“Fagis”

“Fagis”
11. Roti luar negri



Gisel mencari cari pembalut di dalam tas. Namun apa yang dia cari tidak juga kunjung ketemu. Mungkin dia lupa untuk membawanya. Sekarang dia benar benar sangat frustasi. "Duuh, gimana ya?" Ujar Gisel bingung.


Farel bingung dengan Tingkah Gisel yang tampak kebingungan dan bukannya kesakitan. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Gisel sebenarnya. Tiba tiba dia teringat dengan pelajaran ipa yang menjelaskan tentang kewanitaan. Sontak dia langsung mengrti apa yang menyebabkan Gisel menjadi seperti ini. "Kamu menstruasi, ya?" Tanya Farel yang masih polos.


"Iya." Jawab Gisel singkat.


Setelah itu Farel bisa memastikan kalau dugaannya benar. Dia mencari jaket hitam yang dia bawa untuk menutupi bagian belakang Gisel. "Ini, kamu pakai jaket aku dulu buat ke toilet. Nanti kamu bisa ganti di sana!?" Ujar Farel.


"Tapi masalahnya gue lupa bawa 'itu'!?" Ujar Gisel pelan. Dia malu untuk mengatakannya keras keras pada Farel yang kelihatan masih polos. "Terus juga nanti jaket lo bisa kotor!?"


"Nggak apa apa. Nantikan bisa dicuci sama calon istri." Goda Farel supaya Gisel terhibur.


"Apaan sih, nggak lucu!?"


"Pake aja dulu!? Nanti bisa kamu cuci di rumah. Nanti aku cariin pembalut buat kamu!?" Paksa Farel, Meskipun dia malu untuk mencarikan pembalut tapi mau bagaimana lagi. Dia tidak ingin seseorang menolak bantuannya. Apalagi seseorang yang di sukainya. Jadi itu menambah keinginannya untuk membantu Gisel.


Dengan sungkan, Gisel mengambil jaket yang diberikan Farel. Apalagi jaket yang diberikan Farel sepertinya barang bermerek. Dia hanya memandangi jaket itu.


Karena melihat Gisel yang masih ragu ragu, Farel mengambil jaket itu dan memakaikannya langsung untuk menutupi bagian belakang. Dengan begini Gisel tidak akan merasa malu.


"Ma makasih, ya!?" Ujar Gisel malu.


Farel tersenyum melihat Gisel yang malu malu didepannya, "Buat calon istri apa sih yang nggak?!" Ujar Farel yang semakin menggoda Gisel.


DUK


Gisel menendang tulang kering Farel dengan cukup keras. Sontak Farel langsung kesakitan mendapatkan tendangan tersebut. "Kok ditendang?" Tanya Farel tidak mengerti.


"Suruh siapa gombalin terus?" Ujar Gisel yang semakin galak.


'Calon istri gue galak bener.' Pikir Farel sembari masih kesakitan.


Setelah itu Gisel pergi ke toilet untuk memcuci roknya yang kotor terkena darah. Sedangkan Farel pergi mencari pembalut. Dia mencari ke UKS, namun saat dia ingin membeli ada seorang siswa perempuan yang juga sedang PMS. Tapi penjaga UKS bilang kalau stok pembalut mereka sedang kosong. Farel pergi dari sana untuk mencari ditempat lain.


Farel pergi ke supermarket depan sekolah untuk membeli pembalut. Namun dia terlalu malu untuk mengatakannya. Mau bgaimanapun dia adalah seorang laki laki. Masa iya seorang laki laki membeli pembalut? Apa kata dunia nanti. Akhirnya karena terlalu banyak berpikir dia hanya masuk dengan asal dan memilih milih mana yang namanya pembalut di rak khusus kewanitaan.


Di rak ada banyak sekali jenis dan merek pembalut. Tapi dia tidak tahu mana yang namanya pembalut. 'Gue tanya ke mba itu aja kali, ya?Nggak ngerti gue sama yang kayak beginian.' Farel berjalan ke arah kasir untuk mengatakan tujuannya. Namun di depan kasih ada banyak sekali pembeli uang datang. Dia malu untuk mengatakannya lantang lantang. Jadi dia memutuskan untuk menunggu para pembeli keluar dan hanya tersisa dia seorang. Setelah semua pembeli pergi Farel menghampiri kasir dan mengatakan apa yang ongin dibelinya.


