
"Ini tidak akan berakhir bila tidak ada salah satu dari kita menang." ucap Pria Singa itu yang tidak terima. Ya, dirinya adalah ketua kelompok dari pihak kedua.
"Inilah yang paling kubenci dari sifatmu." sahut pria Ras Manusia.
Pria Singa itu menoleh, dan memberi tatapan permusuhan. "Kau ingin kita bertarung lagi ?" ucanya sambil memiringkan kepalanya.
"Jujur saja aku ingin sekali bertarung denganmu, tapi mengingat aku lelah, aku jadi tak ingin."
"Bilang saja kau takut."
Pria dewasa itu memberikan tatapan datar. Dengan tenang ia menjawab. "Kau memang sangat suka memprovokasiku."
Pria Singa itu tersenyum miring. "Ayo kita bertarung untuk memperebutkan wilayah ini."
Pria dewasa itu menjawab. "Kau terlalu bangga dengan kekuatanmu, sehingga kau serakah dan ingin merebutkan wilayahku."
Kedua ketua itu masih saja beradu ucapan yang tak ada hentinya. Hingga akhirnya mereka berdua pun kembali bertarung. Disisi Alan yang melihat mereka berdua, ia menghela nafasnya. "Sudahlah, aku mau pulang saja. Buang-buang waktuku saja. Kalau tau akhirnya jadi seperti ini, kau gak akan menghentikan mereka."
"Cukup mengamankan orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan ini, setelahnya pun pulang." lanjutnya.
Alan benar-benar pergi menjauhi tempat itu. Ia membiarkan kedua ketua dari masing-masing pihak bertarung. Mengingat percuma ia menghalangi mereka yang masih saja dengan pendiriannya untuk bertarung.
Yang ada dirinya yang sekarang kesal, karena sudah membuang waktunya dengan sia-sia. Lagi pula sudah tidak ada warga yang tinggal atau yang tak memiliki hubungannya dengan tawuran itu, mereka mungkin sudah masuk ke dalam rumah dan menguncinya dengan aman.
Alan yang terus berjalan dan menjauhi tempat itu, hingga akhirnya dirinya sudah sangat jauh. Sementara di tempat itu, di waktu bersamaan kedua orang dari Ras berbeda masih bertarung. Beberapa saat kemudian, mereka sama-sama terdorong setelah menerima efek Sihir serangan mereka masing-masing.
Mereka berdua kini berdiri berhadapan dan saling melempar pandangan permusuhan. Jarak mereka berhadapan tak sampai 10 meter tempat mereka berdiri. Dan penampilan mereka benar-benar kacau. Pria Ras Manusia melihat sekelilingnya, lalu pandangannya kembali memandang lawannya.
"Aku tak menyangka akan bertarung hingga seperti ini." ucap Dika, yang merupakan Ras Manusia dan ketua kelompok pihak pertama.
Lawannya yang merupakan Ras DemiHuman Singa, yang merupakan ketua kelompok pihak kedua yang bernama Barion. "Kau mau mengaku kalah ? Maka katakanlah kalau dirimu menyerah." ucapnya membalas ucapan dari Dika dengan nada meremehkan.
Dika menghela nafasnya. Ia akui kalau Barion memang hebat, karena keistimewaan Ras DemiHuman hampir sama dengan Ras Elf, yaitu awet muda dan berumur panjang. Akan tetapi bedanya 50 persen dari semua Ras DemiHuman, bisa menggunakan Sihir.
Akan tetapi istimewa mereka yang paling adalah memiliki stamina yang luar biasa. Jadi bila dalam pertarungan yang panjang, mereka tidak akan mudah kelelahan, disamping itu, fisik mereka juga hampir 2 kali kuat dari Ras Manusia.
Meski ia juga memiliki anak buah dari Ras DemiHuman, akan tetapi yang ia hadapi saat ini ialah Ras DemiHuman yang merupakan pemimpin rival kelompoknya. Jadi sudah jelas, bahwa Barion tidak akan mudah untuk dikalahkan, mungkin kekuatannya melebihi dari rata-rata Ras DemiHuman lainnya.
