Unexpected

Unexpected
LaZa 1



"Jodiii jangan lari kamu" cape sekali dari tadi anak itu terus menjahiliku, dan sekarang jaketku dibawanya keliling lapangan.


"gak mau... ambil sini kalo bisa" Jodi adalah kawan sekelasku, bisa dibilang juga salah satu sahabatku. Usilnya dia melebihi siapapun.


"Lula cape Jodi. Udah lah males, bawa aja sana jaketnya" aku menyerah, lelah sekali memutari lapangan sekolah. Aku kemudian meninggalkan Jodi dan segera menuju kantin sebelum jam istirahat habis.


"Yah bocil ngambek" Jodi mengikutiku namun tak berhenti menggodaku.


"Lula bukan bocil, Lula udah punya KTP" sungutku kesal, dan mempercepat jalanku,


"Ututtuu Lula bukan bocil ngambek. Maaf deh, yuk jajan aku traktir" ujar Jodi sembari merangkulku.


Ku lirik Jodi, aku curiga dia merencanakan kejahilan baru lagi "tenang kali ini beneran deh, gak boong" ujar Jodi meyakinkan.


Sesampainya di kantin aku membeli susu coklat dan roti keju kesukaanku, sedangkan Jodi membeli nasi bungkus dan juga es teh, padahal jam istrihat sudah mau habis


"udah beli itu doang?" tanya Jodi yang aku balas dengan anggukan


"oke kalo gitu" setelah selesai membayar aku memutuskan untuk kembali ke kelas saja karena jam istirahat sudah mau habis.


"Kalian dari mana saja?" tanya Hana dan Hani berbarengan, mereka juga sahabatku. Kami berempat bersahabat dan Hana Hani adalah anak kembar.


"Dari kantin" jawab Jodi sedangkan aku segera duduk disebelah Hani dan Hana duduk dengan Jodi


"Lama sekali, sampai bekal kami sudah habis" balas Hana


"Si Judi kembali berulah, tadi jaket Lula dibawanya keliling lapangan" ujarku sembari memakan roti


"Heh lola judi judi enak aja. Jodi tampan mempesona" elak Jodi saat aku memanggilnya Judi


"Lula gak lola!! Mana jaket Lula?" dia senang sekali memanggilku lola.


"Eh... sepertinya tertinggal di kantin" ujar Jodi sembari tersenyum seperti manusia tak berdosa.


"Lula..." sebelum aku marah pada Jodi seseorang menghampiriku


"Satia, kenapa kesini?" tanyaku pada pria tampan dan juga baik hati ini


"Kau meninggalkan jaketmu di kantin, untung aku menemukannya" ujarnya sembari memberikan jaket milikku, ku lirik Jodi


"Bukan Lula yg meninggalkannya, tapi Jodi" ujarku sengit


"Hahaha... ya sudah aku kembali ke kelas ya, nanti pulang aku jemput" tawanya renyah, aku suka. Kebiasaannya saat bersamaku adalah mengacak-acak rambutku, dia bilang rambutku halus dan wangi, membuatnya rindu, ah gombal.


"Siap kapten" ujarku sambil memberi hormat seakan-akan sedang hormat kepada bendera


"Belajar yang rajin pacar, kalian juga" ujarnya sembari berjalan keluar kelas dan melambaikan tangan kepada sahabatku. Dia Satia, pacarku sejak semester 2 kelas X. Kami berbeda kelas, aku kelas IPS dan dia kelas Bahasa


"Eghmmm.... ngiug ngiung, nyamuk lewat" ujar Hani dengan wajah kesal sebal


"Hahaha maaf" moodku sudah kembali setelah bertemu Satia


"Jomblo diem" ujar Hana, Hani, dan Jodi bersamaan, dan aku hanya bisa tertawa.


Ternyata 2 mata pelajaran terakhir kosong karena guru berhalangan hadir, hanya ada tugas untuk minggu depan. Sedari tadi aku dan ketiga sahabatku bercanda setelah menyelesaikan tugas kami, karena ketua kelas kami melarang untuk keluar kelas.


"Eh,,, Akhir pekan nonton yuk. Ada film baru, aku sudah membeli tiketnya buat kita karena sedang promo" Hana mengeluarkan tiket bioskop dari dalam dompetnya


"Ayoooo" jawab kami serentak


"Tapi kalian yang bayar makan ya" bukan Hana namanya kalau tidak memikirkan perut.


"Tenang nanti Lula bayari makan. Lula udah gajian" ujarku dengan girang


"Hahaha baiklah, kalau begitu kita pakai mobilku saja, akan ku jemput kalian" ujar Jodi. Dia memang sudah membawa mobil sendiri untuk kemana mana.


"Aku bawa cemilan" dan untuk masalah menyelundupkan makanan kedalam bioskop Hani lah juaranya.


Kami terus melanjutkan merencanakan apa saja yang akan kita lakukan di akhir pekan.


Triingggg.... tringgg.... tringggg....


Bel tanda pulang sudah berbunyi semua bergegas pulang kecuali yang piket.


"Siap" kami menjawab serentak. Hani dan Hana segera pulang, mereka akan dijemput oleh supir pribadi mereka. Sedangkan Jodi akan pulang dengan mobilnya sendiri dengan adiknya.


Sedangkan aku menunggu Satia didepan kelas, sambil bermain handphone.


