
\# \# \#
Rahang sosok seorang lelaki bermata hitam kelabu itu mulai mengeras. Ia membanting pintu keluar mobil begitu selesai memasuki sebuah gerbang rumah megah yang berada di kawasan Bougival, Paris. Langkah kaki nya seperti telah menjadi tanda tersendiri bagi belasan pelayan di dalam rumah itu untuk segera melakukan sesuatu sehingga dengan tepat nya pintu rumah itu terbuka seketika sebelum lelaki itu sampai tepat di depan pintu.
"Selamat datang tuan." sapa seorang wanita berbalut dress pelayan yang tampak ala pakaian adat negara Perancis.
Dengan acuh lelaki itu berjalan terus melewati pelayan itu menuju kamar pribadi miliknya. Kamar itu tampak begitu luas, di dominasi oleh warna gelap yang elegan disertai paduan aroma lavender yang menyeruak memberikan kesan nyata seperti layaknya suasana malam hari di tengah rimbunan taman bunga lavender. Kehadiran walk-in closet semakin menambah kesan mewah di dalamnya. Tambahan dekorasi sederhana dengan dua lukisan besar yang di cover oleh background warna putih menjadi kombinasi yang tepat saat tersorot sinar lampu gantung diatasnya.
Saat ini laki laki itu tengah berdiri tegak menatap langit merah sendu dibalik jendela kaca besar yang terletak dibagian depan tempat tidur miliknya. Tangan kanannya yang mengepal di topangkan pada kaca jendela, sorot matanya mulai tampak kosong.
" Mata hazel bulat itu." gumamnya di ikuti helaan nafas berat yang begitu memburu. Sejujurnya segala yang ia tampakkan saat ini cukup membuktikan bahwa jika bukan karena hormon testosteron dalam sosok maskulin berkulit putih itu, maka air mata akan begitu mudah keluar dari sela sela kelopak mata dingin berwarna hitam kelabu di wajahnya. " Aku Merindukanmu." lanjutnya sebelum ahirnya ia membalikkan badan dan menjatuhkan tubuh diatas ranjang di belakangnya, menatap langit langit kamar pribadi miliknya.
Ponsel dalam saku celananya mulai bergetar. Dengan malas ia meraih ponsel di dalam saku celana yang ia kenakan, menggeser simbol telefon berwarna hijau dan mulai mendengarkan sapaan akrab dari suara dibaliknya.
" Hai Tuan Darren Keenan yang terhormat. Mohon maaf atas kelancangan saya mengganggu anda",
" Ccihh,ada perlu apa? "
" Duhh dingin banget lu jawab telfon gue. Padahal gue sedang berusaha berbaik hati mau ngajak lu pergi besok. Itung itung kan lu udah setahun pergi dari perancis dan balik balik malah harus sibuk ngurus perusahaan."
Darren terkekeh mendengar celotehan suara di balik telfon itu. " Vel..please. Gue ga lagi telfon sama mangsa gue kan? nada bicara lu barusan bikin gue merinding sekaligus geli. yang tadi itu mirip sama rayuan dari deretan menu makan malam gue. "
" Sialan lu. Gue serius ini,mau ga?" Tanya seseorang dibalik telfon itu kembali.
" Pergi lah. Langsung ketemu aja di lokasi. Chat gue dimana lokasi nya. "
" Oke. Besok siangan gue bakal chat lu pas udah mau berangkat."
" Hmm,see ya brother ." Klik!
Buru buru darren menekan tombol end di ponselnya. Seseorang yang menelfonnya tadi adalah sahabat dekat nya selama di Perancis. belum berselang lama dari ketika ia mematikan telefon nya tadi . Tiba tiba layar ponselnya menyala memperlihatkan sebuah tanda pesan masuk dari aplikasi CheChat miliknya.
From : Marvel Nicolas.
Shit! Sialan lu langsung matiin gitu aja telfon gue.
Darren mendengus sesaat sebelum ahirnya memutuskan untuk membalas pesan itu.
To : Marvel Nicolas
Sorry... gue lagi agak gaenak badan. Gue bakal traktir lu besok.
Ditekannya tombol 'SEND' yang ahirnya membuat notif tulisan 'Read' tertera disamping pesan yang baru saja dibaca orang yang di tujunya. Balasan kembali tertera hanya dalam selang waktu 10 detik.
From : Marvel Nicolas
DEAL
Setelah membaca pesan itu, kembali darren melemparkan ponsel nya asal, membiarkan keheningan kembali mendominasi ruangannya.
