
TENG TENG TENG
Suara bel berbunyi nyaring menandakan waktu masuk sekolah. Para siswa segera berjalan menuju kelas mereka masing masing. Termasuk seorang gadis manis yang saat ini sedang bersama sahabatnya. Gadis manis itu bernama Gisela Kiana, dan temannya yang bernama Anggi Anggraeni. Anggi adalah teman masa kecil Gisel dari SD hingga sekarang.
Dari kecil mereka selalu bersama, sayangnya pembagian kelas kali ini mereka harus pisah kelas. Gisel berada di kelas X IPA 2 sedangkan Anggi berada di kelas X IPS 3. Awalnya sulit untuk mencari teman karena mereka biasanya selalu satu kelas. Tapi seiring berjalannya waktu masing masing dari mereka memiliki teman kelas.
"Gue ke kelas, ya? Bye…" Ujar Anggi sembari melambaikan tangannya pada Gisel, lalu masuk kedalam kelas.
"Hm, Bye…" Gisel segera pergi ke kelasnya karena mereka berpisah didepan kelas Anggi yang berada di lantai satu. Sedangkan Gisel sendiri menuju lantai dua dimana kelasnya berada.
Sesampainya dikelas, didalam kelas terlihat sangat ramai seperti biasanya. Mumpung guru masih belum datang mereka mengobrol untuk mengisi waktu mereka dengan mengobrol hal hal yang mereka biasa bicarakan. Gisel duduk di barisan paling pinggir bangku kedua terdepan. Untuk bangku yang paling depan itu kosong. Sebenarnya disana ada seseorang yang mendudukinya, tapi orang itu tidak pernah datang ke sekolah walaupun hanya sekali. Gurupun sudah bosan mengabsen namanya.
Tidak lama pak Rosid guru bahasa indonesia datang untuk mengajar.
***
Di jalan mawar terdapat sebuah rumah besar nan megah bernuansa gaya eropa. Didalam rumah tersebut terbaring seorang anak laki laki di sofa sembari bermain game di hanphone nya. Dengan menganakan jaket hitam tanpa kancing dn celana jeans hitam. Seharusnya sekarang adalah jam sekolahnya, namun entah apa alasannya anak laki laki tersebut lebih memilih bermain game di handphone nya.
Tidak lama datang seorang wanita paruh baya yang membawakan jus jeruk untuknya. "Den, kenapa nggak pergi sekolah lagi? kan Aden nggak ngapa ngapain di rumah. Lebih baik sekolah ada manfaatnya, Papa Aden juga kan bakalan bangga sama Aden." Ujar Bibi Yanti pembantu di rumah besar itu. Bibi Yanti awalnya memiliki suami, tapi suaminya selingkuh dan menceraikan Bibi Yanti. Akhirnya Bibi Yanti hanya tinggal berdua dengan anaknya yang mungkin saat ini sudah menginjak usia dewasa. Namun anaknya durhaka pada Bibi Yanti dan menelantarkan Bibi Yanti dipinggir jalan setelah sertifikat rumah Bibi Yanti diambil lalu dijual.
Untungnya Bibi Yanti bertemu dengan Ibunya Farel yang waktu itu masih hidup. Jadi sekarang Bibi Yanti tinggal dirumah besar bersama keluarga besar Ardinata sebagai pembantu. Bibi Yanti sudah mengurus Farel sedari kecil seperti anaknya sendiri meskipun tidak memiliki hibungan darah. Jadi, Bibi Yanti akan cerewet pada Farel jika selalu bolos sekolah.
"Males, ah Bi. Lagian orang itu juga nggak bakalan peduli kalau aku bolos sekolah atau nggak." Farel bangun dari posisi duduknya dan meminum Jus jeruk yang dibawakan Bibi Yanti.
"Huss, jangan bilang begitu sama orang tua sendiri. Tuan bukannya nggak peduli, tapi Tuan cuma malu nunjukin perhatiannya sama Aden."
"Iya iya, ntar sekolah." Ujar Farel sembari berdiri.
"Yang bener den? Kapan?" Tanya Bibi Yanti merasa senang dengan jawaban Farel.
"Nanti, kalau mau ujian!? ha ha ha ha ha…" Farel berlari setelah menggoda Bibi Yanti yang terlihat kesal dengan jawabannya.
Hanya dengan Bibi Yanti Farel merasa seperti bicara dengan keluarga. Mungkin itu karena Bibi Yanti sudah mengurusnya dari kecil, jadi dia tidak sungkan untuk menceritakan keluh kesahnya pada orang luar seperti Bibi Yanti.
Meskipun Farel tidak pernah masuk sekolah, namun dia tidak hanya duduk santai bermain game saja. Dia sesekali merangkum semua pelajaran dari buku persemester dari yang sulit sampai yang susah. Ada kalanya jika bosan dengan pelajaran kelas X yang sekarang, dia akan mempelajari pelajaran yang lebih tinggi seperti kelas XI dan XII.
Farel berjalan menuju taman rumahnya yang luas. Lalu tidur dibawah pohon yang rindang disana. Dia memang sering tidur dibawah pohon itu, karena disana adalah kenangan terakhir Farel dengan ibu nya sebelum meninggal. Makanya dia sering berada dipohon itu.
***
Disekolah Sekarang adalah waktunya untuk pulang karena waktu mereka untuk belajar sudah habis. Semua murid pulang dengan kendaraan mereka masing masing. Ada yang memakai motor, sepeda bahkan sampai mobil untuk anak anak kaya. Untuk yang tidak memiliki kendaraan mereka biasanya naik angkot atau angkutan umum lainnya. Gisel biasanya naik kendaraan umum dengan Anggi, tapi kali ini Gisel tidak akan bisa pulang bersama Anggi. Karena dia dipanggil wali kelasnya Pak Rosid ke ruang guru.
