“Fagis”

“Fagis”
Gisela Kiana



Di dalam rumah yang terlihat sederhana terlihat seorang gadis sedang berjalan ke arah ruang tamu keluarga. Dengan memakai pakaian sehari hari dan rambut panjang yang diikat dia duduk diatas sofa abu abu. Dia terlihat sangat berantakan didalam rumah. Memakai kaos hitam dan celana kolor hitam biasa. Dalam kesehariannya dirumah gadis itu memang selalu berantakan.



...GISELA KIANA...


Gadis itu terlihat sangat bosan hari ini. Dia kemudian mengambil remot yang ada diatas meja kaca berwarna hitam. Nampaknya dia ingin menonton tv untuk mengusir kebosanan yang melanda dirinya. Ketika jempolnya memencet tombol merah pada remot hitam, tv pun tidak menyala. Di pencet berapa kalipun tv tetap tidak menyala. Dia mulai bertanya tanya apa yang terjadi?


"Jangan bilang mati lampu? Ah, gak mungkin. Masa iya mati lampu? orang lampunya nyala kok." gadis itu melihat lampu lampu disekitarnya yang memang menyala. Dia bangun dari duduk santainya dan berjalan menuju tv. Lalu menekan tombol hitam besar yang ada di tv. Namun tv masih tidak menyala. Dia terus memencet tombol tersebut akan tetapi belum juga menyala.


"Ya elah, apa yang salah ya?" gadis itu bernama Gisela Kiana. Gadis manis, baik, rajin, suka menabung dan bercita cita ingin menjadi pengangguran kaya. Karena itu dia suka menabung untuk hidup penganggurannya di masa depan.


Meskipun saat ini dia sedang frustasi karena tv tidak ingin menyala. Biasanya di jam siang begini dia sibuk bermain handphone. Tapi karena handphonenya rusak jadi harus diperbaiki. Karena itu hari ini dia sangat bosan karena handphone nya rusak dan sedang diperbaiki.


Untuk hobi dia suka membaca novel novel romantis dan action petualangan atau karya dari penulis luar negeri seperti Viktoria Aveyard, J.K Rowling, Ken Russell dan lain lain. Tapi semua buku novelnya sudah selesai semua dibacanya. Dan sekarang dia berencana untuk membeli novel kesukaannya yang akan tiba sore hari. Untuk menghabiskan waktu menunggu, Gisel akan menonton tv terlebih dahulu.


Gisel berdiri dan mengecek semua barang elektronik. Dia ingin memastikan apakah memang benar sedang mati lampu. Kakinya berjalan mengitari seluruh rumah untuk menyecek barang barang elektronik. Tapi semua barang itu menyala dengan baik dan tidak ada yang mati.


"Apa tvnya rusak, ya?" ujar Gisel.


Dia kemudian mencoba mencari ibunya untuk bertanya apakah tv itu sedang rusak atau tidak. "Bu, ibu!?" teriak Gisel memanggil ibunya.


"Iya, ibu lagi nyetrika!? kamu kesini aja!?" teriak dari kejauhan suara seorang wanita paruh baya.


Gisel berjalan ke arah suara itu berasal. Lalu memasuki rungan tempat ibunya sedang menyetrika baju baju ayahnya, "Bu, tv rusak ya? kok nggak bisa dinyalain?" tanya Gisel yang berdiri di ujung pintu.


"Ah, masa? nggak rusak, kok. Sebentar, ibu cek!?" ujar ibu Sri, nama ibunya Gisel. Dia segera mematikan setrika takut terjadi kebakaran. Lalu berjalan mendahului Gisel menuju ruang tamu.


