
*Yellow Heart*
***Katakan,ada hal buruk dari sebuah ingatan. Terkadang takdir tidak selalu berbaik hati untuk mengingatkan segala sesuatu yang terlewati.Namun,ia juga menyakiti hati ketika berusaha mengembalikan ingatan buruk yang telah pergi***.
¤
Sudah hampir 3 tahun Carla menjalani kehidupannya seperti biasa, seolah lupa akan segala masa lalu yang ia lalui. Ia tak mengerti bagaimana bisa dengan lancarnya ia menceritakan segala kejadian yang terjadi antara dia dan Darren kepada Bobby dan Carroline kemarin. Segalanya bahkan masih melekat dalam benaknya saat ini. Tidak, Ia tak ingin mengingat segala hal buruk itu. Hal yang begitu memuakkan, mengapa harus ia ingat. Ia mengacak acak rambutnya frustasi diatas tempat tidurnya. Hari ini adalah hari terakhir liburan baginya. Ia bahkan tak merasakan liburan yang berarti selama 3 hari ini. Marvel sangat tidak baik memilih hari libur untuknya. Sudah jam 9 pagi, namun ia tampak masih enggan bangkit dari tampatnya berbaring. Ia hanya mengecek pesan pesan di sosmed miliknya. Pesan grub miliknya dan kedua sahabatnya itu sudah jelas tak pernah absen memberi notifikasi.
BOsaCArlaCA Squad
Bobby (6:30) : Morning Gurls..
Carrol (6:45) : Morgen
Bobby (6:47) : Only you? satu orang lagi pasti masih lelap.
Carrol (6:49) : La? @Carla
Carrol (6:50) : Sangat rajin untuk seorang gadis lajang.
Bobby (7:00) : Lajang yang masih jadi kekasih pewaris MC. Gosh..
Carrol (7:05) : La, mending buruan bangun deh liat temen penghianat yang jadi supporter Darren daripada sahabatnya sendiri.
Bobby (7:07) : My arrol. Gausah munafak deh. Apa pendapat lu tentang Mr.Ren kemarin? gagah? karakter final fantasy? hot? apa yes?
Carrol (7:08) : Thats normal!
Bobby (7:15) : Euhhh.
Carrol (7:20) : Bye.Mau mandi. Erick ngajak aku renang.
Bobby (7:22) : Go away! Mr.Marvel ngasih gue tugas shit.
Carrol (7:35) : Fighting *Kiss
Bobby (7:37) : Thank you buat akting menghinanya.
Carla terkekeh membaca pesan grub nya satu persatu. Grub itu awalnya dibuat berdasarkan keinginan Carroline yang memiliki ide membuat forum chatting seputar pekerjaan. Awalnya memang begitu. Namun,seiring berjalannya waktu grub itu berubah menjadi forum gossip bebas. Carla sedikit merasa malu karena kebiasaannya bangun itu terkadang membuat mereka kesal. Ia adalah yang paling susah bangun diantara dua yang lain. Terkadang saat ada hal penting di kantor dan ia telat bangun. Maka kedua sahabatnya itulah yang akan menspam misscall dan pesan melalui grub maupun kontak pribadi. Sama sekali tak menyesal ia bertemu orang seperti Bobby dan Carroline.
Carla (9:06) : Morning Darls..
Bobby (9:08) : Chat lu ngagetin kegitan bakar lemak gue tau ga sih. gue lagi enak enak dengerin musik juga.
Carla (9:09) : wkwkwkwk....lagi apa sih belagu amat jam segini juga.udah siang.
Bobbt (9:10) : Lu tau siang tapi lu masih dengan ga sungkannya ngucap Morning.
Carla tertawa seketika.
Carla (9:12) : Yaudah deh...selamat bakar lemak honey.
Ia menekan tombol send dan kembali meletakkan ponsel setelahnya. Ia bangkit dari ranjangnya dan berjalan kearah cermin di sebelah meja rias miliknya. Ia mematut diri dihadapan cermin yang memperlihatkan sosok polos dirinya dalam balutan lingerie tidur. Rambutnya sedikit berantakan,namun masih tak terlihat buruk dengan wajahnya yang tampak begitu fresh. Ia menyadari dirinya yang memiliki wajah yang tidak bisa diabaikan. Tapi kehidupannya memaksa untuk melupakan fungsi wajahnya dan lebih fokus mengasah fungsi otaknya. Jangan katakan bahwa wanita cantik adalah sumber kebahagiaan. Itu hanya sebuah pemikiran kolot jaman sebelum revolusi. Baginya cantik paras adalah pembawa mala petaka.
