Universe D-01 | Returns Of The Legend

Universe D-01 | Returns Of The Legend
BAB 06 : Pahlawan Belati.



2 hari kemudian.


Kendaraan bus berjalan menulusuri kota. Bus atar kota sudah beberapa kali berhenti di setiap kota yang di lewati. Kini Bus itu baru saja meninggalkan kota K. Terlihat dari semua penumpang di dalam Bus itu, ada sosok remaja berusia 18 tahun yang tampan. Ya, sosok itu bukan lain ialah Alan Kavaya.


Sebelum pergi dari Kota A, ia pergi mengunjungi makam ibu kandung dari tubuh barunya. Alan mengucapkan kata-kata terimakasih, karena jika tak ada wanita itu, mungkin keberadaan dirinya tidak akan bereinkarnasi. Ya, mau bagaimanapun, wanita ini adalah sosok ibu kandungnya yang baru.


Kembali ke kondisi Alan saat ini, dia sekarang benar-benar akan menahan sebagian besar kekuatannya, karena sebelumya saat ia memberi balasan ke Steve dan teman-temannya, ia sudah menahan kekuatannya. Akan tetapi hasilnya ternyata melebihi dari ekspektasinya.


Jadi ia berusaha menahan kekuatannya hampir keseluruhannya, ia tak ingin memperparah keadaan di saat ia harus bertarung lawan yang mungkin lebih lemah darinya. Dan juga ia tak ingin menjadi menarik perhatian dari pihak-pihak tertentu. Jadi, ia akan terus berusaha menahannya apapun yang terjadi.


Kembali ke situasi sekarang. Di sebelah Alan ada seorang pria tua yang tengah tertidur pulas. Bila dihitung, sudah 1 kali ia berganti Bus, dan sudah 5 kota yang dilewati oleh Bus yang ia tumpanginya saat ini. Di Bus sebelumnya sudah 8 kota yang dilewatinya. Jika ditotalkan, sudah 13 kota.


Kini Alan yang sedang duduk di salah satu kursi penumpang dekat jendela, pandangannya terus keluar jendela Bus, ia menikmati angin sepoi-sepoi. Tak hanya di tempat umum, sebagai penumpang, ia juga jadi pusat perhatian, berkulit putih bersih, dan berwajah tampan.


Padahal sudah merubah warna rambutnya tapi tak ada bedanya untuk dijadikan perhatian disekitarnya, terutama kepada kaum wanita muda, entah dari ras manusia, elf, dan demihuman. Pandangan mereka terpesona akan hal itu.


Ada rasa keinginan hampir semua penumpang wanita muda ingin duduk disebelahnya. Bagi kaum pria muda, tentu saja memiliki rasa iri dengan penampilan Alan yang begitu membuat perhatian wanita muda tergoda padanya.


Akan tetapi, disisi lain ada yang meremehkannya karena tak merasakan energi mana pada pemuda tampan itu. Sedangkan Alan sendiri, ia yang terlihat cuek akan keadaan, atau memang benar-benar bodoh dengan keadaan disekitarnya, ia hanya terlihat menikmati perjalanannya.


.....


4 jam kemudian.


Hari masih siang, dan waktu jam sudah menunjukan jam 1 siang. Bus yang ditumpanginya sudah berhenti di terminal kota terakhir, Kota D. Alan segera turun. Ia melihat sebuah kedai makan, ia pun berjalan sambil menggendong tas besarnya. Ya, ia ingin makan untuk menghilangkan rasa lapar di perutnya.


Setelah beberapa lama kemudian, Alan telah menghabiskan makanannya. Ia pun segera beranjak dari tempat duduknya. Setelah bayar, ia pun keluar dari kedai itu. Posisinya saat ini masih dalam terminal, tujuannya saat ini adalah mencari kos-kosan termurah. Pandangannya melihat salah satu ATM.


Alan segera berjalan ke arah ATM itu, tentu saja ia ingin mengambil beberapa lembar uang, karena di dalam dompetnya tinggal beberapa lembar uang nominal kecil. Selesai sudah, mengambil uang, ia segera berjalan keluar dari terminal. Baru berjalan 10 meter dari gerbang terminal, ia mendengar teriakan seseorang, ia pun menoleh.


"Siapa pun, tolong hentikan jambret itu...!!" teriakan salah satu seorang lelaki dewasa sambil mengejar sosok penjambret itu.


