Unexpected

Unexpected
LaZa 4



"Aaaaaaaa" aku terbangun dari mimpi buruk


"Sungguh mimpi yang menyeramkan" batinku, sementara mulutku terus merapalakan doa.


Aku turun dari tempat tidurku, haus rasanya segera aku menuju dapur untuk mengambil minum. Saat kulirik jam dinding ternyata sudah jam 04.00, rasanya baru saja tidur. Sampai didapur ku minum segelas air dan bayangan muka pria itu tiba tiba muncul di difikiranku


"Hah ada apa ini, kenapa Lula mikirin bos aneh itu" kataku sendiri, ku edarkan pandanganku keseluruhan ruangan, gelap hanya lampu dapur yang menyala.


"Ma, Pa Lula kangen, kalian kangen Lula gak?" aku terus bermonolog sembari berjalan menuju kamar.


Saat tiba di kamar handphoneku bergetar "Siapa yang menghubungiku subuh subuh seperti ini?" batinku. Kemudian ku ambil smartphone hitam tipis itu dan kulihat notifikasi yang masuk, aneh bukan dari aplikasi chat atau lainnya melainkan hanya sebuah SMS.


Segera ku buka pesan singkat itu, ternyata dari nomer tak dikenal. Isinya juga singkat dan terkesan aneh


081957xxxxxx


"Selamat pagi ratu, jangan lupa ibadah. Semangat belajar, anak anak kita perlu ibu yang pintar"


"Aneh, siapa coba yang punya nomer Lula, Lula kan jarang ngasih nomer ke orang lain. Paling temen sekolah atau sahabat aja" batinku sambil memikirkan siapa yang menyebarkan nomerku tanpa izin.


"Au ah mandi aja, dari pada telat sekolah" aku bangkit menuju kamar mandi. Hari Senin adalah hari upacara jadi aku harus berangkat lebih pagi, bergegas aku mandi setelah mandi aku sholat subuh dan kemudian bersiap untuk sekolah.


Seperti biasa aku tidak pernah sarapan dirumah, aku sudah terbiasa makan sehari sekali saat jam istirahat saja. Kecuali saat makan siang ada yang mentraktirku dari salah satu sahabtku atau Satia.


Setelah selesai semua aku bersiap berangkat, sebelumnya ku pastikan semua pintu sudah terkunci barulah aku berangkat.


Baru saja aku keluar dari pagar rumah, motor yang aku kenali berhenti disebelah ku.


"Selamat pagi tuan putri" ujar Satia sembari tersenyum manis


"Pagi, tumben udah berangkat" Kebiasaan Satia saat hari Senin adalah bolos atau kabur dari upacara


"Gak tau, tiba tiba bangun sendiri terus pengen jemput Lula" ujarnya sembari menyerahkan helm


"Gombal, paling Bunda yang bangunin" balasku sambil menaiki motor


"Siap?" tanya Satia, yang aku balas dengan anggukan


"Bunda aja kaget lihat aku bangun subuh, aku juga heran" ujar Satia saat motor mulai berjalan. Tapi aku tidak mendengarkan, aku malah fokus dengan mobil putih diujung gang dekat rumahku.


Aku kira mobil itu mengintai rumahku, ternyata mobil itu oi malah mengikuti ku hingga perempatan sebelum sekolahku, saat aku dan Satia berbelok mobil itu lurus. Entah itu hanya perasaanku saja atau bagaimana aku merasa orang yang didalam mobil itu adalah bos gila yang semalam.


Tapi mau apa dia pagi pagi disini. Daerah rumahku dan sekolahan terlalu jauh dari kantor miliknya.


"Lula, mau sampai kapan diatas motor?" tanya Satia mengagetkan ku


"Eh udah sampai" aku langsung turun dan melepas helm


"Lula" ujar Satia sambil memegang tanganku dan menatapku "Ada masalah?" sambungnya


"Enggak, gak papa" jawabku balas menatapnya, mata Satia indah, coklat terang.


"Eghmmm.... parkiran Sekolah ini" deheman seseorang mengagetkan kami berdua


"Jodi ngagetin" kataku dengan kesal.


"Lagian siapa suruh tatap tatapan di parkiran gak malu sama adkel?” bela Jodi, benar juga walau parkiran tidak begitu ramai tapi ada beberapa adik kelas yang memperhatikan kita, terutama para fans Satia.


Siapa yang tidak kenal Satia Kapten tim Futsal sekolah yang sudah banyak memenangkan kompetisi. Aku beruntung dia memilihku karena banyak wanita cantik yang berusaha mendekati dia. Tapi dia tetap memilihku.


"Udah ayo aku anter ke kelas" ujar Satia kemudian menggandeng tanganku, kami bertiga berjalan beriringan menuju kelas.


