 4 sore kedua mertuaku pamit pulang. Tidak lupa aku mengucapkan terimakasih karena telah merawatku, selama aku sakit disana.
Dan malam harinya, seperti biasa saat Tyara minta mimik tengah malam, aku tak bisa tidur lagi. Badanku rasanya nyeri semua. Ditambah lagi aku jadi sering buang air keci karena aku banyak minum. Hal ini membuatku semakin sulit tidur nyenyak.
Setelah berjalan-jalan sebentar di ruang tamu, aku kembali ingin buang air kecil.
"BROOOTTT!!!" cairan kuning keluar dari bagian belakangku.
"Hah?! Kok keluar pup?"
Aku sangat terkejut. Tiba-tiba saja aku BAB tanpa ada tanda-tanda apapun. Tapi anehnya aku tidak mulas sama sekali.
"Astaghfirullah, kenapa lagi ini" rasanya aku hampir pingsan lagi saat itu karena terlalu terkejut. Tapi aku tahan karena aku sedang di kamar mandi.
Dengan sangat perlahan ku kenakan lagi pakaian dalamku, agar aku tidak jatuh di kamar mandi. Namun aku kembali dikejutkan oleh noda darah yang ada di celana dalamku.
"Mens?? Pantes daya tahan tubuhku melemah. Tapi kok agak aneh ya darahnya. Gak pekat kaya biasanya. Warnanya juga pudar, seperti sudah tercampur air"
"Aaahh.. Mungkin karena aku lagi benar-benar sakit"
Aku tak terlalu menghiraukan noda darah itu dan keluar dari kamar mandi. Tak lupa aku segera mengganti celana dalamku. Aku lebih mengkhawatirkan pup ku yang keluar begitu saja tanpa aba-aba. Ini pasti ada yang tidak beres.
"Maaah... Maah" aku membangunkan Ibuku.
"Hhhmmm kenapa?"
"Maaf, Mah. Tolong buatin teh pahit. Aku diare"
Karena tidak kuat, aku memilih rebahan di kursi ruang tamu sambil menuggu Ibuku.
"Ya allah, sembuhkanlah hamba segera ya Allah. Jangan kau ambil dulu nyawa hamba karena Tyara masih sangat kecil. Dia masih butuh ASI dan hanya mau ASI. Hamba tak sanggup membayangan bagaimana sulitnya hidup Tyara tanpa hamba" aku beedoa di dalam hati. Tak terasa bulir-bulir kristal yang tertahan akhirnya jatuh juga membasahi pipi.
"Justru malah lebih baik Tyara yang kau ambil lebih dahulu. Dia masih kecil, belum punya dosa sama sekali. Pasti dia jauh lebih bahagia di surga sana, daripada hidup di dunia dengan ibu yang tidak berguna seperti hamba"
"Ilmu agama dan iman hamba sangat sedikit. Tak kan mungkin bisa mendidik Tyara dengan baik" aku terus berbicara dalam hati.
"Ting... Ting... Ting" suara sendok yang beradu dengan gelas semakin mendekat. Aku tahu Ibuku segera datang. Maka aku langsung mengusap air mataku. Dia tak boleh melihatku menangis. Karena jika dia melihatku menangis maka dia akan semakin khawatir. Dan jika dia semakin khawatir, maka aku akan semakin sedih.
"Ini, Ras. Hati-hati panas"
"Makasih ya, Mah"
"Fuuuhh... Fuuuhhh" aku meniup teh itu, kemudian menyesapnya dengan perlahan.
Setelah menghabiskan teh itu separuhnya, aku kembali mengantuk. Ku lihat jam di dinding, sudah jam setengah 2 pagi rupanya. Akupun kembali ke kamar untuk tidur.
Namun, baru satu jam tertidur, aku merasa ingin buang air kecil lagi. Aku tidak heran karena aku memang banyak minum agar lekas sembuh.
Dan ternyata, aku kembali pup cair yang keluar bersamaan dengan air seniku. Sama seperti tadi, tanpa mulas atau tanda-tanda apapun.
"Ya ampun, begini lagi" gumamku.
Lalu aku menghabiskan sisa teh pahit tadi, dan kembali tidur. Pasti besok sudah tidak diare lagi, pikirku.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
"Huuaaaaa....huuaaaa... Hik.. Hik... Huaaa" suara tangisan Tyara membangunkanku. Kemudian aku segera mnyusuinya. Ku lihat jam, ternyata sudah jam 6 pagi. Lalu aku ingat, tadi jam 5 subuh Mas Zaky membangunkanku untuk sholat . Namun aku bilang aku sedang mens, jadi aku lanjut tidur.
Kemudian aku myadari sesuatu. "Ehhh, udah gak demam nih. Udah adem. Tapi kok tiba-tiba ya?"
Aku mengecek seluruh tubuhku dengan tangan. Kening, leher, perut, lengan, kemudian leher lagi. Rasanya semua bagian tubuhku sudah tidak ada yang demam.
"Kok bisa, ya?" aku heran sendiri.
"Blee... bleeeee" rupanya Tyara juga memilih bangun setelah menyusu. Akupun membawanya keluar kamar, agar aku bisa segera memberitahu berita gembira ini pada keluargaku.
"Mas, aku udah gak demam!"
"Oh ya? Alhamdulillah" kata suamiku.
"Alhamdulillah ya Allah, gak sia-sia mama berdoa siang malam"
"Terus sekarang yang dirasin apa?" tanya ayahku.
"Tinggal lemesnya aja nih"
"Yaudah nih, makan yang banyak biar gak lemes" lanjut Ayahku sambil menunjukan sarapan yang telah siap.
"Sebentar mau ke kamar mandi dulu" aku menyerahkan Tyara kepada suamiku.
Dan betapa terkejutnya aku karena ternyata aku masih diare. Pupku masih sangat cair, hingga aku tak bisa menahannya keluar bersama air seniku.
Aku keluar dari kamar mandi dan bergabung bersama kekuargaku untuk sarapan. Tapi aku tidak memberitahu siapapun apa yang terjadi. Aku tak ingin mereka lebih khawatir dibanding sebelumnya.
"Kok makannya pelan banget, Ras?"
"Iya, Mah. Kayanya nafsu makannya belum ada lagi"
Lalu perlahan-lahan tubuhku mulai berkeringat. Ku pikir ini pertanda baik atau setidaknya yang aku tahu begitu. Tapi keringat ini semakin lama semakin banyak, hingga bajuku benar-benar basah. Selain itu tubuhku juga terasa dingin, sangat dingin.
"Wah gak beres nih" ucapku didalam hati.
"Loh, udahan makannya, Mih?"
"Iya, mau rebahan"
Kepalaku rasanya berputar. Aku tahu aku hampir pingsan. Namun aku mencoba untuk melawan, agar tidak membuat panik. Ku pejamkan mataku agar merasa lebih baik.
"Laraaaaasssss" sayup-sayup aku mendengar suara Ibuku.
"Iya, Mah. Sebentar, Laras istirahat dulu. Laras cuma capek. Tolong mandiin Tyara dulu ya, Mah"
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Alhamdulillah, terimaksih banyak sudah membaca 16km sampai bab 5. Jika teman fillah merasa suka dengan novel ini, atau ingin memberikan kritik dan saran. Caranya mudah sekali. Cukup buat akun noveltoon (jika belum punya), kemudian teman fillah bisa dengan bebas like, comment, dan vote disetiap episode. Respon dari kalian disini sangat aku nantikan.
.
.
.
Semoga 15 menitmu yang berharga ini Allah ganti dengan rezeki yang berlipat dan berkah. Aamin ya robbal alamin.