“Fagis”

“Fagis”
09. Ujian



Hari ini, ujian datang. Bagi para siswa ujian seperti badai yang datang untuk para murid. Mereka akan belajar sekeras yang mereka bisa agar bisa mengerjakan soal diatas kertas. Ada juga yang bersantai santai dan hanya menunggu jawaban dari yang pintar. Atau saking takut salah jawaban yang diberikan sampai harus membuat contekan di tangan yang sudah dicoret coret dengan pulpen. Ada juga yang tidak terganggu sama sekali oleh ujian. Baginya ini hanya angin sepoi sepoi yang menerpa.


Farel Malik Ardinata


Pemuda itu dengan sangat santai mengerjakan ujian meskipun ada beberapa yang pusing dan menyontek. Untuk apa pusing? Toh dia sudah mengetahui semua jawaban soal ujian yang sedang dia kerjakan.


Sangat berbading terbalik dengan seorang gadis di sampingnya…


Gisela Kiana


Beda hal dengan Gisel yang sudah sangat sangat pusing meskipun dia sudah belajar semalaman. Ini adalah badai besar sekaligus tsunami baginya. Bagaimana tidak? dia sudah belajar begitu keras tapi nilainya tidak jauh dari empat puluh. Pada akhirnya dia akan ikut remedial. Gisel sesekali melirik Farel yang sudah selesai mengerjakan ujian. Kertasnya sudah dibalik pertanda dia sudah selesai. "Lo, udah selesai?" Tanya Gisel ragu.


"Iya, mau lihat? Kalau kamu mau lihat nggak apa apa kok." Ujar Farel dengan senyum terbaiknya.


"Nggak ah. Gue ngerjain sendiri aja." Gisel kembali mengerjakan ujian tanpa menerima bantuan dari Farel. Dia tidak ingin mengerjakan ujian dengan usaha orang lain. Meskipun nilai yang di dapat tinggi, namun itu bukanlah hasil kerja kerasnya sendiri. Melainkan hasil yang orang lain dapat. Dan itu sama sekali tidak membuatnya puas. Lagipula Farel baru masuk sekolah, jadi Gisel sama sekali tidak percaya jika Farel akan mengerjakan soal dengan benar.


"Waktu habis. Cepat kumpulkan ke depan!? Selesai tidak selesai harus dikumpulkan." Ujar salah seorang guru biologi.


Tidak lama setelah itu para murid mengumpulkan kertas ulangan mereka. Setelah semuanya terkumpul guru biologi pergi dengan membawa semua kertas ujian yang sudah terkumpulkan. Selepas guru pergi semua murid baru bisa bernafas lega karena telah selesai mengerjakan Mapel biologi.


Gisel pergi dengan Tiwi ke kantin untuk menyegarkan otaknya kembali. Sedangkan Farel pergi mengikuti Gisel dan Angga pergi mengikuti Farel. Di jalan mereka berpapasan dengan Dimas dan Rian. Dan berakhir dengan mereka saling berkumpul dibelakang Gisel dan Tiwi.


Tiwi sesekali melihat ke belakang secara diam diam. Namun Aksinya dipergoki oleh Rian yang melambai ke arahnya. Dia langsung memutar kepalanya ke depan karena malu di sapa oleh Rian yang cukup dibilang tampan. "Sel, lo ngelakuin apa sih sampai Farel ngejar ngejar lo kayak gini?" Tanya Tiwi yang berbisik pada Gisel agar suaranya tidak terdengar oleh mereka berempat yang berjarak empat meter di belakang.


"Gue juga nggak tahu. Tiba tiba aja si Farel ngajak ni__ maksudnya deketin gue." Gisel tidak menceritakan tentang Farel yang mengajaknya menikah. Dia hanya menceritakannya pada Anggi seorang.


"Jujur deh, lo beruntung banget bisa di deketin sama Farel." Ujar Tiwi.


"Loh? Beruntungnya?" Gisel tidak mengerti mengapa semua teman temannya bilang kalau dia beruntung. Padahal yang sebenarnya adalah Farel adalah orang yang sangat pemaksa dan mudah cemburuan. Untung dia orang yang sabar, jika tidak mungkin dia sudah membuat permintaan pindah kelas agar Farel tidak terus mengganggunya setidaknya di dalam kelas.


"Ya, lo beruntung aja. Gue denger denger Farel itu kaya, ditambah lagi ganteng. Kalau gue yang di deketin sih pastinya seneng banget." Ujar Tiwi menjelaskan pendapatnya pada Gisel.


Gisel mengerti mengapa Tiwi mengatakan itu. Karena Tiwi berasal dari keluarga yang kurang mampu. Jadi mendambakan suami yang kaya adalah sesuatu yang dia harapkan. Berharap bisa membantu ekonomi keluarganya. "Yah, emang sih dia itu kaya. Tapi gue nggak pengen buru buru pacaran terus menikah. Gue pengen bahagian ortu dulu dari pada mikirin cinta. Apalagi kalau Bapak gue yang galak tahu ada cowok yang lagi deketin gue, kayaknya bakal langsung dimarahin abis abisan deh entar si Farel." Ujar Gisel yang mengingat Ayahnya sangat sangat garang jika ada yang mendekati anak perempuan satu satunya.


