Y.R.U

Y.R.U
Imagine Me without You ( Miki Muyi)



Kepergian Carla,Bobby,dan juga Carroline meninggalkan Marvel dan Darren yang masih tampak menjaga jarak satu sama lain. Marvel diliputi perasaan tak suka ketika sahabatnya itu berusaha menggoda Carla. Seorang gadis berkulit putih bermata hitam khas asia dengan bibir tipis dan hidung sedang itu adalah sosok calon istri yang sedang ia usahakan untuk dimenangkan hatinya. Darren yang sedari tadi ia tatap,justru tampak tak bergeming begitu santainya berjalan disampingnya.


" Ren. Please jangan ganggu Carla lagi."


Darren mengentikan langkahnya seketika.


" Gue..gue suka sama dia."


Sudah bukan hal yang mengejutkan bagi Darren ketika mendengar Marvel mengatakan mencintai Carla. Ia telah sadar akan hal itu sejak awal Marvel menyadari kehadiran sosok wanitanya didalam keramaian Mall. Tampang yang begitu antusias bergegas menuju gadis yang tengah berbincang dengan lelaki berbaju pink di depan sebuah toko fashion tadi, sudah cukup menjelaskan bagaimana situasinya.


" Jawab Ren. Kenapa diam? "


" Vel. Sorry, tapi gue harus bilang kalau dia pacar gue."


Marvel tampak terkejut mendengar kalimat yang dilontarkan Darren. Namun,tiba tiba saja ia menggelakkan tawa nya sembari menepuk nepuk pundak Darren.


" Pacar apanya? gak mungkin lah. Dia bilang sendiri single selama 2 tahun ini kerja di perusahaan gue. Ren,gue janji bakal cariin lu cewe yang lebih cantik dari Carla."


Tatapan Darren terlihat begitu dingin. Tangannya perlahan ia gunakan untuk melepas tepukan tangan Marvel di pundaknya.


" Gue sangat amat menghargai lu sebagai sahabat gue selama ini. Lu ngebantu gue lepas dari masalah keluarga gue setiap kali gue butuh bantuan lu. Gue bakal balas apapun itu untuk lu. Tapi untuk satu hal saja gue gabisa nyerah sama lu. Carla itu punya gue dan sampai kapan pun cuma dia yang mau gue jadiin pendamping gue. Vel,gue harap lu gaakan ngebenci gue karena ini." Kesungguhan ucapan Darren begitu tak terlihat singkron dengan wajah datar yang ia pasang ketika mengatakannya.


Marvel tau temannya itu tidak akan pernah mengatakan sesuatu dengan serius ketika raut wajahnya diikuti dengan ekspresi kebahagiaan. Selama dia mengenal sosok Darren yang menginjakkan kakinya di Perancis 3 tahun lalu. Ia tahu Darren telah berusaha mengubur segala perasaannya,menjadikannya sosok gila kerja yang tak kenal lelah. Rumor yang mengatakannya sebagai seorang penggila wanita hanyalah bualan belaka baginya agar tak banyak gadis gadis yang berani memalingkan muka kearahnya. Sayangnya,sampai detik ini masih begitu banyak wanita bodoh yang memilih untuk takluk dengan apapun tabiat Darren. Sehingga Darren mulai memberi tunjuk yang sebenarnya bahwa kini ia benar benar akan mempermainkan wanita.


" Vel,apapun keputusan yang lu buat setelah ini. Gue berharap itu adalah yang terbaik.Gue duluan. Thanks udah ngajak gue keluar hari ini." Darren membalikkan badan berjalan menuju arah berlawanan dari sebelumnya.


" Kita bersaing secara adil." ujar Marvel yang seketikan menghentikan langkah Darren.


Darren membalikkan badan menghadap Marvel kembali. Ia mendengus tersenyum mendengar jawaban Marvel. Kedua kakinya ia langkahkan kembali berjalan menuju Marvel.


" Deal." jawab Darren yang membuat raut tegang di wajah Marvel kembali normal.


" Tapi, gue masih butuh penjelasan lu yang rasional tentang kebenaran kalo Carla adalah pacar lu. Secara gadis itu sendiri yang mengatakan kalau dia memang masih single." pinta Marvel.


" Gue bakal jelasin ke elu secepatnya. Cuma sekarang gue harus menemui seseorang. Pesannya membuatku ingin segera mengganti nomor ponsel."


" Dia lagi? tante Larissa masih belum menyerah ternyata." Marvel terkekeh.