Kursi rias di depannya ia tarik dan kemudian ia duduki. kembali menatap cermin dengan tatapan yang entah kemana tujuannya. Ia mulai mengingat ucapan Bobby dan Carroline yang selalu berkata kisahnya adalah sebuah kisah romantis yang belum memiliki ending. Jika iya, maka sudah tidak ada lagi keikutsertaan takdir membawa Darren bertemu lagi dengannya. Jika difikirkan lagi itu sedikit konyol. Bobby dan Carroline mungkin tidak tahu jika takdir sedang berusaha menguji pencapaiannya dalam karir saat ini ketimbang memberi kepastian hubungan antara dia dengan masa lalunya. Terlepas dari apa tujuan takdir kali ini. Carla hanya telah memutuskan bahwa tidak akan menyerah pada apapun. Segala kebahagiaan yang ia dapatkan kali ini tidak akan dengan mudahnya ia serahkan begitu saja pada keputusan takdir.
Deringan nada memanggil itu ia loudspeaker agar terdengar. Ponselnya ia letakkan persis didepannya yang ia sangga dengan penyangga yang ada dibalik case ponselnya. Kali ini ia hendak menelfon seseorang yang sangat ia rindukan.
" Carla sayang... apa kabar kamu nak?" sapa seorang wanita paruh baya dibalik telfon dengan ekspresi yang tampak senang melihat wajahnya.
" Ibu. Aku baik baik saja.. ibu bagaimana? ayah mana?"
" Yahhh...sini. ini anakmu telfon."
Beberapa saat kemudian seseorang lelaki paruh baya ikut serta muncul dalam layar ponselnya.
"Ayah.."
" Laa...sehat nak? kamu baik baik aja kan disana?"
Suara berat sosok lelaki paruh baya itu terdengar begitu serak. Carla terlihat begitu berkaca kaca menatap kedua orang tuanya yang telah ia tinggal selama ini.
" Carla baik baik aja yah. Ayah sama ibu jangan sampai kecapean. Banyak banyak istirahat. Kalau ada apa apa langsung telfon aku oke?"
" Bagaimana bisa ibu dan ayahmu ini lelah. Kau sudah memberikan bibi ann dan su untuk menjaga kita berdua dan juga adik adikmu. Justru kita yang cemas kau akan bekerja terlalu keras disana.Lupa makan dan tidak rutin istirahat." ujar ayahnya.
" Ayah tidak lihat sekarang badanku semakin berisi?"
" Iya kau memang tampak lebih baik disana."
" Nah..jadi sekarang jangan terlalu mencemaskan ku oke. Aku juga rajin makan. Ini buktinya." Ia mengangkat piring sandwichnya.
" Makanlah segera. Waktu nya sudah hampir jam siang ini."
" Iyaaa bu."
Ibunya tampak tersenyum.
" Oiya, dimana Denata dan Hanna? Aku rindu mereka juga"
" Denata sedang keluar sekarang. Butiknya sedang sangat ramai. Hanna, dia juga ikut membantu denata di butik. Mereka sangat berusaha keras mengurus butik. Terkadang Hanna juga akan menggantikan denata mengurus resto milikmu. Jangan khawatir, akan ibu suruh mereka untuk segera menghubungimu saat mereka pulang nanti." ucap ibunya
" Iya ibu. Oh iya, aku akan usahakan untuk segera pulang ke Indonesia 3 bulan lagi."
" Hati hati nak."
"Iya ayah."
"Bu Salmaaa." Terdengar sama samar suara seseorang memanggil nama ibunya.
"Eh...siapa bu?"
" Entah... ibu kesana dulu ya...kamu ngobrol sama ayahmu."
Ucap wanita paruh baya itu sembari menyerahkan telfon kepada lelaki disampingnya.
" Kamu sehat sehat ya nak disana. Hati hati..jangan sampai ada apa apa. Kita jauh ..bagaimana ayah bisa menolongmu nanti."
" Ayah...siapa yang berani mengganggu anakmu ini. Aku ini kuat." Ia terkekeh berusaha menenangkan raut wajah cemas ayahnya.
" Kamu sudah sangat dewasa."
" Ayah..ada pak herman." Teriakan suara ibunya itu kembali terdengar.Membuat ayahnya segera berpamitan mematikan sambungan telfon.
Carla tersenyum. Ia begitu lega melihat kedua kelurganya baik baik saja. Lagi lagi kerinduan akan begitu terasa kuat setelah kita hanyak mampu mendengar dan memandang wajah seseorang yang kita tinggalkan dalam keadaan yang tak nyata.
Ibu,ayah. Aku telah bertemu Darren. Pikirnya dalam hati yang kemungkinan akan ia pendam sendiri. Tidak lagi ia akan membuat kedua orang tuanya menangisi kesedihannya.