
Sepulang sekolah, Farel menjalankan hukumannya membersihkan sebagian sekolah dengan di awasi oleh Pak Agung. Niatnya dia ingin menawari Gisel pulang bersama, tapi Pak Agung datang dan membuatnya menjalankan hukumannya. Saat ini dia sedang menyapu halaman taman yang ada banyak dedaunan kering. Dari kejauhan Farel melihat Gisel pulang bersama teman temannya.
"Jadi yang lo maksud si Gisel?" Ujar Angga tiba tiba.
Farel tersentak dengan Angga yang sudah ada disampingnya. "Ngapain lo?" Tanya Farel yang melanjutkan menyapu halaman.
"Kagak, gue cuma pengen liat lo dihukum aja." Ujar Angga dengan cengengesan.
"Dasar gak guna!?" Ujar Farel.
Tidak lama Pak Agung datang dan membubarkan mereka berdua. Angga pulang dengan Dimas dan Rian. Sedangkan Farel masih dalam hukuman.
Berbeda dengan Gisel yang sedang menhobrol bareng dengan Anggi didalam angkot. Dalam perjalanan pulang Anggi mendengar bila di kelas Gisel ada seorang cogan baru yang menjadi salah satu most wanted sekolah. Dia ingin menanyakan pasal cogan itu yang desas desusnya menyukai Gisel secara terang terangan. Pastinya Anggi ingin tahu kepastian desas desus itu dari Gisel langsung. "Yang bener itu orang langsung ngajak lo nikah?" Tanya Anggi kaget setelah Gisel menceritakan yang sebenarnya.
"Iya, gue kaget banget tiba tiba tuh cowok ngajakin nikah. Emang dia pikir gue apaan? Calon istrinya?" Omel Gisel yang masih kesal setelah mengingat kembali kejadian kejadian memalukan itu.
"Siapa tahu lo di masa depan jadi istrinya. Lumayan dapet suami cogan, jangan di telantarin. Entar mubazir lo!?" Ujar Anggi yang menggoda Gisel.
"Ya kali dia bisa nafkahin gue. Kalau entar gue ditelantarin terus jadi janda gimana? Lo mau tanggung jawab?" Tentu saja Gisel tidak ingin menikah muda di saat dia masih belum sukses. Semua cita citanya juga masih belum terwujud. Jadi tidak mungkin bagi dirinya untuk memikirkan pernikahan. Apalagi pernikahan itu bukanlah hal yang untuk main main.
Anggi jadi penasaran siapa nama pria yang menyukai Gisel. Meskipun dia sudah membicarakan pria itu dengan Gisel, namun dia masih belum mengetahui siapa namanya. "Ngomong ngomong siapa namanya?" Tanya Anggi lebih lanjut.
"Kalau nggak salah sih namanya Farel, Farel Malik Ardinata." Ujar Gisel menjawab pertanyaan Anggi.
Sontak Anggi langsung terkejut setelah mendengar nama Farel disebutkan. Dia tahu siapa Farel itu, bahkan mungkin sangat tahu. "Y yang bener namanya Farel? Lo nggak salah dengerkan?" Tanya Anggi memastikan. Dia tidak ingin jika Farel yang dia tahu adalah Farel yang menyukai Gisel.
Gisel benar benar tidak mengerti mengapa Anggi bersikap seperti itu. Memangnya ada yang salah jika namanya Farel? Dia semakin penasaran. "Nggak, emang kenapa?"
Tampak Anggi yang sudah panik untuk menjelaskan karena ceritanya cukup panjang dan rumahnya hampir dekat. "Gimana gue jelasinnya, ya? Gue jelasin dari telpon aja deh, kalau sekarang gue udah sampai rumah. Entar gue kabarin lo!?" Setelah itu Anggi turun dari angkot setelah angkot berhenti.
Ini benar benar membuat Gisel penasaran dan semakin membuatnya was was dengan Farel. Setelah itu angkot kembali jalan.
***
Terlihat mobil warna merah ingin memasuki gerbang warna putih. Pak satpan segera membuka gerbang tersebut dan menyapa Farel yang ada di dalam mobil.
