Unexpected

Unexpected
LaZa 5



Hatiku hancur melihat kondisi Satia lemah seperti ini, Satia baru selesai operasi pengangkatan gumpalan darah di otaknya. Dua hari sudah dia tidur, dan seakan nyaman tak ingin bangun


"Satia, bangun dong. Lula kangen senyum Satia" ujarku bermonolog. Sepulang sekolah aku langsung menuju rumah sakit untuk bergantian menjaga Satia dengan Bunda


"Satia harus bangun, Satia harus lihat gimana Rey dihukum biar setimpal sama Satia" aku terus berbicara seakan Satia mendengar ku.


Handphoneku bergetar menandakan bahwa ada pesan masuk. Pesan singkat dari nomer yang sama yang selalu menghubungiku setiap hari. Namun saat ku coba menelfon nomer itu tidak aktif.


"Cintai dirimu sendiri melebihi apapun. Jangan pernah berhenti untuk menjadi gadis manis ku. Jangan tidur terlalu larut nyonya besar"


Isi pesannya kali ini, sangat aneh. Aku kembali menatap Satia, pria tampan yang selalu menemaniku kini hanya tidur dengan tenang tanpa tau kapan dia akan bangun. Handphoneku kembali bergetar, saat ku buka ternyata dari Mas Aryo dia menyuruhku datang ke Cafe lebih awal karena akan ada tamu penting.


Sebelum pergi aku pastikan Satia dijaga oleh perawat sebelum bundanya datang. Segera ku pesan ojek online untuk bergegas ke Cafe. Sebenernya aku masih ingin menjaga Satia, tapi aku harus bekerja aku ingin menabung untuk biaya kuliahku.


"Mas Aryo" teriakku pada mas Aryo saat sampai di pintu dapur. Sepertinya mas Aryo baru saja keluar


"Bagus, kamu datang cepat. Kita ada tamu penting. Kali ini bos besar akan mengadakan rapat bersama rekan bisnisnya dari New York" jelas Mas Aryo sembari kami berjalan masuk.


"Bos besar pebisnis yang sukses ya diusianya yang masih sangat muda" pujiku. Benar aku kagum dengan kesuksesannya. Di usianya sekarang dia sudah memiliki banyak Cafe dan sebuah perusahaan. Bahkan sudah sampai internasional.


"Hahaha... kau akan lebih kagum lagi setelah mengenal kepribadian dia. Aku saja betah menjadi sahabatnya sejak masih ingusan" ujar Mas Arya dibarengi dengan tawa ringan


"Sudahlah, kita berbincang lagi nanti. Kembali bekerja" perintah Mas Arya


"Baik bos" jawabku menirukan suara Upin Ipin.


*


Ternyata rapat dimulai setelah magrib. Sebelum kembali bekerja aku sempatkan untuk sholat terlebih dahulu. Setelah bersiap aku berkumpul dengan timku malam ini dan membagi tugas. Seperti biasa aku dipercaya sebagai kepala tim lagi. Entahlah, padahal banyak yang lebih profesional dan lebih tua dariku.


"Semua siap?" tanyaku pada semua kawanku


"Siap" jawab mereka bersamaan


"Oke. Harap kerja samanya kawan" ucapku sambil menundukkan badan. Mereka adalah kawan kerjaku. Walau aku ketua tim merka bukanlah bawahanku.


Semua siap membawakan menu masing-masing. Setelah semua menu siap aku kembali menghampiri meja para tamu dan mengucapkan selamat makan. Bukannya aku percaya diri tapi sedari tadi Pak Zahfran terus menatapku. Entah tatapannya sangat tidak dapat diartikan. Kemudian aku kembali ke dapur untuk beristirahat.


"Lula, tadi ngerasa dilihatin sama bos besar gak?" tanya Maya, kawan piket ku malam ini


"Eghmmm emang iya?" tanyaku memastikan, aku tidak ingin terlalu percaya diri.


"Iya tau, Bos besar sedari tadi menatapmu. Seperti tatapan memuja" jelas Maya


"Bisa aja kamu, mungkin dia hanya mengawasi kerja karyawannya saja


"Beruntung sekali jika dia menyukaimu"


"Heh ngawur saja kamu. Udah, bersih bersih saja dulu, nyicil pekerjaan nanti" ujarku kemudian pergi.


