Unexpected

Unexpected
LaZa 2



Hari minggu ini aku dan kawan kawan jadi nonton bersama. Aku sudah siap sedari tadi tinggal menunggu Jodi dan yang lain menjemput, sembari menunggu mereka aku mengirim pesan kepada Satia, biasa pamitan hehehe.


Tin....tinn...


Mereka sudah datang, segera aku keluar rumah, tak lupa ku kunci pintu rumah dan pintu pagar


"Ready?" tanya Jodi saat aku sudah duduk di bangku belakang dengan Hani


"Ready goo" ujar kami bertiga serempak yang di akhiri dengan tawa.


Sepanjang perjalanan kita terus bercanda dan saling meledek satu sama lain. Mereka bukan hanya sahabatku, tapi mereka juga keluargaku.


"Dah sampaaiiii" teriak Hana kegirangan, sebenrnya Hana dan Hani memiliki sifat yang hampir sama hanya bedanya Hana lebih manja dan lebih imut. Sedangkan Hani lebih dewasa.


"Han, udah siap kan?" tanya Jodi kepada Hani saat di dalam lift menuju bioskop yang berada di lantai atas sendiri


"Siap dong, tinggal masuk aja ke bioskop" ujar Hani dengan gaya sombongnya. Kamipun tertawa bersamaan.


Benar saja seperti biasa, Hani selalu bisa lolos dari penjagaan para satpam bioskop. Kita langsung masuk ke studio 3. Karena pintu sudah dibuka, dan filmnya akan segera mulai. Setiap menonton kita selalu memilih baris ke3 dari atas, sehingga nyaman.


*


"Gimana seru kan filmnya?" tanya Hana antusias setelah kita keluar dari bioskop


"Ya boleh lah, keren berhasil bikin Lula nangis" jawabku


"Hahaha gitu aja mewek huu" ledek Jodi


"Heh gimana gak sedih coba, hubungan mereka gak direstui cuman karena status aja" bela Hani


Sepanjang jalan menuju tempat bermain kami terus bercerita tentang film yang baru saja kami lihat. Sesampainya di zona bermain, Hani segera top up koin. Sebenernya kita semua memiliki kartu masing-masing, tapi kami punya jadwal untuk menggunakannya sendiri sendiri dan hari ini adalah jadwalnya Hani.


"Yuk main" ajak Hani setelah selesai top up, aku langsung menyeret Hani menuju capit boneka besar, untuk permainan ini Hani lah jagonya


"Hadeh kebiasaan ya Lula" ujar Hani lemas


"Pliisss yaaa Lula mau panda itu" ujarku dengan muka memelas


"Lama lama rumahmu menjadi toko boneka nanti" ujar Hani pelan sembari mencapai boneka yang aku mau dan benar saja hanya dengan sekali tekan Hani sudah bisa mendapatkan boneka itu


"Yeay makasih Hani, sayang deh" niatku ingin memeluk Hani tapi dia duluan mengelak


"Lebay, dah yuk main yang lain"


Kami berempat terus mencoba semua permainan yang ada di tempat ini dan aku sudah dapat 2 boneka dari Hani dan Jodi. Aku memang sangat menggemari boneka, benar kata Hani di rumahku banyak sekali boneka, hampir seperti toko, tapi merekalah kawanku kalau dirumah.


Terakhir kita karaoke bersama, walau suara kita tidak terlalu bagus, tapi bisa membuat kita tertawa bersama. Kita jarang seperti ini, karena kesibukanku bekerja, mereka memilih untuk tidak pergi tanpaku.


"Dah yuk makan, laper ni" ujar Hana


"Ayo lah" Jodi yang menyahuti dengan semangat dan langsung keluar duluan dari zona bermain ini.


"Kalian mau makan apa?" tanyaku, walau aku habis gajian tapi uang yang ku miliki tak sebanyak uang mereka jadi aku sedikit cemas


"Aku lagi pengen menu sehat aja si" ujar Jadi membuat kita semua melongo


"Tumben Jodi makan makanan sehat" tanyaku dengan heran


"Jodi mau ada turnamen bela diri Lula jadi Jodi harus jaga berat badan" jelas Jodi


"Ooo" ujar kami bertiga bersamaan, Jodi memang atlet taekwondo dia juga beberapa kali ikut turnamen, porsi makan dia banyak tapi badannya tetap ideal.


"Ya udah makan disana aja kalo gitu" tunjuk Hani pada sebuah tempat makan yang menyediakan berbagai jenis makanan, jadi bisa milih sesuka kita.


