“Fagis”

“Fagis”
10. Tidak mungkin…



Ujian telah berakhir dan mereka hanya tinggal menunggu hasil dari ujian mereka. Di bangku Gisel duduk dengan sangat gelisah memikirkan hasil ujian.yang akan keluar. Dia khawatir kali ini akan remedial lagi. Gisel benar benar tidak mengerti, padahal dia sudah belajar dengan tekun. Tapi kenapa nilai selalu jeblok? Kali ini dia berharap nilainya di atas KKM. Dengan begitu dia tidak perlu mengikuti ujian ulang.


"Sayang, kenapa?" Tanya seorang pria berparas rupawan dengan senyum.yang menghiasi wajahnya.


Gisel melihat Farel dengan sengit. Panggilan sayang itu, apakah ditujukan padanya?


"Sayang sayang pala lo peang? Jangan panggil sayang lagi. Jijik dengernya." Ujar Gisel galak. Dia benar benar frustasi. Apalagi dia sedang dalam tahap menstruasi, jadi emosinya sedang tidak stabil.


"Kalau gitu, Sesel? Gimana?" Farel semakin membuat Gisel tambah kesal. Jujur saja, Farel tidak mengerti mengapa Gisel hari ini lebih galak dari sebelumnya. Karena dia laki laki dan tidak pernah merasakan rasanya menstruasi jadi wajar saja kalau dia tidak mengerti.


"Terserah." Ujar Gisel ketus.


Tidak lama Pak Rosid datang untuk membacakan ranking mereka masing masing. Di mulai dari ranking sepuluh sampai ke ranking satu. Dibacanya satu persatu ranking tersebut. Beberapa orang merasa senang karena mendapatkan ranking, ada juga dari mereka yang sedih karena rankingnya turun. "Untuk yang masuk ke lima besar, ranking lima: Chika, ranking empat: Wardi, ranking tiga: Pipit, ranking dua: joko, dan yang terakhir ranking satu adalah…" Pak Rosid sengaja melambat lambatkan mengumumkan ranking satu untuk membuat beberapa siswa deg deg'an saat mengetahuinya.


"Farel Malik Ardinata. Selamat!?" Pak Rosid berhasil membuat seluruh kelas terkejut dengan hasil tersebut. Mereka benar benar tidak menyangka jika siswa yang tidak pernah masuk itu adalah sang juara satu. Benar benar tidak bisa dipercaya dan dipahami. Satu satunya pertanyaan adalah…


Kenapa dia?


Semua siswa di kelas dibuat terkejut hingga tidak bisa berkata kata. Bagaimana bisa seorang brandal sepertinya mendapatkan juara satu? Satu satunya yang mereka pikirkan adalah 'Pasti Farel menggunakan cara curang untuk mendapatkan juara satu. Mana mungkin seorang brandal bisa sejenius ini. Apalagi dia'kan anak orang kaya, bisa ngelakuin apapun yang dia mau.' Semua pemikiran itu sama di kepala mereka. Mungkin mereka secara bersamaan memikirkan itu semua, tapi Angga yang teman SMP Farel sudah tahu jika Farel tidak curang sama sekali.


Secara tidak langsung mereka menatap Farel sinis. Inilah yang membuat Farel tidak pernah ingin sekolah. Mereka yang tidak yahu apapun sembarangan menyimpulkan bahwa dirinya curang dan memakai cara picik mengerjakan ulangan. Padahal belum tentu mereka lebih benar darinya. Hanya seseorang yang membuatnya bertahan di sekolah. Dan seseorang itu sama sekali tidak melihatnya sama seperti mereka.


Berbeda dengan Gisel yang duduk bersebelahan dengan Farel, dia tahu jika Farel tidak curang. Karena diam diam dia memperhatikan cara Farel mengerjakan soal. Tapi karena takut salah jadi dia memilih untuk tidak mengikuti jawaban Farel. 'Harusnya tadi gue nyontek aja sama dia.' Pikir Gisel. Dia sebenarnya masih tidak percaya jika pria yang kini tidak peduli dengan ranking dan hanya peduli memperhatikannya adalah juara satu.


Setelah itu Pak Rosid mengumumkan mana siswa yang ikut remedial dan mengumumkan tanggal libur setelah ulangan. Hari ini hanya membahas hal tersebut dan Pak Rosid membagikan semua rapor para siswa. Setelah itu mereka pulang terkecuali bagi siswa yang remedial. Mereka akan mengerjakan ulangan sekali lagi di hari itu juga.


