![[ZEROLINE] End'E Draking](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-zeroline--end-e-draking.webp)
Di Sore harinya, End’e Draking dan Zeny Draking sedang melakukan permainan papan anak-anak. Mereka melakukan hal tersebut, karena Zeny Draking ingin mengetes Kemampuan otaknya dan kecerdasan untuk menyelesaikan permainan tersebut.
End’e Draking tidak terlalu menyukai permainan papan anak-anak, dan hanya menyukai permainan video pada saat waktu luang. Akan tetapi karena dia dipaksa oleh kakaknya, jadinya dia harus ikut dalam memainkan permainan papan anak-anak.
Dalam setiap permainan yang pernah dimainkan oleh mereka berdua saja, End’e Draking selalu menang dan tidak pernah kalah dari kakaknya, karena dia sudah tahu cara memenangkan setiap permainan dengan perhitungannya.
“Kak, kamu yakin dapat mengalahkan aku dalam permainan papan ini.”
“Aku yakin sekali, aku dapat mengalahkan kamu dan menghancurkan kemenangan berturut-turut kamu tersebut.”
Zeny Draking sangat percaya diri dan yakin dia pasti akan memenangkan pertandingan tersebut, karena dia sudah pernah latihan dan mengalami kekalahan telak.
Beberapa saat yang lalu, setiap langkah telah digerakkan setiap babak. Akhirnya Zeny Draking terpojok oleh adiknya sendiri, dia tidak tahu kenapa adiknya bisa memojokkan dirinya.
“Bagaimana kamu bisa bermain dengan hebat dan baik?”
Zeny Draking masih heran dan penasaran, kenapa adiknya itu terlalu pintar dan cerdas dalam berbagai hal.
“Aku hanya ingin menyelesaikan setiap apa yang aku lakukan sekarang dengan baik dan tepat, dan tidak ada satupun kesalahan. Setiap gerakan yang digerakkan adalah penentuan kemenangan.”
End’e Draking memberikan perkataan yang sulit dimengerti oleh kakaknya. Perkataan tersebut berasal dari buku-buku motivasi yang pernah dipelajari.
“Apa yang kamu katakan?”
“Kak, tadi aku berikan sedikit solusi dari permasalahan yang kamu alami.”
“Tapi bisakah berikan beberapa kata-kata yang mudah dipahami oleh anak-anak, seperti kita.”
“Ok....”
Dan tanpa disadari oleh Zeny Draking, End’e Draking telah melancarkan sebuah gerakan yang dapat mengalahkannya. Gerakan tersebut tidak dapat bisa dihindarkan.
“Bagaimana bisa? Seharusnya kamu tidak bisa menggerakkan bidak kamu itu.”
Zeny Draking tidak sadar akan gerakan yang terjadi tersebut, dan dia mulai panik karena dia bisa dikalahkan dengan satu atau dua gerakan lagi.
“Kak, kamu yang menggerakkan bidak kamu itu ke tempat lain, dan bidak aku yang tertahan bisa digerakkan dengan mudahnya. Kakak benar-benar tidak sadar atau penglihatan kakak sudah sama seperti aku.”
Mendengar perkataan End’e Draking, Zeny Draking menyadari kalau dirinya tidak menyadari kalau ada sesuatu hal yang harus dihalangi tetapi dibiarkan saja.
“Kalau begitu, apakah kakak akan menyerah? Aku sudah mulai bosan.”
Sepertinya End’e Draking sudah mulai bosan, karena dia telah lama menunggu kakaknya berpikir cara untuk mengalahkan dirinya tersebut.
“Tunggu sebentar.... Aku sudah tahu bagaimana cara mengalahkan kamu, adik.”
“Oh... Benarkah? Kalau begitu perlihatkan semua apa yang kamu pikirkan didalam kepala kamu itu, kakak.”
Zeny Draking mengeluarkan semua kemampuannya dan seluruh rencana didalam kepalanya untuk mengalahkan adiknya tersebut. Akan tetapi dia masih salah dalam melakukan pergerakan yang sesuai dan tepat.
Akhirnya, Zeny Draking telah menyelesaikan permainan papan tersebut dan dia sangat senang bisa melawan adiknya tersebut. Walaupun dia mengalami kekalahan telak oleh adiknya. Penyebab kekalahannya adalah dirinya sedikit ceroboh dalam pergerakan terakhir yang mengakhiri kekalahannya.