Mungkin saja Ayahnya khawatir dengan Gisel agar tidak hamil di luar nikah. Karena dia adalah anak perempuan, jadi sudah sewajarnya seorang Ayah bersikap galak pada setiap lelaki yang mendekati anak perempuannya.


"Gue pernah ketemu sama Bapak lo. Emang sih Bapak lo keliatan galak banget." Ujar Tiwi yang pernah bertemu dengan Ayah Gisel.


"Ya meskipun dia galak tapi jangan kira dia itu selalu galak ke gue. Kalau ke anak dia itu baik banget. Pokoknya beda banget kalau ngadepin laki laki." Ujar Gisel.


Mereka akhirnya tiba di kantin sekolah. Di sanapun Farel duduk di depan Gisel sambil memandangi gisel. Tentunya mereka berempat juga ada di sana.


"Lo kok duduk di sini? duduk di tempat lain sana!? Kan masih banyak meja yang kosong?" Ujar Gisel galak.


"Emang kenapa kalau aku duduk disini? Ini kan bukan kantin kamu!?" Farel memasang senyum licik pada perkataannya.


Gisel lama lama kesal dengan Farel yang menurutnya semakin menyebalkan. Dari pada meladeni Farel, dia lebih memilih memesan makanan pada anak ibu kantin yang biasa membantu ibunya jualan di kantin.


"Gue nggak baik ke kalian, gue cuma baik ke calon is__" Sebelum menuntaskan omongannya, Gisel sudah lebih dulu memasukkan bakwan ke mulut Farel agar tidak membeber beberkan ajakan nikahnya. Asalnya dia malu kalau Farel mengungkapkan ajakan nikahnya itu.


Mereka benar benar dibuat terkejut dengan aksi Gisel yang tidak terduga. Sekalipun mereka tidak berani mengusik atau membuat Farel tersinggung. Tapi Gisel dengan sangat berani memasukkan bakwan secara tiba tiba ke mulut Farel yang sedang bicara.


"E-nak, kan? Ha-ha-ha-ha-ha…" Ujar Gisel sembari tertawa sinis.


"Iya, enak. Kalau yang nyuapin kamu!? Ha-ha-ha-ha-ha…" Ujar Farel yang ikut tertawa bersama Gisel. Dia mulai mengerti kenapa Gisel melakukan ini. Karena itu dia memanfaatkan kesempatan ini untuk sesuatu yang dia inginkan.


Tidak lama setelah itu pesanan mereka datang. Rian sudah memesan apa yang biasa teman temannya pesan. Dan Tiwi juga sudah memesan bersama dengan Gisel. Mereka memakan makanan mereka masing masing. Namun Farel masih belum memakan makanannya sedikitpun.


"Kenapa nggak dimakan Rel?" Tanya Angga penasaran.


"Gue mau di suapin sama calon is__" Tidak lama Gisel segera memasukkan kerupuk ke mulut Farel.


"Calon apa rel?" Tanya Dimas penasaran.


"Ya calon is__" Kali ini Gisel memasukkan es teh manis ke Farel.


"Manis?" Tanya Gisel.


"Nggak semanis kamu, sih." Lagi lagi Farel membuat mereka bingung.


Setelah itu Gisel selalu menyuapi Farel dengan keterpaksaan sebagai penutup mulut. Meskipun menyebalkan tapi itu tidak sebanding dengan rasa malu yang akan dia dapat. Namun, Gisel tidak menyadari kalau ada yang memperhatikannya dari arah meja lain. Mereka adalah empat gadis cantik kelas dua belas IPA. Tentunya kalian tahu siapa mereka.


Lizza terus memperhatikan keakraban mereka berdua. Dari awalndia sudah menyangka jika Gisel adalah wanita yang di sukai oleh Farel. Bersama dengan ketiga temannya mereka memperhatikan gerak gerik Gisel.


"Liz, apa perlu kita kasih pelajaran sama si gadis culun?" Tanya Sandra yang sedang membenarkan bedaknya.


"Iya, Liz. Kasih aja tuh cewek kampung pelajaran!? biar nggak deketin Farel lagi." Ujar Sabrina yang ikut pembicaraan.


Lizza tidak menanggapi perkataan mereka. Dia hanya diam memikirkan suatu cara yang lain selain membully. Karena baginya membully itu hanya untuk orang bodoh. "Diem aja deh lo berdua, sibuk aja. Gue udah punya cara lain selain bully dia. Lagian kalau gue bully dia, Farel pasti bakalan dateng nyelametin dia terus mikir kalau gue itu jahat." Ujar Lizza pada keduanya.


"Tapi lo punya cara apa, Liz?" Tanya Sindi.


Lizza hanya tersenyum licik pada mereka bertiga. Sedangkan mereka bertiga tidak tahu apa maksud dari senyuman licik yang Lizza katakan.


Setelah itu bel berbunyi tanda mereka akan segera masuk ke kelas. Mereka kembali mengerjakan ujian selama enam hari ke depan. Beserta dengan ujian hidup untuk mereka berdua ke depannya. Entah apa yang akan menimpa mereka ke depannya. Yang pasti itu bukan sesuatu yang baik.




To be contined