
Alan menebak pria tua itu adalah penjaga sekolah. Alan pun menghampirinya. "Permisi." ucapnya dengan sopan.
Pri tua itu menoleh dan menampilkan senyuman ramah. "Ya, ada yang bisa saya bantu ?"
"Maaf mengganggu waktunya, Pak. Saya mau mengajukan lamaran di sini. Karena sebelumnya saya membaca info disini sedang membuka lowongan pekerjaan." jawab Alan.
Pria tua itu mengerut dahinya. Ia melihat penampilan Alan dari atas hingga bawah. Karena dari penampilannya memang masih remaja. "Kamu yakin mau melamar pekerjaan disini."
"Ya, setidaknya saya ingin mencoba melamar." jawab Alan.
"Kamu baru lulusan sekolah ?" sahut pria tua itu dengan bertanya.
Alan mengangguk kepalanya. "Ya, saya baru lulusan sekolah di tahun ini."
Pria tua itu mengangguk-menganggukkan kepalanya. "Ayo, aku antar kamu." ucapnya lalu ia berjalan ke arah tempat tujuan. Alan tersenyum, lalu ia berjalan di samping pria tua itu. Mereka pun masuk ke salah satu gedung sekolah.
.....
Setelah beberapa lama melamar di tempat itu, akhirnya Alan keluar dari SMA X2. Ia tak menyangka akan langsung diwancarai oleh Kepala Sekolah langsung. Banyak pertimbangan karena dirinya baru lulusan SMA.
Hasil ia diterima atau tidak, akan diberitahu beberapa hari kedepan. Bila tak ada memberitahuan seminggu lebih, maka dirinya tak diterima. Langit sudah berwarna jingga, jam sudah akan menunjukan angka 4 lebih, menandakan hari sudah sore. Tujuan Alan sekarang adalah pulang kembali kosnya.
Saat Alan sedang berjalan pulang, tiba-tiba indra pendengarannya mendengar keributan yang tak jauh darinya. Ia menoleh, ia melihat sekumpulan orang-orang bertarung. Bisa dibilang ada 2 pihak yang saling bertarung. Ada yang menggunakan Sihir, dan kekuatan fisik saja. Tak hanya laki-laki, tapi juga ada perempuan, semua Ras ada.
Semua orang atau warga yang tak ada hubungan dengan kegiatan kedua pihak itu pergi menjauhi tempat itu, ada juga yang memilih masuk ke dalam ruko mereka dan menguncinya. Ya, mereka tak ingin ikut terkena serangan yang membuat mereka celaka. Alan mengangguk kepalanya. "Mereka sedang tawuran."
Itulah kesimpulan yang ia ketahui dari pengetahuan di zaman sekarang. Kedua pihak itu mungkin bertawuran untuk memperebutkan wilayah. Alan mengangkat kedua bahunya, ia memilih pergi dari tempat itu dan tak ingin ikut campur, karena juga dia tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka.
Namun saat Alan berjalan menjauhi tempat orang-orang yang sedang tawuran, tiba-tiba sebuah tombak tanah meluncur melewatinya dari belakang, ia pun terkejut melihatnya. Tombak itu adalah salah satu serangan pengguna sihir yang berasal dari seseorang yang ikut dalam tawuran.
Alan terkejut bukan karena tombak tanah itu yang merupakan salah satu jenis serangan Sihir, melainkan ia melihat kemana arah tombak itu tuju. Alan tak bisa diam saja, ia segera bergerak secepat mungkin untuk menghentikan tombak itu, karena arah tombak tanah itu menuju ke arah anak kecil yang sedang akan berjalan bersama ibunya.
Hap...!! Alan pun berhasil meraih tombak itu, ia pun langsung memutar dan langsung membuangnya ke arah tanah agar hancur. Ibu dan anaknya terkejut bukan main. Alan menoleh ke arah anak dan ibunya itu. "Cepatlah pergi, disini sedang tak aman."
Ibu dari anak itu mengangguk kepalanya. "Terimakasih." ucapnya lalu ia menggendong anaknya dan berlari pergi menjauhi tempat itu.
Pandangan Alan kembali ke arah orang-orang yang masih bertawuran. "Keterlaluan, membuat keributan malah hampir merugikan orang lain."
Alan melihat sekeliling. "Kemana pihak keamanan disaat semua orang membutuhkan mereka untuk menenangkan kondisi disini ?"
