Universe D-01 | Returns Of The Legend

Universe D-01 | Returns Of The Legend
BAB 05 : Rencana.



Beberapa lama kemudian, Alan pun telah sampai, kini ia berada di atas pohon yang tinggi yang gak tau nama pohonnya apa. Di di dekatnya, ia melihat sebuah villa besar dan mewah berwarna putih. Ia pun segera melompat maju ke arah pintu villa itu.


Brakk...!!


Semua orang yang ada di dalam villa itu terjekut mendengar suara itu. Mereka segera melempar pandangannya ke arah sumber suara itu. Terlihatlah sosok pemuda berdiri tenang di ruang tamunya.


Alan memandang orang-orang yang melihat dirinya. "Hanya delapan ?" gumamnya.


Ya, villa itu adalah tempat tinggal Steve. Ia baru saja mengundang teman-teman lainnya. Mereka berdelapan, terlihat 4 Ras Manusia, 2 Elf, dan 2 DemiHuman. Steve dan kedua temannya sebelumnya terkejut bukan main, dari wajah pemuda itu, mereka bertiga sangat paham.


"Halo semua." sapa Alan ke mereka semua.


"Kau..., Bukankah kamu sudah...," ucap Steve menggantung.


"Sudah mati ?" sahut Alan meneruskan ucapan Steve.


Semua terdiam mendengar kata-kata Alan. Ia pun bersuara lagi. "Sepertinya kalian sedang berpesta." ucapnya sambil melihat-lihat sekeliling dalam villa, cukup banyak botol-botol minuman keras yang masih tersegel dan beberapa yang sudah dibuka.


Alan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Minuman keras tak baik untuk kesehatan tubuh. Apalagi kalian mengomsumsinya secara berlebihan."


Salah satu dari kedelapan orang itu pun maju ke arah Alan. "Mati kau...!!" ucapnya sambil berteriak.


Tangan kanannya diselimuti Api yang menyala-nyala. Alan tak bergerak, ia masih diam berdiri ditempatnya. Tap..!! Semua terkejut melihat pukulan teman mereka berhasil ditahan oleh Alan, padahal sudah jelas, Api yang menyelimuti tangannya sangatlah panas.


Alan pun menarik tangan orang itu. Bugh..!! Wuss...!! Orang itu langsung terpental setelah wajahnya mendapat hantaman keras oleh pukulan Alan. Orang itu menabrak tembok, hingga tak sadarkan diri. Semua terkejut bukan main.


Alan menepuk jidatnya. "Astaga, maafkan aku yang membuatnya seperti itu. Lagi pula dia yang tiba-tiba menyerangku, jadi mana mungkin. Aku diam saja."


Alan berbicara lagi. "Di villa yang besar ini, apakah hanya kalian berdelapan saja ?" kalau dilihat dari keadaanya disini, tidak ada orang tua yang melarang kalian membeli minum-minuman laknat itu."


Steve pun maju berlari, lalu melompat ke arah Alan. "Diam kau sampah..!!"


Steve pun memutarkan tubuhnya, ia melayangkan salah satu kakinya yang juga diselimuti Sihir Apinya. Hap...!! Alan pun menangkapnya, serangan Steve digagalkan. Wusss..., Brakk..!! Alan membanting tubuh Steve ke lantai.


Tak diam saja, teman-teman Steve yang tersisa segera maju untuk menyerang Alan. Dengan lihainya, Alan menghindar dan menagkis serangan mereka. Tak hanya serangan fisik, semua Sihir serangan mereka dikerahkan semua. Akan tetapi, Alan masih saja bisa menghindar dan bertahan.


Kekuatan fisik dan kecepatan Alan benar-benar diatas rata-rata manusia normal. Sebagai Manusia yang pernah hidup lama di Bumi, dengan kutukan akan kekuatan hebat, apa yang ia lakukan saat ini masih belum disebut pemanasan, melainkan bisa disebut bermain, karena sedari tadi ia hanya menghindar.


Lalu ia mencoba mengalah. Bugh...!! Wajah Alan pun terkena satu pukulan keras. Dugh...!! Lalu disusul tendangan keras di perutnya. Semuanya tak menyia-siakan kesempatan, mereka menghujani Alan dengan serangan fisik mereka.


Duar...!! Ia pun mendapat serangan Sihir ledakan, hingga membuat dirinya terpental dan menghantam dinding. Mereka yang awalnya tersenyum puas, lalu mereka dibuat terkejut, karena Alan bangkit berdiri, luka-luka pada tubuhnya perlahan sembuh.


