Y.R.U

Y.R.U
. R .



Rough


Kali ini aku sungguh ingin meminta maaf denganmu Tuhan. Bukan maksudku menyekutukanMu. Tapi kali ini rasanya aku ini layaknya besi. Tak memiliki hati dan nurani,hanya terpaku pada diri. Sosok menenangkan hati memiliki daya tarik sendiri. Menjadi magnet padangan paling abadi.


 


¤


 


Pagi pagi sekali, Darren sudah dengan rapi nya mengenakan setelan kemeja biru navy yang bagian lengannya ia gulung hingga siku. Aroma ringan parfum CK One yang ia kenakan itu menguar menambah kesan modern dan stylish. Terpampang sudah sosok laki laki yang kini masih merapikan rambutnya di depan kaca itu bukanlah orang biasa.


Memastikan seluruh penampilannya telah sempurna,ia lantas mengambil jas putih kebanggannya. Membawanya ikut serta keluar kamarnya. Ia menuruni tangga rumahnya yang begitu megah dengan design klasik rumah bangsa eropa pada umumnya.Ini adalah rumah dimana ia dan keluarganya tinggal.


" Sayang? kau sudah sangat rapi sekali pagi pagi begini." ucap seorang wanita paruh baya yang masih tampak begitu cantik dan anggun.


" Aku mau kekantor marvel ma."


" Kantor Marvel? untuk apa?"


" Aku menjalin kerjasama dengan perusahaannya beberapa hari lalu dan aku belum mengeceknya sama sekali."


" Ah baiklah kalau begitu. Makanlah dulu, papamu sudah meninggu di ruang makan."


" Tidak ma. Aku akan langsung pergi sekarang."


" Kenapa tidak makan dulu? "


" Aku akan makan dengan Marvel."


" Terserah kau saja kalau begitu. Sampaikan salam mama pada Marvel."


Darren hanya mengangguk sekali tanpa mengucap sepatah katapun. Ia berjalan cepat menuju garasi tempat jejeran mobil mewah terparkir dengan rapinya. Ia memutuskan untuk membawa Aston martin one-77 silver miliknya. Sebuah mobil sport mewah dua pintu yang hanya diproduksi terbatas. Sangat sinkron dengan sosok menawan darren yang tak memiliki celah sedikitpun pada rupanya. Tak salah jika Darren layak di perebutkan ribuan gadis pencari sendok emas. Jangankan mereka yang memiliki kedudukan,tentu saja gadis biasa pun tak akan pernah menerima suapan untuk berbohong mengatakan bahwa Darren tak menarik. Itu terlihat begitu jauh dari kenyataan yang ada.


Jalanan masih tampak begitu lancar sejauh ini. Pagi hari merupakan alternatif terbaik jika kalian tidak ingin telat mendatangi sebuah kondisi penting. Hal yang sudah seharusnya diketahui oleh para pengusaha seperti dirinya. Ia mengendari mobil nya dengan laju yang begitu santai. Alunan musik bergenre EDM terdengar begitu bersemangat. Membuat laki laki itu ikut melantunkan bait bait lirik dalam musiknya.


....


Semilir angin pagi menerpa nya begitu ia melangkahkan kaki keluar dari dalam mobil. Ia menarik nafas panjang panjang,menghirup udara segar pagi hari di area parkir luas yang masih tampak begitu sepi dengan hanya beberapa barisan mobil yang terparkir.


Marvel harus lebih memperhatikan tingkat kerajinan para pegawai di perusahaannya. begitu pikirnya.


" S..sir..Darren?"


Darren sontak menoleh menoleh mendengar nada seseorang memanggil namanya. Seorang laki laki dengan setelan gaya casual itu terlihat begitu gugup.


" Morning sir." ucapnya kembali yang kali ini dengan membungkukan sedikit badannya bermasud memberi hormat.


" Ohh...iya..teman Carla?"


" Iya sir. saya bobby."


" Kau sudah ku katakan kita ini sama sama lelaki. panggil aku Ren."


" Nggh, Mr.Ren?" ia menatap Darren meminta persetujuan. Darren tersenyum mengangguk.


" Jangan sungkan. Bosmu kan Marvel,kenapa harus begitu formal padaku."


" Thank you." masih terlihat begitu gugup,bobby mengikuti Darren yang telah mulai melangkahkan kakinya. Mereka berdua berjalan lambat berdampingan menuju kedalam kantor.


