
* Unpredict *
Carla tampak tak berkutik di tempatnya. Menatap sebuah bibir yang kian mendekat kearahnya. Fikirannya sedang berdebat memikirkan apa yang sebenarnya harus ia lakukan saat ini. Egonya meminta untuk tetap diam dan menantikan hal apa yang akan terjadi selanjutnya,bertentangan dengan akal sehatnya. Seluruh udara mendadak menjadi begitu hampa dan senyap seperti ruangan tak berproperti. Dia ingat bahwa beberapa menit yang lalu ia masih begitu semangat masuk kerja setelah liburan buruknya itu. Namun,ia justru mengantarkan dirinya pada hari buruk tahap selanjutnya.
" Cukup untuk menggoda sekertarisku dipagi hari seperti ini."
Tangan seseorang tiba tiba memeluk pinggang Carla dan menariknya menjauhi Darren.
" Sir."
Carla tampak begitu terkejut.
" Ayo masuk. Kalian menghalangi jalan."
Bobby yang mendengar seruan Marvel seketika bergegas melesat masuk kedalam kantor. Carla hampir lupa disana juga ada bobby yang sedang melihatnya. Ia menggigit bibir bawahnya kesal akan kecerobohannya.
" Ren. Ayo ke ruanganku."
Marvel tampak menggandeng paksa carla berjalan masuk kedalam kantor. Carla berusaha mengimbangi langkah Marvel yang tampak begitu tergesa gesa.
Darren masih terlihat begitu tenang. Ia mendengus tersenyum menatap Carla yang begitu kebingungan akan sikap Marvel. Langkahnya begitu santai menyusul kedua sejoli yang berjalan mendahuluinya itu.
Beberapa karyawan kantor tampak ingin tahu melihat ketiga orang itu berjalan berdampingan. Carla yang diapit oleh kedua lelaki itu dari sisi depan belakang hanya menundukan kepalanya mengikuti Marvel. Sudut pandang yang justru berbeda dari Carla. Dia begitu malu merasa tidak nyaman diperhatikan orang lain saat tangannya masih dalam genggaman tangan Marvel. Belum lagi mendengar langkah kaki Darren dibelakangnya itu yang paling ia ingin hindari saat ini. Ia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa memposisikan waktu dengan benar. Sekali dia datang pada waktu awal seperti ini malah menjadi simbol karma baginya. Sangat buruk.
Pintu lift telah terbuka sebelum ketiga orang itu sampai di depannya,sehingga membuat mereka langsung memasukinya tanpa perlu menunggu lagi. Orang yang akan masuk kedalamnya pun memilih untuk menunggu kloter berikutnya. Hal yang wajar dilakukan sebagai bentuk rasa hormat kepada seorang atasan. Carla ingin sekali mengikuti orang orang itu menunggu kloter selanjutnya jika bukan karena genggaman tangan Marvel yang semakin mengerat saat ia baru akan menghentikan langkahnya di depan pintu lift. Marvel segera menekan tombol lantai tujuh dimana letak ruangan kerjanya berada.
Suasana begitu hening. Kali ini posisi gadis itu benar benar seperti ditekan oleh dua sosok tinggi disamping kiri dan kanannya. Marvel tampak begitu terejut sekaligus senang saat merasakan badan Carla semakin mendekat kearahnya. Ia tidak tahu bahwa itu dilakukan karena posisi Carla yang semakin tidak nyaman saat melihat Darren mencuri pandang melirik kearahnya. Tentu hal yang terbaik dalam fikirannya saat ini adalah mencari perlindungan pada Marvel sebagai atasan kantor daripada harus terlibat dengan Darren. Hening kembali mendominasi.
TING!
Pintu lift terbuka beberapa saat kemudian yang langsung disambut Carla dengan helaan nafas lega. Mereka segera melangkahkan kakinya keluar dan berjalan menuju ruangan Marvel. Melihat meja kerjanya yang sudah dekat Carla segera mengentikan langkahnya membuat langkah Marvel dan Darren ikut terhenti.
" Ada apa?" tanya Marvel kemudian.
" Ngg.. itu.." Pandangan mata Carla menatap kearah genggaman tangan Marvel. Marvel masih begitu bingung.
" Saya ingin membuat kopi sebentar sebelum ke meja saya Sir."
" Silahkan kalau begitu." Marvel menjawab masih tanpa melepas gandengan tangannya.
Darren mendengus kesal melihat tingkah konyol Marvel.
" Tanganmu menghalanginya pergi membuat kopi." ucap Darren yang sontak membuat Marvel kelagapan dan segera melapaskan gandengan tangannya.
" Ahh...maafkan aku." Ia tertawa kikuk.
" It's ok sir, Permisi." ucap Carla sembari membungkuk memberi hormat sebelum ahirnya melangkahkan kakinya bergegas pergi.
" Tunggu!" Teriak Darren yang sontak membuat langkah gadis itu terhenti.
