
Setelah bertemu dengan gadis yang mengantar ulangan harian ke rumahnya, Farel selalu memikirkan wanita itu. Gadis manis itu berhasil menarik perhatiannya dan membuat rasa penasarannya muncul. Di teras kamarnya yang luas dia berbaring dan melihat langit malam yang berbintang. Khusus untuk malam ini dia tidak bisa tidur ataupun menghilangkan gadis itu dari pikirannya. Entah apa yang terjadi padanya malam ini. Akan tetapi bayang bayang gadis itu selalu muncul.
Tidak lama handpjone nya berbunyi nyaring dan membuyarkan lamunan Farel. Dia mengambil handphone nya dan mengangkat panggilan tersebut. "Hallo?!" ujar Farel pada si penelpon.
"(Eh, Rel!? lo nganggur kan? Mending lo sini mabar. Dari pada gabut terus. Lagi rame nih di rumah gue.)" Dari suaranya itu terdengar seperti Angga.
"Bosen, ntar juga lo kalah lagi." Ujar Farel malas.
"(Tadi itu penghinaan, ya? Maen dulu, siapa tahu ntar ada keajaiban gue ngalahin lo.)" Ujar Angga sedikit terhina. Dia tahu jika kata kata Farel memang selalu kasar, tapi dia tahu jika Farel tidak bermaksud menghina atau mencela. Karena dia sudah memahami bagaimana sifat Farel.
"Nggak." Ujar Farel final.
"(Ya udah, gue tutup ya?)" Sepertinya Angga akan segera menutup telepon. Karena mengetahui jika Farel tidak akan ke rumahnya.
Ketika Angga akan memutuskan telepon, Farel seperti agak panik. "Eh, tunggu tunggu!?" Farel menghentikan Angga yang akan memutuskan telepon.
Dari sebrang telepon, Angga merasa heran mengapa Farel menghentikannya menutup telepon. "(Kenapa? berubah pikiran?)" Ujar Angga menggoda Farel.
"Nggak, gue cuma pengen nanya. Lo tahu nggak sama cewek sekelas yang mukanya manis?" Tanya Farel. Karena Angga sering masuk sekolah mungkin saja dia tahu tentang gadis yang tadi siang datang ke rumahnya.
"(Cewek yang mukanya manis? kalau itu sih banyak di kelas.)" Ujar Angga dari sebrang telepon.
"Yang paling manis deh, ada?" Farel mengganti pertanyaannya, dia benar benar ingin mengetahui siapa nama gadis tersebut.
"(Yang paling manis…)" Sepertinya saat ini Angga sedang berpikir siapa yang paling manis di kelas X IPA 2 karena Angga sekelas dengan Farel. "(Setahu gue yang paling manis ada satu orang.)" Ujar Angga yang sepertinya sudah menemukan gadis yang Farel cari.
Farel langsung membelalakkan matanya ketika mendengar Angga tahu siapa gadis itu. Dia merasa tidak sabar akan mendengar namanya.
"(Kalau nggak salah namanya___ tuuut tuuut tuuut)" Bukannya mendengar nama gadis tersebut, sambungan telepon malah mati. Itu berhasil membuat Farel kesal. Hampir saja dia membanting handphone nya sendiri.
"Anjir, kenapa pake mati si?" Gerutu Farel kesal.
Di sisi lain…
[Mohon maaf, pulsa anda tidak mencukupi. Dimohon melakukan pengisian ulang pulsa. Atau hubungi……] Suara seluler handphone Angga. Sepertinya dia lupa mengisi ulang pulsanya. "Yah, pulsa gue abis!?" Angga menyimpan handphone nya ke samping meja kaca.
"Abis? HP doang bagus, pulsa nggak ada!?" Ujar Dimas yang masih bermain game.
***
Pagi hari yang cerah dengan matahari yang sudah mulai terasa panas. Terlihat ada dua orang gadis sedang duduk di teras depan kelas X. Mereka tak lain adalah Gisel dan Anggi yang sedang berbincang bincang ringan.
"Gimana lo soal kemarin? Baik baik aja, kan?" Tanya Anggi yang masih khawatir tentang Gisel soal kemarin.
"Ya, nggak gimana gimana gue disuruh ke rumahnya murid yang nggak pernah masuk. Abis itu udah selesai!?"
"Udah gitu doang? Yah, percuma gue khawatir."
Gissel tersenyum kecil melihat Anggi yang sedikit kesal tapi senang. Memang aneh, tapi dia tahu jika sahabatnya itu memang tulus mengkhawatirkan dirinya. "Tapi…" Gisel sengaja menggantung ucapannya agar Anggi penasaran.
"Tapi kenapa?" Dan itu berhasil membuat Anggi penasaran.
"Pas gue kesana, rumahnya gede banget mirip istana!? Terus…" Gisel menceritakan pengalamannya ke rumah orang kaya. Tapi dia tidak menceritakan tentang ada yang mengawasinya. Untungnya setelah dia keluar dari rumah besar itu, dia tidak merasa seperti ada yang mengawasi lagi.
