
*Run*
"Ketika penantian mu tak memiliki sedikitpun harapan.
Maka tidakkah salah jika memilih untuk meninggalkan?"
. . . .
Keheningan mendominasi keadaan saat ini. Ramainya pengunjung cafe bukan lagi penghalang privasi bagi orang kaya seperti Marvel untuk memesan ruangan khusus demi mereka berlima berkumpul. Ruangan ini terasa kedap akan segalanya dengan suhu ruangan yang dibuat begitu dingin.
Carla bertanya tanya tentang apa alasan takdir membuatnya berada dalam situasi dimana ia harus bertemu dengan seseorang yang paling tidak diharapkan kehadirannya. Terlebih jika ia harus duduk disamping nya seperti sekarang. Ia ingin sekali mengutuk kedua sahabatnya yang memilih duduk mendampingi Marvel di hadapannya. Sudah ia usahakan untuk menggeser kursi duduknya demi menjaga jarak sengan Darren disampingnya. Ia bahkan mengatur pandangannya sedemikian rupa agar tak perlu bertatapan dengan sosok laki laki disampingnya itu.
" Ekhem." dehaman Marvel memecah keheningan yang telah berlangsung selama beberapa menit lamanya.
" Jadi alasan saya mengajak kalian disini adalah untuk mengenalkan seseorang yang penting kepada kalian."
Tidak ada respon dari Carla,bobby,maupun Carroline. Mereka sudah tau siapa yang dimaksut oleh Marvel dalam ucapannya.
" Orang yang duduk disamping carla saat ini namanya Darren."
Aku tau itu. batin carla sembari mengambil segelas air putih demi meredakan rasa dahaga yang mendadak menyerang saat mendengar nama Darren disebut.
"Dia pemilik dari Medindustria Company yang sedang menjalin kerjasama dengan perusahaan kita."
"Uhuk uhuk .." Ungkapan Marvel seketika membuat carla tersedak. Ia bahkan hampir menumpahkan air yang baru saja ia minum saat sebuah tangan menyentuh wajahnya. Memaksanya menoleh seketika.
" You okay ?" tanya darren dengan raut wajah yang terlihat sedikit cemas.
Carla tak bergeming. Ia merasakan detakan jantung yang mulai kembali tak beraturan. Mereka berdua tampak saling memandang satu sama lain tak memperdulikan tatapan tak suka dari Marvel serta bisikan bisikan lirih antara bobby dan carroline. Kesadaran carla kembali setelah merasakan usapan lembut jari jari tangan Darren di pipinya. Ia segera menepis tangan itu dan berdiri seketika dari kursi yang ia duduki.
Marvel ikut menegakkan diri, ia mendekati Carla sembari mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku celananya.
" Are you ok?"
" Sir... saya minta izin untuk pergi ke toilet ".
Marvel baru akan membantu mengusap air yang tumpah di sweater milik carla sebelum orang yang dituju itu dengan tergesa gesanya berjalan dan keluar dari ruangan. Darren dan Marvel saling bertatapan.
\*
Carla segera menyandarkan dirinya dibalik pintu salah satu kamar toilet. Ia terlihat menarik nafas dalam dalam berulang kali. Tangannya terasa begitu dingin.
Bodoh! Ini lebih buruk dari sekedar nervous saat perform diatas panggung AGT!! begitu pikirinya. Tuhan tidak pernah salah dalam segala ciptaan yang ia kehendaki. Namun,untuk darren yang diciptakan begitu sempurna , carla merasa itu adalah sebuah ketidakadilan baginya. Merasa lemah saat menghadapi tatapan sepasang mata indah milik darren adalah sebuah kekalahan talak baginya yang telah berusaha keras menekan segalanya selama dua tahun ini.
Kenyataan yang tidak diketahui siapapun adalah fakta bahwa darren ialah lelaki pertama yang menjadi kekasihnya, sebelum ahirnya ia memutuskan memberi label Mantan bagi Darren karena telah hilang dari peradabannya selama dua Tahun lebih. Parahnya, kini lelaki itu muncul begitu saja dihadapannya kembali.
..........
Ingar bingar suara langkah kaki seseorang mulai terdengar begitu ramai. Carla yang sadar akan keberadaannya yang terlalu lama di dalam toilet akan membuat pengunjung lainnya merasa geram. Segera ia merapikan pakiannya, menarik tisu yang tergulung rapi dan mengusap usap bagian yang basah di sweater yang ia kenakan. Ia segera melangkah keluar kamar toilet setelahnya, berjalan kearah wastafel dan merapikan penampilanya yang sebelumnya terlihat sedikit berantakan. Memastikan segalanya tampak normal kembali,ia memutuskan untuk melangkah keluar.
Carla masih baru saja berusaha menyiapkan dirinya ketika hampir sampai dihadapan pintu ruangan dimana keempat orang orang itu menunggunya.
Ia memekik ketakutan saat tangan seseorang membekap mulutnya dan menariknya masuk di sudut paling ujung ruangan yang tampak dijadikan tempat penyimpanan seperti gudang. Mata carla mengisyaratkan rasa terkejut ketika menatap sorot mata dingin dihadapannya.
