
Bumi, tahun 2218.
Indonesia, Kota A.
Hari sore hari mendekati akan gelapnya langit. Terlihat sebuah bangunan rumah tak berpenghuni, bisa dikatakan rumah itu adalah salah satu rumah kosong di dekat pinggir kota, tepatnya di hutan. Terlihat seorang remaja mengenakan kemeja putih kotor dan celana hitam berdiri di depan ketiga remaja juga yang mengenakan pakaian mahal.
Salah satu dari mereka bertiga dari Ras DemiHuman serigala. Remaja mengenakan kemeja putih dan celana hitam, ia seorang diri yang berdiri dihadapan ketiga laki-laki itu dalam posisi bertahan dengan kuda-kudanya. Dirinya dibawa paksa oleh ketiga laki-laki itu ke rumah kosong ini. Padahal hari ini adalah ia akan melamar pekerjaan.
Terlihat remaja sendiri itu memanglah tampan, meski ada beberapa luka lebam di wajahnya. Sedangkan ketiga orang dihadapannya juga sama, memiliki luka lebam di wajah mereka. Salah satu dari mereka bersuara. "Tak kusangka orang lemah seperti dia bisa bela diri."
Lalu salah satu temannya juga berkata. "Tapi tidak masalah, dengan kita bertiga dan dia sendirian, ditambah dia tak memiliki energi mana untuk menggunakan Sihir seperti kita, sudah pasti kita takkan kalah."
Ya, ketiga orang itu bisa menggunakan Sihir, sedangkan dihadapan mereka tak bisa menggunakannya. Sedari awal, mereka belum menggunakan Sihir mereka. Mereka mengira cukup dengan kekuatan fisik bisa menghabisinya, rupanya tanpa disangka seseorang yang mereka incar cukup pandai dalam bela diri.
Laki-laki sendirian dihadapan mereka bertiga bernama Alan Kavaya. Dia berumur 18 tahun. Alan yang memang cukup dikenal karena ketampanannya waktu di sekolahannya, meski tinggi badannya hanya 165, berkulit putih kecoklatan, itu tak menutupi ketampannya. Ia baru lulus sekolah 1 bulan yang lalu.
Hari ini, ia bermaksud mencari pekerjaan yang sesuai dengan ijazah SMA-nya. Dulu, wakru di sekolah, ia selalu dibuli karena ia sudah tak memiliki orang tua, dan tak bisa menggunakan Sihir. Meski sebenarnya masih banyak siswa dan orang-orang yang tak bisa menggunakan Sihir, akan tetapi dia selalu menjadi incaran semua preman di SMA-nya.
Selama hidupnya, dia diam karena dia tak ingin masalah besar datang kepadanya. Akan tetapi, entah kenapa dia sudah saatnya menggunakan teknik bela dirinya, karena apa yang mereka lakukan sudah keterlaluan, yang dimana dirinya dipukul habis-habisan yang bisa membuat dia cacat seumut hidup.
Bisa-bisa ia tak tak ada yang mau menerimanya dalam pekerjaan, meski menjadi OB sekalipun. Karena sebelumnya, waktu sekolah ia selalu dibuli, tetapi tak sampai separah sekarang ini. Alan pun bersuara. "Aku tak tau kenapa kalian selalu menggangguku. Padahal aku tak berbuat masalah apapun kepada kalian. Bahkan hingga setelah lulus sekolah"
Salah satu dari mereka bernama Steve pun menjawab. "Kau memang tak berbuat salah besar, tapi karena melihatmu, itu mengingatkanku ke salah satu Gadis incaranku dekat denganmu, itu membuatku tak suka."
Alan mengerut dahinya. "Maksudmu Alia ? Ayolah, aku tidak sedekat itu dengannya. Waktu sekolah pun ia hanya minta bantuan karena kesulitan dalam belajarbya. Lagi pula, itu sudah lama, dan aku tak pernah bertemu dengannya semenjak lulus sekolah."
Steve menjawab dengan nada membentak. "Tentu saja itu jadi masalah bagiku, karena kau muncul di hadapanku, aku jadi semakin membencimu." lalu ia mengarahkan salah satu telapak tangannya ke arah Alan. "Sebaiknya kau mati saat ini juga." bersamaan bola Api muncul di telapak tanganya dan siap untuk ia lepaskan.