" Kau sangat rajin. Aku hampir ingin mengkritik Marvel tentang kedisiplinan waktu bagi para pekerjanya."


Bobby menelan ludahnya sendiri. Ia berfikir bahwa Darren telah salah sangka tentang seluruh karyawan disini. Jika memang ada orang paling tidak rajin maka orang itu adalah Carla yang merupakan mantan kekasih yang masih dikejarnya. Sungguh sangat disayangkan.


" Kau bekerja dalam bidang apa?"


" Saya adalah Manager personal perusahaan."


Darren mengangguk.


" Sudah berapa lama kau kerja disini?"


" Saya sudah bekerja selama 4 tahun disini."


" Lalu....Carla?"


Langkah bobby terhenti seketika ketika mereka telah sampai di depan pintu masuk kantor. Darren yang mengetahui akan hal itu ikut menghentikan langkahnya. Ia baru saja akan berfikir bahwa bobby sedang merasa aneh ketika mendengarnya bertanya tentang sahabatnya secara tiba tiba. Namun,dari sudut arah yang lumayan jauh terlihat sebuah mobil audi putih melesat masuk kearah parkiran. Darren masih tak ingin bergeming dari tempatnya,mengikuti bobby yang sedari tadi tampak merapalkan kata kata yang tak ia mngerti tujuannya. Penasaran ahirnya membuat Darren memutuskan untuk menunggu siapa orang dibalik mobil itu.


Tak memakan waktu lama ahirnya tibalah dimana pintu mobil itu terbuka menampilkan sosok wanita berparas mempesona. Bibir Darren sedikit terbuka menatap sosok gadis dibalik mobil putih yang baru saja ia lihat itu. Dress scuba biru tua yang gadis itu kenakan memperjelas bentuk lukuk tubuhnya yang disertai langkah kaki yang begitu indah. Gadis itu masih tak menyadari adanya keberadaan Bobby dan dirinya. Semakin mendekat ia berjalan kearahnya dengan tangan yang sedari tadi tampak sibuk mengotak atik isi tasnya. Darren sudah menahan diri untuk tak segera berlari menghampiri. Namun,sepertinya Tuhan sedang berusaha memberinya kesempatan untuk unjuk diri. Karena tak selang beberapa lama kesibukan gadis itu terhadap tasnya membuatnya ahirnya lepas kendali terhadap fokus matanya.


Gadis itu menabraknya dengan tak sengaja.


Bruk!


" Ma..maaf."


Ucapan gadis itu sebelum ahirnya lidahnya terasa kelu saat mendongakkan kepalanya menatap wajah Darren yang tengah mendekap kedua pundaknya saat ini. Dengan cepat gadis itu menjauhkan diri darinya.


Ya Tuhan,katakan padaku bagaimana kau menjadikan gadis lugu itu menjadi sosok wanita penggoda seperti ini. Begitu pikir Darren. Mereka berdua masih tampak terpaku satu sama lain. Waktu seakan telah berhenti diantara mereka. Tangan kiri Darren tanpa sadar mulai kembali bergerak menyusuri garis pipi gadis dihadapannya yang terasa begitu dingin karena sapuan embun dipagi hari. Ia menggerakkan tangannya begitu hati hati seakan takut melukai. Sementara gadis dihadapannya seperti terhipnotis sehingga tak sedikitpun memberikan penolakan akan perlakuan tangan Darren yang seakan berusaha mempelajari tekstur wajahnya.


Bobby yang melihat situasi ini pun seperti tak memiliki tenaga untuk bergerak pada situasi saat ini. Ia begitu terkejut menatap sahabatnya itu kini malah terdiam begitu saja saat bertemu langsung dengan seseorang yang baru saja ia ketahui identitasnya. Ini adalah kejadian yang harus ia amati. Tapi,posisi Darren yang tampak mengitimidasi suasana membuatnya ingin segera pergi dari lokasi saat ini. Memang wajah Darren tak menunjukkan adanya kekesalan sama sekali justru sebaliknya Darren terlihat begitu kagum menatap gadis dihadapannya yang merupakan sahabatnya sendiri. Sepintas ia berfikir mungkin ini adalah akibat ia telah terlalu lama absen beribadah. Sial.


Semakin dekat wajah Darren mendekat kearah gadis itu. Memfokuskan pandangannya kesatu titik arah yaitu bibir tipis yang tampak begitu manis terlihat.