"Udah nunggu lama?" ujar Satia mengagetkanku


"Ngagetin. Belom" ujarku sembari melotot yang ku buat buat


"Heh,,, awas copot matanya. Kamu si pacarnya yang tampan ini datang malah sibuk dengan hp" ujarnya melakukan pembelaan.


"Balik dulu lola" Jodi datang dari belakang sembari menutup mukaku dengan penutup kepala jaketku


"Judiiiiii dasar" kesalku sembari menginjak kakinya, tapi dia langsung berlari sembari berpamitan kepada Satia "balik bro, cewek lu galak" dia berteriak sambil terus berlari, dan Satia hanya tertawa ringan.


"udah jangan manyun gitu makin cantik nanti" ujar Satia sembari merangkulku dan mengajakku ke parkiran motor.


"Mau langsung pulang?" tanya Satia setelah sampai di parkiran dan memberiku helm.


"Pulang" jawabku singkat, aku masih kesal karena Satia malah menertawakanku saat dijahili oleh Judi.


"Aduh, tuan putriku ngambek. Ayo naik kita pulang" gombalnya namun aku tetap diam, sebenarnya ingin tertawa melihat ekspresi yang dibuatnya, tapi aku gengsi.


"Pegangan dong tuan putri nanti jatuh" Ujarnya manis sembari menarik tanganku untuk berpegangan pada jaketnya, dan aku harus diam malu kalo langsung luluh.


Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam tak banyak cerita seperti biasa. Entahlah sedari pagi moodku mudah sekali tersinggung. Satia kemudian berhenti disebuah pom bensin, aku tak perlu turun karena motor Satia adalah moge alias motor gede yang tangkinya berada didepan.


Ku kira dia akan melanjutkan perjalanan pulang, ternyata dia memarkirkan motornya di mini market area pom ini. Kemudian dia menarikku dan menyuruhku untuk duduk di kursi teras mini market "diem disini aku masuk dulu"


hanya ku balas dengan anggukan.


Beberapa saat kemudian dia keluar dengan 2 es krim tabir kami. "Nih makan, awal bulan kamu jadi sensi" ujarnya sembari memberiku es krim Macha "Makasih" ujarku tulus. Beruntung sekali aku memiliki Satia, dia selalu perhatian bahkan terhadap hal hal kec seperti awal bulan yang menjadi fase moodku menjadi sensitif mungkin karena akan ada tamu.


"Sama sama tuan putri" ujar Satia yang duduk didepanku dan juga makan es krim coklatnya.


"Maafin Lula banyak ngerepotin Satia" aku merasa banyak merepotkan dia dengan keadaanku. Dia selalu ada untukku selama 3 tahun belakangan ini.


"Lula, kita udah sering bahas ini ya. Satia ikhlas, karena Satia sayang sama Lula, jadi stop minta maaf oke" dia selalu bisa membuatku bahagia walau hanya dengan kata katanya saja.


"Oh iya, Minggu Lula mau nonton sama temen temen. Satia mah ikut?" tanyaku menawari, dia tak pernah mengekangku aku pun sebaliknya. Bagi kami kunci hubungan yang awet adalah kepercayaan.


"Enggak, Lula sama temen temen aja ya. Satia mau ngerjain tugas aja" selalu seperti itu, dia tak pernah menuntutku untuk terus bersama dia, dia tau aku butuh waktu bersama teman.


"Makasih, Lula janji bakal ngabarin Satia terus" ujarku sambil tersenyum lima jari. Yang malah ditertawakan olehnya


"ada apa kok ketawa?" tanyaku heran


"ada coklat di gigi Lula" ujarnya pelan kemudian tertawa


"ihhhh Satia jahat ya" ujarku sembari memukul tangannya


"udah, ayo balik. Keburu malam" kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang.


***


"Pulang dulu ya, hati hati dirumah" pamit Satia


"Siap kapten, gak mau mampir dulu?" tawarku


"gak enak sama tetangga. Udah mau magrib, kamu juga mau kerja kan" jelasnya sembari terus mengelus kepalaku


"Ya udah, hati hati ya" sebelum dia pulang kami akan melakukan tos seperti biasa


"pulang dulu, nanti jam setengah 7 aku anter kamu kerja ya" aku balas dengan anggukan kepala, kemudian dia pulang, kebetulan rumah kami tak jauh dan searah hanya beda blok.


"Assalamualaikum" ujarku saat memasuki rumah sederhana nan sepi ini. Aku tinggal sendiri. Ayah dan ibuku bercerai saat aku SMP, saat itu aku memilih ikut ayah, karena ibu menikah kembali. Namun dua tahun kemudian ayah juga menikah kembali. Aku tidak suka hidup dengan orang asing. Akhirnya aku memutuskan untuk tinggal bersama kakek dan nenek dirumah ini.


Namun setahun yang lalu mereka meninggal bersamaan dengan kondisi berpegangan tangan, karena serangan jantung. Kehidupan rumah tangga kakek dan nenek sangat harmonis sampai aku iri. Bahkan meninggalpun mereka berpegang tangan, sungguh pasangan hingga akhir hayat. Aku ingin seperti mereka, dan aku percaya kepada Satia, pria yang sudah menemaniku 3 tahun ini.


Aku rindu Ayah dan Ibu, mereka hidup di kota yang berbeda dengan keluarga barunya masing masing. Dan aku disini sendiri, aku mengandalkan uang tabungan nenek yang diberikan kepadaku dan uang tabunganku sendiri. Serta sekarang aku sudah bekerja di sebuah Cafe.