
Beberapa menit yang lalu.
Carla melangkahkan kakinya cepat menuju meja tamu di depan meja kerja milik Marvel. Ia meletakkan cangkir kopi itu disana. Terkikik sesaat membayangkan apa yang akan terjadi saat Darren meminumnya nanti.
" Sepertinya kau sedang bahagia."
Carla terperanjak dari tempatnya berbalik seketika saat mendengar suara bisikan familiar di telinganya.
" Ren!" ia membelalakan mata ketika menatap sepasang mata hitam kelabu itu dihadapannya.
" Kau..sejak kapan?"
" Aku yang seharusnya tanya begitu. Aku hanya beranjak sebentar meminjam kamar mandi Marvel dan kemudian melihatmu didalam ruangan ini saat aku keluar."
" Marv. eugh..Mr.marvel kemana?"
" Mengambil dokumen yang tertinggal di mobilnya."
" Kalau begitu aku akan langsung keluar." Darren memeluknya dari belakang. Menarik tubuh Carla menepi di sudut kiri pintu.
" Ren! lepaskan aku." Carla meronta berusaha melepaskan tangan Darren.
" Cctv." Carla merasa kegelian di telinganya begitu Darren membisikan kata di telinganya kembali.
" Jangan bergerak." Lanjutnya.
" Lepaskan aku!"
Kepala Darren menulusuri lekuk leher Carla dari belakang. Menghirup aroma feminim parfum dibaliknya. Firasat buruk Carla sudah diketahui sekarang. Inilah hal buruk itu.
" Hentikan,kau.. dikantor orang lain sangat tidak sopan!"
" Kau benar. Bagaimana jika dikantorku? atau rumah sakitku lebih tepatnya."
" Jangan Harap!"
" laboratorium ku bagaimana?"
" Kau ini sedang membicarakan apa! cepat lepaskan aku! Marvel akan segera datang."
" Aku merindukanmu." Bibir tipis itu ahirnya mendarat memberikan kecupan diatas pundak Carla. Membuat kemarahan gadis itu bertambah disela rasa meremang yang melanda seketika. Ia semakin meronta meminta dirinya agar dilepaskan.
" Kau ingin tertangkap radius kamera CCTV Marvel?"
Deg!
ucapan itu membuat Carla terdiam seketika. Ia bahkan lupa akan adanya CCTV di dalam ruangan Marvel. Akan sangat memalukan jika Marvel melihatnya seperti ini.
" Apa maumu?"
" Besok, aku menunggumu di rumah sakit Mediinst" Bisik Darren kembali.
" Apa?!"
" Aku menunggumu disana."
" Aku tidak akan datang!"
" Maka aku tidak akan melepaskanmu."
" Ren! ini bukan saatnya bercanda."
" Aku tidak pernah bercanda."
" Aku ingin berbicara denganmu."
" Tidak ada yang ingin kukatakan denganmu. Jangan memaksaku."
" Arabelle.."
Carla kembali bergidik mendengar panggilan familiar itu. Sudah lama tak ada seseorang yang menyerukan panggilan nama belakangnya itu.
" Tuan Keenan yang terhormat. Aku harap anda tau sopan santun saat memanggil nama seseorang." Tangannya kembali ia gunakan untuk melepaskan pelukan Darren.
" Aku bisa jelaskan segalanya kepadamu dikantorku."
" Sekali lagi aku katakan padamu aku tidak ingin dan tidak perduli dengan apapun Ren. Kita sudah berahir sejak dua tahun yang lalu."
" Tidak!" Darren semakin mengeratkan pelukannya seolah tak ingin gadis di dekapannya itu pergi.
Kedua sejoli itu masih tampak beradu pendirian masing masing di tempatnya. Tak ada yang mengalah satu sama lain hingga terdengar langkah kaki familiar mulai mendekat berjalan kearah ruangan. Suara Marvel mulai terdengar samar tengah berbicara dengan seseorang diluar sana.
" Rennn! Marvel akan masuk. Lepaskan aku!" Carla mulai begitu panik dibuatnya.
" Katakan ya untuk datang ke kantorku besok."
" Tidak." Darren semakin tak bergeming. Ia malah menyerukkan wajahnya kembali dileher Carla. Membuat sang empunya menahan gelenyar rasa geli dilehernya.
" Aku, aku akan menemuimu setelah pesta." ucap Carla ahirnya. Ia telah menyerah akan Darren yang tabiatnya keras kepala.