“Ah.... Sepertinya aku tidak akan bisa pernah bisa mengalahkan kamu, adik.”
“Kakak, bisa saja mengalahkan aku, jika kakak sedikit berpikir dengan tenang dan tidak terburu-buru.”
Setelah melakukan sebuah permainan papan untuk mengetahui kecerdasan dirinya, Zeny Draking mulai berdiri dan ingin membuat makanan malam, karena hari sudah mulai malam.
“Adik, kamu ingin mau makan apa? Kakak akan membuatkan kamu makanan terenak dan terbaik.”
“Ehm.... Apakah kakak bisa membuat makanan ayam panggang pedas?”
“Ah... Itu gampang, tetapi aku belum menyiapkan ayam. Dari tadi aku di rumah terus, jadi lupa belanja ke pasar.”
Karena kelamaan di rumah dan juga kemarin tidak sempat pergi ke pasar, Dapur terlihat kosong, walaupun ada sedikit bahan-bahan makanan dan bumbu yang masih ada.
“Karena bahan-bahan di dapur sedikit, bagaimana jika aku membuat sup pedas asam?”
“Tidak.... Sup itu sangatlah pedas, dan tidak terlalu enak di lidah.”
End’e Draking tidak terlalu menyukai makanan tersebut, bukan karena rasanya yang tidak enak, tetapi ada lidahnya saja yang tidak bisa menahan rasa yang begitu kuat dari makanan tersebut.
“Aku akan buatkan untuk kamu tidak terlalu pedas dan asam, tetapi masih ada sedikit rasa pedas asam di setiap bagiannya, bagaimana?”
“Baiklah.... Yang penting aku bisa makan, dan lidah aku bisa menahan rasa pedas dan asam tersebut.”
Zeny Draking pergi ke dapur dan menyiapkan alat-alat, dan bahan-bahan untuk membuat sebuah makanan yang berasal dari turun-temurun, yaitu Sup Pedas Asam. Sup Pedas Asam merupakan masakan turun-temurun yang sangat diwariskan.
Pertama dia menyiapkan cabai merah yang berukuran besar yang berjumlah lima buah cabai, sepuluh bawang putih yang telah dipotong, dan beberapa bumbu penyedap. Lalu disatukan, dan ditumbuk sampai halus.
Setelah itu, dia memasak air panas sampai mendidih. Jika air panas sudah mendidih, lalu masukkan bumbu-bumbu yang telah disatukan kedalam air panas tersebut. Dan kemudian diaduk hingga rata sampai warnanya airnya berubah menjadi merah.
Terakhir masukkan sayuran-sayuran kedalam air panas yang sudah berwarna merah, bisa sayuran apa saja yang terpenting dapat dicerna oleh tubuh.
Jika sudah selesai, tuangkan kedalam mangkuk secara pelan-pelan agar tidak tumpah. Tambahkan sedikit hiasan hinggap bentuk sup tersebut indah.
Setelah selesai membuat sebuah makanan tersebut, dia pergi ke ruangan tengah untuk memberikan kepada adiknya tersebut yang telah kelaparan.
“Lama sekali, kak.”
End’e Draking sudah sangat kelaparan, dan sudah menunggu makanan tersebut.
“Cuma sepuluh menit saja, kamu bilang itu lama.”
“Iya, itu hitungan aku.”
“Kalau begitu, kamu harus buat makanan sendiri setelah ini.”
“Tidak, terimakasih. Aku ingin kakak buat makanan, karena makanan kakak adalah makanan yang terbaik ketiga.”
“Kamu memuji kakak, karena kamu tidak bisa memasak saja. Padahal kamu sering mendidih air larutan apapun itu dalam suhu lebih tinggi dibandingkan suhu api ketika memasak.”
“Itu masalah berbeda.”
Walaupun dia bisa melakukan beberapa eksperimen dengan cara mendidih air larutan atau apapun yang bersifat cair maupun padat, tetapi dia masih sedikit takut dalam memasak, karena masakannya kurang enak.
Mereka berdua langsung memakan makanan sup pedas asam tersebut. Makanan yang dimakan oleh End’e Draking terlalu pedas, padahal dia sudah meminta tidak terlalu pedas. Tapi dia tidak bisa bertanya karena dia tidak ingin mengganggu kakaknya yang sedang makan, apalagi sudah menghabiskan dua mangkuk.