"Misi kak" seorang adik kelas cowok menghampiri kami. Sepertinya dia adalah anggota tim futsal Satia


"Iya de ada apa?" jawabku karena ku lihat Satia dan Jodi hanya diam sambil menatap heran.


"Namaku Fando tim futsal baru dari kelas X. Saya ingin meminta tanda tangan dari Kak Satia sebagai syarat masuk kak" jelas anak itu yang membuat kami semua heran, karena setau kami tidak ada peraturan dari futsal sekolah yang seperti itu. Saat ku perhatikan anak itu lugu dan sangat penurut. Aku menduga sesuatu


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Satia santai


"Kak Rey yang menyuruhku" jawabnya dengan sopan


Sejenak Satia memeriksa handphonenya, "Dimana kamu bertemu dengan dia?" tanya Satia tegas, aku mulai melihat ketegangan diwajahnya. Rey adalah kawan satu tim futsal yang tidak suka jika Satia menjadi kapten, mereka beberapa kali berkelahi, aku sudah berusaha melarang Satia untuk berkelahi karena dia bisa terluka tapi dia tidak suka diatur dalam hal itu.


"Tadi Kak Rey sama kawannya ada di lapangan basket"


"Apa dia memberimu sesuatu?" tanya Satia memastikan


"Iya kak, dia nitip ini katanya suruh ngasih ke kakak biar kakak mau tanda tangan surat saya" Satia mengambil kertas yang berisi ancaman dari Rey, kemudian memberikan tanda tangan kepada anak tadi


"Kamu sudah resmi menjadi tim, lain kali kalo ada yang menyuruhmu bukan dari kepengurusan jangan mau. Sudah sana pergi"


Setelah anak tadi pergi Satia meremas kertas itu dan menarik nafas panjang


"Satia..." panggilku halus sembari mengelus punggungnya, aku tau dia selalu mencoba sabar terhadap sikap Rey yang kekanak-kanakan.


"Jodi nitip Lula sampai kelas, kalian duluan ya" ujar Satia kepada Jodi kemudian menatapku


"Tenang saja, Satia akan ingat pesan Lula, sekarang Lula ke kelas ya Lula harus belajar. Satia mau ngurus ini dulu" ucapnya berusaha tenang. Tapi aku tidak, walau Satia jago bela diri tapi Rey bukanlah lawan yang bisa diremehkan. Aku hanya khawatir terjadi sesuatu padanya.


"Tapi Satia hati hati. Nanti jangan lupa kabarin Lula" ujarku. Sebelum pergi ke kelas dengan Jodi Satia mengecup pucuk kepalaku dan mengelusnya seakan meyakinkan bahwa dia akan baik baik saja.


*


Sepanjang pelajaran aku tidak bisa tenang, Satia hanya memberi kabar bahwa dia sudah bertemu dengan Rey dan akan segera kembali ke kelasnya. Tapi sampai bel tanda pulang dia tidak memberi kabar lagi, saat istirahat aku tidak bisa datang ke kelasnya karena banyak tugas yang harus diselesaikan.


"Misi" ujarku sambil mengetuk pintu kelas Satia yang tinggal beberapa anak yang sedang piket


"Lula? Ada apa?" tanya Jihan kawan sekelas Satia


"Satia udah pulang ya?" tanyaku karena tidak melihat tas Satia pada tempatnya


"Gak tau, dia gak masuk kelas dari pagi" jelas Jihan yang sangat mengejutkan


"Heh? Dari pagi gak sekolah? Kamu tau gak dia kemana" tanyaku mulai khawatir


"Aku kira kamu tau, dia gak ada keterangan" jelasnya semakin membuatku panik.


Tanpa berpamitan aku segera menuju kelas IPS04, kelas Rey. Aku harus memastikan bahwa dugaan ku salah.


"Gabriel" teriakku pada kawan sekelas Rey


"Apa Lula?" tanyanya ramah


"Rey masuk sekolah gak?" tanyaku to the point


"Rey sama anak buahnya gak ada yang masuk, gak ada kabar juga" jelas Gabriel yang sangat meyakinkan perasaanku.


"Lula ada apa?" teriak Gabriel karena aku sudah berlari mencari Jodi. Setahuku dia piket jadi akan pulang akhir.


Sesampainya di kelas ternyata benar Jodi sedang bercanda dengan Hana


"Jodi.... bantuan Lula" ujarku terengah karena berlarian dari lantai atas


"Ada apa Lula?" tanya Hana khawatir


"Satia... Satia sama Rey gak ada disekolah dari pagi. Lula takut" sahabat sahabatku sudah mengetahui bagaimana hubungan Satia dan Rey ikut khawatir.


"Ayo kita cari Satia. Hani sepertinya tau dimana Rey" Hani yang sedari tadi bermain hp kemudian bangkit.