Dan juga ada rombongan orang-orang ikut berlarian mengejarnya, bahkan ada beberapa dari mereka melepaskan Sihir serangan. Akan tetapi, penjambret itu terlihat cukup mahir dalam menghindar, dia menggunakan Sihirnya agar gerakannya semakin lincah.


Alan yang melihat itu, tidak tinggal diam, ia bermaksud ikut mengejarnya. Tapi saat akan bergerak, tiba-tiba ada sosok bergerak cepat melewatinya dari belakang. Alan terpaku, karena ia merasakan hawa familiar yang tak asing baginya. Ia melihat sosok itu seorang gadis Ras Elf sambil menggenggam belati di setiap kedua tangannya.


Gadis Elf itu berambut putih diikat kepang dan ia memakai jubah hijau tua. Gadis Elf itu bergerak dengan cepat. Penjambret itu yang tak mau aksinya gagal, ia pun berhenti bergerak, ia malah melompat mundur, bersamaan, ia mengeluarkan pedang dari gelang penyimpanannya. Rupanya ia melakukan perlawanan.


Tang...!!


Serangan vertikal dari pedangnya berhasil di tahan oleh gadis Elf itu dengan menggunakan kedua belatinya dengan menyilang. Dengan cepat, gadis itu memberikan tendangan tepat di perut penjambret itu hingga membuatnya terdorong beberapa meter.


Belum sempat mengimbangi tubuhnya agar tidak jatuh, gadis Elf itu sudah bergerak maju dengan cepat dan kini tepat di depannya. Bugh...!! Penjambret itu pun jatuh tak sadarkan diri setelah sisi kiri kepalanya terkena hantaman. Rupanya gadis itu menghantamnya dengan salah satu gagang bawah belatinya.


Ya, aksi penjambretan itu pun berhasil di digagalkan oleh sosok gadis Ras Elf itu. Orang-orang disana sesat terdiam, lalu bersorak senang.


"Akhirnya salah satu Pahlawan senjata datang kemari."


"Ya, setelah sekian lamanya penjambret itu selalu meresahkan semua orang yang tinggal di daerah ini."


"Terimakasih Nona Pahlawan Belati."


"Tak hanya hebat, dia juga sangat cantik."


Rupanya sosok gadis Ras Elf yang sudah menggagalkan aksi penjambret itu adalah salah satu ke-8 Pahlawan senjata, Pahlawan Belati. Tentu saja kedatangannya membuat semua orang senang, karena penjambret itu sudah lama sekali beraksi tak sulit ditangkap.


Dengan harapan setelah kejadian ini, daerah ini aman. Pahlawan Belati itu tersenyum, dan terlihat rendah hati. Lalu ia mengambil cincin penyimpanan yang merupakan barang hasil penjambret itu, lalu ia mengembalikan ke pemiliknya yang terlihat senang.


"Terima kasih, Nona Pahlawan." ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


Gadis Elf itu segera menghentikan apa yang dilakukan orang itu. "Cukup, tuan tidak perlu menunduk seperti itu. Aku hanya melakukan yang sudah seharusnya kulakukan."


Setelah banyak percakapan, dan pujian dengan semuanya, Gadis Elf itu berpamitan untuk pergi, meski orang yang ditolongnya akan memberi imbalan, tapi ia menolak. Ia pun segera pergi dan entah kemana.


Di sisi lain, Alan yang melihat itu, hanya tersenyum tipis melihatnya. Ia bergumam. "Rupanya Pahlawan Belati. Pantas saja, aku merasakan hawa keberadaan ini karena kedua Belati itu."


Alan menghela nafasnya. "Aku harap tak hanya dia, semua ke-8 Pahlawan di Generasi sekarang selalu membantu semua orang seperti dulu."


Lalu Alan berbalik, dan melanjutkan jalan kakinya. Karena tak memiliki hp atau smartphone, untuk mencari letak lokasi kos-kosan, ia hanya mengandalakan untuk bertanya orang-orang yang dilewatinya. Beberapa lama kemudian, ia telah sampai di tempat tujuan.


.....


Di sisi lain, sosok Gadis Elf yang sedang berdiri di salah satu atap gedung yang tinggi. Ia memandang pemandangan Kota D dengan teropongnya. Dia bernama Elira, Sang Pahlawan Belati ke Generasi ke-21. Dia berinisiatif datang ke Negara Indonesia, kebetulan ia mendarat di Kota D beberapa hari yang lalu.


_________________________


Visual Tokoh.


Elira, Sang Pahlawan Belati.



_________________________


Hayo..., masih penasaran ?


Jangan Lupa Like.