Mba kasir yang melihat pria tampan berkulit utih di depannya langsung merapikan rambut dan pakaiannya agar tidak terlihat terlalu kusut didepan cogan. "Ada perlu apa, mas?" Tanya Mba kasir dengan senyum dan suara yang dimanis maniskan.


Mba kasir tampak mengernyitkan alisnya tidak mengerti. "Roti Jepang? Kalau roti jepang nggak ada mas, adanya roti Amerika sama roti Indonesia. Tapi Roti Indonesia asli juga enak kok mas. Kalau nggak suka ada juga roti Amerika yang nggak kalah enak. Di tambahin selai strowberry paling enak." Jelas Mba kasir yang membuat Farel semakin kesal.


Tapi Farel menahan kekesalannya agar tidak menimbulkan keributan, "Mba, saya cuma mau roti Jepang!? Ro-ti-Je-pang!? Ngerti?" Ujar Farel menahan amarahnya.


Akan tetapi Mba kasir tidak mengerti dengan apa yang Farel maksud. "Iya mas, tadi sudah saya bilang roti Jepang itu nggak ada." Ujar Mba kasir itu kembali.


Sudah cukup


Sekarang Farel benar benar kehilangan kesabaran 'Ini orang perempuaan apa bukan sih? masa istilah roti Jepang aja nggak tahu!?' Pikir Farel kesal. "PEMBALUT, Mba!?" Ujar Farel meyakinkan dengan sedikit teriakan di awal.


Tampak Mba kasir yang sedikit ketakutan dengan bentakan Farel. Dia tidak menyangka jika roti Jepang yang dimaksud Farel adalah pembalut.


"O oh, pembalut ya mas? Tu tunggu sebentar ya, mas!?" Mba kasir pergi dari tempatnya dan mengambil sebungkus penuh pembalut. Setelah itu Farel membayar dengan hati yang cukup dongkol. 'Buset dah, nih cowok ganteng ganteng galak juga ya!?' Pikir Mba kasir yang masih takut dengan bentakan Farel. Setelah itu Farel pergi kembali ke sekolah untuk memberikan 'roti jepang' pada Gisel.


DI TOILET SEKOLAH


Gisel sedang di dalam toilet menunggu kedatangan Farel membawa pembalut. Tidak lama kemudian ada yang mengetuk pintu toilet. Gisel menyangka jika itu adalah Farel. Saat dia membuka pintu terlihat Farel dengan wajah yang ditekuk. Gisel tidak tahu kenapa Farel terlihat kesal seperti itu. "Kenapa?" Tanya Gisel penasaran.


"Nggak apa apa. Cepetan pake!?" Farel memberikan roti Jepang yang dia beli di super market. Perasaannya masih kesal sekarang memikirkan kejadian di supermarket.


Setelah itu Gisel mengambil pembalut yang diberikan Farel padanya lalu kemakainya. Gisel keluar dan menyimpan jaket milik Farel di tasnya untuk dia cuci.


"Kamu pulang bareng aku aja sampai rumah." Ajak Farel.


"Ah, nggak. Gue pulang naik angkot aja." Tolak Gisel pelan.


"Nggak!? Kamu pulang bareng aku!?" Farel menarik tangan Gisel dengan kasar. Farel benar benar adalah pria yang pemaksa. Dia tidak ingin ada yang menolaknya.


Berbeda dengan Gisel yang sudah kesakitan saat tangannya dipegang Farel. Genggaman pria itu cukup kuat meskipun dari luar terlihat kurus. "Jangan maksa!? Lo maksa banget sih jadi cowok!?" Gisel berusaha lepas dari genggaman itu, namun usahanya tidak menghasilkan apapun.


Entah mengapa rasanya Farel jauh lebih mirip wanita yang sedang haid dari pada gisel yang memang sedang haid. Saat dikelas dia terlihat lebih ramah dan baik. Tapi sedetik kemudian dia berubah menjadi pemaksa yang menyebalkan seperti ini.




To be contined