
Sebelum pergi ke Indonesia, Elira berada di Negara Malaysia. Sedangkan ke-7 Pahlawan lainnya juga perpergian ke Negara-Negara lainnya. Mereka menyebar karena memang sudah tugas mereka untuk membantu orang-orang kesusahan dan membasmi kejahatan di tempat umum atau tersembunyi.
Ras Elf memiliki keistimewaan, yaitu hampir sebagian besar dari semua Ras-nya, bisa menggunakan Sihir, dan juga mereka memiliki energi mana lebih banyak dari Ras Manusia dan DemiHuman. Tak hanya itu, mereka juga terkenal sebagai Ras yang awet muda atau hampir abadi, Elira salah satunya.
Elira memang terlihat seperti seorang Gadis yang berumur 15 tahun, tapi kenyataannya umur Gadis Elf itu yang sebenarnya sudah 80 tahun. Untuk menjadi kadidat Pahlawan senjata, biasanya dimulai dari umur 15 tahun. Ya, itu berlaku kepada kadidat dari Ras Manusia, itu pun harus mengikuti persyaratan terlebih dahulu.
Untuk untuk Ras Elf dan DemiHuman berbeda, mereka bisa menjadi Pahlawan tergantung dari berbagai situasi tertentu, salah satu contohnya Elira yang merupakan Ras Elf. Elira menjadi Pahlawan Belati saat di umur 78 tahun. Bukan pemerintah Negara Agios yang memilihnya, melainkan kedua Belatinya yang memilihnya.
Saat itu, dia mengajukan diri untuk mencalonkan dirinya sebagai kadidat Pahlawan yang generasi ke-21, tiba-tiba salah satu Senjata Pahlawan sebelumnya, langsung terbang kepadanya. Sehingga bisa dibilang senjata Belati itu sudah mengakui calon pengguna berikutnya yang baru.
Kembali ke situasi sekarang. Ketika ia sedang pemandangan Kota dengan teropongnya, tiba-tiba Elira memandang salah satu mobil sedan hitam sedang dikejar 2 mobil polisi. Dengan segera ia pun melompat tinggi, targetnya ia jatuh ke arah mobil sedan itu. Perlahan ia menggunakan Sihirnya untuk melambatkan dirinya mendekati daratan.
Brakk...!! Tak membutuhkan lamanya ia langsung mendarat tepat kap mobil sedan itu, dan begitu juga keadaan kap mobil itu rusak, meski kondisi mobik masih bisa berjalan.
Tentu saja 2 orang yang berada di dalam mobil itu terkejut bukan main. "Sial, kenapa Pahlawan Belati ada disini ?" ucap orang yang duduk di kursi kiri dengan panik.
Elira langsung mendarat tepat kap mobil. Tentu saja 2 orang yang berada di dalam mobil iti terkejut bukan main. "Sial, kenapa Pahlawan Belati ada disini ?" ucap orang yang duduk di kursi kiri dengan panik.
"Sial, kenapa Pahlawan Belati ada disini ?" ucap orang yang duduk di kursi kiri dengan panik.
"Lebih baik kita turun." ucap orang satunya yang mengemudi mobilnya, temannya pun mengangguk.
Kedua orang itu pun segera membuka pintu mobil mereka. Mereka segera melompat keluar dan membiarkan mobil mereka berjalan. Elira yang masih berada di kap mobil, dengan segera ia melompat ke belakang dan menahan mobil itu agar berhenti dan tidak menabrak.
Selesai sudah dengan aksinya memberhentikan mobil itu, pandangan Elira segera beralih ke arah 2 orang penjahat itu yang kini sedang melompat-lompat menghindari mobil-mobil di jalan raya. Sedangkan kedua mobil polisi terpaksa berhenti, karena mereka tak bisa langsung berbalik.
Elira tak diam saja, ia segera berlari cepat mengejar kedua penjahat itu. Ia pun segera menyelimuti kedua kakinya dengan Sihir Anginya. Ia pun melompat maju dengan kecepatan tinggi ke arah 2 penjahat itu. "Aku takkan membiarkan kalian pergi..!!" teriaknya.
Yang ada Kedua penjahat itu malah berpencar. Elira berdecak kesal, mau tak mau ia harus memilih salah satunya. Ia mengambil arah ke kanan. Ia semakin mempercepat gerakan larinya, semakin dekat ia pun melempar salah satu belatinya ke arah punggung penjahat itu.
