Unexpected

Unexpected
LaZa 3



Selesai makan malam bersama keluarga Satia, aku berencana akan pulang. Namun tiba tiba handphoneku bergetar


"Misi Bunda Ayah semua Lula mau angkat telefon dulu"


pamitku kepada semua yang ada dimeja makan, segera aku bangkit dan menuju dapur


"Hal..." belum selesai aku menyapa orang disebrang sana sudah berbicara dengan nada panik


"Lula sekarang kamu datang ke cafe, Viola tidak berangkat dan Cafe sedang ramai karena ada acara penting. cepat datang" setelah mengatakan itu dia langsung mematikan telfonnya.


Hari Sabtu dan Minggu adalah hari liburku, karen buka. piket ku, tapi ini sering terjadi saat ada yang tidak masuk aku yang harus menggantikan.


"Siapa Lula?" tanya Bunda saat aku kembali ke meja makan


"Mas Aryo bun, bos Lula di Cafe" jawabku sambil kembali duduk disebelah Mona -adik Satia


"Ada apa?" sekarang Satia yang bertanya, aku tidak enak kalau harus pergi begitu saja. Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal


"Viola kawan Lula yang piket hari ini tidak masuk, jadi Lula harus ke Cafe, karena di Cafe sedang ada pesta dan mereka kewalahan" jelasku


"Ya sudah, kamu biar diantar Satia saja" ujar Om Lukman -Ayah Satia


"Maaf Ayah, maaf bunda Lula gak bisa lama lama disini" ujarku dengan lemas


"Gak papa nak. Kan bisa main kapan saja. Pintu rumah ini selalu terbuka buat kamu"


"Ya udah ayo Satia antar" ujar Satia sambil meninggalkan meja makan, sebelum pergi aku berpamitan dengan Tante Sella dan Om Lukman


"Dadah Mona, kakak pulang dulu ya" Aku mencium Mona yang sedang makan biskuit bayi.


"Lula pamit ayah, bunda. Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


Satia telah menunggu diatas motornya


"Ini pake" dia menyerahkan jaket bermotif army miliknya


"Makasih, maaf ya Lula harus kerja" aku merasa bersalah karena merusak makan malam ini


"Udah gak papa, kan Lula harus kerja. Harusnya Lula fikirin kesehatan Lula aja ya" Ujar Satia sambil mengenakan jaket di punggungku dan kemudian mengelus kepalaku


"Udah ayo berangkat, dari pada Mas Aryo marah"


Aku segera naik ke motor Satia dan berangkat menuju Cafe.


*


Sesampainya di Cafe aku segera menuju dapur dan lokerku. Segera ku ganti seragamku dan ku simpan barang-barang ku. Setelah selesai aku masuk ke dapur.


"Mas Aryo, maaf terlambat" ujarku saat bertemu dengan Mas Aryo, bisa dibilang dia adalah bosku, dia adalah orang kepercayaan pemilu Cafe ini.


"Lula, untung kamu datang. Kami semua kewalahan karena kurang personil cakap sepertimu" jelas Mas Aryo


"Memang ini ada acara apa mas?" tanyaku penasaran


"Jadi hari ini bos kita mengadakan pesta dan makan malam bersama dengan semua rekan bisnisnya. Pestanya sudah dimulai tapi makan malamnya baru akan mulai 15 menit lagi, dan belum semua makanan siap" jelas Mas Aryo cemas


"Oh begitu, oke mas aku akan bekerja dengan baik. Dan tidak akan mengecewakan bos besar."


Aku segera mulai untuk mengecek menu yang ada, mulai meracik beberapa menu yang belum dimasak, dan juga memonitor kawan kawanku. Walau mereka banyak yang lebih tua dariku tapi mereka percaya dengan kepemimpinan ku dalam mengontrol semua pekerjaan dapur.


"Oke Mas Aryo semua siap" ujarku sambil menekan bel diatas meja. Mas Aryo datang dan langsung mengecek semuanya. "Bagus makan malam akan segera dimulai, Lula kamu ketua pelayan dan yang lain nanti membawakan semua menu" perintah Mas Aryo.


"Siap" jawab ku dan 7 karyawan lain bersamaan


Kemudian aku keluar duluan untuk menyapa para tamu, setelahnya kawanku yang lain datang membawakan pesanan. Sebenernya Cafe ini sudah cukup besar dan hisa dibilang seperti restoran tapi karyawan yang bekerja tetap disini tidak lah banyk, kebanyakan mereka adalah mahasiswa yang mencari pekerjaan sambilan.