Kami semua pergi menggunakan mobil Hani dengan sopir mereka. Takut terjadi sesuatu. Hani sudah sejak lama suka dengan Rey sehingga dia menjadi stalker handal yang tau semua informasi tentang Rey termasuk basecampnya dengan kawan kawannya.


"Rumahnya warna kuning paling ujung pak" Ujar Hani. Sedari tadi aku berusaha menahan tangis, aku sangat khawatir, apalah Rey bersama dengan kawan kawannya.


"Itu motor Rey" teriak Jodi saat turun dari mobil


"Ayo masuk" Hana yang maju duluan. Dia memang yang paling berani


Tok...tok...tok


Dengan santainya Hana mengetuk pintu rumah mewah ini Rumah ini sangat bagus tidak terlihat seperti tempat orang jahat. Seorang cowok berseragam sama dengan kita membukakan pintu. Tapi dia bukan anak buah dari Rey terlihat dari raut mukanya pasti dia adalah korban bully dari Rey.


"Dimana Rey?" tanya Hana dengan nada yang mampu mengintimidasi siapa saja yang mendengarnya


"Didalem kak" ujarnya cowok tadi sambil menunduk


"Kamu keluar. Pak Ban jaga dia di mobil" perintah Hana pada supirnya.


Kami berempat masuk kedalam rumah, terdengar suara gaduh terdengar dari halaman belakang, dekat dengan kolam renang. Kami bergegas kesana, aku sudah berlari fikirankku kacau, apa yang terjadi dengan Satia.


"Satiaaaa" teriakku saat sampai di dekat kolam renang, badannya sudah lemas dan berlumuran darah, sepertinya jika kami terlambat datang Satia akan tenggelam dalam kolam renang dengan kondisi seperti itu.


Semua yang ada disitu terkejut dengan teriakan ku, aku berlari menghampiri Satia dan memeluknya.


"Kalian salah pilih lawan" ujar Hana dengan lantang, membuat semua yang ada disana berjalan mendekat ke arah Hana dan Hani, termasuk Rey.


Jodi dengan sigap membantuku membawa Satia menjauh dari kolam renang.


"Siapa yang nyuruh kalian masuk" ujar Rey dengan penekanan di akhir kalimatnya.


"Gak perduli siapa yang bukain kita pintu. Tapi yang jelas kelakuan kalian sudah melampaui batas" ujar Hani dengan santai


"Terus kalian mau apa hah?" tantang Rey seakan lupa dengan siapa Hana dan Hani.


"Simpel saja, Bapak Rahardian telah memberikan amanat kepada Saudari Hana dan Hani untuk mengawasi setiap siswa atau siswi yang bisa merusak nama baik SMA 1 Wardana" Ujar Jodi dengan lantang.


Hani dan Hana hanya tersenyum ringan, kemudian Hani mengeluarkan handphonenya


"Sial. Dasar pecundang beraninya mencari bantuan" sentak Rey dengan keras. Hatiku sakit rasanya mendengar Satia direndahkan seperti itu


"Heh manusia gak punya otak. Latar belakang orang kaya dan siswa disekolah elit tapi diri tidak bermoral" amarahku sudah tidak dapat aku tahan, air mata dan marah semua keluar bersamaan.


"Siapa yang pecundang? anda harusnya bertanya dengan diri anda sendiri. Satia sendiri sedangkan anda? Anda tidak mengeluarkan tenaga sama sekali, anda hanya bermodal 3 anak buah bodoh yang mau menjadi kaki tangan anda. Jika ditindak lanjut, mereka yang akan mendapatkan sanksi berat, karena mereka pelakunya. Tapi anda? seperti bayi yang berlindung dibalik kekayaan orang tua" aku terus maju dan menunjuk muka Rey


"Anda merasa tersaingi karena Satia bisa menjadi kapten? harusnya anda berfikir kenapa Satia yang terpilih. Bukan hewan tak berotak seperti anda" rasanya ingin ku lepaskan semua amarahku.


"Lula udah, Satia pingsan ini" teriak Jodi membuatku khawatir. Hani, aku dan Jodi segera membawa Satia keluar


"Buat permintaan maaf resmi disekolah, atau nama kalian tidak ada lagi dalam daftar siswa" peringatan Hana terkesan pelan tapi nada yang terlontar cukup mengintimidasi.


Kamipun bergegas membawa Satia kerumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Satia langsung masuk ke UGD dan aku segera menelfon orang tua Satia.


"Sudah duduk tenanglah, biar dokter yang mengatasi ini. Kita berdoa yang terbaik ya" ujar Hana berusaha meyakinkanku.


"Kamu tenang saja, masalah ini sudah aku urus" Hani menambahkan.


"Satia cowok kuat, ngadepin kamu yang lola aja kuat" ucap Jodi dengan kejahilan khasnya


"Makasih ya kalian udah mau bantuin Lula. Makasih selalu ada buat Lula" ujarku sembari tersenyum tulus kepada mereka.