
2 Minggu Kemudian.
Sudah 2 minggu lebih Alan tinggal di Kota D. Dia tak pernah pergi kemana-mana selain keluar dari kosnya untuk membeli makan dan makanan ringan. Yang ia tunggu selama ini adalah panggilan pekerjaan. Ia sudah membuat 15 surat lamarannya, namun sampai hari ini, belum ada yang memanggilnya.
Alan menghela nafasnya, ia mulai berfikir mungkin tempat-tempat yang ia masukan lamarannya meragukan dirinya karena baru lulus sekolah. Ada rasa jenuh karena ia tak melakukan apapun. Alan sempat berfikir untuk pergi jalan-jalan, tapi ia urungkan karena ia tak ingin menggunakan uangnya hanya untuk keperluan saat ia jalan-jalan nanti.
Alan menghabiskan waktunya selama di dalam kosnya hanya tiduran dan bermain Angry Bird smartphonenya. Yah permainan offline yang tak perlu membuang kouta. Hari sudah akan sore, Alan pun akan mandi. Saat akan masuk ke kamar mandi, tiba-tiba Hpnya berbunyi, dengan segera ia urungkan mandinya.
Alan langsung meraih Hpnya itu. Tertera nomer asing yang menghubunginya, tanpa ragu ia segera mengangkatnya. Ia pun memulai berbicara. "Halo, dengan siapa ini ?" tanyanya.
"Apa benar ini saudara yang bernama Alan Kavaya ?" dari si penelefon.
"Ya benar, ada apa ya ?"
"Tidak apa-apa. Saya hanya menghubungimu untuk memberitahu kepada saudara Alan, mulai besok datang ke SMA X2 untuk mulai bekerja." jawab si penelefon dengan nada yang ramah.
Alan yang mendengarnya tersenyum, lalu ia membalas. "Baik, besok saya akan datang."
"Untuk kehadiran saudara Alan, jam sebelum jam setengah 7 pagi, sudah di sekolah. Dan juga memakai pakaian kemeja bebas dan celana hitam, yang penting sopan."
"Baik, terimakasih infonya."
"Sama-sama, cukup sekian." ucap si penelefon, lalu menutup sambungan telefonnya.
Alan tersenyum, karena sekian dari 10 tempat yang ia kirim lamarannya, akhirnya ada yang menghubunginya. "Semoga aku benar-benar diterima setelah interview besok." ia bergumam sambil meletakan ponselnya di kasur. Lalu ia berjalan ke kamar mandinya yang sudah tertunda.
.....
Keesokan harinya.
Pada pagi hari, Alan sudah bangun lebih awal. Waktu jam sudah menunjukkan 6 pagi lebih. Ia sempat berfikir, apa ia pergi beli sarapan terlebih dahulu atau tidak. Akhirnya, Alan memilih tidak membeli sarapan, ia teringat hari ini adalah hari senin yang dimana hari libur sekolah telah berakhir, yang dimana semua murid kembali masuk.
Ditambah murid-murid baru kelas 1. Alan menghela nafasnya, karena dirinya baru juga lulus tahun ini, dirinya mulai bekerja di sekolah. Selesai sudah Alan bersiap-siap dengan pakaiannya, dengan cepat ia segera pergi keluar setelah mengunci pintu kamar kosnya. Jarak dari kosnya ke SMA X2 hampir 2 kilometer.
Sudah setengah jam Alan sudah berjalan, ia kini berada di perumahan yang sepi, ia sengaja melewati jalan pintas meski ia belum pernah melewatinya. Karena tak ingin telat di hari pertama kerjanya, ia segera melompat tinggi ke arah salah satu atap bangunan rumah.
Lalu ia berlari dengan cepat, dan melompat dari atap ke atap bangunan lainnya. Apa yang ia lakukan tidak mencolok, karena ada beberapa orang dari semua Ras yang juga melakukan apa yang ia lakukan untuk mengejar waktu. Setelah lebih setengah jam ia berlari dan melompat, ia turun dan kembali berlari dalam kecepatan normal di trotoar.
Tak lama kemudian, Alan telah sampai di SMA X2. Ia melihat banyak sekali murid-murid dari Ras Manusia, Elf, dan DemiHuman berdatangan. Ia juga melihat anak-anak berseragam SMP ikut masuk. Ya, mereka itu akan mengikuti kegiatan MOS di hari pertama sekolahnya.