"Boleh, yuk"


***


"Hati hati semua" aku melambaikan tangan setelah turun dari mobil, setelah makan kami langsung pulang, karena hari sudah sangat siang bahkan menuju sore. Setelah memastikan mereka pergi aku segera membuka pagar tapi


"Kok pagarnya kebuka. Siapa yang masuk ya?" tanyaku pelan. Aku segera masuk dan ada motor yang aku kenali terparkir di halaman rumah.


"Gak boleh ni main kerumah pacar?" tanya Satia menggoda


"Bukan gitu, kan Lula tadi pergi takut Satia nunggu lama" jelasku


"Enggak lama kok, cuman 30 menit aja" jawabnya enteng


"Itu lama Satiaaaa" terkadang dia menyebalkan.


"Udah jangan berisik ayo ikut Satia" dia langsung naik motor dan menyodorkan helm padaku


"Kita mau kemana?" tanyaku heran, ini sudah mau sore dan dia mau mengajakku keluar.


"Bunda kangen sama anak perempuannya" jelas Satia yang membuatku terkejut


"Tapi Lula baru main terus belom mandi, bau" rengekku, setidaknya aku mandi terlebih dahulu. Karena seharian aku sudah bermain. Satia malah menarikku dan memelukku


"Gak bau kok, masih wangi" ujarnya


"Udah ayo, mau naik sendiri apa aku gendong nih" ancamnya


"Eh jangan iya Lula naik" jawabku pasrah


"Dasar tukang ancam" aku menggerutu sambil menggunakan helm. Belom sempat aku berpegangan Satia sudah menancap gasnya membuatku reflek memeluknya


"Satia ngeselinnnnn. Kalo Lula jatoh gimana" ku pukul pundak Satia tapi dia malah tertawa.


"Udah pegangan aja" ujarnya lembut kemudian menarik tanganku satu persatu untuk memeluk perutnya.


Aku bersyukur sekali kenal dengan Satia dan keluarganya, aku berjanji pada diriku sendiri tak akan mengecewakan mereka karena mereka adalah orang baik. Aku kemudian bersandar di punggung Satia, aroma mint khas milik Satia setia menempel di hidungku, menjadi candu untukku.


"Udah sampe mau sampe kapan nempel terus?" ujar Satia dengan nada jahilnya, segera aku turun dan melepas helm, malu


"Pipinya merah yang lagi malu" ledek Satia, dari pada aku semakin malu mending aku masuk saja. Aku memang sudah beberapa kali main kesini dan keluarga Satia menerima aku apa adanya.


Segera ku tinggalkan Satia diluar dan berlari kedepan pintu masuk


Tok...tok..tok...


"Assalamualaikum" salamku dengan lembut


"Waalaikumussalam.... Lula" Tante Sella -Bunda Satia langsung memelukku


"Ayo masuk...." Tante Sella mengajakku masuk dan duduk di ruang tamu


"Kamu lama gak main kesini, Bunda kangen sama kamu nak" ujar Tante Sella setelah kami duduk


"Baru seminggu gak ketemu udah kangen aja" ledek Satia yang baru saja masuk kerumah.


"Seminggu itu lama loh" bela Tante Sella


"Hehehe iya Bunda, maaf Lula sibuk, soalnya udah kelas 12 jadi banyak tugas dan harus kerja juga"


"Ya ampun nak, jangan cape cape nanti kamu sakit. Kan Bunda udah nawarin buat kamu tinggal sama Bunda aja disini" tante Sella memang beberapa kali menawariku untuk tinggal bersama dengannya


"Gak enak sama tetangga Bunda, kan aku sama Satia baru pacaran. Insyaallah Lula sehat dan kuat kok" ujarku meyakinkan Bunda


"Ya sudah kalau begitu, kita masak yuk. Ayah katanya kangen masakan kamu, ayah akan pulang satu jam lagi"


Aku dan Bunda kemudian menuju dapur untuk memasak. Selain sahabat sahabatku, keluarga Satia juga menjadi keluarga baruku, mereka sungguh perhatian. Sedangkan aku dan bunda masak, Satia memilih bermain PS di ruang keluarga.


***


Hai semua, makasih yang udah mau mampir baca. Jangan lupa tinggalin jejak ya, makasih buat Vote dan komen kalian.


Aku mau minta saran kalian untuk cast para pemain, siapa tau kalian ada referensi buat saya.


Aku tunggu ya, makasih :)