Apa lagi yang dia mau lakukan sekarang. Batin Carla saat itu. Ia membalikkan badan, menatap Darren yang berjalan maju melangkah kearahnya.
" Ms.Carla,tolong Buatkan aku kopi juga." ucap Darren tersenyum sembari mengedipkan mata kearahnya.
Sial! dia sedang mempermainkanku! umpat Carla dalam hati.
" B..baik sir." Kembali itu melangkahkan kakinya segera bergegas pergi.
Darren tampak puas terlihat sedangan Marvel tampak sedang menerima kekalahan di ronde awal.
....
Gossip sudah mulai bergema sepanjang perjalan menuju Pantry di telinganya samar samar. Sudah ia duga bahwa orang kantor akan segera menyebarkan cerita kebersamaannya dengan dua bos besar itu.
" Kau liat tadi? ada lelaki sangat tampan selain Mr.Marvel disini."
" Aku jatuh cinta seketika melihat lelaki itu tadi."
" Pahatan yang sempurna dari Tuhan."
" Seketika aku bangga bekerja di perusahaan ini saat melihat banyaknya orang tampan di kantor ini."
" Dia itu Direktur Medindustria Company!"
" Hah??!! gilaaa. Bukan ranah kita."
" Sekalipun sekelas denganmu pun dia belum tentu mau.hahaha"
Carla begitu cepat mengaduk kopi di depannya. Gesture tubuhnya menandakan bahwa ia sedang kesal. Ia sudah tidak lagi menginginkan kopi sejak Darren ikut memintanya membuatkan kopi untuknya. Ia telah memasukkan takaran bubuk kopi yang lebih banyak dibanding gula. Sengaja Carla lakukan demi ingin membuat Darren kesal.
" Minum sampai habis!" ucapnya dengan seringai di bibirnya.
Pantry kantor yang bernuansa vintage itu kini sedang sepi. Hanya ia seorang didalamnya. Tak adanya lalu lalang orang orang membuatnya bebas melakukan apapun dan mengatakan apapun juga. Ia tampak puas melihat hasil kopi racikannya.
Brak!
Carla terperjat begitu mendengar pintu terbuka keras tiba tiba.
" Lalaaaaa!! kamu ngapain aja tadi?"
Carroline tampak begitu heboh memberikan pertanyaan.
" Ssstt.. jangan keras keras. Aku tidak sedang melakukan apapun tadi." jawab Carla dengan santainya sembari menyandarkan diri pada meja hidangan di belakangnya.
" Heh. Seluruh orang lagi gembor gemborin katanya Darren kesini."
" Iya. Disini."
" Lalu kamu gimanaa?"
" Huft. Tenangkan dirimu,aku baik baik saja. Kau bisa tanya bobby saja. Aku harus mengantarkan minuman ini terlebih dahulu." Carroline mengarahkan pandangannya kearah kopi di dimeja.
" Marvel?"
" Darren."
" What?"
" Its not about What carrol! its about Why. so just keep saying what." Carla mendengus kesal memijat keningnya yang tak terasa pusing.
" ughh. Sabar la.. Aku tau ini buruk buatmu." Carroline menenangkan sahabatnya. Gadis itu tahu bahwa Carla sedang merasa kesal saat ini bertemu dengan Darren.
" Aku harus segela balik kesana." Carla segera mengambil gelas kopi di belakangnya.
" Lunch Art of the taste. Aku kabari Bobby."
" Oke." Segera ia melangkahkan kakinya keluar bergegas menemui Darren di ruangan Marvel.
langkahnya begitu terasa berat saat akan memasuki ruangan kerja Marvel. Ia baik baik saja sebelumnya. Bahkan ketika meletakkan tasnya diatas meja kerjanya yang berada tepat di depan ruangan Marvel ia masih merasa baik baik saja. Tapi kenapa tiba tiba perasaannya menjadi tegang saat telah berada tepat di depan pintu ruangan Marvel begini. Ia memiliki firasat buruk tentang ini.
Ketukan pintu yang ia lakukan sama sekali tak memberi respon untuknya. Dimana penghuninya? kenapa tidak ada yang menjawab ketukannya.
Perlahan Carla membuka sedikit pintu ruang kerja Marvel.
"Excuse me."
Kosong. Ruangan tampak begitu sepi. Carla bergegas masuk kedalam ruangan. Marvel adalah bos yang paling baik baginya. Carla tahu bahwa beberapa orang mungkin akan berkat tindakannya masuk kedalam ruangan seperti ini adalah kurang sopan. Namun,kenyataannya Marvel lah yang begitu baik memberinya akses bebas keluar masuk ruangannya sekalipun ia tak ada di dalam ruangannya.Jadi untuk kasus keadaan saat ini, tentu ia akan memanfaatkan baik baik. Ia tak perlu bertatapan dengan Darren.
Begitulah fikirnya sebelum ahirnya posisi tubuhnya terkunci sosok tegap Darren dihadapannya.