Di dalam kelas ada lima orang termasuk Gisel, Angga dan Farel. Benar, Farel tidak ingin pulang dan lebih memilih bersama Gisel. Angga juga termasuk dalam siswa yang remedial. Pak Rosid melihat Farel yang masih duduk di kursinya bersama Gisel. "Farel, kenapa kamu tidak pulang?" Tanya Pak Rosid bingung.


"Nanti aja Pak." Jawab Farel singkat.


"Kalau gitu kamu keluar supaya yang lain tidak terganggu dengan keberadaan kamu di sini." Ujar Pak Rosid.


"Oh, saya gak bakal ngapa ngapain kok Pak. Cuma duduk doang disini, beneran!?" Farel sama sekali tidak ingin keluar kelas. Dia berencana untuk memberikan contekan pada Gisel secara diam diam.


"Benar?"


"Bener, Pak!?" Ujar Farel meyakinkan Pak Rosid.


Setelah itu Pak Rosid membagikan beberapa lembar kertas ujian untuk para siswa. Para siswa pun segera mengerjakan ulangan mereka.


Gisel mulai kembali pusing dengan jawaban apa yang harus dipilih pada soal PG. Dia bingung harus menjawab apa.


"C, cepetan!?" Ujar Farel berbisik pada Gisel.


Farel langsung membalikkan wajahnya karena wajah Gisal barusan sangat dekat. Dia menutipi mulutnya dengan pipi yang sudah merona. Ini pertama kalinya dia dibuat salting oleh wanita seperti ini. Setelah itu dia tidak memberikan jawaban apapun pada Gisel lagi. Setelah semua ujian selesai, mereka mengumpulkan kertas ujiannya.


Saat Gisel bangun, terdapat bercak darah di bagian belakang roknya. Farel langsung terkejut dengan darah yang ada di belakang Gisel. Dia langsung menarik tangan Gisel karena khawatir Gisel kenapa napa.


"Kenapa lo narik gue?" Tanya Gisel heran.


Farel bingung harus menjelaskan apa pada Gisel, "Itu, Rok… kamu… darah!?" Ujar Farel terbata bata.


Perkataan Farel memang tidak jelas, namun Gisel langsung mengerti dengan apa yang Farel coba katakan. Dia melihat bagian belakang Roknya dan benar saja, sepertinya dia todos. "Gimana nih?" Ujar Gisel panik.


"Sakit nggak?" Tanya Farel khawatir.


"Lo nggak tahu ini apa?" Tanya Gisel bingung.


"Emang apa? darah'kan?" Ujar Farel dengan sangat polos.


Gisel benar benar tidak habis pikir, kenapa Farel begitu banyak yang tidak dia ketahui namun bisa mendapatkan juara satu.


"Biar aku aja yang kasihin, kamu duduk disini." Farel bangun dan mendudukkan Gisel lalu mengambil kertas ulangan Gisel untuk diserahkan ke Pak Rosid. Setelah itu para siswa pulang sedangkan Gisel sedang mencari cari sesuatu di dalam tasnya.


Angga menghampiri Farel untuk mengajaknya pulang, namun karena Farel mengetahui keadaan Gisel jadi dia memilih untuk tetap tinggal bersama Gisel di kelas. "Kalau gitu gue duluan, ya? Pelan pelan aja bro!?" Ujar Angga yang kemudian pergi sembari menggoda Farel. Angga pikir Farel dan Gisel ingin bermesraan di dalam, padahal yang sebenarnya terjadi adalag sebaliknya. Dia keluar dan berpapasan dengan Anggi yang ada di luar kelas. "Lo ngapain disini!" Tanya Angga pada Anggi yang sedang duduk di teras kelas.


"Ya gue mau jemput Gisel lah. Pasti remedial lagi, ya?" Tebak Anggi. Dia sudah sangat hafal kalau Angga pasti akan selalu remedial.


"Berisik lo!? Eh, tapi kayaknya lo pulang bareng gue aja. Soalnya Gisel pulang bareng Farel." Ukar Angga.


"Bareng Farel? Gak, gue nggak bisa biarin!?" Anggi berusaha masuk ke kelas namun usahanya itu di gagalkan oleh Angga.


"Mau ngapain lo? Jangan ganggu orang pacaran ngapa. Pokoknya lo pulang bareng gue." Angga menarik tangan Anggi untuk pulang bersamanya.


"Bang, lo maksa banget sih?! Pokoknya gue nggak bisa biarin." Anggi masih begitu ngotot menginginkan pulang bersama Gisel. Dia merasa tidak rela sahabatnya pulang dengan pria brengsek seperti Farel.


"Yang ada e'lo yang maksa."Angga menarik Anggi sekuat mungkin agar pulang bersamanya.




To be contined