“Fagis”

“Fagis”
05. 'Lo' jadi 'kamu'



Setelah kejadian di kantin, Farel dan Kevin mendapatkan ceramah yang begitu panjang dari Pak Agung. Tentunya ceramah itu disertai dengan bentakan yang bisa membuat hati takut. Sebagai hukumannya, mereka dihukum untuk membersihkan seluruh sekolah termasuk toilet. Awalnya mereka sudah membantah dan menawarkan hukuman yang lain. Tapi Pak Agung malah mengatakan akan menambah hukuman mereka jika mereka menawar lagi. Setelah itu keduanya membersihkan seluruh sekolah dengan diawasi masing masing satu guru. Agar tidak seorangpun yang melarikan diri.


Agar cepat selesai, Pak agung membagi tugas mereka. Farel yang membersihkan sebagian sekolah, sedangkan Kevin membersihkan sebagiannya lagi. Mereka mulai membersihkan sekolah setelah bel pulang. Mereka masing masing balik ke kelas mereka sendiri.


Saat mereka keluar dari ruang BK , masing masing berbeda arah menuju kelas masing masing. Kevin menengok ke belakang untuk melihat Farel. Awalnya dia ingin memanggil Farel, namun niatnya langsung pudar ketika teman temannya sudah datang menjemputnya.


***


Bel masuk sudah berbunyi…


Mereka mulai masuk ke kelas mereka masing masing. Namun, ketika Gisel masuk ke kelasnya, dia dikejutkan dengan meja Farel yang sudah bersebelahan dengannya. Tentunya dengan Farel yang sudah menenggelamkan kepalanya di tangan yang menyilang. Dengan langkah yang ragu ragu Gisel berjalan menuju mejanya. Apa benar itu mejanya?


Satu persatu semua orang mulai memperhatikan mereka berdua yang menyatukan meja mereka. Dan mereka mulai berpikir, apakah mereka pacaran? Yah, jika mereka berpikir begitu sudah sewajarnya.


Gisel mencoba membangunkan Farel meskipun didalan hatinya takut. "Fa Farel, Farel bangun!?" Ujar Gisel pelan. Dia merasa malu dengan orang orang yang melihatnya penasaran. Namun Farel tak juga kunjung bangun, dia malah membalikkan wajahnya yang sudah babak belur ke samping Gisel. Melihat itu Gisel semakin tidak tega membangunkan Farel. 'Kenapa lo harus sekelas sama gue, sih?' Pikir Gisel dalam benaknya.


Tanpa pikir ulang Gisel hanya langsung duduk di kursinya meskipun harus mendapat tatapan dari orang orang. Tidak lama setelah itu Farel bangun dan melihat Gisel ada disampingnya. Dia tersenyum samar melihat Gisel duduk disebelahnya. Sekarang dia mulai berpikir, 'Gue bakalan terus deketin lo sampai lo jatuh cinta sama gue.' Farel terus memperhatikan Gisel, namun dia sadar jika gisel merasa terintimidasi. "Kamu kenapa?" Tanya Farel yang sudah menyanggah kepalanya menghadap Gisel.


Gisel sedikit terkejut mendengar Farel mengatakan 'Kamu' padanya. Biasanya Farel selalu mengatakan 'Lo' dengan nada yang garang. Tapi sekarang dia mengatakannya dengan suara yang lembut dan ramah. 'Sejak kapan dia jadi sopan kayak gini?' pikir Gisel dalam benarnya. "Emangnya lo nggak malu di lihatin sama orang orang?" Ujar Gisel pelan.


Setelah itu Farel langsung sadar akan semua mata yang tertuju padanya dan Gisel. Dia memutar kepalanya melihat semua orang yang melihatnya, Farel menatap mereka semua dengan bringas, "Apa liat liat? Mau gue tonjok satu satu lo semua?!" Ujar Farel garang dan dengan wajah yang menyeramkan. Ajaibnya semua siswa yang ada di kelas X IPA 2 memalingkan wajah mereka dan berpura pura mengobrol dengan yang lain, itu semua karena mereka takut mendapat tonjokan dari Farel. Mereka sendiri sudah melihat Farel bertengkar dengan Kakak kelas sebelas, Kevin. Setelah kejadian itu, nama Farel tersebar luas seperti listrik. Dan menjadi salah satu most wanted sekolah.


