Twinkle, Twinkle, You'Re My Star!

Twinkle, Twinkle, You'Re My Star!
Ch 07 - Pembuktian diri.



Simetriskan posisi duduk atau sambil rebahan, dan juga persiapkan teh dan cemilannya ya~


WARNING!


Cerita ini hanya fiktif belaka/murni khayalan penulis. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian/cerita, itu adalah kebetulan semata & tidak ada unsur kesengajaan.


...♡Jangan lupa like, rate, favorit-kan, dan feedback-nya ya, thankyou♡...


...Selamat membaca!...


...******...


...****...


...**...


Rabu, 27-06-2016


Karena Lin Yue tidak sempat sarapan tadi pagi, kini perutnya keroncongan.


Ia merongoh tasnya untuk mencari permen namun ia malah menemukan kotak susu cokelat yang diberikan Jingyi tadi.


“Benar-benar teman yang bisa diandalkan, ia selalu muncul saat aku butuh bantuan. Jingyi bukan hanya cantik, namun hatinya juga baik,” gumamnya dalam hati.


Lin Yue tersenyum senang sambil meminum kotak susunya itu.


Tak berselang lama, Gu laoshi pun datang, “Selamat pagi, da jia hao,” sapa Mr. Gu seperti biasa.


“Gu laoshi hao,” dan balasan lemas dari para penghuni kelas secara serentak.


“Baiklah, seperti janji saya minggu lalu, hari ini akan dilafalkan 50 teknik improvisasi dalam berakting, apakah semuanya sudah siap?” ujar Mr. Gu yang dibalas dengan keheningan.


“Siap!” ucap Lin Yue yang membuat semua orang melihat ke arahnya, Lin Yue sendiri juga terkejut.


Ia tidak menyangka, bagaimana bisa hanya ia seorang yang menjawab Mr. Gu.


“Gawat! Kenapa hanya aku yang menjawab?” muka Lin Yue mulai memerah, jantungnya berdegup kencang.


“Baik, kamu yang menjawab ‘siap’, silahkan maju ke depan,” panggil Mr. Gu sambil mengeluarkan catatannya, ia akan mulai memberi nilai.


Lin Yue berdiri di depan auditorium, berhadapan dengan 120 mahasiswa dan mahasiswi yang sedang memandanginya.


Lin Yue merasakan detak jantungnya semakin cepat bahkan ia dapat mendengarnya sekarang, “Tidak perlu gugup, tarik napas,” ucap Mr. Gu yang menyadarinya.


“Sebutkan nama dan nomor urut,” sambungnya.


“Namaku Lin Yue, 1053,” ucapnya singkat.


“Baik, silahkan mulai,” ujar Mr. Gu sambil menopang dagu dengan tangannya.


...****************...


Beijing Capital International Airport


“Chen Yuuuuu!” ucap seorang wanita paruh baya dengan gayanya yang masih modis, bahkan ia memakai kacamata hitam Cartier Paris edisi terbatas.


“Mama!” jawab pria itu sambil tersenyum manis.


Ia segera berlari memeluk ibunya, “Bagaimana kabar mama?” tanyanya.


“Haoxiang ni a, haizi!” ucap Nyonya Chen sembari membalas pelukan anak semata wayangnya itu.


^^^(Haoxiang ni a, haizi\=Aku rindu padamu, anakku)^^^


“Wo ye shi,” balasnya sambil merangkul Nyonya Chen.


^^^(Wo ye shi\=saya juga)^^^


Mereka berjalan meninggalkan bandara sambil sembunyi-sembunyi, “Chen Yu, apa paparazzi itu masih mengikutimu?” ucap Nyonya Chen yang melihat anaknya terus menutup wajahnya dengan topi.


“Tidak, mama tidak usah khawatir. Aku hanya berjaga-jaga, aku tidak ingin membuat mama merasa tidak nyaman” ujar Chen Yu sambil mengembungkan kedua pipinya.


“Laporkan saja ke papamu, dan tidak akan ada yang berani menganggumu lagi,” ucap Nyonya Chen sambil ikut celingukan.


“Ma, tidak perlu. Itu adalah konsekuensi yang harus aku hadapi sebagai seorang selebriti internet,” lanjut Chen Yu sedikit menyantai.


“Banyak orang yang ingin tahu tentang diriku, bahkan hidupku juga, bukankah hal itu bagus?” sambungnya lagi dengan perasaan bangga.


“Chen Yu, berhenti main aplikasi seperti itu, dan fokuslah untuk menjadi penerus perusahaan papa,” timpal Nyonya Chen.


“Silahkan masuk, Nyonya dan Tuan muda,” ujar supir pribadi keluarga Chen sambil membukakan pintu mobil untuk mereka.


Supir pribadi keluarga Chen atau biasa dipanggil Han sudah bersertifikat internasional.


Ia dapat mengatur kecepatan mobil tetap dalam keadaan standar dan cara rem-nya sangat halus, bahkan secangkir kopi penuh di tangan penumpangnya tidak akan tumpah saat berbelok.


Mobil itu juga dilengkapi dengan sekat kedap suara antara ruang penumpang dengan supir.


Intinya uang dapat mengatur segalanya.


Laiv de Ilario Chen, seorang CEO Department Store terbesar di Beijing bernama The Ricco Chen yang memiliki 8.345 toko di seluruh dunia.


Bisnis ritel-nya memasok produk-produk seperti buku, elektronik, furnitur, pakaian, jasa keuangan internet, dan mobil.


Sama seperti Tang Ma, keduanya sudah terdaftar dalam majalah Forbes sebagai ‘Top 50 Richest People In The World’.