"Pulang Den? Itu kenapa atuh muka Aden?" Sapa Pak Kasep khawatir karena melihat wajah Farel yang biru biru, pria separuh baya yang memiliki kulit sawo mateng. Dia adalah orang sunda, jadi logatnya bicara masih tercampur sunda.
"Oh? ini karena jatuh, Pak!?" Ujar Farel didalam mobil yang masih berada di tengah gerbang. Dia tidak ingin nembuat Pak Kasep khawatir dan memperbesar masalah kecil seperti ini.
Tapi tentunya Pak Kasep tidak mudah percaya dengan ucapan Farel. Mana mungkin jatuh bisa sampai separah itu. Kalau jatuh pasti yang terluka lebih parah itu kaki, bukan wajah. "Jatuhnya hebat, ya Den? bisa sampai babak belur begitu!?" Pak Kasep sengaja mengatakan itu karena dia tahu Farel tidak ada niatan mengatakannya. Terlihat Farel yang sudah tersenyum kaku dengan omongan Pak Kasep. Melihat itu, Pak Kasep berniat mengalihkan pembicaraan. "Tuan juga sudah pulang." Ujar Pak Kasep yang mengalihkan pembicaraan.
Farel merasa biasa saja ketika Ayahnya pulang. "Oh…" Karena itu dia hanya mengatakan 'oh' seperti biasa. Karena tidak ada yang spesial dari itu. Setelah itu dia melajukan mobilnya memasuki pekarangan rumahnya. Pak Kasep sudah menduga bila reaksi Farel akan seperti ini. Karena biasanya memang seperti itu. Dia hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah majikannya ini.
Setelah memarkirkan mobilnya Farel keluar dan memasuki rumah besar bercat putih. Setelah masuk dia langsung saja menuju kamarnya menaiki tangga.
"Farel, ke sini kamu!?" Tiba tiba saja terdengar suara seorang pria yang tidak asing di telinganya. Farel membalikkan tubuhnya ke ruang tamu. Di sana duduk seorang pria berkaca mata yang tak lain adalah Ayahnya. Anwar sedang duduk membaca koran melepaskan kaca matanya dan menaruh diatas meja.
Anwar mengernyitkan dahinya melihat Farel, "Kenapa wajahmu begitu?" Tanya Anwar setelah melihat wajah Farel yang babak belur.
"Berantem di sekolah!?" Untuk mengatakan ini pada Ayahnya Farel selalu berkata jujur. Dia tidak peduli Ayahnya ingin khawatir atau tidak. Toh, Anwar juga akan tahu kalau melihat wajah Farel yang babak belur.
"Jadi, kamu datang ke sekolah hanya untuk berkelahi seperti brandal? Jika kamu tidak berniat sekolah sekalian saja tidak usah sekolah kalau ujung ujungnya hanya untuk berkelahi. Apa kamu ingin mempermalukan nama keluarga ini?" Terlihat Anwar yang sudah marah melihat kelakuan Farel yang seperti preman. Siapapun orang tuanya, pastinya mereka tidak ingin anaknya menjadi orang yang tidak berguna. Mereka pastinya ingin membuat anak mereka menjadi seorang yang berguna di masa depan.
Namun terkadang orang tua tidak mengerti jalan pikiran anak anaknya. Apalagi mereka berdua yang sama sama dingin dan hanya sering bertengkar saja. Tidak ada komunikasi yang baik, yang ada hanya komunikasi pertengkaran dan membuat mereka semakin jauh.
"Anda tenang saja. Karena saya tidak akan mencemarkan nama keluarga!?" Setelah itu Farel pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Dia tidak ingin mendapat amarah dari rumah setelah mendapatkannya di sekolah. 'Anjir, ini hari kesialan gue, ya? Di sekolah ada Pak agung yang kalau marah matanya kayak pengen keluar. Di rumah ada orang itu yang baru dateng terus langsung marahin. Apes banget.' Pikir Farel kesal setelah di marahi Anwar.