" Ck."


Sedikit lagi. Sedikit lagi aku akan mendapatkan hasil usahaku selama ini. pikir Darren dalam hatinya.


Darren kembali berbalik berjalan kearah pintu utama Mall setelah mendapatkan izin Marvel untuk pergi. Sebelumnya ia telah mengatakan pada Marvel bahwa ia akan berkunjung ke kantor miliknya. Tentu saja karena gadis nya bekerja disana. Ia bersukur gadisnya bekerja di perusahaan milik Marvel,setidaknya Marvel adalah teman yang paling ia percaya. Tidak ada lagi sosok teman bagi Darren selama di Perancis selain Marvel. Pembawaannya yang begitu sopan mampu menggerakkan hati mamanya yang bahkan dia sendiri telah memutuskan untuk lepas tangan terhadap sosok wanita yang telah mengandungnya itu. Ia sudah muak dengan segala peraturan otoriter mamanya.


 


\# \# \#


 


" Mama tidak setuju!" ucap wanita yang tampak begitu anggun mengenakan setelan dress putih brokat tanpa lengan yang dipadankan dengan silver pumped heels. Dibalik wajah keriput yang tampak terawat itu, ia memamerkan sorot mata tajam kearah seorang laki laki dan perempuan yang begitu erat merapatkan gandengan tangan mereka.


" Kau mau mempermalukan kelurga kita Darren?"


" Mempermalukan keluarga adalah pantangan dalam hidupku ma."


" Lalu kenapa kau bawa wanita dari keluarga tak berpendidikan sepertinya. Itu sama saja memalukan." Jari telunjuk wanita paruh baya itu menunjuk kearah wanita yang tampak sedang menundukan kepalanya bersembunyi dibalik lengan lelaki didepannya.


" Carla tidak lebih memalukan dari mama yang selalu memandang seseorang berdasarkan status sosial mereka."


" CUKUP!" Lelaki paruh baya yang sedari tadi tampak duduk disamping wanita yang dipanggil mama itu mulai menegakkan diri.


" Bawa Carla pulang." Ujarnya lagi.


" Pa, kau juga berpikiran sama dengan mama?"


" Darren cukup! bawa dia pulang sekarang."


Hening. Tak ada satu pun yang berkata lagi kemudian. Segera setelah melihat sutuasi yang hening itu, darren menarik tangan gadis disampingnya, mengajaknya keluar.


" Maaf membuatmu takut." laki laki bermata hitam kelabu itu terlihat begitu merasa bersalahnya. Ia memegang kedua pipi gadis di hadapannya. Menatap tatapan nanar gadis itu lekat lekat.


" Jika mereka tidak merestui maka untuk apa lagi aku mengaharap res.."


" Ren." gadis itu tampak menggelengkan kepalanya. Ia mengusap air matanya sendiri.menarik nafas dalam dalam dan kembali melontarkan senyuman.


" Jangan. Jangan lakukan apapun sebelum kita mendapat restu." pintanya.


" Jangan pernah menyuruhku untuk terus bersabar kepada mereka sayang."


" Gak. Aku tidak mau menikah denganmu sebelum mereka memberi restu. Maaf,aku tadi begitu lemah dihadapan mereka. Tidak seharusnya aku begitu. Ayo,kita coba lagi bersama sama."


Tak tahan sudah rasanya lelaki itu untuk tak mendaratkan bibirnya kearah bibir wanita dihadapannya. Ia mulai memberikan kecupan sebelum ahirnya meneruskannya menjadi panggutan cumbuan lembut yang menenangkan. Begitu lembut hingga tak sadar jika gadis yang di dekapnya itu mulai kehilangan nafasnya.


"..Rhh..en"


Segera lelaki itu melepaskannya sembari menatap gadisnya yang masih tampak bernafas cepat mencari udara. Tangannya kembali ia tempelkan dikedua pipi gadis itu. Memaksa empunya memandang wajahnya lekat lakat.


" Aku akan lakukan apapun yang kamu minta."


Setelah mengatakan itu mereka berpelukan sangat lama. Sebelum ahirnya menyadari bahwa pelukan itu akan menjadi pertemuan terakhir sebelum sunyi.


 


\# \# \#


 


Helaan nafas Darren terdengar begitu putus asa dalam tenangnya jalanan raya kota Perancis yang tampak begitu lenggang.


Note : sampe sini..please gimme pendapat kalian tentang cerita ini. Aku hampir malas buat lanjutin hehehe...