“Fagis”

“Fagis”
Farel Malik Ardinata



Didalam kilauan jalanan malam berkumpul banyak orang, mereka sedang mengadakan balapan liar karena disana ada dua mobil mewah bergaya ferrari. Salah satunya adalah berwarna merah cerah dengan seorang pemuda tampan didalamnya. Namanya adalah Farel Malik Ardinata. Biasanya dia jarang mengikuti balapan liar seperti ini. Tapi karena dirumah sepi dan dia sangat bosan, jadi untuk menghilangkan kebosanannya itu dia mengikuti balapan Mobil yang kirananya ada tantangan sedikit.


Dirumah sangat sepi hanya ada bibi Yanti disana. Bibi Yanti adalah wanita paruh baya yang biasanya mengurus rumah atau bisa dibilang pembantu. Sedangkan keluarga Farel sendiri hanya ada ayahnya. Biasanya jam pulang ayahnya itu tengah malam karena ayahnya adalah seorang CEO diperusahaan besar. Terkadang, jika ada bisnis besar ayahnya akan kerja di luar kota untuk mengerjakan bisnis. Jadi jika rumah sepi itu adalah kesehariannya.


Karena ayahnya jarang pulang dan hanya terlihat sesekali, hubungan Farel dengan ayahnya sedikit kurang baik. Saat bertatap mukapun mereka hanya saling diam dan tidak akan ada yang bicara sebelum ada yang memulai pembicaraan. Ayahnya dingin begitupun dengan anaknya.




...FAREL MALIK ARDINATA...


Yang dia lakukan dirumah biasanya hanya bermain game atau berkumpul bersama teman. Bisa juga melakukan balapan liar seperti ini. Karena keluarganya sangat kaya jadi dia diajak oleh teman temannya untuk ikut dalam balapan. Farel yang sudah ada didalam mobil merah melirik lawannya yang mengendarai mobil ferrari kuning.


"Bosen banget gue, lawannya dia lagi - dia lagi!? Nggak ada yang lain apa?" guman Farel yang kala itu sedang dilanda kebosanan.


"Menangin ya Rel, lumayan duit sepuluh juta!?" ujar salah satu teman Farel bernama Angga Prawira. Dia adalah teman Farel sewaktu bangku SMP.


"Yoi, lumayan tuh buat mabok mabokan!? Menangin ya!?" ujar salah satu temannya juga yang bernama Dimas Ardan. Karena dia biasa mabok mabokan.


"Mabok terus pikirin, ulangan udah deket ini." ujar Rian Saputra salah satu siswa teladan. Dia juga salah satu teman Farel yang paling rajin.


"Gampang itu mah, urusan kecil. Tinggal nyontek juga jadi." Dimas yang biasanya selalu menyontek sudah menganggap itu biasa.


Tapi Rian yang tidak biasa menyontek itu tidak terbiasa. Karena biasanya dia akan belajar dengan rajin berharap bisa juara satu. Meskipun ujian masih dua minggu lagi. Dia mengikuti balapan liar ini karena teman temannya memaksa dirinya untuk pergi.


Sedangkan yang berada dalam mobil kuning adalah pria bernama Kevin. Dia sering sekali melakukan balapan liar seperti ini, bermabuk mabukan, Merokok, dan bermain wanita. Untungnya tidak mencoba narkoba. Satu hal lagi tentang Kevin, entah mengapa dia sangat membenci Farel yang menurutnya sangat sombong. Meskipun Farel jarang mengikuti balapan liar, akan tetapi dia sering mengalahkan Kevin.


Karena itu Kevin merasa tersaingi dengan adanya Farel yang ikut balapan kali ini. Mungkin itu memang kekanak kanakan, tapi mereka memang masih anak SMA. Jadi seperti itulah pemikiran anak anak muda. Kevin dengan mobil kuningnya menambah gas yang bersuara kencang. Begitupun dengan Farel yang menambah gas mobilnya.


"Lo nyerah aja deh!? karena kali ini gue yang bakalan menang, ya nggak?" tanya Kevin pada beberapa teman temannya yang ada dipinggir jalan.


"Yoi bro!? Kali ini lo pasti bakalan menang!?" ujar salah satu teman Kevin yang bernama Andre Chairil menyemangati Kevin.


"Ya elah, biasanya aja kalah mulu lo sama Farel." ceplos Bagas Affandi salah satu temannya Kevin yang tidak sengaja berkata jujur. Dia langsung mendapatkan pelototan dari Kevin. Dia tidak terima jika harus mendengar kenyataan yang pahit.


Dengan cepat Bagas langsung mencari alasan yang lain untuk menyelamatkan dirinya. "Ma maksud gue, pemenang itu berawal dari kekalahan bro!? itu maksudnya." ujar Bagas takut. Dia memang biasanya selalu berkata jujur atau tidak bisa bohong.


Farel tidak menghiraukan kata kata kekanakan dari Kevin. Dia lebih memilih melihat jalanan dari pada mendengarkan Kevin yang saat ini tengah geram dengan teman temannya.




...KEVIN BARON WIJAYA...


Ditengah tengah jalan berdiri seorang wanita cantik dengan tubuh yang seksi dan pakaian merah yang seksi pula. Wanita cantik itu berjalan ke depan dengan melenggak lenggokkan tubuhnya ala jalan model. Dia mengangkat tangan kanannya keatas yang memegang sapu tangan putih sembari menghitung mundur.