Setelah menaiki tangga Farel langsung tidur dikamarnya tanpa melepas pakaian sekolah dan sepatunya. Tanpa disadari dia langsung tertidur meskipun harus tidur dengan prut kosong. Benar, dari pagi dia belum memakan apapun kecuali buah buahan. Dia biasanya jarang memakan makanan berat seperti nasi dan hanya makan makanan yang dia inginkan saja. Entah mengapa jika urusan makan dia selalu lupa.
Tok tok tok
"Den? Aden sudah pulang?" Tanya Bi Yanti yang mengetuk kamar. Tanpa pikir ulang Bi Yanti membuka pintu kamar Farel yang tidak terkunci dan masuk ke dalam. Disana terlihat Farel yang sedang tidur dengan seragam yang masih utuh. "Duh, Aden kebiasaan. Kalau tidur masih pakai sepatu!?" Setelah itu Bi Yanti dengan pelan melepaskan sepatu Farel yang tali sepatunya saja tidak disimpul dan hanya dimasukkan ke dalam. "Ini Aden niat pakai sepatu apa nggak? Kok talinya nggak di iket?" Bi Yanti menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah itu Bi Yanti menyelimuti Farel seperti dia menyelimuti anaknya dulu. Tanpa mengatakan apapun lagi Bi Yanti langsung keluar dari kamar Farel.
***
Terlihat seorang gadis yang duduk di kursi meja belajarnya sedang bertelponan dengan sahabatnya. Gisel mendapat panggilan dari Anggi. Seperti janjinya, Anggi menelpon Gisel dan menjelaskan apa yang dia tahu tentang Farel.
"(Dulu, duluuuuuu banget nih ya gue pernah liat si Farel balap balapan liar di jalan. Disana ada banyak banget mobil mobil mewah, orangnya kaya kaya, terus cewek ceweknya pada seksi. Intinya, dia sering main di jalan pas malam hari. Dia itu temennya abang gue, kadang kadang dia main ke sini. Tapi hati hati, tempramennya agak begitu. Gue takut lo di apa apain sama dia!? Tapi dia itu kaya banget, Bapaknya CEO, cabang perisahaannya dimana mana, intinya dia itu tajir melintir. )" Ujar Anggi menjelaskan melalui telepon dengan penuh semangat. Itu terdengar jelas dari suaranya yang agak berteriak.
Gisel mengernyitkan dahinya. Dia penasaran, dari mana Anggi tahu semua itu. Apa dia juga pernah menghadiri balapan liar tersebut. "Lo tahu dari mana?" Tanya Gisel memastikan.
"(Gue penasaran sama abang gue yang pergi terus tiap malam minggu, jadi gue ikutin deh tuh sampai balapan liar. Dia nggak ngapa ngapain sih disana, cuma teriak teriak doang. Aneh deh gue sama anak cowok, kok mereka pada demen banget balap balapan.)"
Mendengar Anggi berbicara membuat Gisel menahan tawa dari balik handphone nya. "Kirain abang lo pengen balapan. Oh, iya… abang lo si Angga kan? Yang sekelas sama gue?" Tanya Gisel.
"(Iya, emangnya siapa lagi kalau bukan dia?! Eh, udah dulu ya?! Soalnya gue pengen nonton calon suami masa depan gue yang lagi konser di korea.)" Setelah itu Anggi dengan cepat mematikan saluran telpon.
Gisel hanya bisa tersenyum dengan tingkah Anggi yang sangat mengidolakan boy band korea. Meskipun dia tidak tahu apa yang di idolakan dari laki laki tampan berkulit putih yang menari dan menyanyi di atas panggung. Yang pasti dia menghargai kesukaan temannya itu. Dia kembali belajar meskipun dirinya tidak tahu apa yang harus dipelajari. Karena melihat semua tulisan ini membuatnya bingung.
Gadis manis itu menyanggah kepalanya dan memutar mutar pensil yang ada ditangannya, "Jadi dia beneran bad boy, ya?" Guman Gisel pada sela sela belajarnya.
To be contined