Ibu Sri memeriksa tv yang Gisel bilang rusak. Dia menekan tombol hitan yang ada di tv dan menekan tombol merah yang ada diremot. Akan tetapi tv belum juga menyala. Tidak lama ibu Sri mengetahui apa penyebabnya. "Gisel gisel, gimana mau nyala colokan tv nya aja belum.di colokin." ujar ibu Sri menggeleng gelengkan kepalanya karena tingkah anaknya yang membuat pusing kepala. Kemudian ibu Sri mencolokkan colokan tv pada saklar. Tidak lama tv pun menyala sepenuhnya.


"Oh, pantes nggak nyala nyala. Belum dicolokin ternyata!? he he he he…" ujar Gisel sembari cengengesan.


***


Sore pukul 15:30 WIB


Dalam perjalanannya, dia menemukan seorang tua yang sedang dalam keadaan di copet. Wanita tua itu berteriak meminta tolong namun tidak ada siapapun disekitar jalan. Gisel langsung saja berlari ke arah wanita tua itu karena merasa kasihan padanya. "Ada apa nek?" tanya Gisel pada nenek tua itu.


"Tolong nenek nak, tas nenek di jambret!?" ujar nenek itu sambil menangis campur panik sembari menunjuk lurus arah jalan.


"Kalau begitu tunggu sebentar ya, nek!? Gisel bakalan kejar jambretnya dulu!?" Segera Gisel berlari kencang mengejar jambret yang mengambil tas nenek tua itu.


"Hati hati, nak!?" Teriak nenek tua itu sedikit khawatir.


Gisel berlari mengejar jambred yang kebetulan hanya satu orang dan sedang berlari. Untungnya Gisel pandai dalam pelajaran olahraga dan dia selalu juara satu kalau soal lari. Jadi hanya dalam sekejap dia berhasil mengejar jambret itu. Karena jarang mereka semakin dekat, Gisel berhenti dan melepas sepatu sebelah kanan. Lalu dilemparkannya sepatu itu ke tengkuk belakang lutut agar jambret itu terjatuh.


Lemparan Gisel kena telak dan jambret itu terjatuh ke bawah. Gisel tak ingin menyianyiakan kesempatan emas ini. Dia segera berlari menuju jambret yang sedang merintih kesakitan dan mengamankan jambret tersebut dengan mengunci tangannya. Untuk tasnya dia juga segera amankan. Tidak lama datang nenek tua yang tadi meminta tolong bersama beberapa orang. Segera jambret itu diamankan dan dibawa ke kantor polisi terdekat.


Gisel segera memberikan tas itu ke nenek tua yang meminta tolong, "Ini nek, tasnya!?" Ujar Gisel sembari menyerahkan tas berwarna hitam.


"Terima kasih, ya nak sudah membantu nenek. Ini ada rezeki buat kamu!?" Nenek tua itu menyidorkan sejumblah besar uang pada Gisel.


Akan tetapi Gisel menolak oemberian uang itu. Meskipun dia memang mata duitan, akan tetapi masalah membantu orang adalah kewajiban sesama manusia. "Nggak usah nek!? Gisel ikhlas kok bantu nenek. Lagian seru juga lari lari nangkep penjahat mirip polisi." Ujar Gisel sembari tertawa kecil.


"Kamu baik sekali, nak. Semoga kamu dapat jodoh yang baik juga nanti!?" Ujar nenek itu mendoakan.


"Amin!?"


Setelah membantu nenek tua Gisel melanjutkan perjalanannya menuju toko buku yang sudah terlewat beberapa rumah. Dan tepay setelah Gisel sampai ada trek yang biasa mengangkut buku buku novel. Sepertinya dia datang telat waktu. Karena dua orang staf keluar dengan membawa kardus kardus novel dari dalam trek.


Segera tanpa basa basi lagi Gisel segera masuk ke toko buku untuk mencari buku kesukaannya. Dan, benar saja. Disana sudah ada penjaga toko yang mengeluarkan beberapa buku novel yang dia sukai. Tanpa pikir panjang Gisel langsung mengambil satu untuk membelinya, mumpung ini adalah keluaran terbaru jadi harganya masih diskon.




To be contined