“Fagis”

“Fagis”
07. Berapa?



Ddrrrr ddrrrr dddrrr


Terdengar suara handphone yang berdering di atas tempat tidur. Tidak lama handphone itu langsung di ambil oleh seseirang yang baru selesai mandi. Meskipun tubuhnya terlihat kurus namun ada roti sobek di sana. Di lihatnya handphone itu untuk melihat siapa yang menelponnya. Tertulis di layar dengan nama Dimas.


"Hallo?" Ujar Farel mengangkat panggilan telepon.


"(Mabar, yok!? di rumah gue.)" Ajak Dimas singkat.


Karena di rumah ada Ayahnya, dia jadi lebih memilih pergi keluar dari pada di rumah. "Oke, gue kesana!?" Ujar Farel kemudian langsung menutup panggilan telepon. Dia segera bersiap siap memakai baju seperti biasa berwarna hitam, karena kebanyakan bajunya warna gelap. Mungkin karena Farel menyukai warna gelap. Setelah selesai memakai baju dia segera pergi keluar rumah menuju garansi mobil. Sesampainya di sana, Farel segera menaiki mobil merahnya dan menuju rumah Dimas. Karena hari ini adalah hari sabtu, sekolah libur. Biasanya di saat saat seperti ini dia menghabiskan waktu bersama mereka bertiga.



Dalam perjalanannya menuju ke rumah Dimas, di jalan tanpa sengaja Farel melihat Gisel memasuki toko buku. Dia segera menepikan mobilnya dan sejenak memikirkan sesuatu. 'Buat apa dia ke toko buku? Beli buku pelajaran? Nggak nggak, pasti novel. Kebanyakan cewek kan suka novel.' pikir Farel dalam hatinya. Sekilas ada ide yang masuk ke kepalanya, terlihat smirk di wajahnya. Dia turun dari mobil dan mengambil topi hitam yang ada di depan stir.


Farel menutupi sebagian wajahnya dengan memakai topi hitam, lalu berjalan menuju toko buku. Sesampainya disana terlihat dari balik kaca Gisel sedang memilah milih banyak buku novel. Terlihat dari wajahnya kalau dia sedang bingung karena ada banyak sekali buku yang ingin di beli. Namun sepertinya uang yang dia kumpulkan tidak cukup untuk membeli semua novel yang dia sukai. Akhirnya setelah sekian lama memilih dia membeli satu buku yang bercover warna biru dengan gambar seorang laki laki di sana.


'Kenapa covernya gambar laki laki, sih?' Pikir Farel sedikit kesal.


Ketika Gisel telah selesai membeli novel, dia berjalan keluar dari toko dan segera pulang untuk membaca novel kesukaannya. Farel yang melihat Gisel akan keluar segera membalikkan tubuhnya agar tidak ketahuan oleh Gisel dan semakin menurunkan topinya agar wajahnya tidak kelihatan sembari berpura pura melihat handphone.


Setelah Gisel pergi jauh dia membetulkan kembali topinya yang terlalu menghalangi pandangan mata. Di lihatnya Gisel yang sudah pergi cukup jauh, dia segera memasuki toko buku dan melihat lihat novel yang di minati oleh Gisel. Di sana ada banyak sekali novel yang berukuran kecil, sedang sampai yang besar. Dan ada banyak berbagai genre di rak novel yang di pajang. Di ambilnya satu novel yang sama seperti yang diambil Gisel. Setelah itu Farel berjalan ke arah kasir yang panjaganya adalah seorang wanita muda dengan rambut yang dikuncir.


"Mba, berapa?" Tanya Farel pada penjaga toko.


Penjaga toko agak bengong ketika melihat Farel yang menanyakan harga. Sepertinya dia takjub dengan cogan yang ada di hadapan matanya ini.


"Mba, berapa?" Tanya Farel sekali lagi dengan nada yang cukup tinggi. Dia kesal dengan penjaga toko yang tidak menjawab pertanyaannya.


"E eh?? I ini harganya sembilan puluh sembilan ribu, mas gan__ ma maksudnya mas." Ujar Mba kasir yang tersentak dan gugup dengan Farel.


"Murah banget, Maksudnya harga tokonya berapa?" Tanya Farel yang membuat Mba kasih terkejut.


"Harga toko? Kalau itu nggak bisa di beli mas." Ujar Mba kasir yang masih terkejut.


Farel mengangkat sebelah alisnya bingung, awalnya dia ingin membeli toko buku ini untuk Gisel. Supaya dia bisa membaca novel sepuasnya. Tapi karena Mba kasir bilang toko ini tidak bisa dibeli, Farel bingung bagaimana harus membuat Gisel senang. Akhirnya dia hanya memilih banyak buku yang tadi diminati Gisel. Total semuanya ada dua puluh buku novel. "Kalau ini bisa dibeli, kan?" Tanya Farel pada Mba kasir yang sekali lagi dibuat melongo oleh Farel.


"I iya mas gan__ ma maksudnya mas." Segera Mba kasir menjumlah semua novel yang diborong.


'Ngapa sih ini orang? gagu, ya?' Pikir Farel yang tidak habis pikir dengan sikap gugup Mba kasir.