\# \# \#
" Tidak mungkin itu benar benar dia kan... aku ... aku pasti salah lihat. " ucapanku mulai terdengar begitu rancu. Aku berusaha menormalkan perasaan ku dengan menyalakan music favoritku..namun semua itu sia sia. Hal yang kulalui tadi siang itu sudah terlalu nyata untuk dianggap sebagai sebuah ketidak mungkinan. Aku tidak pernah keberatan untuk bertemu siapapun yang ku kenal dari masa lalu ku saat aku masih berkelut dengan pekerjaanku di Surabaya. Tetapi untuk urusan laki laki itu, aku bahkan sudah menganggap bahwa ia hanyalah sosok yang aku pernah temui dalam mimpi, dan itu tidak nyata adanya di dunia ini. Setidaknya itu yang sudah kutanamkan didalam ruang otakku selama dua tahun ini sebelum ahirnya otakku mulai menolak kenyataan bahwa dia... kembali.
Aku berusaha menahan genangan air yang sudah berkumpul dan tampak berusaha menjatukan diri melalui sudut mataku.
Buru buru kuseka sebelum mereka ahirnya benar benar terjatuh,karena itu akan menjadi hal memalukan bagiku. Tidak untuk sekarang dan selamanya! Darren Keenan. Aku tidak akan membiarkanmu kembali merusak masa depanku seperti apa yang telah kau perbuat padaku dua tahun yang lalu.
Aku berusaha membangkitkan diriku dari atas kasur dan menegakkannya tepat didepan cermin yang memantulkan refleksi diriku saat ini. Aku tersenyum dan membenarkan riasan mataku yang mulai berantakan. Merasa puas setelah melihat wajahku yang sudah kembali normal, kuputuskan untuk mulai menyibukkan diri di dapur mini kamarku. Aku masih baru saja ingin mengambil keju dan roti untuk membuat roti bakar kesukaanku sebelum tiba tiba bel kamarku berbunyi.
TingTong!
Siapa datang bertamu jam segini?
Aku membuka pintu kamarku dan terkejut ketika melihat sosok lelaki yang ku kagumi itu berdiri tepat di hadapanku dengan menenteng sesuatu di tangannya.
" Sir Marvel ..??! ada apa ?" Tanyaku bingung.
" Steak? aku mau memberimu ini " jawabnya sembari menyodorkan bungkusan bertuliskan 'Art of the taste' . Dia tahu cafe favoritku kah?
" Buat saya sir? "
" Buat siapa lagi? ngomong ngomong kamu gamau saya masuk kedalam ya?"
" E...ehh.. Yes sir... silahkan masuk." ucapku merasa bersalah. Aku ingin sekali mengutuk diriku yang bodoh ini.
Marvel melangkah masuk kedalam kamarku. Aku menutup pintu dan menyusulnya.
" woah...kamarmu sangat rapi." ujarnya.
Aku hanya tertawa kaku mendengarnya. " Maaf sir,aku belum membersihkannya lagi."
"Yang begini kamu bilang masih belum bersih? kau bahkan merapikan kamarmu lebih baik daripada pelayan dirumahku. Eh... ini ambil lah." Ia menarik tangan kanan ku sembari mengoper bingkisan itu di tanganku.
" Ini..anda tidak perlu repot repot seperti ini kan ?"
" Apanya yang repot? aku hanya membeli lebih dan tidak tau akan aku bawa kemana jadi aku ingat padamu dan langsung kemari "Jelasnya .
" Thank you sir,silahkan duduk. Saya akan menaruh ini di piring agar anda juga dapat makan bersama saya " ekhh... aku mengatakan hal yang benar kan? ini tidak seperti aku ingin ditemani makan kan?. Aku kalut dengan fikiran fikiran aneh yang berkeliaran diatas kepalaku.
" Tidak perlu...aku akan langsung pergi.. kau hati hatilah. Aku hanya mau mengantarkan itu saja. " ucap marvel menghentikan lamunanku.
" Oh.. begitu... ngghhh kalau begitu mari saya antar sampai bawah sir ." aku sudah berjalan kearah pintu dan membukanya di ikuti marvel yang tiba tiba memegang pundakku dari belakang menghentikan langkahku seketika.
"Carla." aku merinding seketika mendengar suaranya yang begitu dekat di telingaku.
" Cukup antar aku sampai sini, dan segera tutup pintu kamarmu."
" E .tapi sir." aku terkejut ketika spontan menolehkan wajahku kebelakang menghadap wajahnya yang begitu dekat dengan wajahku. Kita bertatapan untuk beberapa saat. Ia mendekatkan wajahnya dan dengan cepat aku menjauhkan diriku darinya.
" Sorry sir !" ucapku lantang yang dibalas kekehan darinya. Ia mengacak rambutku sebelum ahirnya pamit dan pergi masuk lift di lorong tempat dimana kamarku berada.
Aku menutup pintu rapat dan menyandarkan badanku dibaliknya.
" Apa yang salah dengan hari ini sebenarnyaaa." ucap bibirku lirih dibalik bungkaman kedua telapak tanganku.