Universe D-01 | Returns Of The Legend

Universe D-01 | Returns Of The Legend
BAB 12 : Penasaran Akan Kejadian.



Setelah tak sampai setengah jam, Alan keluar dari warung makan itu. Ia sudah menghilangkan rasa laparnya. Sambil berjalan pulang ke kosnya, pikirannya tentang hidupnya saat ini. Ya, kerasnya kehidupan zaman ini membuatnya banyak pikiran, kerena tak memiliki pekerjaan.


Tak terasa saat ia berjalan, ia telah sampai di kosnya. Alan menghela nafasnya, ia benar-benar tak menyangka, kalau terlalu banyak berfikirz bisa-bisanya ia tak menyadari kalau dirinya telah sampai di kosnya. Lalu ia membuka kunci kamarnya dan masuk. Ia langsung merebahkan dirinya di kasur.


"Hah..., benar-benar membingungkan di zaman ini. Sungguh keras, tidak seperti di zaman dulu." Alan bergumam, dan di pikirannya mulai membandingkan perbedaan zaman dulu dan sekarang.


Dulu ia mengira zaman dulu sungguh keras, namun zaman sekarang jauh lebih keras, salah satunya sulitnya mencari pekerjaan. Kalau dulu kebanyakan bertani, dan dan menjadi Petualang. Tak lama Alan banyak berfikir, perlahan kedua kelopak matanya terasa berat. Pada akhirnya, ia pun tertidur.


.....


Sementara di tempat lain, terlihat 2 Ras Manusia tengah berdiri memandang 1 orang Ras DemiHuman Singa. Mereka yang tak lain Dika, Pahlawan Perisai, dan Barion. Sebenarnya tidak hanya mereka saja, melainkan seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, di tempat itu banyak sekali orang-orang dari ketiga Ras yang tergeletak di tempat itu.


Meski sudah ada yang sebagian yang sadar, akan tetapi mereka memilih diam tergeletak di tempat mereka masing-masing, seperti orang yang tak perdaya. Dan selain Dika dan Pahlawan Perisai, ada Barion yang kini berlutut. Ia berlutut karena menahan rasa sakit sekaligus rasa kelelah yang ia alami saat ini. Bagaimana tidak ? Ia beberapa saat lalu, ia bertarung melawan Pahlawan Perisai.


Dan rupanya hasilnya Pahlawan itu lebih ungguh darinya. Dika sedari tadi diam saja, ia tak berfikir untuk melawan Pahlawan Perisai itu. Sudah jelas, karena ia sangat mengetahui kalau seseorang yang sudah terpilih menjadi salah satu Pahlawan Senjata, maka orang itu memiliki kekuatan yang berbeda dari orang-orang lainnya.


"Jadi, kau mau lanjut, atau sudahi saja ?" tanya Pahlawan Perisai.


Barion menundukkan kepalanya. "Aku mengaku kalah."


Pahlawan Perisai menganggguk kepalanya. "Baguslah. Sekarang, sebaiknya kau tunggu semua anak buahmu bangun dan setelahnya, kalian pergil." lalu ia menoleh ke arah Dika yang diam saja sedari ia datang hingga sekarang.


Pahlawan Perisai itu berjalan mendekatinya. Dika memilih diam, karena percuma kalau ia pergi melarikan diri. Ketika jarak mereka 2 meter berdiri berhadapan, Pahlawan Perisai itu bersuara. "Jadi, sebelumnya apa yang terjadi ?"


Dika sedikit memiringkan kepalanya. "Hah ?" sahutnya karena bingung..


Pahlawan Perisai itu berdehem. "Maksudku, sebelum aku datang, apa yang sudah terjadi di sini ? Kenapa semua anak buahmu dan dengannya tergeletak lemas seperti orang yang tidak berguna ?"


Dika pun paham apa yang dimaksud oleh Pahlawan ini. "Sebenarnya, sebelum kedatangan tuan..." ucapannya terpotong.


"Jangan memanggilku seperti itu. Aku masih berumur 17 tahun, jadi aku tidak pantas disebut panggilan itu." kata Pahlawan Perisai memotong ucapan Dika.


"Ahh, maafkan aku karena belum memperkenalkan diriku. Namaku Jun Li, kau bisa memanggilku Jun. Dan asalku dari Negara China." sambungnya.


Dika mengerut dahinya. "Kalau kau berasal dari China, kenapa berbicara bahasa Negara ini ?"