" Bisakah kau diam dan bicara dengan ku sebentar ?" tanya Darren sebelum ahirnya melepaskan bungkaman tangannya setelah carla memberinya anggukan sebagai respon.
" Sudah berapa lama kau berada di Perancis ?"
Darren sedikit terkejut dengan perubahan sikap Carla yang begitu berbeda dengan yang pernah ia temui dulu.
" Itu tentu urusanku. Kau kekasihku." ucapan daren ini membuat carla sontak memberikan tatapan tajam kearahnya.
" Dibagian mananya kau kekasihku? " tanya carla yang membuat Daren terdiam .
" Berapa lama kau pergi tanpa memberi kabar apapun untuk ku ? dan sekarang, kau datang dengan tidak membawa rasa malu mengakui dirimu sebagai kekasihku." Mata gadis itu tampak berkaca kaca .
" Aku." tak dapat mengelak perkataan Carla. Ia tau bahwa ia salah telah meninggalkan gadis itu tanpa memberi kabar sedikitpun. Pantas jika Carla berlaku berbeda terhadapnya kali ini.
" Ren,aku sudah menganggapmu sebagai masa lalu bagiku. Jadi, mulai saat ini kita bersikap seperti tak pernah ada apapun di antara kita."
" Kau tau apa yang baru saja kau katakan? " tanya darren dengan suara yang begitu parau. Ia mengangkat dagu carla,membuat sang empu mendongakkan kepala menatapnya.
" Aku belum memutuskan apapun sebelumnya." Keegoisan Darren kembali mendominasi. Sikap Carla yang berubah seharusnya tak menghalangi perubahan sikap bagi dirinya juga.
" Bukan kau,tapi aku." jawab carla tegas. Ia mendorong tubuh darren dan bermaksut berjalan kembali kedalam ruangan.
" Marvel! kau menyukainya? "
Carla menghentikan langkah kakinya, membalikkan badan dan menatap darren geram.
" Kau sama sekali tidak berhak mencampuri apapun yang berkaitan dengan ku."
Tangan kanan darren tampak mengepal mendengar ucapan carla. Cukup jika gadis itu ingin merubah caranya mengahdapinya makan ia juga akan bertindak hal yang sama.
Carla yang melihatnya mulai merasa ketakutan. Ia memundurkan langkahnya ketika melihat darren berjalan cepat kearahnya.
Sudah sangat terlambat bagi carla untuk melarikan diri dari laki laki yang langkahnya selalu lebih cepat dari wanita.
Darren menarik carla, menghimpitnya ke dinding dan mengunci jalan keluar dengan sebelah tangannya.
" Apa yang kau lakukan. Lepaskan aku ." Carla mulai memberontak berusaha melapaskan diri.
Tubuh darren tak bergeming, ia malah semakin menahan pundak carla agar berhenti bergerak. Ia berjongkok dihadapan carla. Tangan kanannya mulai menyentuh paha carla, semakin naik berusaha membuka sweater yang carla kenakan.
" Rennn!! kau, apa yang kau lakukan! hentikan." tangan carla berusaha menahan aksi darren yang mulai tak karuan.
Masih fokus dengan hal yang ingin dia lakukan, darren tetap tak bergeming.
" Aaaaaaa.. mmmpphh " Darren kembali membungkam mulut yang hampir membuat perhatian orang orang diluar sana.
" Aku tidak keberatan untuk tertangkap sedang seperti ini denganmu.. tapi aku tidak tau jika Kau juga ingin mempertontonkan keadaanmu yang seperti ini kepada orang lain " ucap darren santai. Ia kembali melanjutkan aksinya menyingkap sweater yang dikenakan carla.
Terlihat jelas sebuah tatto kecil bertuliskan kata 'Keenan'
di sisi perut bagian bawah sebalah kiri. Darren tersenyum puas begitu melihat ukiran namanya masih tertulis jelas di bagian tubuh gadis itu. Kedua tangannya kini telah ia gunakan untuk menahan pinggang carla.
" Cukup!!! lepaskan aku!" pinta carla ketika sudah merasa tak nyaman dengan tatapan darren kearah tatto kecil di bagian perutnya itu. Ia memekik ketika merasakan sepasang bibir mengecup tatto miliknya.
" KAU!!! AP..AHH..hhmmpff. " Sontak ia bungkam mulutnya sendir dengan kedua tangannya ketika darren mulai kembali mendaratkan bibirnya pada tatto dibagian perutnya. Tubuhnya begitu merasa tak nyaman saat merasakan ciuman itu berubah menjadi hisapan yang meninggalkan bekas merah tepat ditengah tatto miliknya. Darren masih berjongkok dihadapan carla,membelai hasil karya yang dibuatnya.
" Kau ..gilaa." ucap carla .
" Berhentilah berfikir kita telah berahir.. karena sepandai apapun kau bertingkah, perasaanmu tidak akan pernah bisa berdusta." ucap darren sebelum ahirnya bangkit dan beranjak meninggalkan sosok carla yang masih berdiri mematung.
KURANG AJAR KAU DARREN KEENANNN!!!!! Geram carla dalam batinnya.