Aku terus memperhatikan para tamu, semua cantik dan tampan dengan tampilan yang memang seperti bos besar, tapi selama 2 tahun bekerja disini aku hanya sekali bertemu dengan pemilik Cafe ini, saat interview. Dan sekarang aku baru melihatnya kembali. Sungguh mempesona, tapi mukanya sangat datar saat diam, namun senyumnya sangat memikat.


Banyak orang yang baru pertama kali mengenalnya akan mengatakan kalau dia adalah orang yang angkuh sama sepertiku, kesan pertama yang aku tangkap adalah dia orang yang cuek. Tapi setelah mendengar cerita dari Mas Aryo dan beberapa kawan bos, dia adalah orang yang baik dan sangat ramah. Bahkan murah senyum.


"Semua makanan sudah tersaji, silahkan menikmati makan malam anda semua. Jika ada kesalahan bisa memanggil saya disebelah kasir. Sekian, selamat malam" ujarku dengan sopan, dan sebelum pergi aku menunduk sebagai tanda hormat kepada para bos.


"Huft lega juga" aku menghela nafas saat sampai disebelah kasir. Cafe malam ini benar benar hanya untum acara bos besar, tidak ada pengunjung lain.


"Bagaimana?" tanya Katya kawanku yang berjaga di kasir malam ini


"Lancar, tegang tapi disana bos besar semua" ujarku berbisik, hanya dibalas dengan tawa ringan oleh Katya


***


Ku renggangkan otot tubuhku, malam ini cukup melelahkan. Untung saja tugas sekolah sudah aku kerjakan kemarin. Aku baru selesai dari Cafe pukul 01.00 dini hari


"Sepertinya aku harus berjalan" batinku, karena sudah sangat larut tidak akan ada kendaraan umum. Lumayan jauh si antara rumah dan cafe tapi mau tidak mau aku harus pulang.


Baru saja beberapa langkah dari Cafe ada mobil yang berhenti di sebalahku.


"Lula, mau saya antar pulang?" tanya orang dari dalam mobil yang ternyata adalah Pak Zahfran -Pemilik Cafe tempatku bekerja.


"Tidak usah pak, saya pulang sendiri saja" tolakku dengan halus, sungkan rasanya untuk menebeng dimobil bagus milik bos


"Ini sudah sangat malam, tidak baik kalau berjalan sendiri. Masuk lah, bahaya" entah dia benar benar memperingatkan ku atau ingin menjahiliku, karena nada bicaranya seperi Satia saat menjahiliku.


Tapi benar juga, jalanan sepi dan bahaya jika aku berjalan sendirian


"Sudah masuklah" Ujar Pak Zahfran yang sudah membukukan pintu mobil untukku. Terpaksa aku masuk dan menerima tawarannya.


"Terimakasih Pak, maaf merepotkan anda" ucapku sopam setelah duduk di kursi yang nyaman ini


"Hahaha jangan panggil saya pak, saya belum tua" tawa Pak Zahfran begitu ringan, dia manis sekali saat tersenyum.


"Maaf pak, saya hanya menghormati bapak sebagai pemilik Cafe tempat saya bekerja" aku hanya bisa menunduk, rasanya sungkan dan canggung untuk dekat dengan bos.


"Tenanglah, ini tidak di Cafe, hanya ada kita kau bisa memanggilku Zahfran saja, atau kau bisa memanggilku seperti kau memanggil Arya dengan kata mas didepannya"


Aku hanya mengangguk, ternyata benar Pak Zahfran adalah orang yang ramah tidak sesuai dengan wajah diamnya yang tak memiliki ekspresi.


"Lagian usia saya juga baru 22 tahun" sambung pak Zahfran


"Baik pak,,, eh maaf baik Mas Zahfran" ku ralat panggilanku, ya setidaknya tidak ada orang lain yang tau kalau aku memanggilnya seperti itu.


*


Sepanjang perjalanan aku tak banyak bicara kecuali menjawab beberapa pertanyaan dari Mas Zahfran.


Dan aku heran kita sudah sampai di depan rumahku, dari mana dia tau rumahku, sedari tadi aku tak memberi taunya karena lupa.


"Bapak, eh Mas tau rumah saya?" tanyaku heran


"Masa rumah calon istri sendiri saya tidak tau" ujarnya dengan enteng


"Hah....?"