Unexpected

Unexpected
Prolog



Mungkin benar kata orang jika kita bisa memilih siapa yang kita suka tapi jodoh tetap Tuhan yang memberikan. Sekuat apapun kita menjaga dia kalau memang Tuhan tidak berkehendak untuk dia menjadi jodoh kita maka akan percuma saja.


"Saya terima nikah dan kawinnya Alula Zerania dengan maskawin tersebut dibayar tunai" ucap pria di sebelahku dengan sekali tarikan nafas. Wajahnya begitu tegas


"bagaimana para saksi?"


"sah..."


"sah..."


Setetes air mata mengalir di pipiku tanpa permisi, mulai hari ini aku menjadi seorang istri dari pria yang belum lama aku kenal dan juga bukan pria yang aku cintai.


Ada rasa bahagia karena mungkin ini jalanku menuju kebahagiaan, namun juga ada rasa sedih karena ini semua bukan kemauanku.


Pria tua didepanku yang tiba-tiba menyuruhku untuk menikah padahal aku tak mengenalnya, semua seperti tiba tiba-tiba


"Ya Tuhan jika memang ini jalan-Mu berikan aku kekuatan dan kesabaran untuk menjalani kehidupan ini" batinku berdoa.


"Silahkan mempelai pria menyematkan cincin" instruksi dari penghulu. Setalah itu pria di sebelahku menatapku seakan meminta izin hanya ku beri anggukan kecil, sedetik kemudian dia menyematkan cincin emas putih polos ke jariku.


"Silahkan mempelai perempuan bergantian" segera ku ambil cincin yang tersisa dan ku sematkan di jarinya. Sebagai tanpa hormatku, kucium tangannya dan tanpa aku duga dia mengecup keningku.


Saat itu air mata tak dapat aku bendung lagi, aku menyadari bahwa aku memiliki tanggung jawab yang bukan keinginanku.


***


Aku kira hanya akan ada ijab dan tasyakuran. Tapi ternyata mereka telah mempersiapkan segalanya sekaligus acara besar besaran yang dihadiri banyak tamu yang tak ku kenal.


Aku tak mengetahui kejutan apa lagi yang akan aku dapatkan. Karena ini aku tak sedikitpun mengetahui rencana ini, semua tiba-tiba. Semua seperti mimpi.


Dan disinilah aku sekarang, berdiri dengan gaun yang sangat berat tak seorangpun bisa ku ajak bicara, membosankan.


"Kau melamun" dia menjentikkan jari didepan mukaku, dan kemudian merangkul pinggangku.


"Suamimu ini memang tampan, kau akan melihatnya setiap hari tak perlu terpesona seperti itu" ujarnya dengan percaya diri dan senyum yang tak bisa aku artikan.


Belum sempat aku menjawab, tamu sudah datang untuk memberi selamat dan berfoto bersama. Segerombolan pria gagah, mereka semua tampan dan nampak akrab satu sama lain.


"Wah cantik sekali istrimu. Kau memang hebat" ujar salah seorang berkacamata


"Hahaha lihat dia manis sekali. Dia seperti adikmu, bukan istrimu" ujar lainnya


"Sudahlah, jangan menggoda wanitaku. Nikmati saja jamuannya"


Setelah bersalaman akhirnya mereka turun juga. Tapi saat dia memanggilku dengan kalimat "wanitaku" seperti ada kupu-kupu terbang diperut ku dan ku rasa pipiku panas.


"Hey sudahlah, jangan menunduk. Mereka ingin melihat kecantikanmu"


"Baik" hanya itu yang dapat aku ucapkan.


"Oh Tuhan kenapa aku bisa merona hanya karena dia memanggilku seperti itu. Dia hanya formalitas saja didepan kawan kawannya" batinku terus mengutarakan kalimat kalimat yang ingin aku ucapkan dan ingin aku tanyakan.


"Saatnya sesi foto bersama" MC berbicara menggunakan pengeras suara membuat semua berbaris untuk foto bersama. Setalah foto bersama adalah foto aku dan dia, berdua.


Entahlah sedari tadi aku bingung dan aku hanya mengikuti setiap instruksi dari WO saja.


"Selamat menempuh hidup baru dan semoga selalu diberi kebahagian dan keberkahan dalam menjalani kehidupan kalian kedepannya" sebuah doa diucapkan melalui MIC oleh seorang tamu, yang aku kenal suaranya.


Dan benar saja saat kulihat dia diatas panggung duniaku seakan gelap, pria itu dia datang dengan senyum penuh luka. Seketika penglihatanku buram dan semua suara seperti bersautan memanggilku. Gelap, aku tak tau apa apa lagi.