Mendengar ucapan Carla,lelaki itu segera menegakkan badannya. Ia melonggarkan pelukannya,membalikkan tubuh Carla agar menghadap kearahnya. Carla seketika terpana menatap sepasang mata indah itu kembali di hadapannya. Secara fisik,postur gagah Darren bukanlah satu satunya kelebihan yang ia miliki. Wajahnya adalah harta yang sangat berharga. Segalanya tampak berkarisma dengan hidung tinggi tegas,dagu persegi,dan bibir tipis. Tak heran jika selama menjalin hubungan dengan Darren dulu ia tetap bukanlah satu satunya wanita yang tunduk akan pesonanya. Sangat amat dusta jika berkata bahwa ia tak sedang merindukan sosok dihadapannya itu. Andai saja jika saat itu Darren lebih terbuka padanya dengan mengatakan alasan dia untuk pergi dan tetap memberi kabar kepadanya. Hal seperti sekarang ini mungkin akan menjadi kebahagiaan bagi Carla. Ia akan langsung mendekap tubuh itu dan merasakan kembali kehangatan didalamnya. Sayangnya hal itu kini telah menjadi pantangan dalam hidup Carla saat ini,yang jika dilanggar akan kembali mendatangkan bencana pada kehidupannya.
" Katakan dimana kau tinggal? aku akan menjemputmu saat pesta."
" Tidak. Terimakasih." Carla hendak baru saja akan melangkahkan kakinya kabur keluar ruangan saat tangan Darren dengan cekatan kembali menggapai lengan tangannya. Suara Marvel telah berhenti berbicara dan langkahnya terdengar kembali.
" Ren." Raut wajah Carla terlihat begitu cemas.
Darren menarik tubuh Carla kembali mendekapnya. Memberinya kecupan singkat pada bibirnya secara tiba tiba. Membuat Carla terkejut karenanya. Darren mengakui bahwa dirinya sudah tak dapat menahan diri kembali saat menatap bibir mungil kemerahan dihadapannya. Gadis itu begitu menawan dengan segala yang ia miliki. Tidak saat dulu ketika ia masih menjadi gadis lugu yang manja ataupun sekarang yang telah berkamuflase menjadi sosok gadis pesolek yang mampu memikat banyak kaum adam yang menemuinya.
" Pegang janjimu. Jangan bawa mobilmu saat pesta karena kau akan kembali denganku setelahnya." Darren melepaskan Carla setelah mengatakannya.
Tanpa fikir panjang Carla segera membuka pintu keluar ruangan. Kembali dibuat terkejut akan sosok Marvel yang ternyata telah berada di depan pintu.
" Carla?"
" S..sir." Carla memberi senyum kikuk kepada Marvel.
" Ada apa?"
" Saya hanya mengantarkan kopi untuk Dar..nghh..Mr.Darren."
Raut wajah Marvel kembali berubah.
" Baiklah. Terimakasih telah membuatkannya kopi. Kembalilah bekerja." Marvel memberikan senyum kepadanya sembari melangkah kembali memasuki ruangannya.
" Hufftt." Carla mengehela nafas setelahnya. Untung saja ia keluar tepat pada waktunya. Jika ia terlambat sedikit saja maka habislah image baik yang telah ia bangun selama bekerja di tempat ini.
Carla segera kembali duduk di meja kerja miliknya. Fikirannya kembali mengawang memikirkan ucapannya mengajak Darren menemuinya setelah pesta.
Bodoh Carla! kau sungguh sangat bodoh. rutuk dirinya kesal dalam hati. Ia segera membuka laci meja kerja nya mencari tisu basah didalamnya. Segera ia mengambil selembar tisu basah itu dan mengusap usap bibirnya dan membuang tisu ke kotak sampah mini dibawahnya. Kotor sekali jika ia dengan sukarelanya menerima ciuman dari bibir lelaki tak tau diri seperti Darren Keenan.
Dengan enggan ia mulai kembali fokus pada pekerjaannya. Layar komputer miliknya tampak begitu penuh dengan grafik grafik rumit yang harus segera ia selesaikan. Melihat hal itu Carla kembali mendengus. Pandangannya yang fokus terhadap pekerjaannya itu tak sinkron dengan pikirannya yang sedang terbang mengawang. Sejak bertemu Darren pertama kali di toko buku itu. Ia sudah menyadari bahwa akan ada badai dalam hidupnya. Tuhan tampaknya sedang kembali memberinya ujian hidup yang mau tidak mau harus ia terima dengan lapang dada.
Apapun yang terjadi,baik atau buruknya keadaan yang ia temui. Ia sudah membualatkan tekadnya untuk tak kembali menjadi perempuan lugu yang hanya mampu menangis dan memohon agar keinginnnya tercapai. Ia sudah begitu susah payah mencapai pencapaiannya saat ini.