Mobil mobil itu saling salip menyalip karena ingin menjadi pemenang. Farel menarik tuas mobil menjadi kecepatan 234 KM/Jam. Mobilnya melaju dengan sangat cepat mendahului mobil Kevin.


Karena tidak ingin kalah, Kevin juga menambah kecepatan mobilnya menjadi 235 KM/Jam. Mobil mobil itu sangat cepat hingga terlihat seperti terbang.


Sedangkan mereka yang sedang menunggu kedatangan dua mobil itu terlihat tidak sabar untuk menunggu kedatangan dua orang itu. Mereka merasa deg deg'an akan balapan kali ini. Di pihak Farel, mereka yakin bila Farel akan menang. Karena biasanya juga begitu.


Dipihak Kevin juga merasa yakin jika mereka akan menang. Itu karena Kevin sudah membeli mobil baru dengan kecepatan maksimal 320 KM/Jam dari jerman. Jadi mereka sangat yakin akan kemenangan Kevin kali ini.


Kevin merasa sangat senang karena kali ini dia bisa mengalahkan Farel. Dia melihat mobil merah Farel melalui kaca spion, terlihat mobil Farel sudah semakin jauh dari mobilnya. Dia tersenyum puas dengan mobil baru yang dibelinya ini. Tidak sia sia dia mengeluarkan banyak uang untuk membeli mobil dengan harga selangit.


Tidak lama terlihat dari kejauhan para penonton yang sudah menunggu pemenang yang akan datang. Mereka bersorak kenvang ketika melihat ada salah satu mobil yang terlihat. Kevin sangat senang akan malam ini. Tetapi, kesenangan harus pupus karena tiba tiba saja ada mobil merah dengan kecepatan melebihi kecepatannya melaju kencang. Dia tidak percaya akan kemenangannya yang akan berakhir dengan kekalahan lagi.


Farel mendaratkan mobilnya dengan sangat mulus ketika para penonton bersorak riang. Dia menang. Tapi reaksinya biasa saja. Tidak ada yang istimewa baginya dari kemenangan. Tidak lama datang mobil berwarna kuning milik Kevin.


"Gak mungkin, kok bisa dia ngalahin gue? padahal kecepatan gue kan lebih tinggi dari dia. Tapi…" Kevin benar benar frustasi sekarang. Dia tidak tahu harus bersikap apa kali ini. Karena saat ini dia sedang sangat kesal.


Kedua pemenang keluar dari dalam mobil mereka masing masing. Mereka saling menjabat tangan sebagai tanda telh selesainya balapan. Tapi sepertinya Kevin ingin bertanya pada Farel, mengapa dia bisa menang. "Gue pengen nanya, kok lo bisa ngalahin gue?" tanya Kevin meskipun kesal.


"Kalau itu lo nya aja yang terlalu bego!?"ujar Farel pedas.


Itu semakin membuat amarah Kevin memuncak. Dia benar benar tidak suka dengan pria sombong didepannya.


"Ya iya Farel menang, kecepatan mobilnya kan 375 KM/jam!? Meskipun gue nggak tahu itu berapa sih." ujar Angga menjawab pertanyaan Kevin. Tapi itu berhasil membuat Kevin terkejut. Pantas jika Farel menang karena mecepatan mobilnya lebih cepat. Ini menjelaskan semua kenapa dia selalu kalah.


Setelah itu Farel dan teman temannya mendapatkan hadiah dari balapan mobil sebesar sepuluh juta rupiah tanpa dipotong pajak. Mereka membagi uang itu sama rata dengan yang lain dengan begitu semuanya beres. Farel juga tidak mempermasahkan itu karena dia sudah bosan dengan uang hadiahnya.


"Gue balik, ya? di sini terlalu berisik!?" ujar Farel yang ingin segera pulang. Karena dia tidak suka ke tempat yang ramai dikunjungi orang. Rasanya sesak jika semua orang berkumpul dalam satu tempat.


"Ya nggak asik lo mah. Ikut kita dulu!?" ajak Dimas memberi isyarat mata.


"Kalau mau mabok lo aja sendiri!? Gue balik." ujar Farel yang akan memasuki mobilnya.


Dimas segera mendekati Farel yang berada didalam mobil. Terlihat dia sedang memakai sabuk pengaman. Dia meletakkan tangan kirinya diatas mobil merah dan menundukkan kepanya sedikit untuk melihat Farel. "Rel, ikut aja!? sekali kali lo minum bareng!? Lo kan nggak pernah nyobain." ajak Dimas sekali lagi. Tapi Farel mengacuhkannya.


"Kalau dia nggak mau jangan dipaksa!? Dosa lo." ujar Rian pada akhirnya. Dia geram pada Dimas yang terus terusan memaksa Farel. Untungnya saja Farel tidak suka dengan hal hal yang berbau menyengat atau mabuk. Meskipun dia brandal tapi dia tahu batas batas wajar seorang siswa.


"Diem yang nggak pernah ikut!?" ujar Dimas.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Farel segera manancap gas dan melesat pergi dengan mobil ferrari merah. Dia pulang ke rumahnya meskipun disana nantinya tidak ada siapa siapa dan hanya ada bibi Yanti yang biasa mengurus dirinya dari kecil.




To be contined