
Di hari minggu, Farel mengintai rumah seseorang dari kejauhan. Dia berhasil mendapatkan alamat rumah Gisel dari Anggi adik Angga meskipun dengan sedikit paksaan. Dari pagi dia terus mengintai rumah Gisel di dalam mobilnya untuk melihat apakah Gisel akan keluar atau tidak. Dia mengirimkan paket ke rumah gisel yang berisikan satu novel tanpa ada nama pengirim dan hanya ada surat.
Tidak lama setelah itu ada pengirim paket datang mengetuk pintu rumah gisel. Dari kejauhan terlihat Gisel yang sedang menerima paket tersebut yang berbungkus plastik hitam dengan kertas tertempel di bungkusannya.
"Siapa pengirimnya mas?" Tanya Gisel pada mas pengirim.
"Maaf, Mba. Dari sananya nggak ada namanya." Ujar Mas pengirim.
Tampak Gisel agak enggan untuk menerima paket tersebut. 'Siapa ya pengirimnya? Gue terima dulu aja kali, ya? Entar kalau ini barang yang aneh aneh gue buang aja.' Pikir Gisel dalam hatinya. Dia memutuskan untuk menerimanya meskipun tidak tahu siapa yang mengirim.
Di dalam mobil Farel tampak senang ketika Gisel menerima hadiahnya. Ini pertama kalinya dalam hidupnya dia merasa sesenang ini. "Gue harus ambil momen momen indah ini." Farel mengambil kamera dengan yang bagus dan mengambil foto Gisel ketika menerima hadiah kirimannya. Dia tersenyum senang ketika foto yang dia ambil sangat bagus.
***
Di dalam kamar, Gisel membuka surat yang dikirim oleh si pengirim. Di sana juga tidak tertulis nama si pengirim.
...----------------...
...To Gisela Kiana...
...Ini hadiah buat kamu, semoga kamu suka dengan hadiah yang aku kirim. Jangan khawatir dengan siapa yang mengirim, yang pasti bukan orang yang berbahaya....
...Seseorang yang akan selalu menunggu mu....
...~F~...
...----------------...
Gisel segera membuka paket yang terbungkus plastik hitam. Dia melihat sebuah novel baru bersampul biru disertai dengan pembatas buku warna Merah-Pink bunga mawar serta kupu kupu. Dia sangat menyukai warna merah. Sekilas Gisel tersenyum ketika mendapatkan hadiah dari orang misterius. Dia tidak tahu mengapa rasanya senang seperti ini, tapi yang pasti jika ini novel pasti akan dia terima dengan suka rela.
"Ini tulisan tangan apa komputer sih? rapi banget, mana tulisannya bagus lagi." Ujar Gisel yang kembali memperhatika surat yang di tulis orang misterius, F. "Tapi, kok dia tahu ya kalau gue suka baca novel? Apa Anggi? nggak mungkin dia kayaknya. Ibu? lebih nggak mungkin. Far__ Nggak!? mana mungkin. Kita kan baru ketemu, mana mungkin dia langsung tahu kesukaan gue. Lagian dia kan nggak pernah masuk sekolah sebelumnya. Masa tulisan tangannya serapih ini!? Siapapun itu yang penting dia nggak ngasih yang nggak nggak." Ujar Gisel yang kemudian langsung membuka bungkus plastik transparan yang membalut novel.
Tanpa menunggu waktu lagi, Gisel langsung saja sikat membaca novel barunya dari F.
BEBERAPA JAM KEMUDIAN
"Hiks hiks, gila… kok ngenes sih? Apaan coba si Riski, kok dia ninggalin Amel gitu aja hiks hiks… Gue, gue kan jadi sedih." Gisel mengelap air mata serta ingusnya yang sudah keluar karena saking terharunya membaca novel. Riski dan Amel adalah nama tokoh utama di dalam novel yang Gisel baca. Jika membaca novel dia selalu terbawa suasana seperti ini. Rasanya jika sudah membaca novel dunia hanya miliknya seorang. Tidak peduli orang lain akan memanggil dia baper atau terlalu lebay. Tapi jika ceritanya sedih ya, dia akan menangis karena begitu menghayati saat membaca. Meskipun ini hanya sebuah cerita dan tidak nyata.
Setelah itu dia meletakkan pembatas buku untuk ke dalam novel untuk di bacanya nanti. Karena sekarang waktunya membereskan rumah. Dia terlalu sibuk membaca sehingga lupa akan pekerjaan rumah. Hari ini ibunya sedang pulang kampung untuk tahlilan neneknya yang ke seratus hari. Sedangkan ayahnya adalah seorang pilot. Jadi bisa dibilang Ayahnya selalu tidak ada di rumah. Kalau pun pulang itu hanya beberapa hari saja kemudian pergi lagi.
Saat Gisel menyapu halaman rumah, dia melihat mobil merah yang ada di sebrang jalan. Tadi pagi dia juga melihat mobil merah itu ada di sana. "Mobil siapa, ya?" Tanya Gisel pada dirinya sendiri.