Pandangannya teralih ke arah seorang pria Elf berbaju formal serba hitam yang sedang berjaga. Ia segera mendekati pria itu. "Selamat pagi, pak." sapanya dengan ramah.
"Begini, saya mendapat panggilan dari Sekolah ini untuk mulai bekerja."
Pria itu mengangguk-angguk. "Ayo, aku antar ke ruang kepala sekolah."
Pria itu lalu mengantarkan Alan masuk ke dalam bangunan sekolah itu. Tak lama Alan dan pria itu berjalan di lorong sekolah, mereka berdua telah sampai di depan pintu ruangan kepala sekolah.
Pria itu membukakan pintu ruangan itu. "Silahkan masuk. Dan kamu bisa duduk dulu untuk menunggu, karena kepala sekolah sedang mengikuti upacara penerimaan siswa baru." Alan mengangguk, lalu ia segera masuk. Pria itu menutup pintunya dan pergi untuk kembali menjalankan tugasnya.
Sementara Alan, ia sudah duduk di salah satu sofa di ruangan itu. Mau tak mau, ia hanya bisa diam menunggu kepala sekolah selesai mengikuti upacara. Dari pada diam tak melakukan apapun, ia bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah lemari yang dipenuhi buku-buku.
Alan melihat-lihat semua buku-buku itu. Lalu pandangannya terfokus salah satu buku yang berwarna hitam pekat, lalu ia meraihnya. Sebenarnya mungkin apa yang ia lakukan tidaklah sopan karena seenaknya melihat buku tanpa izin dari pemiliknya, tapi rasa akan penasarannya memintanya untuk melakukan hal ini.
Alan pun membaca sampul buku itu. Ia mengerut dahinya setelah membaca judul buku itu. "Sejarah Perang Besar 1699." gumamnya. Ia tersenyum tipis, lalu Alan membukanya, dan memulai membacanya dari halaman pertama.
.....
Setengah jam lebih kemudian.
Sudah lebih dari 35 menit Alan masih berdiri sambil membaca buku itu. Dalam pikirannya, ia tak terduga bahwa ada kisah masa lalunya bisa tertulis dalam buku yang ia baca saat ini. Sebenarnya dulu sebelum ingatan masa lalu belum kembali, ia sudah pernah membaca buku tentang sejarah masa lalu.
Akan tetapi buku yang saat ini Alan baca sangat lengkap dari pada buku sejarah yang pernah ia baca sebelumnya. Bisa dikatakan semua isi buku ini adalah rekaman masa lalu. Dan dari ceritanya sesuai awal mula sejarah Perang Besar masa lalu. Tapi ada sebagian kecil yang tidak tertulis di dalam buku ini.
Dan tentu saja Alan tau, karena dirinya salah satu orang yang terlibat di dalam Perang Besar masa lalu. Sudah lebih 30 halaman yang ia baca, lalu ia membuka halaman selanjutnya. Tak lama kemudian, ia terbelalak setelah membaca Pahlawan Pedang generasi pertama setelah perang usai.
Yang dimana isi halaman itu tertulis setelah 1 bulan perginya Pahlawan Pedang generasi pertama, ada sekelompok petualang menemukan mayatnya yang sudah bernyawa. Tentu saja ia terkejut membacanya. "Yang benar saja ?" gumamnya.
Lalu Alan terkejut mendengar pintu ruangan itu terbuka. Dan benar saja kepala sekolah itu datang ke dalam. Dengan panik, Alan membalikkan buku itu ke tempatnya.
"Tak perlu panik begitu. Justru aku suka anak seusiamu masih tertarik dengan cerita sejarah." ucap Kepala sekolah untuk menenangkan Alan yang baru saja mengembalikan bukunya ke tempatnya.
"Maafkan saya Pak yang sudah tidak sopan." ucap Alan dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Hahaha, kau tenang saja. Bukankan sudah kau dengar kataku tadi ? Aku sangat suka melihatmu membacanya, karena anak-anak muda seusiamu sangat jarang ingin tau sejarah masa lalu." jawab Kepala sekolah.
Alan tersenyum kecil. Lalu Kepala sekolah berkata. "Kalau kamu tertarik dengan buku tadi yang kau baca, aku memberi izin padamu untuk meminjamnya."
_________________________________
Selamat Tahun Baru 2023.