Pahlawan Perisai yang memiliki nama panggilan Jun itu, ia terkekeh mendengar Dika bertanya, lalu ia menjawab. "Apa kau tak tau ? Di zaman sekarang, ada salah satu matra Sihir agar bisa berbicara semua bahasa Negara yang ada di Bumi ini ?"


Dika pun teringat setelah mendengar jawaban Jun. Memang benar, ada Sihir yang bisa membuat penggunanya memahami dan berbicara segala bahasa Negara. Dan masalahnya, ia tak bisa menggunakan mantra itu, karena hanya orang-orang tertentu yang bisa mengetahui mantranya dan menggunakannya.


Dika menghela nafasnya. "Kenapa kamu tak menyerangku."


Dika terbelalak, ia tak menyangka sosok Jun itu tau hal itu. Jun pun bersuara lagi. "Aku tau karena, aku sudah 6 bulan tinggal di tempat ini, aku sudah melihatmu dan kelompokmu berkali-kali melindungi tempat ini dari pihak-pihak luaran sana."


Dika kembali terkejut, ia tak menduga kalau sosok Pahlawan Perisai ini sudah 6 bulan tinggal disini, jadi masuk akal kalau Jun ini paham dengan dirinya dan kelompoknya melindungi tempat ini. Tak setelah berfikir seperti itu, Dika pun mengerut dahinya.


"Kalau kau sudah tinggal disini selama 6 bulan, kenapa kau baru muncul sekarang ? Dan kenapa kau malah bertanya apa yang terjadi beberapa saat lalu sebelum kau datang ?" Dika bertanya.


Jun mengangguk-angguk kepalanya, lalu ia menjawab. "Aku memiliki tugas untuk mengalahkan kelompok mafia dan oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Jadi, mana mungkin aku diam saja di kontrakan dan mengabaikan tugasku."


Jun melanjutkan. "Dan kenapa selama ini aku diam saja, karena aku yakin, kau dan kelompokmu bisa melindungi tempat ini."


"Tapi ketika aku baru saja pulang," ucap Jun sambil memandang sekelilingnya, banyak orang-orang kelompok Jun dan Barion yang sudah sadar dan sedang saling membantu untuk bangkit berdiri. Barion dan kelompoknya pun mulai berjalan untuk pergi. "kenapa semua seperti ini ?" tambahnya.


"Mungkin ini terkesan tidak sopan karena aku tiba-tiba muncul dan langsung bertanya tentang kejadian yang sudah terjadi." Jun menambahkan lagi.


Dika sejenak terdiam, lalu ia pun mulai menceritakan semuanya. Sedari kelompok Barion yang datang untuk mengambil wilayah. Tentu saja Dika dan kelompoknya tidak diam saja. Mereka pun mulai berselisih dan bertarung. Dika pun mengakui kesalahan karena ia dan kelompoknya tak memperdulikan keamanan setempat.


Tiba-tiba sosok pemuda asing yang merupakan Ras Manusia datang di tengah mereka. Kedatangannya memang ingin menengahi, akan tetapi kelompok Jun dan Barion yang sudah dalam keadaan kesal karena merasa pemuda itu mengganggu aktifitas mereka, sehingga semua berniat menyerang pemuda itu.


Dika yang awalnya ingin mendekati pemuda itu agar menjauh, tiba-tiba Barion menghalanginya. Dan sehingga semua kelompok dari kedua pihak kembali saling menyerang. Pada akhirnya semua anak buahnya dan Barion tumbang karena bukan karena serangan musuh saja, tetapi juga dari pemuda itu.


Dika menceritakan pemuda itu bukanlah Ras Manusia biasa, karena memiliki kemampuan regenerasi, lebih mengejutkannya lagi semua orang tak bisa merasakan energi mananya.


Jun menyimak cerita Dika dengan tenang, lalu ia bersuara. "Kamu bilang orang asing itu dari Ras Manusia."


Dika mengangguk kepalanya. Jun pun berkata. "Setelah mendengar ceritamu, aku jadi sangat penasaran dan ingin segera menemuinya."


Dika sedikit memiringkan kepalanya. "Kau tidak berniat untuk bertarung dengannya, 'kan ?"


Jun terkekeh. "Itu tergantung, kalau dia tiba-tiba menyerangku duluan, mana mungkin aku diam saja."


_________________________


Visual Tokoh.


Jun Li, Sang Pahlawan Perisai.