Sebenarnya tak ingin, tapi ia benar-benar tak bisa diam saja karena melihat warga di tempat itu merasa terganggu. Melihat warga tak ada yang berani mengaman atau menengahi kegiatan tawuran itu, maka dapat disimpulkan, orang-orang ini kuat sehingga tak ada yang berani menengahi mereka.
Alan pun segera berlari secepat mungkin, lalu ia melompat tinggi. Ia sudah memperkirakan kemana ia akan mendarat. Ia pun segera mengepal tangan kanannya. Braaaakkk...!!
Bersamaan ia mendarat di tengah-tengah semua orang itu, ia memukul aspal jalan raya. Pukulannya tak membuat tempat itu hancur melainkan membuat sebuah getaran yang besar, sama halnya dengan gempa bumi. Semua orang yang bertawuran pun terhenti, mereka ada yang panik, bingung, dan ada yang sadar siapa yang membuat getaran itu.
Seketika pandangan mereka menangkap sosok pemuda remaja yang bukan lain ialah Alan, segera bersuara. "Apakah kalian bisa mencari tempat lain untuk bertawuran ?"
Salah satu lelaki dewasa menjawab. "Diam kau, kau tidak tau apa-apa, kau hanya anak kecil."
"Lebih baik kau pergi dan jangan ikut campur dengan urusan disini." ucap seorang laki-laki Ras DemiHuman harimau dari pihak kedua.
Semua orang memandang jahat ke arah Alan yang sudah berani datang dan berlagak menjadi penengah dalam kegiatan mereka. Alan pun bersuara. "Sebenarnya aku tidak peduli apa yang kalian lakukan, tapi orang-orang yang tidak ada kaitannya dengan kalian pasti merasa terganggu. Kalian mengganggu ketenangan semua orang yang ada disini."
"Jangan berlagak seperti Pahlawan yang bermodal wajah tampan. Lebih baik kau pergi." ucap salah satu seorang wanita DemiHuman Kucing dari pihak pertama.
"Dan lagi pula, kau hanyalah sampah yang berlagak pahlawan, secara orang-orang disini tak merasakan energi mana darimu." ucap laki-laki dewasa yang merupakan Ras Manusia dari pihak kedua.
Ucapan dari laki-laki itu ada benarnya, karena semua orang dari pihak pertama dan kedua juga tak merasakan energi mana dari Alan. Sudah dipastikan Alan adalah salah satu Manusia yang tak bisa menggunakan Sihir di Dunia ini. Mereka pun menganggap Alan sudah berlagak hebat karena mungkin bisa teknik bela diri.
Saat Alan akan bersuara lagi, tiba-tiba ada yang memegang pundak kirinya dari belakang. Lalu terdengar. "Jangan mengganggu urusan kami, atau kuhancurkan tulangmu." ucap sosok pria Elf berotot besar, bersamaan ia mulai mencengkram pundaknya Alan.
Alan tak bergerak, ia pun memasang ekspresi dingin ke arah depan lurus tanpa menoleh siapa yang mencengkram pundaknya. Ia pun bersuara. "Cengkramanmu lumayan juga."
Pria Elf berotot itu terbelalak, ia terkejut, karena cengkramannya tak membuat reaksi apapun terhadap remaja ini. Tak hanya dirinya, semua orang yang satu pihak dengan pria Elf itu pun juga tak kalah terkejutnya, karena mereka sangat paham kekuatan temannya yang satu ini.
Dengan tiba-tiba, Alan pun memutarkan tubuhnya sambil melayangkan kepalan tangannya. Bugh...!! Sisi wajah kiri Pria Elf itu terkena pukulan Alan, dan itu membuatnya terdorong beberapa meter. Meski sudah menahan kekuatannya, serangan fisik Alan masih lumayan juga.
Di sisi Pria Elf itu, di masih bisa bertahan, ia memegang pipi kirinya. Ia memandang marah ke arah Alan. Tak hanya marah, tetapi juga malu, karena bisa-bisanya dirinya dibuat mundur beberapa langkah saja di depan teman-temannya dan musuhnya. Tentu saja, hal itu sama saja membuat harga dirinya menurun, secara dirinya dikenal sangat kuat.
_________________________
Hayo..., masih penasaran ?
Jangan Lupa Like.