Tidak lama Bel masuk berbunyi menandakan waktu masuk sekolah. Mereka melerai pembicaraan mereka dan berpisah pergi ke kelas masing masing. Anggi yang sudah sampai dikelasnya masuk ke kelas. Sedangkan Gisel sendiri masih harus naik tangga untuk menuju ke kelasnya.
Gisel berjalan menelusuri lorong sekolah, tiba tiba ada seseorang yang menarik tangannya masuk ke dalam gang kelas. Terlihat seorang pria tampan didepannya yang sedang mengunci dirinya dengan kedua tangan putih besarnya. Gisel baru pertama kali melihat pria itu sekitar sekolah. Dia tidak tahu kenapa pria itu tiba tiba menariknya seperti ini. Apalagi yang menariknya seorang pria tampan. Gisel jadi sedikit canggung.
"Ma maaf Kak, bisa lepas nggak? Soalnya aku mau masuk ke kelas!?" ujar Gisel sopan. Dia takut jika yang dihadapinya ini adalah kakak kelas yang memiliki banyak penggemar wanita. Bisa bisa Gisel jadi korban bully oleh mereka.
"Menikah, yuk!?" Ujar pria itu. Dia mengatakan kata menikah dengan sangat mudah.
"Hah? lo gila, ya?" Sopan santun Gisel langsung hilang setelah mendengar kata 'Menikah' . Dia belum menggapai cita citanya, tapi pria itu mengatakan nikah dengan sangat mudah. Apa dia pikir pernikahan itu hanya untuk main main? Ini tidak bisa dibiarkan. "Gue nggak mau menikah sama orang yang nggak gue kenal!?" Ujar Gisel tegas. Untuk masalah ini dia harus galak meskipun itu pada pria brengsek didepannya sekarang.
"Nama gue Farel, Farel Malik Ardinata……sekarang, lo mau nikah?" tanya Farel balik.
"Penghulu? Emang nikah perlu penghulu?" Tanya Farel tidak mengerti.
"Ya iyalah, dimana mana nikah itu pake penghulu. Kalau nikah nggak pake penghulu itu namanya bukan nikah, tapi pacaran!?" Jelas Gisel pada Farel. Seketika dia langsung menyadari kalau Farel benar benar tidak tahu apa arti dari pernikahan. "Tunggu, jangan jangan yang lo maksud itu pacaran?" Gisel kaget ketika mengetahui Farel benar benar tidak tahu apa arti dari menikah.
Terlihat Farel sedang memikirkan apa bedanya menikah dan pacaran. Karena Farel melepas kedua tangannya dari dinding. Gisel akhirnya terlepas dari penjara tangan Farel. Tanpa pikir panjang, dia langsung lari meninggalkan Farel yang sedang lengah. Dia berlari sekencang yang dia bisa tanpa melihat ke belakang. Dia akui, menghadapi pria brengsek seperti yang baru dia temui membuatnya jantungan dan takut. Ketika kelasnya terlihat Gisel tampak senang. Karena dia pikir dia akan selamat jika ia masuk ke kelas.
BRAK
Dibukanya pintu itu dengan keras dan menyita banyak pasang mata yang melihat Gisel. Di meja guru, duduk Bu Susan yang mengajar matematika. Bu Susan sedang mengabsen para murud. Sepertinya Bu Susan baru saja datang.
"Se selamat pagi, Bu?!" Sapa Gisel sedikit malu. Ada banyak yang menahan tawa karena dirinya yang masuk dengan badas.
"Kenapa, Sel? Kok kayak habis dikejar setan?" Tanya Bu Susan ramah. Bu Susan memang terkenal sangat ramah dalam mengajar maupun diluar pembelajaran. Dia juga orang yang sangat baik hingga tak jarang ada yang banyak suka diajari oleh Bu Susan. Meskipun itu pelajaran terumit seperti matematika.
"Ng nggak apa apa kok, Bu!?" Gisel membalas senyuman Bu susan padanya. "Permisi, Bu!?" Dia memasuki ruangan dan duduk ditempat duduknya.
Setelah itu Bu Susan kembali mengabsen nama nama murid yang hadir.
"Angga Prawira?
"Hadir."
-
"Bayu……?"
"Hadir."
-
"Chika……?"
"Hadir."
-
"Dedy……?"
"Hadir."
-
"Evan……?"
"Hadir."
-
"Farel Malik Ardinata?"
………
Tidak ada jawaban yang diharapkan. "Apa Farel tidak masuk lagi?" Tanya Bu Susan pada siswa yang lain. Namun mereka malah saling melihat satu sama lain. "Kalau begitu…"
"Hadir,…… Bu!?" Tidak lama terlihat seorang pria tampan nan tinggi dengan memakai seragam yang acak acakan seperti tidak berniat sekolah. Pria itu berdiri di ambang pintu dengan sikap yang dingin.
To be contined