Tak hanya Steve, kedua temannya pun juga sama, mereka mengeluarkan bola Api di salah satu telapak tangan mereka. Alan terbelalak, karena ia merasakan energi Sihir Api dari mereka bertiga berada ditingkat atas. Meski tak bisa menggunakan Sihir, Alan bisa merasakan energi Sihir dari siapapun.
"Kalian betiga sudah Gila...!!" Alan berteriak, lalu ia berbalikkan tubuhnya. Dengan segera ia berlari sekuat tenaga.
Meski bisa pandai dalam bela diri, tetap saja, dirinya hanya manusia yang tak bisa menggunakan Sihir. Bahkan fisiknya juga takkan mampu menahan serangan Sihir tingkat tinggi. Kembali mengingat ketiga orang itu adalah yang terkuat dalam Sihir Api waktu di sekolah, pastinya ia tak menjamin keselamatannya.
Melihat Alan berlari, Steve dan kedua temannya langsung melepaskan Sihir mereka. Alan yang belum berlari jauh dari mereka bertiga, panik bukan main. DUAR....!!
Akhirnya dia terkena serangan Sihir Api dari ketiga laki-laki itu. Dan itu membuat sebuah ledakan besar, dan membuat tanah sedikit bergetar, serta langit-langit rumah kosong itu hampir roboh. Steve segera melihat keadaan Alan. Dia tersenyum puas, melihat kondisi Alan yang gosong, pakaian yang dikenakannya juga ikut terbakar.
"Sepertinya dia sudah mati." ucap Steve.
Steve mengangguk kepalanya. "Kau benar."
"Sebaiknya kita pergi, jangan menyia-siakan waktu kita disini." ucap teman Steve yang ber-Ras DemiHuman serigala.
"Hah, benar juga. Kita akan berpesta di villaku." sahut Steve.
Mereka berdua mengangguk, karena sudah tak merasakan hawa kehidupan dari jasad Alan, mereka bertiga segera pergi dari lokasi. Karena efek serangannya bisa jadi perhatian, itu pun bila ada orang-orang yang tinggal tak jauh dari tempat ia membunuh Alan. Steve bergegas menginjak pedal gas mobilnya, mereka pun akhirnya pergi.
.....
Beberapa jam kemudian. Hari telah gelapnya malam. Kembali di kondisi Alan yang sudah bernyawa, tiba-tiba terlihat sebuah portal muncul di dekatnya, keluarlah sosok lelaki tua dari portal itu. Dia menghela nafasnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kondisi Alan yang sangat mengenaskan.
Dia pun melihat sebuah bola cahaya sebesar bola tenis keluar dari jasad Alan. Lalu Lelaki tua itu meraih bola cahaya itu, dia pun berkata. "Ini adalah salahmu sendiri yang dulu kau memintaku untuk mengambil manarik kekuatanmu."
Lalu ia mengarahkan bola cahaya itu ke atas langit, dia memandangnya dan lalu berkata. "Alan Kavaya, Atas Akan Diriku, Aku Memutuskanmu, Untuk kembali hidup serta mengembalikan semua kekuatan di masa lalu."
Tiba-tiba bola cahaya itu bersinar terang, dan juga langsung bergerak cepat kembali masuk ke jasad Alan yang sudah hangus itu. Secara tiba-tiba tubuhnya yang gosong itu perlahan pulih sepenuhnya dan menjadi sosok lelaki remaja tampan kembali. Jasad itu pun kini kembali hidup, kedua matanya pun terbuka secara tiba-tiba.
Alan pun segera bangkit dari posisi tidurnya. Ia hanya bertelanjang dada saja, meski celana abu-abunya telah terbakar, meskipun begitu tidak sepenuhnya, hanya sampai kedua pahanya, setidaknya masih bisa menutupi aset berharganya. Dia melihat kondisi tubuhnya yang telah kembali pulih sepenuhnya.
Tiba-tiba kepala terasa sakit, rambutnya yang awalnya berwarnah hitam, perlahan memutih salju. Begitu juga dengan warna kulitnya yang menjadi putih bersih, dan tubuhnya sedikit berotot. Tak hanya itu, ia juga merasakan rasa sakit luar biasa pada tubuhnya. Besamaan, di dalam pikirannya, ia melihat sebuah bayangan-bayangan masa lalu dirinya.
_________________________
Visual Tokoh.
Alan Kavaya.
_________________________
Hayo..., masih penasaran ?
Jangan Lupa Like.