***


Malam ini sangat melelahkan. Tidak terlalu malam untuk pulang berjalan kaki, karena masih pukul 10.35. Tenang, sepi aku suka sekali. Tiba tiba aku teringat dengan Satia tadi sore bunda bilang Satia belom juga bangun. Kulihat jalan malam ini begitu sepi. Aku duduk ditepi jalan, sesak rasanya melihat orang yang aku sayang hanya bisa terbaring lemah.


"Satia bangun, Lula kangen" aku terus menangis menumpahkan semua lelah, sakit, dan penyesalan.


Tiba tiba ada sorot mobil menghampiriku. Segera ku hapus air mataku, dan kembali bangun untuk melanjutkan perjalanan. Namun baru selangkah aku maju, seseorang menarikku dari belakang dan memelukku, pelukannya hangat.


Aku ingin melepaskannya, aku takut dia orang jahat, tapi semakin aku berontak dia semakin kuat memelukku


"Menangislah, tak apa" ujarnya aku kenal suara ini, entah dari mana datangnya air mata ini menetes dengan derasnya


"Tak apa, dia akan baik baik saja" aku tersentak, dia?


"Bapak tau masalah saya?" tanyaku melepaskan pelukannya dengan paksa kemudian menatapnya


"Saya sudah pernah bilang bukan, saya tau semua yang dijalani calon istri saya" ujarnya dengan santai


"Calon istri? maksud bapak apa? dari kemarin bicara seperti itu" tanyaku heran


"Hahaha... nanti kau juga akan tau"


"Terimakasih, Lula bisa pulang sendiri" ujarku tegas kemudian bergegas meninggalkannya.


Bos besar itu sudah gila, sedari kemarin mengatakan hal yang sama terus menerus "calon istri calon istri. Kenal dia aja enggak" batinku terus menggerutu, sambil berjalan cepat menuju rumah.


Sampai dirumah rasanya lelah sekali, aku hanya minum segelas air putih kemudian memilih berendam dengan air hangat yang diberi garam, kata orang itu bisa menghilangkan rasa lelah.


"Enaknya, nyaman sekali" terasa otot ku yang meregang setelah seharian tegang


"Bagaimana keadaan Satia ya?" tiba tiba saja handphoneku berdering, ternyata Hani menelfon


"Hallo Han, ada apa?" tanyaku


"Kamu udah dirumah?" tumben dia menanyakan itu


"Sudahlah, kenapa?"


"Aku hanya khawatir, tadi sore setelah kamu pulang dari sekolah ada pria datang ke sekolah dan menemuiku, Hana dan Jodi. Dia bertanya tanya tentangmu" jelasnya


"Pria siapa? bagaimana ciri cirinya?" tanyaku penasaran


"Entahlah dia berpakaian sangat resmi. Tampangnya sangat mempesona" jelas Hani panjang, sepertinya aku tau siapa dia


"Apakah dia memiliki satu lesung pipi disebelah kanan dan juga rambutnya tertata rapi dengan sedikit jambul disebelah kanan?" tanyaku memastikan


"Wahhhhh iya, Lula kenal? Ishhh kenalin dong cakep tau itu"


"Gak kenal, cuman nebak aja. Ya udah ya Lula mau mandi dulu, bye" segera ku matikan telfon sepihak.


"Apa sebenarnya mau bos itu, dia terus membuntuti ku dan mencari tau segalanya. Bahkan dia sudah berani datang ke sekolahku. Dasar pria aneh" segera ku selesaikan mandi ku dan bergegas istirahat. Besok aku harus sekolah dan kembali bekerja.


"Selamat malam Satia, tunggu aku ya, besok pulang sekolah aku akan menunggumu lagi, aku akan bawakan sesuatu untukmu. Pasti kau suka" Sejenak ku pikirkan apa yang sudah aku lakukan seharian ini.


Tiba tiba bayangan wajah bos aneh itu datang, kenapa dia terus mencari tahu tentangku, dan kenapa dia terus menyebut bahwa aku calon istrinya. Kami hanya atasan dan bawahan, aku bahkan tidak mengenalnya" kepingan kejadian saat bertemu, berpapasan atau berbincang dengan bos satu itu terasa aneh, seperti semua sudah direncakan.