“Fagis”

“Fagis”
03. Sekelas



Sontak seisi kelas yang tadinya tenang mulai menjadi berisik. Mungkin tidak sampai berteriak dan hanya berbisik bisik saja. Terutama bagi kaum hawa yang melihat cogan kelas atas. Mata mereka tidak bisa berkedip dan mulut mereka tidak bisa berhenti berbisik. Tatapan mereka sepenuhnya tertuju pada pria tampan berkulit putih dan terlihat keren.


Farel memasuki kelas dan berjalan menuju mejanya yang ada di depan. Terlihat seorang siswa sedang membaca buku menutupi wajahnya. Farel tidak mempedulikan siapa siswa itu, dia langsung saja duduk di kursinya yang sudah lama tidak diduduki. Terdengar suara bisikan dari para siswa perempuan yang terus memperhatikan Farel. Mereka berbisik tak luput dari pujian. Bu Susan yang melihat itu langsung mengatakan pada mereka agar tidak berisik. Kemudian kembali mengabsen kelas.


"Ibu akan lanjutkan pengabsenannya,…" Bu Susan kembali memanggil nama nama murid yang hadir dan mencatat nama nama murid yang sakit atau tidak hadir. Ketika tiba saatnya untuk giliran nama Gisel.disebutkan, ada sedikit masalah. "Gisela Kiana?" panggil Bu Susan. Namun dia belum mendapatkan jawaban dari orang yang dipanggil.


"Gisel, kenapa tidak jawab?" Tanya Bu Susan melihat Gisel sedang menutupi wajahnya dengan buku. "Kamu sakit? Atau lagi nggak enak badan?" Tanya Bu Susan sekali lagi.


"Ng ngak apa apa kok Bu." Ujar Gisel pelan. Dia tidak ingin jika Farel mengetahui bahwa mereka berada di kelas yang sama. Dan lebih parahnya lagi mereka bersebelahan. Tapi apa yang dilakukan Gisel semakin menarik perhatian para siswa. Mereka pikir, Gisel baik baik saja saat bertemu dengan mereka. Tapi mereka heran mengapa Gisel mendadak sakit.


Bu Susan datang menghampiri Gisel karena khawatir jika Gisel memang beneran sakit. "Apa perlu ke UKS?" Tanya Bu Susan.


"Nggak apa apa Bu, beneran." Gisel memperlihatkan sedikit wajahnya pada Bu Susan.


"Ya, sudah. Kalau sakit bilang, ya?!" Ujar Bu Susan sembari tersenyum ramah dan kembali pada mejanya.


Untuk kali ini Gisel merasa tidak aman berada di belakang pria brengsek yang mengajaknya menikah. Dia measa takut jika pria itu mengetahui kalau dia sebenarnya ada di belakangnya.Tak lama seperti ada yang memanggil namanya dari belakang dengan berbisik. Saat Gisel berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya ternyata dia adalah teman sekelasnya, Tiwi.


"Lo kenapa dari tadi?" Tanya Tiwi masih memelankan suaranya.


"Ceritanya panjang. Bakalan lama kalau cerita sekarang, nanti aja kalau istirahat!?"


"Ya, udah. Nanti cerita, ya?"


"Iya…"


Biasanya bagi Gisel waktu pelajaran berjalan dengan lama. Tapi sekarang waktu pelajaran berjalan lebih dari sekedar lama. Mungkin karena Gisel saat ini sedang gugup karena adanya Farel yang duduk didepan.


Seusai pelajaran Bu Susan berganti dengan mata pelajaran yang lain. Farel sendiri merasa bisan didalam kelas rasanya sangat membosankan. Awalnya dia ingin pergi keluar saja dari dalam kelas, namun gadis yang ada dibelakangnya ini benar benar menarik perhatiannya. Dia tahu jika gadis yang bernama Gisel itu adalah gadis manis yang saat itu ke rumahnya.


Hanya saja dia merasa takut jika dia semakin mendekati Gisel maka dia akan semakin menjauh darinya. Karena Farel sadar, jika Gisel merasa tidak nyaman dengan dirinya. Itu terlihat jelas dari sikap Gisel padanya. Dia ingin Gisel tidak merasa takut padanya hingga tidak menghindar terus seperti ini.


Tidak lama terdengar suara bel berbunyi menandakan waktu belajar telah habis dan berganti dengan waktu istirahat. Setelah guru yang mengajar pergi, berganti dengan para siswa yang mulai berisik dan pergi keluar setelah guru. Gisel dan temannya segera keluar dari dalam kelas. Awalnya Farel ingin mengikuti Gisel, tapi seseorang menggagalkan rencananya itu.


"Rel, tumben lo sekolah. Biasanya juga lo bolos terus. Ada apa nih tiba tiba?" Tanya Angga sedikit menggoda Farel.


"Berisik lo!?" Farel kemudian bangun dari tempat duduknya dan mengikuti Gisel. Namun ketika keluar Gisel sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya.