Ketika Gisel akan masuk ke dalam rumah, tiba tiba dia tidak sengaja melihat Farel yang memakai topi hitan dan jaket hitam menghampiri mobil merah tersebut. Tanpa sengaja juga dari arah Farel dia melihat Gisel yang sedang melihatnya.
Farel langsung gugup saat Gisel menangkap basah dirinya ada di depan rumahnya. Dia tidak menyangka akan tertangkap secepat ini. Dari arah Rumah Gisel tampak Gisel menghampiri dirinya.
"Lo, ngapain di sini?" Tanya Gisel.
"Gue, eh… aku tadi pengen cari tahu rumah kamu. Jadi rumah kamu di sini? Bagus, ya?!" Ujar Farel yang dengan cepat mencari alasan. Tapi kemudian dia melihat mata Gisel yang sembab seperti habis menangis. "Mata kamu kok sembab gitu? Siapa yang bikin kamu nangis? Kasih tahu orangnya, biar aku yang hajar dia supaya nggak buat kamu nangis lagi." Tantang Farel pada entah siapa itu.
"Kamu salah liat kali." Sebisa mungkin Farel ingin bersikap tenang agar tidak ketahuan.
"Masa, sih? Gue yakin banget kalau__"
GRUYUUK
Terdengar suara yang sangat besar dari asal perut seseorang. Suara itu bahkan menghentikan kewaspadaan Gisel pada Farel. "Lo… laper?" Tanya Gisel berbeda kali ini.
"Ng nggak kok. Perut aku memang selalu bunyi. Ini udah biasa." Ujar Farel.
"Kalau laper bilang. Untung gue udah masak, sini makan di rumah gue." Ujar Gisel yang tidak tega melihat Farel kelaparan. Dia bingung, Farel bukannya orang kaya? tapi kenapa malah kelaparan? Ini yang membuatnya bingung.
Farel mengikuti Gisel dari belakang karena mendapat ajakan makan seperti ini. Ketika Farel memasuki rumah sederhana Gisel, ternyata di dalamnya sangat bersih dan juga sejuk ketika memasuki rumahnya. Sangat nyaman untuk ditinggali. "Ibu kamu di mana?" Tanya Farel yang melihat rumah Gisel yang sepi.
"Ibu gue lagi pulang kampung, kalau ayah gue lagi kerja." Jelas Gisel singkat. "Mungkin ini nggak segede rumah lo, tapi anggap aja rumah sendiri." Ujar Gisel menuju dapur. Di dapur terdapat meja makan berbentuk bundar dan ada tiga kursi. Di atasnya sudah ada nasi dan juga lauk pauk yang di tutupi agar tidak di hinggap lalat, "Kalau pengen makan ambil aja." Ujar Gisel.
"Kamu nggak makan?" Tanya Farel melihat Gisel yang akan pergi.
"Nggak. Gue… mm… gue lagi diet." Ujar Gisel malu.
Farel mengernyitkan dahinya ketika mendengar Gisel diet. "Ngapain diet? Diet itu nggak sehat. Kalau kamu sakit gimana? Entar siapa yang bakal jadi istri aku?" Ujar Farel pada akhirnya.
"Si siapa juga yang mau jadi istri lo. Udah, gue mau bersih bersih lagi." Gisel segera pergi dari sana agar Farel tidak bicara yang tidak tidak lagi.
"Tunggu!?" Ujar Farel menghalangi Gisel pergi dengan berdiri di depannya.
"Apa lagi?"
"Jangan diet. Nanti sakit!?" Farel tidak henti hentinya membujuk Gisel agar tidak diet.
Sebenarnya Gisel juga tidak ingin diet. Tapi karena dia merasa kalau dirinya terlalu berat jadi mau tidak mau dia harus diet. Dia tidak ingin di bilang gendut oleh para gadis gadis kaya yang langsing dan cantik. Bisa dibilang dia tidak ingin menjadi korban bully di sekolah. "Tapi kan gue gendut." Ujar Gisel pelan. Dia berharap Farel tidak mendengarnya.
"Siapa yang bilang kamu gendut? Kamu langsing cantik begitu masa dibilang gendut. Yang bilang kamu gendut pasti matanya udah buta." Ujar Farel apa adanya.
Gisel merasa malu ketika dibilang cantik oleh Farel. Tapi kata kata terakhir Farel sungguh membuatnya tertusuk. Karena yang bilang Gisel gendut adalah dirinya sendiri dan bukan orang lain. 'Gue nggak tahu harus seneng apa nggak.' Pikir Gisel dalam hatinya. "Ya udah, gue makan." Setelah itu Gisel makan bersama Farel di meja makan.
Farel merasa senang karena dia bisa makan bersama Gisel. "Ternyata masakan kamu enak, ya?!" Ujar Farel sembari menatap Gisel yang sedang makan.
"Lo makin pinter ngegombal, ya?" Ujar Gisel.
Farel tersenyum melihat Gisel yang makan lebih lahap dari dirinya.
To be contined