Terlihat dua orang siswa yang sedang berjalan bersama dilorong sekolah. Mereka adalah Gisel dan Anggi.
"Eh, Sel!? Ngmong ngomong kenapa ya wali kelas lo manggil ke ruang guru? Emangnya lo buat salah apa?" tanya Anggi khawatir.
"Nggak tahu kenapa. Firasat gue nggak enak nih." Ujar Gisel gelisah.
"Apa perlu gue temenin?"
"Udah, nggak perlu. Gue juga nggak sepenakut itu juga kali." Ujar Gisel sembari tersenyum simpul. Ketika mereka telah sampai dipersimpangan jalan, Gisel dan Anggi berpisah.
"Iya, hati hati dijalan!?" Gisel melihat kepergian Anggi yang sudah berjalan cukup jauh. Sekarang, dia harus ke ruang guru.
Singkat cerita, Gisel sudah ada di delan meja wali kelasnya. Disana duduk seorang pria paruh baya yang memakai kaca mata. Dia adalah Pak Rosid wali kelas X IPA 2. "Gisel, kamu duduk dibelakangnya Farel kan?" Tanya Pak Rosid.
"Iya, Pak. Emangnya ada apa ya, Pak?" Tanya Gisel balik.
"Karena kamu duduk dibelakang Farel, coba kamu ke rumah dia. Anterin kertas kertas ujian harian ini kerumahnya. Kalau kamu ketemu sama dia sekalian bilang, 'Kalau dia nggak penah masuk sekolah sampai semester dua, nanti dari lihak sekolah dia akan dikeluarkan!?' Bapak masih ada kerjaan diruang staf. Jadi Bapak minta bantuan dari kamu, bisa kan?" pinta Pak Rosid. Dia menyerahkan map coklat berisi kertas kertas ulangan harian beserta alamatnya disana.
"Iya, bisa kok Pak!?" Gisel mengambil map coklat tersebut, "Kalau begitu, saya permisi Pak." Pamit Gisel.
***
Gisel telah sampai di alamat yang diberikan Pak Rosid. Dia turun dari angkot setelah membayar. Ketika membalikkan badan, dia begitu kaget dengan rumah yang begitu besar seperti sebuah istana. Rumah didepannya ini seratus kali lipat lebih besar dari rumahnya.
Plak
Gisel menampar kedua pipinya sendiri untuk berhenti bengong melihat rumah bergaya eropa tersebut. "Sadar sadar, harus cepet cepet kasih mapnya!?" Gisel berjalan ke arah gerbang yang bercat putih.
TING TONG
Dia memencet bel yang ada disamping gerbang. Tidak lama datang seorang satpam dari pos yang tidak jauh dari gerbang. Dia datang menghampiri Gisel.
"Ada urusan apa ya, neng?" tanya satpam tersebut yang sepertinya sudah lanjut usia.
"Itu, Farel nya ada?" Tanya Gisel.
"Oh, den Farel? Temennya, ya? Ada ada, masuk aja neng." Ujar Pak satpam tersebut sembari membukakan gerbang.
"Makasih, Pak!?" Gisel masuk seperti yang dikatakan Pak satpam. Setelah itu Gisel berjalan menuju pintu rumah besar rumah besar didepannya. Dia mengetuk pintu putih besar itu beberapa kali. Namun belum ada yang membuka pintu dari dalam. 'Coba lagi aja, deh!?' pikir Gisel sembari mengetuk ulang pintu putih.
Tidak lama kemudian terdengar suara dari dalam. "Iya iya, tunggu sebentar!?" Suara itu terdengar seperti suara wanita paruh baya. Pintupun terbuka dan memperlihatkan seorang wanita dengan tubuh bongsor dan rambut hitam yang berselisih dengan rambut putih. "Ada apa ya, neng?" Tanya Bibi Yanti ramah.
"Oh ini Bi, ada titipan dari Pak guru." Ujar Gisel sembari menyerahkan map coklat pada Bibi Yanti. Selebihnya dia sekalian membicarakan pesan dari Pak Rosid untuk Farel.
Disisi lain Farel baru bangun dari tidurnya dan berjalan memutar ke pintu depan. Disaat yang bersamaan dia melihat Ada seorang gadis yang sedang berbicara dengan Bibi Yanti. Dia bersembunyi dibalik pohon besar samping rumahnya dan terus memperhatikan gadis yang berbicara dengan Bibi Yanti. Dari mulai caranya bicara, senyumnya, gerak tubuhnya, dan lain lain. Setelah itu dia melihat sepertinya gadis itu akan segera pergi.
Tanpa disadari Farel mengikuti Gadis itu sembari bersembunyi dibalik semak semak. Tiba tiba gadis itu berhenti dan melihat sekitarnya yang terasa sangat sepi. Sepertinya dia mulai menyadari jika ada yang mengikutinya.
"Apa cuma perasaan gue aja? kok kaya ada yang ngikutin, ya?" Ujar Gisel sembari memegangi tengkuknya yang mulai merinding. 'Jangan jangan nih rumah ada penunggunya lagi. Di film film kan suka ada yang kaya gitu. Mending gue lari aja deh, takut dimakan sama penunggu nih rumah!?' pikir Gisel yang mulai bersiap mempersiapkan langkah seribunya.
Farel terus memperhatikan gadis itu yang mulai memperlihatkan wajah takut. Baginya itu terlihat cukup menarik. Namun tiba tiba gadis itu berlari sekencang yang dia bisa. Itu membuat Farel keluar dari semak semak dan melihat betapa kencangnya gadis itu berlari. "Itu cewek kenceng banget larinya. Keturunan flash kali, ya?" Tapi sedetik kemudian terlihat senyum samar dari wajahnya.
To be contined