Tak ayal Angga mengikuti Farel keluar kelas. Dia bingung pada Farel yang tiba tiba masuk sekolah dan seperti mencari seseorang. Dia mulai berpikir ulang, mungkin itu ada hubungannya saat tadi malam Farel bertanya tentang seorang gadis manis dikelas. "Oh, iya. Tadi malem lo kenapa nanya cewek manis? Lo lagi jatuh cinta?" Tanya Angga asal asalan.


Mendengar Angga mengatakan jatuh cinta, Farel jadi ingin bertanya pada Angga. Karena Angga adalah teman pertamanya dari SMP, Farel lebih sering bertanya pada Angga meskipun mungkin kadang kadang jawaban yang diberikan ngelantur. "Jatuh cinta itu apa?" Tanya Farel.


Angga terkejut mengetahui Farel tidak mengetahui tentang jatuh cinta. Teman satunya ini memang tidak tahu banyak tentang buhungan sosial antara manusia. Karena Farel terbiasa sendiri dia jadi seperti terisolasi dari dunia. Sampai sampai dia tidak mengetahui arti simpel dari jatuh cinta. "Lo tampang doang ganteng, jatuh cinta aja nggak tahu. Nolep lo!?" Ujar Angga mengejek Farel.


"Eh, nggak… gue nggak bilang apa apa kok!?" Angga langsung berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Dia tahu jika Farel pandai berkelahi. Dia tidak sengaja melihat Farel waktu SMP menghajar anak SMA yang mencoba memalaknya. Dari situlah awal mereka berteman. Akan tetapi Farel yang saat itu masih SMP jauh dari kata baik. Bisa dibilang, Farel yang sekarang lebih baik dari pada ketika waktu SMP.


Angga menjelaskan apa itu jatuh cinta pada Farel. Kemudian Farel menanyakan lagi beberapa lagi pertanyaan seperti, Apa itu menikah? apa itu pacaran? meskipun jawaban yang Angga berikan tidak mendetail dan hanya garis besarnya. Tapi itu sudah cukup bagi Farel untuk memahami itu semua.


Setelah itu datang Dimas dan Rian mendekati mereka berdua. Bisa dibayang mereka begitu kaget ketika melihat Farel masuk sekolah. Sampai sampai mereka berpikir, Apa ini adalah awal perang dunia ketiga? tapi pada akhirnya mereka berjalan bersama ke kantin sekolah. Ini pertama kalinya mereka berjalan bersama seperti ini. Karena biasanya mereka hanya berjalan tiga orang saja. Tapi mereka merasa senang akhirnya Farel juga ikut bersama mereka. Meskipun dia lebih banyak diam dan masih tertutup. Tapi itu sudah cukup.


Mereka adalah sahabat dari SMP, tapi meskipun mereka sahabat Farel selalu mengasingkan diri dan belum terbuka hingga sekarang. Masing masing dari mereka ingin membuat Farel berjalan bersama seperti ini dengan cara mereka masing masing. Akan tetapi sulit untuk membuatnya menjadi kenyataan. Namun entah ada keajaiban apa sampai Farel masuk sekolah.


Sesampainya di kantin yang sudah penuh mereka duduk satu meja dan memesan makanan. "Mumpung ada Farel disini gue traktir pesanan kalian. Tapi jangan yang mahal mahal, ya. Ini jatah gue sebulan!?" Ujar Angga pada mereka bertiga.


"Ya, elah Kalau pengen traktir sekalian kenapa?" Ujar Dimas.


"Lo tinggal makan gratis doang cerewet amat. Pesen aja yang enak tapi murah." Omel Angga. Masalahnya jika uang bulanannya habis, Ibunya tidak akan memberikan jatah lagi.


"Gitu doang pada berisik aja lo berdua, kalau gitu gue aja yang traktir. Nih duit'nya. udah, jangan ribut lagi." Ujar Rian melerai mereka berdua Sembari meletakkan duit seratus ribu di meja. Sekarang ini mereka adalah pusat perhatian seluruh mata dikantin.


Angga merasa tidak enak jika pada akhirnya Rian yang traktir. "Udah, nggak usah. Gue aja yang traktir!?" Ujar Rian yang juga meletakkan duit seratus ribu di meja.


Melihat Rian dan Angga yang, masing masing memberikan sumbangan untuk traktiran, Dimas merasa menjadi orang miskin. "Emang lo berdua aja yang bisa traktir? Gue juga bisa kali." Dia meletakkan uang dua ratus ribu di meja.


Karena hari ini cukup berangin akhirnya…


HWUSSSHHH


Uang mereka semua terbang terbawa angin dari angin yang baru saja berhenbus kencang.


"Eh? Eh duit gue terbang!?" Ujar Angga sembari mengejar uangnya yang terbang.


"Duit gue juga!?" Ujar Dimas yang menyusul mengejar uangnya yang terbawa angin.


"Seratus ribu gue!?" Rian berlari menyusul seratus ribunya.


Pada akhirnya mereka sibuk mengejar uang mereka yang terbang.


"Kenapa gue punya temen kayak mereka, ya?" Farel memalingkan wajahnya ketika melihat sikap konyol teman temannya.




To be contined