Unexpected

Unexpected
LaZa 6



Ini masih terlalu pagi untuk merusak moodku. Melihat siapa yang datang dan menungguku didepan rumah, dengan wajah tanpa dosanya. "Arghhhh andai dia bukan bos Lula, habis dia sama Lula" batinku menggerutu.


Seperti biasa pagi sekali aku sudah bersiap untuk berangkat sekolah, tapi saat keluar rumah Pak Zahfran sudah ada didepan rumahku, dengan mobil yang berbeda lagi. Kali ini dia membawa mobil sport dengan merk terkenal warna merah.


"Bapak mau apa?"


"Sudah saya bilang, kalau diluar cafe kamu tidak perlu memanggil saya dengan sebutan bapak" aku mendengus kesal, ku paksakan untuk tersenyum seraya berkata


"Mas Zahfran ada yang perlu saya bantu? kenapa anda pagi sekali sudah ada disini?" nada kubuat seolah berkata sopan dan halus


"Mau jemput calon istri dong. Kasian kalau harus berangkat jalan kaki" ujarnya dengan santai kemudian membukakan pintu untukku


"Tunggu sebentar saya tidak menyuruh mas untuk menjemput saya" tegasku


"Tak perlu kau suruh, aku tak ingin calon istriku lelah"


"Dan saya tidak akan berangkat dengan bapak" tegasku bergegas pergi, biarlah pintu pagar tak ku kunci yang penting aku terbebas dari bos sinting itu.


Baru beberapa langkah melewati mobilnya tiba tiba aku merasa terbang, dia menggendongku dari belakang dan langsung memasukkan ku kedalam mobil. Aku tak bisa keluar karena langsung dikunci olehnya


"Mas maunya apa si?" tanyaku saat dia sudah masuk kedalam mobil


"Aku cuman mau jemput kamu La, anter kamu biar kamu gak cape" kali ini dia berkata lembut sambil mengelus kepalaku dan juga tersenyum. "Gila manis sekali senyumnya. Lula awas gak boleh baper" batinku terus berdebat


"Tapi maksud mas apa? Sedari kemarin menyebut saya calon istri mas, padahal kita baru sekali bertemu dan sekarang anda terus mengganggu saya" dan lagi dia hanya menjawab dengan senyuman. Kesal rasanya, kemudian aku hanya diam menatap keluar jendela.


Tiba tiba dia memegang tanganku lalu mengecupnya


"lepasin, apaan si gak sopan banget" aku mencoba melepaskan tanganku, dia benar benar-benar sinting.


"Maaf kalau aku mengganggumu. Mas hanya ingin lebih dekat denganmu. Agar nanti saat waktunya tiba kamu tidak terkejut" dia berkata dengan satu tangan menyetir dan tatapannya fokus ke jalanan, sedangkan tangan lainnya terus menggenggam tanganku.


"Waktu apa si gak jelas banget. Lula tu gak ngerti apa yang mas bicarakan dari kemarin. Dan Lula sudah punya pacar, jadi tolong lepasin tangan Lula" aku menghempaskan tangannya kemudian menatap keluar jendela. "Satia pasti marah kalau tau ini semua" batinku ngilu membayangkan Satia marah.


Kemudian suasana mobil menjadi canggung, dia sudah tak bersuara lagi, dan aku juga enggan berbicara dengan orang aneh seperti dia. Hanya alunan musik dari salah satu saluran radio yang terdengar. Jarak rumah dengan sekolah yang biasanya dekat kali ini terasa begitu jauh. Ingin rasanya segera keluar dari situasi ini.


Sesampainya disekolah, banyak sekali yang memperhatikan mobil mahal ini. Canggung rasanya ingin keluar, tapi aku harus keluar sebelum dia membukakan pintu untukku


"Terimakasih" tanpa fikir panjang aku segera keluar dan langsung berlari menuju kelasku. Biarkan saja dia, malas aku meladeni setiap tatapan dari kawan kawanku.


***


Seminggu sudah Satia belum juga siuman, dan bos aneh itu juga terus menggangguku, mulai dari menjemput ku, mengantar bekerja, atau mengantar pulang. Dan dia juga terus berusaha mengajakku jalan jalan. Tapi aku enggan, berbagai alasan aku lontarkan agar bisa menghindarinya.


Tapi tidak kali ini, dia berhasil menculikku dan membawa kesebuah pusat perbelanjaan. Dengan masih menggunakan seragam sekolah, aku terus menggerutu berjalan dibelakangnya


"Kamu itu bukan pembantu saya sini" ujarnya sambil menarikku dan merangkulku. Aku hanya diam, malas meladeni dia.