Tuan Laiv berdarah campuran China-Italia dan meskipun Chen Yu terlihat lebih mirip seperti orang China, namun paras tampan dan senyuman menawan dari Tuan Laiv menurun padanya.


Ia juga memiliki dua nama yaitu Chen Yu sebagai nama China dan Giorr don Vittorio sebagai nama Italia.


“Ma, sebenarnya mama tidak perlu repot-repot menjemputku di bandara. Ada Pak Han yang bisa melakukannya,” ujar Chen Yu sambil memijat bahu ibunya.


“Kenapa merasa sungkan sama mama sendiri? Mama tidak merasa repot kok, lagian di rumah terus juga bosan,” balas Nyonya Chen sambil mengeluarkan ponselnya dari tas.


"Drrrttt... drttt... drrtt..."


“Papa kamu telepon, sssttt….” Chen Yu pun membuat gerakan tangan mengunci bibirnya sendiri yang membuat Nyonya Chen merasa gemas dengan anaknya.


...------------------------------ ☎️----------------------------------...


“Halo,” jawab Nyonya Chen.


“Sayang, sudah ketemu Chen Yu?” tanya Tuan Laiv dengan suara super lembut.


“Sudah, ini lagi di mobil. Kenapa?”


“Kebetulan aku lagi makan siang di luar, aku suruh Han antar kalian ke sini juga. Sudah lama tidak melihat Chen Yu, kan aku kangen juga, haha.”


“Kemana?”


“Restoran langganan kita, sayang,” jawabnya.


“Oke oke, aku tutup ya, bye.”


...------------------------------ ☎️----------------------------------...


Temperamen buruk ibunya belum berubah, “Ma, lagi berantem sama papa ya?”


“Tidak, hanya saja, papamu terkadang sangat menyebalkan. Bisa-bisanya ia lupa hari ini adalah hari kepulangan anaknya, dan sekarang tiba-tiba mengajak makan bersama,” gerutu ibunya sambil menyilangkan kedua lengannya.


Chen Yu menertawai ibunya yang sedang kesal, “Papa kan sudah tahu kesalahannya, dan ia sedang menebusnya sekarang. Mama jangan pasang muka jutek lagi, tidak enak dilihat nanti,” sambung Chen Yu.


Mobil mereka sudah terparkir di depan pintu gedung pencakar langit bertuliskan Open World Hotel.


Pak Han segera turun untuk membukakan pintu sekali lagi, lalu disusul oleh arahan dari sekretaris pribadi keluarga Chen, “Silahkan lewat sini.”


Sekretaris pribadi yang biasa dipanggil Carlos berjalan di depan, ia memencet tombol lift dan mengantarkan majikannya sampai di lantai 27.


Restoran berbintang 9 itu terletak di dalam gedung hotel pencakar langit, pemandangan indah, design super mewah, chef bersertifikat, dan harga makanannya setinggi langit.


Semua pelanggan disini hanyalah orang-orang berdompet tebal.


Nyonya Chen sudah melihat suaminya melambai-lambaikan tangannya di ujung sana, ia langsung memalingkan wajahnya.


“Ma, ayo,” ajak Chen Yu sambil menggandeng ibunya berjalan ke meja yang ingin dihindarinya itu.


“Bentornato, Chen Yu!” seru Tuan Laiv sambil memeluk anaknya.


^^^(Bentornato\=selamat datang)^^^


“Come stai, papà?” ujar Chen Yu.


^^^(Come stai\=bagaimana kabarmu)^^^


“Se sto bene? Hahaha Chen Yu, anakku semakin tampan,” seru Tuan Laiv lagi sambil tertawa lepas.


^^^(Se sto bene\=aku baik-baik saja)^^^


“Ahhh anak siapa dulu dong?” goda Chen Yu balik.


Hubungan antara Chen Yu dengan kedua orang tuanya memang sangatlah baik, mereka selalu menyayanginya dengan sepenuh hati dan mendukungnya tanpa henti.


Berbagai olahan makanan lezat telah dihidangkan, ada steak, spaghetti carbonara, sup white fungus, salmon panggang, dan berbagai masakan Italia seperti risotto dengan saffron yang gurih, bruschetta dengan saus tomat cheesy yang segar, dan ribollita berkuah yang pedas.


Melihat istrinya masih memasang muka cemberut, Tuan Laiv pun mengeluarkan sebuah amplop untuk Chen Yu.


Itu adalah tiket gold private cinema di gedung ini nanti malam. Barulah, raut wajah istrinya berangsur-angsur menjadi cerah kembali.


Nyonya Chen yang memiliki nama asli Xie Li Ying, sudah dikenal memiliki temperamen yang buruk sejak ia masih menjabat sebagai GM (General Manager) di perusahaan suaminya dulu.


Benar, Tuan Laiv menikah dengan mantan staffnya sendiri, mereka bertemu saat menghadiri acara perusahaan dan jatuh cinta pada pandangan pertama.


Nyonya Chen memang memiliki paras yang sangat cantik dan mata phoenix-nya menambah keanggunan dalam dirinya.


Ia juga jarang tersenyum, aura-nya dingin dan sulit didekati, namun ia adalah wanita yang cerdas dan tegas, sangat cocok dengan Tuan Laiv yang bebas dan humoris.


Nyonya Chen akan marah akibat hal sepele, beruntung ia memiliki seorang suami yang sangat mencintainya.


Dalam sebuah pernikahan, memang harus ada satu pihak yang selalu mengalah.


...****************...


...****************...