"Aggrrr...!!" punggung penjahat itu tertusuk salah satu belati dari Elira.
Tak hanya tertusuk, tapi itu membuat tubuhnya terdorong dan jatuh. Semua orang berlarian setelah melihat itu, bukan karena mereka takut saja, melainkan mereka juga tak ikut imbas bila berdekatan dengan penjagat yang kini sudah ditargetkan oleh sang Pahlawan Belati.
"Kamu takkan bisa lari kemana lagi." ucap Elira yang sudah berdiri di belakang penjahat itu yang kini sedang berlutut membelakanginya dengan menahan rasa sakit di punggungnya.
Belati yang tadinya tertancap di punggung penjahat itu pub langsung terlepas dan terbang, dia bergerak dengan sendirinya
Lalu Elira merapal Sihir, tiba-tiba sebuah pola lingkaran muncul di tempat penjahat itu, seketika keluarlah rantai-rantai dan langsung mengikat leher, kedua tangan dan tubuhnya.
Penjahat itu meronta-ronta, ia terus berusaha melepaskan diri dari rantai-rantai yang mengikat dirinya. Tapi ada daya, rantai-rantai itu tak mau melepas darinya, yang ada rantai-rantai itu malah memperkuat menjerat dirinya, dan itu semakin membuat bagian tubuhnya yang terikat bertambah sakit.
Elira pun bersuara. "Percuma kau terus berusaha, karena Sihir penjara yang kukeluarkan untuk khusus menjerat Monster."
Tak lama kemudian, beberapa mobil polisi datang. Beberapa polisi keluar, dan berjalan mendekati Elira dan penjahat itu. Mereka berterimasih kepada Elira karena sudah menghentikan aksi penjahat itu.
Di sisi Elira, ia meminta maaf karena tak berhasil menangkap penjahat yang satunya yang berhasil meloloskan diri dan sudah pergi entah kemana. Akan tetapi para polisi itu tak mempermasalahkannya, mereka berencana akan membawa penjahat ini untuk diintrogasi.
Setelah tak lama berbicara, Elira pamit, dia pun pergi menjauh tempat itu dan membiarkan penjahat yang ia tangkap diserahkan ke pihak kepolisian. Tujuannya kali ini ialah mencari penjahat yang satunya, karena ia yakin, penjahat yang satu ini masih belum jauh dari darinya.
.....
Hari telah sore, dan warna langit sudah berwarna jingga, Alan kini sedang bersantai di kamar kosnya setelah semua sudah ia selesaikan bersih-bersih kamarnya dan membereskan barang-barangnya. Ia juga sudah mandi membersihkan diri. Dalam kamarnya hanya tersedia kasur ukuran sendiri, bantal, dan lemari.
Ukuran kamarnya 4 kali 3, dengan kamar mandi di dalam. Fasilitas lainnya hanya lampu, dan stopkontak bila ingin menyalakan kipas angin, atau mencharger handphone. Ya kini ia sudah mempunyai smartphone bekas. Ia membeli handphone itu di konter Hp di konter yang tak jauh dari kosnya. Ia membelinya setelah selesai bersih-besih.
Hp yang ia beli sangat murah, tak sampai 600 ribu. Dan tak lupa ia membeli nomer kartunya plus pulsanya. Dan ia juga sudah membayar kamar yang ia sewa selama 1 bulan dulu, jadi terserah ia mau apakan kamarnya. Setidaknya uang tabungannya masih banyak. Dan rencana esok hari ia akan mulai mencari pekerjaan.
Alan yang kini sedang tiduran di kasurnya, menghela nafas. "Tak buruk juga perubahan zaman di Dunia ini. Tak masalah kalau kutukan ini kembali kepadaku."
"Selagi aku menjalani hidup sebagai manusia Normal. Kalau aku ingin melepaskan kutukan ini lagi, tinggal aku minta ke tuan Edgar saat datang lagi menemuiku." tambahnya.
Alan pun bangkit dari tidurannya, perutnya terasa lapar, ia pun segera ambil 1 lembar uang warna biru dari dompetnya, lalu ia keluar dari kamarnya dan tak lupa menguncinya.
_________________________
Hayo..., masih penasaran ?
Jangan Lupa Like.