Alan memandang mereka berenam. "Giliranku."


Alan bergerak dengan cepat, bahkan keenam orang orang sedikit kesulitan melihat gerakannya yang begitu cepat. Tiba-tiba, pandangan mereka menggelap setelah sebuah hantaman dari belakang.


Ya, Satu-persatu pun tumbang, setelah Alan memukul tengkuk mereka berenam. Alan berdiri dengan tenang melihat Steve yang berusaha berdiri. Ia menghela nafasnya. "Aku datang kesini, hanya ingin memberi pelajaran kepada kalian. Lagi pula aku juga akan pergi meninggalkan kota ini."


Steve kini dalam posisi berlutut, terlihat sekali bahwa dirinya marah dari ekspresi wajahnya. "Meski kau pergi melarikan diri, aku takkan melupakan kejadian ini. Kau akan membayarnya."


"Begitu '?" balas Alan, lalu ia berbalik dan berencana pergi dari villa ini.


Sebelum keluar, Alan berkata. "Aku harap kejadian ini menjadi pembelajaranmu agar tidak menggaggu orang biasa. Bila kau masih terus seperti itu dan ingin membalasku, akan kutunggu." lalu ia berjalan keluar villa.


Hap...!! Wuss...!!


Satu lompatan membuat Alan melompat tinggi meninggalkan villa itu. Disisi Steve, ia berusaha berdiri. "Tunggu saja, suatu saat, bila kita bertemu lagi, aku akan membuatmu menderita." Meski dia berkata seperti itu, dalam pikirannya masih terheran-heran, karena Alan yang seharusnya mati beberapa jam yang lalu.


Tapi entah mengapa lelaki itu masih hidup. Lebih mengejutkannya lagi ia tak merasakan energi mana dari Alan, seperti sebelumnya. Tetapi, kenapa tiba-tiba Alan bisa menjadi jauh lebih kuat ?


Dan Steve merasa sangat yakin kalau Alan tidak menggunakan Sihir untuk menguatkan fisiknya. Kalau dia memakainya, dirinya dan yang lainnya pasti bisa merasakannya, secara sebagai Ras Manusia yang bisa menggunakan Sihir, pasti bisa merasakan energi mana seseorang yang bisa menggunakan Sihir.


Sungguh mengejutkan setelah melihat sosok yang bisa mengalahkannya tanpa menggunakan Sihir, melainkan menggunakan kekuatan fisik. Orang-orang pasti berfikir itu diluar nalar. Steve merasa Alan masih belum menunjukan kekuatan sepenuhnya.


.....


Disisi Alan, itu terus melompat dari atap ke atap bangunan lainnya. Tujuannya kali adalah rumah kontrakan sederhana miliknya. Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya ia sampai. Suasana komplek di tempat tinggalnya sudah cukup sepi. Ia segera masuk ke dalam rumah kontrakannya.


Tak ingin membuang waktu, ia segera mandi membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, ia pun mengenakan kaos dan celana biasa. Alan segera membereskan pakaian-pakaiannya. Semua berkas-berkas seperti ijasah dan lainnya tak lupa ia masukan ke dalam tas besarnya.


Di Dunia yang sudah maju ini, cincin atau gelang ruang penyimpanan masih ada dan masih digunakan. Kini kedua alat ruang penyimpanan itu banyak sekali di jual dengan harga yang tidak murah. Karena itulah, Alan hanya bisa membawa barang-barang yang menurutnya penting ke dalam tas besarnya.


Lagi pula, total uang tabungan di rekeningnya hanya cukup untuk jatah 2 sampai 3 bulan. Disisi lain, Alan merasa lega karena semua berkas asli miliknya aman. Mengingat kejadian sebelumnya saat ia dibawa Steve dan kedua temannya, semua perlengkapan untuk melamar pekerjaan dirusak.


Beruntung semua berkas yang ia bawa hanyalah fotocopyan saja, jadi ia tak perlu khawatir, dan juga ia masih memiliki kemeja putih dan celana hitam cadangan. Tentu saja ia perlukan untuk melamar kerja.


Setelah semua selesai, Alan segera tidur. Karena ia ingin istirahat yang cukup, agar esok pagi, ia bangun dengan kondisi segar. Tak lama kemudian, kedua matanya pun tertutup. Ya, ia tertidur di kasurnya, dan ia sudah terbawa ke alam mimpi yang nyaman.


_________________________


Jangan Lupa Like.