Farel kembali memandang Gisel dan kembali memperlihatkan senyuman ramah padanya, "Nah, sekarang nggak ada lagi yang lihatin kamu." sembari menyanggah kepalanya.


Untuk pertama kalinya Gisel melihat orang yang begitu aneh seperti Farel Malik Ardinata. Meskipun Farel dingin dan kasar pada orang lain, tapi sikapnya akan langsung berubah 180° jika berhadapan dengannya. Ini memberinya sebuah ide. "Fa Farel, lo mau nggak jangan duduk samping Gue? Kembali ke tempat duduk lo!?" Ujar Gisel.


Senyuman Farel langsung memudar ketika Gisel memintanya untuk pisah tempat duduk. Ada pikiran negatif yang terlintas pada kepalanya. Tapi itu semua ditahannya agar tidak keluar dan berakhir dengan ending. "Kalau aku nggak mau, gimana?" Tanya Farel dengan smirk diwajahnya.


Itu membuat Gisel kesal padanya, "Kenapa nggak mau?"


Farel mendekatkan kepalanya pada telinga Gisel dan berbisik padanya, "Karena kamu cuma milik aku!?" Setelah itu smirk kembali pada wajah tampan pemuda itu.


***


Dalam sebuah rumah besar bernuansa gaya eropa terlihat sebuah mobil hitam memasuki pekarangan rumah tersebut. Mobil itu berhenti di garansi mobil tempat banyaknya mobil diparkirkan. Kemudian tak lama keluar seorang pria berjas hitam disertai dasi biru yang sudah tidak rapi. Tampilannya terlihat masih muda meskipun sudah menginjak umur 42 tahun. Dia adalah Anwar Hardi Ardinata. Ayah dari Farel Malik Ardinata.


Anwar sepertinya baru pulang dari pekerjaannya di luar negeri. Dia memasuki Rumah besar yang selalu sepi. Namun sepertinya ini terlalu sepi dan tidak seperti biasanya. Dia melihat sofa hitam panjang yang ada di ruang tamu. Biasanya disana Farel tidur dan bolos sekolah seperti biasa. Namun kali ini di sana hanya menyisakan sofa hitam saja.


"Bibi!?" panggil Anwar pada Bi Yanti.


Tidak lama Bi Yanti datang menemui Anwar dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. "Ah, ya tuan? ada apa?" Tanya Bi Yanti. Dia sedikit terkejut dengan kedatangan Anwar dari luar negeri.


"Dimana anak itu?" Tanya Anwar merujuk pada Farel.


"Oh, Den Farel? Kalau Den Farel lagi sekolah, Tuan!?" Ujar Bi Yanti sedikit ada nada senang di sana. Tentu saja dia senang, sudah lama dia menasehati Farel untuk sekolah. Dan baru sekarang Farel benar benar sekolah meskipun dengan pakaian yang acak adul.


Anwar terkejut dengan pernyataan yang dikatakan Bi Yanti. Dia tidak menyangka jika Farel akan sekolah dengan suka rela seperti ini. Pasalnya dia pernah bertengkar besar sekali dengan Farel pasal sekolah. Bahkan pernah mencabut fasilitas pribadi seperti uang, mobil, dan lain lain. Tapi tetap saja pendiriannya kekeh dan tidak ingin sekolah. Akhirnya Anwar lepas tangan dan memberikan semua fasilitas itu kembali pada Farel. Meskipun dia tahu sebenarnya Farel anak yang jenius. "Sekolah? Sejak kapan?" Tanya Anwar lebih lanjut.


"Sejak sekarang, Tuan!?"


Anwar hanya diam setelah mendengar jawaban Bi Yanti. Tapi dia masih ragu apakah Farel memang sekolah atau tidak. Karena dia pernah menyuruh orang secara diam diam untuk mengawasi Farel, tentunya dia juga tidak ingin anaknya masuk ke dunia gelap. Meskipun sudah masuk, tapi jangan terlalu dalam. Setelah itu Anwar berjalan menaiki tangga untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Bi Yanti melihat Anwar yang menaiki tangga, dia menggelengkan kepalanya dan tersenyum sedikit. Itu karena sikap Ayah dan Anak ini sama sama tidak ada bedanya. Sama sama keras kepala dan dingin tapi perhatian satu sama lain. Hanya saja tidak ingin orang lain mengetahuinya. Bi Yanti pun kembali ke dapur untuk menyelesaikan tugasnya mencuci baju.




To be contined