Dia membawaku ke sebuah store baju ternama. "Pilih baju yang kau suka" ujarnya, rasanya aku ingin berteriak di telinganya seenaknya saja menyuruhku. Tapi dari pada makin lama dan aku harus terus mendengar gombalan dia lebih baik aku menurut agar hari ini cepat usai, dan aku bisa ke rumah sakit.


Aku memilih kaos over size berlengan panjang warna nevy dan celana hitam pendek, ikat kepalaku ku lepas ku biarkan rambutku terurai.


"Sudah, apa lagi sekarang?" sedari tadi dia hanya asik bermain hp sampai aku berdiri disampingnya dia tak menyadari. Kemudian dia hanya menatapku lama


"Jangan menatapku seperti itu" ucapku sambil memukul wajahnya. Dia kemudian menggandeng tanganku dengan erat.


"Ada apa? Kenapa anda menggandeng saya kuat sekali, sakit" aku berujar sambil memukul tangannya dengan tangan kiri ku. Dia kemudian melonggarkan genggamannya


"Maaf, aku hanya takut" ujarnya membuatku heran


"Apa yang anda takutkan?" dia terus menggandengku, entah kemana dia akan membawaku


"Aku takut kamu ada yang melirik, kamu terlalu cantik dengan baju itu" jelasnya membuatku tertegun, dia berucap dengan tenang dan raut muka yang tegas menatap kedepan.


***


Kita sampai disebuah bukit kecil, sangat sepi hanya kita berdua namun pemandangannya sangat indah, aku kagum ada tempat seperti ini ternyata.


"Apa kau suka?" tanyanya


"Iya, ini sangat indah" ujarku terus menatap sekeliling, pohon yang rindang tidak begitu lebat sehingga tidak ada kesan menyeramkan. Matahari dengan bayangnya akan tenggelam, dan juga sejuknya angin membuat suasana semakin menakjubkan.


"Kemarilah" saat ku lihat Mas Zahfran sudah duduk diatas mobil dia mengulurkan tangannya, tanda menyuruhku untuk duduk disebelahnya


"Tak apa, akan ku bantu" ujarnya meyakinkan ku. Aku hanya menurut saja. Saat sudah diatas mobil kembali aku terpana dengan pemandangan kota dihiasi langit senja. Sungguh menawan.


Kurasakan sebuah pelukan dari sebelah


"Impianku adalah melihat pemandangan indah ini ditemani gadis tercantik didunia yang akan menjadi ibu dari anak anakku" ujarnya ngelantur kemana, aku berusaha melepaskan pelukannya namun dia semakin erat memelukku.


"Mas ngomong apa si dari kemarin, nikah lah, istri lah sekarang anak. Saya saja masih sekolah" aku menyerah pelukannya sangat erat, dan ototnya juga kekar


"Sebentar lagi kau akan lulus SMA, dan kau akan mendapatkan jawaban dari semua pertanyaanmu" jelasnya, dia menyadarkan kepalanya dipundak ku sambil memelukku dari samping. Aku hanya diam menikmati pemandangan langka ini.


***


Pukul 19.56 aku tiba dirumah diantar Mas Zahfran, dia bergegas pamit karena ada urusan dikantornya. Baru saja aku akan masuk kedalam rumah seseorang menelfon ku


"Lula Satia sudah sadar"


Sebuah kalimat yang mampu membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Tanpa fikir panjang aku langsung memesan ojek online menuju rumah sakit.


Sepanjang perjalanan aku merasa bersalah karena saat Satia bangun aku tidak ada disisinya "Satia tunggu Lula, Lula akan datang" perasaanku tidak enak, sepanjang perjalanan pulang setelah pergi dengan Mas Zahfran seperti ada yang mengikuti ku, dan sekarang ada sebuah motor yang tiba tiba muncul dan mengikuti ku. Dia sendiri, dengan helm full face dan jaket hitam, aku takut aku meminta untuk driver mempercepat jalannya.


"Sudah saya bayar ya pak, terimakasih" ucapku bergegas lari masuk kedalam rumah sakit orang yang mengikuti tadi hanya menatapku dari parkiran depan rumah sakit.


"Assalamualaikum" aku langsung membuka kamar Satia, ada Bunda dan Ayah serta Satia yang tersenyum manis menatapku. Aku mematung ditempat tak percaya dengan apa yang ku lihat. Senyum manis yang selalu aku rindukan, kini menyapaku dengan tulus.