Dika pun memasang kuda-kudanya kembali. Ia siap untuk bertarung hingga akhir demi mempertahankan wilayahnya. Sedangkan Barion, ia tersenyum remeh, ia juga sudah siap bertarung lagi. Saat mereka berdua akan maju, tiba-tiba muncul sosok pemuda dari atas, dan kini berdiri di tengah-tengah mereka berdua.
"Kalian sedang membuat keributan disini ?" ucap Pemuda itu sambil melirikkan datar dengan kedua matanya ke arah Dika dan Barion.
Dika memilih diam, tak menjawab. Sedangkan Barion, ia tak menjawab, melainkan ia bergerak mendekati Pemuda itu dan juga ia melancarkan pukulan yang sudah ia perkuatkan dengan Sihirnya. Pemuda itu dengan cepat melompat mundur. Dika yang melihat itu memilih tetap diam.
Barion merasa kesal, karena pukulannya tak mengenai targetnya. Dibalik rasa kesalnya kesalnya, ada rasa keraguan, karena sosok Pemuda itu yang merupakan salah satu Pahlawan senjata. Begitu sebaliknya dengan Dika, dirinya tak menyangka kalau Pemuda itu ada Indonesia, parahnya kini sudah ada di depannya.
"Bukankah seharusnya Pahlawan Belati yang ada di Indonesia. Kenapa Pahlawan Perisai ada disini ?" Dika bertanya-tanya dalam gumamnya sambil melihat aksi Barion yang terus berusaha menyerang Pahlawan Perisai itu.
Sebelumnya, Dika baru dengar dari kabar angin yang dimana Pahlawan Belati sudah datang di Indonesia. Tapi, kenapa yang datang Pahlawan Perisai, padahal ia belum pernah bertemu dengan Pahlawan Belati. Dika benar-benar dalam kondisi bingung, ia tak bisa pergi, karena semua anak buahnya masih tak sadarkan diri.
Sementara di sisi Barion, terus menyerang. Sedangkan Pahlawan Perisai itu terus menghindar. Barion pun menggunakan Sihir untuk menambahkan kecepatan gerakannya. Dan benar saja, gerakannya 2 kali lebih cepat. Pahlawan Perisai segera mengambil perisai dari punggungnya.
Tang...!! Pukulan Barion gagal setelah Pahlawan Perisai itu menggunakan senjata utamanya untuk bertahan dan melindungi dirinya dari pukulan hebat dari Ras DemiHuman Singa itu. Bugh...!! Barion terdorong beberapa langkah setelah menerima pukulan tiba-tiba dari Pahlawan Perisai itu.
Barion memegang pipinya, ia memandang marah kepada Pahlawan itu. "Padahal kau hanya Pahlawan jenis senjata yang lemah."
Pahlawan itu tersenyum, lalu menjawab. "Aku akan memberitahumu 1 hal. Yaitu jangan meremehkan sesuatu dari penampilannya saja."
"Maksudmu aku ini lemah ?" sahut Barion seakan-akan paham maksud dari perkataan Pahlawan Perisai itu.
Pahlawan Perisai itu pun membalas. "Aku tak menyebutkan kata itu. Jadi bukan aku yang bilang, kamu sendiri 'loh yang bilang." Rasa keraguan pada Barion pun hilang. Ia marah, dan langsung melompat maju ke arah Pahlawan itu.
Pahlawan Perisai itu tak menghindar, melainkan ia melempar perisainya ke arah Barion, setelah mengenai Barion, Perisainya memantul dan bergerak kembali kepada pemiliknya, sedangkan Barion, ia berlutut. Dia kedua tangannya memegang dadanya yang sakit setelah terhantam Perisai tadi.
.....
Sementara di sisi lain, Alan telah sampai di kosannya. Ia segera masuk dan dan langsung memilih masuk ke dalam kamar mandi setelah meletakkan tasnya. Selesai sudah ia mandi, ia memandang pakaiannya yang ia pakai sebelumnya. Kotor dan rusak. Alan menghela nafasnya, ia memilih segera keluar dari kosnya.
Alan berjalan menjauhi kosnya. Saat ini ia ingin mengisi perutnya yang sudah kelaparan semenjak perjalanan pulang. Tak sampai 5 menit lebih ia berjalan, ia telah sampai di warung makan yang kini menjadi tempat langganannya.
_________________________
Hayo..., masih penasaran ?
Jangan Lupa Like.