Tidak lama pandangan matanya melihat pembatas buku yang cantik berwarna Merah-pink dan bercorak bunga mawar dengan kupu kupu di atasnya. 'Gisel suka warna Merah-Pink nggak, ya? beli aja, lah!?' Farel mengambil pembatas buku tersebut dari gantungan yang biasa untuk pajangan. "Sekalian hitung ya, Mba!" Ujarnya sembari menyerahkan pembatas buku tersebut.


Setelah selesai memborong novel, Farel membawa novel novel tersebut dengan dua plastik hitam besar. Dia memasukkannya ke belakang mobil untuk dikirim ke rumah Gisel. Tapi masalahnya adalah, "Rumahnya dimana, ya?" Ujar Farel yang sudah ada di dalam mobil. "Gue tanya Angga aja, siapa tahu aja dia tau." Setelah itu dia langsung menancapkan gas dan pergi ke rumah Dimas.


***


Di tempat lain, ada sekumpulan gadis gadis yang rambutnya sedikit diberi warna merah beserta pakaian yang seksi pencuci mata. Mereka ada empat orang gadis cantik yang duduk di sofa bar malam. Lampu disko yang berganti ganti membuat suasana semakin ramai. Sekumpulan manusia yang merjoget joget di atas dance floor seperti sangat asyik menikmati lagu DJ yang dimainkan.


Gadis gadis itu tak lain adalah siswi siswi sekolah yang biasa keluar malam untuk bersenang senang. Mereka sangat menikmati lagu lagu yang dimainkan DJ. Tapi, saat ini mereka sedang disibukkan dengan menonton video amatir yang diambil oleh salah satu teman mereka. Video itu menunjukkan seorang siswa laki laki yang sedang berkelahi dengan seorang kakak kelas. Awalnya ketiga orang itu tidak tertarik karena itu video adu pukul. Namun yang membuat mereka tertarik adalah orang yang berkelahi tersebut.


"Gila, ganteng banget tuh cowok!? Dia lagi berantem sama si Kevin kan?Yang pernah nolak lo?" Tanya Sandra sedikit menggoda Sabrina.


"Maaf, ya!? Gue udah move on sama si Kevin." Ujar Sabrina yang sedikit kesal karena masa lalunya di ungkap.


Sandra tertawa kevil melihat Sabrina kesal. "Eh, ngomong ngomong lo tahu siapa namanya?" Tanya Sandra yang memiliki rambut pendek ala Cleopatra.


"Iya, kasih tahu dong siapa namanya. Gue kesemsem nih sama tuh cowok." Bujuk Sindi dengan wajah yang di imut imutkan atau sok imut.


"Namanya itu,……" Sabrina sengaja me-lama lamakan menyebutkan nama cowok yang ada di video.


"Cepetan dong!?" Rengek Sindi sembari mengguncang guncang tubuh Sabrina.


"Iya iya, nggak sabaran banget sih. Namanya Farel, dari kelas sepuluh IPA 2." Ujar Sabrina.


"Jadi namanya Farel, dia udah punya pacar?" Tanya Sandra.


Tampak Sabrina yang sedang memikirkan jawaban untuk Sandra, "Kalau pacar sih belum. Tapi kayaknya dia udah ada yang disukain deh." Ujar Sabrina kecewa.


"Iih, siapa ceweknya? biar gue labrak supaya nggak deketin Farel lagi." Ujar Sindi kesal.


"Mana gue tahu. Tapi kayaknya cewek yang dia sukain itu cewek cupu, deh. Soalnya keliatan banget dari mukanya. Muka muka kutu buku gitu ha ha ha ha ha ha ha…" Sontak mereka berdua tertawa dengan candaan Sabrina.


"Ha ha ha ha ha ha lo jahat banget. Tapi emang sih, ya kalau cewek cupu itu rata rata kutu buku. Heran gue, apaan sih yang disukain sama cewek culun?" Timpal Sindi yang juga tidak suka dengan cewek cewek ketinggalan jaman.


"Iya, mending kayak kita kita. Cantik, populer, kaya, banyak yang suka lagi, iya enggak Za?" Timpal Sandra sembari mengajak bicara seorang gadis cantik yang ada di depannya dan sedang menonton video yang direkam Sabrina.


"Tadi lo bilang namanya Farel, kan?" Tanya Lizza yang di tanya oleh Sandra.


"Lo naksir dia? Yah, gue kira lo nggak suka cowok yang suka berantem. Ya udah, deh. Gue iklasin kalau lo suka sama dia." Ujar Sabrina kecewa. Dia juga sangat menyukai Farel yang menurutnya sangat keren dan cool.


Terlihat Sindi yang sudah memasang wajah memelas, "Yah, calon pacar gue." Sindi kembali merengek.


"Tapi lo beneran suka sama anak kelas sepuluh?" Tanya Sandra. Pasalnya mereka adalah anak kelas dua belas. Karena mereka nantinya akan lulus, mungkin akan sulit untuk menjalin hubungan.


Lizza hanya diam sesaat sembari memperhatikan gambar Farel yang di pause. "Emang masalah kalau gue suka anak kelas sepuluh?" Tanya Lizza sedikit mengintimidasi.


"Yaa, nggak juga sih." Ujar Sandra sedikit takut jika Lizza mengintimidasinya seperti itu.


"Ya udah, nggak masalah kan? Gue bakalan dapetin apa yang gue mau!?" Ujar Lizza dengan senyum licik menghiasi wajahnya.




To be contined